Sabtu, 05 November 2011

Ketika Para Juru Dakwah Telah DipanggilNya, Kembali (Bag. 3)

Bersama istri dan kedua anakku kulangkakan kaki kami ke arah barat. Haedar berjalan dengan kugandenga sedang Haekal bersama dengan ibunya di gendongan. Jarak rumah kami dengan almarhum hanya kisaran 100 m saja. Rumah almarhum menghadap arah barat. tepat seberang jalan terdapat sebuah masjid yang menjjadi pusat dakwah dan kegiatan di kampung Dateng.
Istriku masuk lewat pintu belakang dengan Haekal. Sedangkan aku dengan Haedar langsung menuju bagian halaman depan rumah melewati samping utara rumah yang masih sangat luas tanahnya. memang salah satu orang yang meiliki pekarangan tanah yang luas adalah almarhum di kampung Dateng.
Di depan sudah banyak para pelayat yang sudah datang. Beberapa Jamaah Masjid At Taqwa II nampak dengan raut kesedian. namapak juga warga kampung lainnya, tokoh masyarakat, warga Muhammadiyah dari Ngoro, Gempol dan lainnya yang tidak semuanya aku kenal satu persatu. Kusalami satu persatu dari mereka. mereka membalas. Ada juga sapaan dan pertanyaan tentang kabar.
kujawab kabar tersebut dengan hamdalah.
"Apa jenazah sudah datanga" tanyaku pada seorang pelayat.
"sudah pak, di dalam. tetapi belum disucikan" jawabnya
Kulihat ruang tamu rumah almarhum. Sesosok jenazah dibaringkan di atas amben. Sesosok yang dulunya tegas memegang prinsip dan keyakinan. Sesosok yang ikhlas dalam dakwahnya. Bahkan saking ikhlasnya, sampai dengan usia senja beliau tidak berkenan ketika mendapat undangan dakwah dijemput pengundang. beliaunya lebih suka jika berangkat sendiri dengan mengendarai motor. sendiri. padahal kadangkala jarak yang dijemput sampai puluhan kilometer dan malam hari. Subhanallah, juru dakwah yang lain kadangkala tidak sanggup untuk melaksanakannya.
Kukuatkan diri menatap sosok tersebut. aku tidak masuk ke dalam karena jenazah akan Segera disucikan. Sementara belum nampak keluarga yang ditinggalkan. menurut informasi semua masih di rumah sakit mengurus administrasi.
Kami semua menunggu, ada yang duduk-duduk di kusih yang terbatas jumlahnya. Ada yang berdiri, bercengkeramah. Tidak terasa panas karena halaman rumah almarhum terlindungi pepohonan yang sangat rimbun. Pohon mangga utamanya sudah berusia puluhan tahun. Yang kuingat pepohonan tersebut sudah ada sebelum aku ada
(bersambung)
Baca juga :
Judul: Ketika Para Juru Dakwah Telah DipanggilNya, Kembali (Bag. 3); Ditulis oleh Riyono Putra Penanggungan; Rating Blog: 5 dari 5
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
Judul: Ketika Para Juru Dakwah Telah DipanggilNya, Kembali (Bag. 3)
Ditulis Oleh Riyono Putra Penanggungan
Jika mengutip harap berikan link yang menuju ke artikel Ketika Para Juru Dakwah Telah DipanggilNya, Kembali (Bag. 3) ini. Sesama blogger mari saling menghargai. Terima kasih atas perhatiannya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar