Rabu, 19 September 2012

Mengkritisi GregetNuswantara dan Ajarannya (bagian 3)

Tulisan saya sebelumnya Mengkritisi GregetNuswantara dan Ajarannya (bagian 2) dikatakan bahwa kita adalah keturunan Dewa yang turun dari kahyangan kemudian berwujud manusia. Yang dalam pandangan saya sebagai muslim sungguh jauh dengan pemahaman Islam. Ketika saya buru pertanyaan sesungguhnya siapa dewa sesungguhnya. Mereka menjawab, hampir sama lah dengan Malaikat kalau di Islam. Haaa.....?

Surga dan Neraka
"Jangan mendoakan leluhur
ketika kita sowan kepada mereka, karena mereka sekarang di surga jadi gak perlu didoakan. " Kata Batara Wisnu salah seorang pentolan GN. Hebat bener leluhur kita dan lebih hebat lagi BW yang tahu dan dapat memastikan bahwa leluhur kita sudah masuk surga.
Padahal kalau dicermati bahwa sesungguhnya tidak ada garansi bagi masusia yang hidup ini untuk dapat masuk surga tanpa hisab kecuali orang-orang tertentu saja termasuk di dalamnya adalah para Rasul dan orang yang mati syahiddi jalan Allah.
Pernyataan mereka yang melarang mendoakan leluhur adalah pernyataan yang sangat sombong. Manusia yang mati sudah mati pasti mengharap doa dari yang hidup lebih-lebih dari anak keturunannya yang sholeh. Dalam Islam doa anak yang soleh ini merupakan amalan yang tidak dapat terputus meskipun yang bersangkutan sudah meninggal dunia.
Jika didoakan masuk sorga leluhur akan tersinggung. Patut ditanyakan ini leluhur apa leluhur. Jangan-jangan ini demit yang mengaku-aku sebagai leluhur bangsa ini. Padahal kalau kita pelajari dalam Islam, Sesungguhnya bahwa jika seseorang sudah meninggal maka putuslah amal perbuatannya. Termasuk di dalamnya adalah berkomunikasi dengan manusia yang hidup saat ini.

Moksa
Leluhur memilih moksa, jadi jangan diharapkan ditemukan dimana makamnya karena mereka moksa. Moksa adalah menghilang bersama jasad wadaknya dan berpindah ke dimensi lain.
Dalam Islam tidak ada manusia yang moksa. Setiap manusia pasti akan mati. Setiap makhluk pun demikian sudah ditentukan ajalnya oleh Allah SWT. Ada hukum kadar akan sebuah makhluk. Jika sudah saatnya maka manusia akan mati juga. Dan satu yang penting, Manusia tidak dapat menentukan kapan dan dimana dia akan mati.
Jadi tidak seenak hatinya jika kepingin mati maka dia akan mati sebagaimana leluhur GN ini.

Karena itu kawan-kawan muslim. hati hati dengan pandangan mereka



Judul: Mengkritisi GregetNuswantara dan Ajarannya (bagian 3) ; Ditulis oleh Riyono Putra Penanggungan; Rating Blog: 5 dari 5
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
Judul: Mengkritisi GregetNuswantara dan Ajarannya (bagian 3)
Ditulis Oleh Riyono Putra Penanggungan
Jika mengutip harap berikan link yang menuju ke artikel Mengkritisi GregetNuswantara dan Ajarannya (bagian 3) ini. Sesama blogger mari saling menghargai. Terima kasih atas perhatiannya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar