Rabu, 30 Oktober 2013

Berwisata Pantai Bajul Mati dan Gua Cina (bagian 3)

Puas sudah hati memanjakan diri berfoto di jembatan itu. Sudah beberapa angel yang diambil dan cukuplah untuk bekal ngeceng di akun FB. Namun saya lihat masih banyak dari rombongan yang betah berlama-lama foto disana. Seraya menunggu kami duduk-duduk saja di mobil. Akhirnya sekitar 15 menunggu, rombongan genap berkumpul dan siap melanjutkan perjalanan.
Perjalanan ke Pantai Gua Cia tidaklah lama. Sekitar 20 menit kita sampai meski jarak tempuh tidak sampai 2 km. Ada kendala lapangan yang menghambat perjalanan yaitu medan jalan yang hanya berupa makadam. Untuk memasuki area pantai, mobil harus masuk jalan makadam sekitar 500m. Meski tidak jauh tp membutuhkan kewaspadaan ekstra mengingat jalannya naik turun. Disamping itu makadam jalanannya masih sangat kasar dan hanya cukup untuk diakses satu mobil saja. Jika kebetulan berpapasan dengan rombongan yang berlawanan arah, maka satu di antara mobil itu harus mengalah. Menepikan kendaraan untuk memberi ruang kendaraan lain. 
Ada beberapa pemandangan menarik melewati jalanan makadam ini. Pertama kita disuguhi banyak sekali pisang di kanan kiri jalan. Pisang-pisang tersebut adalah hasil kebun masyarakat sekitar yang memang dipajang di sepanjang jalan untuk dijual kepada yang berminat. kami serombongan tidak ada yang beli. tetapi menurut rekan yang pernah kesana harga pisang di gua cina relatif murah. hanya kisaran 20rb per tandan. Kedua kita juga disuguhi pegunungan kapur di sepanjang jalan. Batuan kapur tersebut nampak sekali di bawah permukaan tanah. Beberapa yang nongol kelihatan berpori - pori besar. Besar kemungkinan di area itu banyak sekali gua sebagaimana gua cina, namun belum ditemukan seperti di Gua maharani. Ketiga, ada cangkang kerang raksasa di sana, cangkang itu kelihatan telah menfosil dan ditemukan warga. Warna cangkang putih layaknya batu kapur. Dari kejauhan nampak mencolok. Kalau saya perkirakan diameter kerang itu lebih dari 50 cm. Suatu bilangan yang fantastis untuk seekor kerang.
Dan kini sampailah kita di Pantai Gua Cina setelah melewati perjalanan berat.....








Read more >>

Berwisata Pantai Bajul Mati dan Gua Cina (bagian 2)

Setelah selesaid an puas bermain air serta pasir di pantai Bajulmati, rombongan kami kembali menepi. Sebagian ada yang berbenah dengan mandi di toilet berbayar yang ada di sisi kanan kiri warung. Ada pula yang masih belum puas mengabadikan momen dengan berfoto-foto dengan angel yang bagus sebelum meninggalkan tempat. Saya sendiri bersama isteri lebih memilih untuk merawat anak-anak, memandikan supaya bersih dan mengganti pakaiannya. Selepas itu perut sudah tidak dapat diajak kompromi. Rasanya lapar sekali. Karena rombongan lain belum bersedia makan dan akan diagendakan di Gua Cina maka terpaksa saya makan seadanya. Ada kripik dimakan kripik. Ada roti sebungkus pun habis kulahap.
Perjalanan keluar dari Pantai Bajul Mati melewati rute semula. 100 meter jalan tak beraspal harus kami lewati lagi. Karena sudah agak terang, maka kami dapat melihat rerimbunan dan panorama alam yang ada. Tak sampai 500 meter setelah menapaki jalanan aspal dari Panati Bajul Mati kami berhenti. Ada momen yang sayang kalau dilewatkan. Sebuah jembatan yang memiliki seni artistik cukup tinggi. Sepanjang 90m menghubungkan dua daratan yang terpisah sungai yang bermuara di sisi timur Pantai Bajul Mati. Kelihatan sekeliling pemandangannya cukup bagus. Bukit berbatu nampak telah digerus untuk membuka akses jalan ke pantai ini. Sementara di sisi lain nampak bukit-bukit yang menghijau meski belum masuk musim hujan. Air sungai pun demikian, nampak hijau menarik dan sangat tenang. Tidak dapat saya tebak kedalaman sungai itu. Mungkin cukup dalam.
Kembali ke jembatan. Jembatan ini memiliki kontruksi yang unik. Bagian atas jembatan terdapat material penyambung yang indah berbentuk setengah lingkaran. Sekilas diamati nampak seperti jembatan suramadu Bahkan seorang teman dari masurah mengira bahwa jembatan ini adalah Suramadu.
Momen ini sekali lagi cocok bagi yang suka narsis jepret-jepret untuk akun sosial mereka. Bisa untuk foto profil maupun sampulnya.







Read more >>

Selasa, 29 Oktober 2013

Sapi Pun Bisa Sedih : Pembelajaran Tentang Etika Menyembelih Hewan Qurban

Tahun ini alhamdulillah, kami bisa berkurban. Bersama pengurus Musholla Al Hidayah depan rumah kita patungan untuk membeli seekor lembu atau sapi. Sesuai syariat 1 ekor sapi diperuntukkan bagi 7 orang yang berkurban. Tahun ini memang ada lonjakan harga sapi secara luar biasa. Bisa ditebak ini akibat siapa. Tapi saya tidak membahasnya, karena akan ada yang marah pada saya. Semula kita hendak iuran 1,5 juta per orang. Mengingat harga 10,5 juta seekor sapi tidaklah memuaskan maka kami naikkan iuran sampai 1,8 juta per orang. Dengan iuran sekian maka kita sudah dapat memperoleh sapi dengan penampilan yang pantas.
Saya berada dalam posisi yang cukup delimatis. Satu sisi saya adalah orang yang aktif di musholla Al Hidayah dan termasuk penggagas kurban patungan ini. Perlu diingat bahwa ini adalah kurban patungan pertama di Musholla ini. Namun juga saya adalah pengurus Takmir masjid At Taqwa II yang ada di Dusun Dateng. Karenanya saya sudah permisi ke takmir masjid maupun Mushollah jika pekerjaan saya kurang maksimal.
Di Masjid saya diberi tugas untuk mencari jagal atau tukang sembelih hewan kurab atau sapi. Untu kambing kami bisa menghandle sendiri. Namun kalau sapi kita kesulitan secara teknis. Dua tahun sebelumnya kita pernah memaksakan untuk menyembelih sendiri. Hasilnya, tentu tidak terperihkan. Sapi seolah - olah dijadikan ajang percobaan pembunuhan saja. Akhirnya mulai tahun kemarin kita anggarkan untuk pemboleng ini. Biayanya lumayan. tahun ini 300 ribu perekor. Karena kita sembelih dua maka kita keluarkan 600 ribu per ekor. lebih murah 50rb daripada di mushollah saya yang minta 350rb per ekor.
Sampailah kita di Hari H. Sang jagal kesasar ke Candi Sidoarjo. Acara penyembelihan molor sampai pukul 9. Karena tanggung jawab saya, maka sayalah yang salah. namun kawan-kawan dapat menyadarinya.
Bagi tukang jagal sapai, pekerjaan meyembelih hewan kurban tidak banyak melibatkan orang. Untuk menjatuhkan dan mengikat hanya butuh dua orang saja. Selebihnya kita hanyalah penonton. Kalaupun membantu, kita cuma menjadi pemegang saja. Selebihnya, aksi mendebarkan ini dilakukan oleh jagal.
Setelah terikat kuat, sapi diposisikan kepalanya di lubang penyembelihan yang sebelumnya telah digalih. Sebagai alas maka diambilkan gedebok atau batang pohon pisang. Setelah baca doa dan takbir, sapi disembelih.....darah mengalir deras. Beberapa menit kemudian, aksi teatrikal penyayatan dilangsungkan cepat sekali.
Ada kejadian menarik saat penyembelihan. Karena ada dua sapi maka prosesnya bergiliran. Saat penyembelihan itu, sapi satunya menyaksikan rekannya di sembelih. saat menggorok telah usai tiba-tiba sapi yang tidak disembelih jatuh. Saya kaget, demikian juga orang-orang. Sapi itu tidak bangun-bangun. Ketika dilepas satu ikatannya pun dia tidak bangun-bangun. Saya langsung mendekati. Saya lihat dia sesenggukan. Dari matanya saya lihat air mata yang mengalir. Dalam hati saya berfikir. Mungkinkah dia menangis. Lama juga kejadian ini. lebih dari 5 menit sapi itu terbaring dan menangis. Saya jadi punya kesimpulan, meskipun dia hewan dia masih punya hati nurani. Dia tidak tega melihat kawannya yang disembelih di depan matanya. Dia iba, dia kasihan. Sama halnya dengan manusia
Pelajaran berharga dapat kita tarik dari kisah ini. Jangan menyembelih hewan di depan hewan lainnya. Hewan juga punya hati nurani







Read more >>

Berwisata Pantai Bajul Mati dan Gua Cina (bagian 1)

Hari Sabtu, tanggal 13 Oktober 2013, saya beserta keluarga mendapat ajakan dari tetangga untuk pergi tamasya ke Malang. Saat itu ada tiga tujuan yang akan kami kunjungi. Pertama Pantai Bajul Mati, Gua Cina dan juga Pantai Sendang Biru. Ketiganya terletak berdekatan. Karenanya semuanya bisa kita agendakan dalam satu kunjungan saja. kami berangkat dengan dua mobil Avansa. Perjalanan dimulai pukul 10 malam. Molor satu jam dari agenda yang telah kami sepakati yaitu pukul 9 malam. Bekal yang kami siapkan antara lain baju ganti, bantal untuk tidur anak-anak, makanan dan cemilan, makanan untuk pagi hari dan tentu juga obat- obatan. Saat itu bayi saya yang paling kecil memang dalam keadaan sakit mencret. Karenanya kami juga sedkit was-was apakah ikut berangkat atau tidak. Pikiran berkecamuk antara ikut atau di rumah saja mengingat kondisi anak saya. Akhirnya kami beli pampres, meskipun anak saya sudah enggan memakainya sedari kecil. Buat jaga-jaga kalau di perjalanan dia mengalami gangguan pencernakan.
Perjalanan secara umum lancar sampai dengan Malang Kota. Sekeluar dari Malang Kota kita terus ke selatan. Sopir dan rombongan sempat bingung arah ketika sudah sampai pabrik gula Kebonagung. Di sana kami tanya-tanya orang yang cangkrukan di warung kopi. Atas petunjuk dari mereka tahulah kami bahwa kami salah jalan dan harus putra balik beberapa ratus meter. Dari pertigaan Pabrik Gula tersebut harusnya kita belok kiri ke arah Turen. Jika Lurus bisa saja, namun kita akan sedikit jauh melingkar. Sebelum Kepanjen belok kiri.
Kami putuskan balik saja dan meluncur arah Turen. Sampai Turen saya sudah terlelap. Maklum ngantuk berat. Saya terjaga sambil emangku anak-anak yang sudah tidur. Tauh-tahu jalanan sudah menanjak. KIta masuk wilayah hutan yang cukup sepi. Jarang kami jumpai rumah penduduk. Jurang kiri jalan dan kanan jalan bukit dan pegunungan. KOta malang dari petunjuk jalan yang saya baca sudah sekitar 60 km kami lalui. papan petunjuk juga menginfokan bahwa sendang biru tinggal 25 km lagi. Perjalanan masih jauh. Sopir kami imbau pelan-pelan saja karena jalanan berkelok. Kami mengantisipasi kemungkinan buruk. Lebih baik terlambat dari pada tidak selamat.
Sekitar satu jam perjalanan kami hampir sampai lokasi tujuan. Ada pertigaan berisi petunjuk arah bahwa pantai bajul mati dan gua cina tinggal 5 km saja. Arahnya belok kanan. Jika lurus kita akan ke sendang biru. Kami putuskan ke Bajul Mati dulu dan nanti disambung ke Gua Cina yang memang berdekatan tak sampai 1 km. Jalanan ke Bajul mati relatif mulus. kayaknya ada pekerjaan membangun jalan di sana, saya bisa tebak karena banyak alat berat di kanan kiri jalan. sekitar 50 meter jalan masuknya berubah. cuma jalan tanah yang kurang mulus namun tidak sampai mengganggu perjalanan. Sampailah kita di Bajul mati.  Pilihan pertama adalah bajul mati, mengingat di sana area restnya lebih memadai. Ada masjid yang cukup besar, toilet dan kamar mandi yang mencukupi dan tentunya warung- warung yang menjual kebutuhan kita.
Kami sampai pukul setengah 3 dini hari. Aroma laut langsung tercium. Hawa dingin sedikit panas menerpa wajah. Suara deburan ombak yang besar dapat kami dengar dengan jelas. Namun untuk melihatnya kami kesulitan mengingat penerangan di pantai ini sangat minim. Listrik hanya ada di pemilik warung dan masjid. Sedangkan area pantai tidak ada. hanya ada nyalah api unggun di sana. Pikiran saya mungkin ada orang yang sedang berkemah dan menyalakan api. Saya merabah rabah dalam angan saja. Kira-kira seperti apa bentuk keelokan pantainya. Masih terlalu dini hari. Anak-anak saya biarjkan tidur saja, sementara saya keluar untuk minum kopi di warung sana. Warungnya cukup sepi. Hanya beberapa orang yang berjaga disamping pemilik warung. Mereka umumnya minum kopi dan makan mie. Kulihat disini cukup canggih, Warung sudah dilengkapi TV berlangganan. Tidak ada tivi lokal. Kenapa ? ternyata memang sinyal TV tidak masuk ke sini. Maklum jauh dari perdaban. Demikian juga sinyal HP. dua kartu simku tidak dapat menangkap sinyal sama sekali. Biarlah,....
Subuh menjelang. Adzan subuh sudah berkumandang. Suaranya cukup serak. Kayaknya orang tua yang adzamn. Maklum saja, saat ini memang generasi muda tidak ada lagi yang tidur di masjid. Beda dengan jaman dulu. Kuputuskan sholat dulu, bergantian dengan isteri. Anak sulungku Haedar kubangunkan untuk sholat. Bagaimanapun keadaannya dia harus sudah mulai belajar sholat. Dia sudah mau menginjak 7 tahun. Ada kewajiban kami mengajarinya. Dia investasi kami kelak. Kalau tidak sekarang kapan lagi.
Sholat usai, kami kembali ke mobil. Anak-anak saya bangunkan. "Ayo kita ke pantai " ajakku. Semua bangun. Di Timur temaram fajar sudah mulai membias kemerahan kurang dari 15 menit lagi pasti jalanan akan jelas terlihjat dan pantai yang kami tujuh pasti menyajikan keindahannya.
Berlarianlah anak-anak kesana, kecuali yang nomor dua. Dia takut ada buaya. Karena namanya pantai bajul mati yang dalam bahasa Indonesia berarti pantai Buaya Mati. Saya bilang "Jangan takut, kan buayanya sudah mati. hehehehe....."
Dan inilah pantai bajul mati itu....













Read more >>

Beginilah Mereka Menghancurkan Kita, Lalu Bagaimana Sikap Kita…!

http://cdn.ar.com/images/stories/2012/07/guru.jpg Ibu Guru berkerudung rapi tampak bersemangat di depan kelas sedang mendidik murid-muridnya dalam pendidikan Syari’at Islam. Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada penghapus. Ibu Guru berkata, “Saya punya permainan. Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada penghapus.

Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah “Kapur!”, jika saya angkat penghapus ini, maka berserulah “Penghapus!” Murid muridnya pun mengerti dan mengikuti. Ibu Guru mengangkat silih berganti antara tangan kanan dan tangan kirinya, kian lama kian cepat.

Beberapa saat kemudian sang guru kembali berkata, “Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka berserulah “Penghapus!”, jika saya angkat penghapus, maka katakanlah “Kapur!”. Dan permainan diulang kembali.

Maka pada mulanya murid-murid itu keliru dan kikuk, dan sangat sukar untuk mengubahnya. Namun lambat laun, mereka sudah biasa dan tidak lagi kikuk. Selang beberapa saat, permainan berhenti. Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya.

“Anak-anak, begitulah ummat Islam. Awalnya kalian jelas dapat membedakan yang haq itu haq, yang bathil itu bathil. Namun kemudian, musuh musuh ummat Islam berupaya melalui berbagai cara, untuk menukarkan yang haq itu menjadi bathil, dan sebaliknya.

Pertama-tama mungkin akan sukar bagi kalian menerima hal tersebut, tetapi karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kalian terbiasa dengan hal itu. Dan kalian mulai dapat mengikutinya. Musuh-musuh kalian tidak pernah berhenti membalik dan menukar nilai dan etika.”

“Keluar berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang pelik, zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjadi hal yang lumrah, sex sebelum nikah menjadi suatu hiburan dan trend, materialistik kini menjadi suatu gaya hidup, korupsi menjadi kebanggaan dan lain lain. Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disedari, kalian sedikit demi sedikit menerimanya. Paham?” tanya Guru kepada murid-muridnya. “Paham Bu Guru”

“Baik permainan kedua,” Ibu Guru melanjutkan. “Bu Guru ada Qur’an, Bu Guru akan meletakkannya di tengah karpet. Quran itu “dijaga” sekelilingnya oleh ummat yang dimisalkan karpet. Sekarang anak-anak berdiri di luar karpet.

Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil Qur’an yang ada di tengah dan ditukar dengan buku lain, tanpa memijak karpet?” Murid-muridnya berpikir. Ada yang mencoba alternatif dengan tongkat, dan lain-lain, tetapi tak ada yang berhasil.

Akhirnya Sang Guru memberikan jalan keluar, digulungnya karpet, dan ia ambil Qur’an ditukarnya dengan buku filsafat materialisme. Ia memenuhi syarat, tidak memijak karpet.

“Murid-murid, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya. Musuh-musuh Islam tidak akan memijak-mijak kalian dengan terang-terangan. Karena tentu kalian akan menolaknya mentah-mentah. Orang biasapun tak akan rela kalau Islam dihina dihadapan mereka. Tetapi mereka akan menggulung kalian perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kalian tidak sadar. Jika seseorang ingin membuat rumah yang kuat, maka dibina pundasi yang kuat. Begitulah ummat Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat. Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau fondasinya dahulu. Lebih mudah hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dahulu, kursi dipindahkan dahulu, lemari dikeluarkan dahulu satu persatu, baru rumah dihancurkan…”

“Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kalian. Mereka tidak akan menghantam terang-terangan, tetapi ia akan perlahan-lahan meletihkan kalian. Mulai dari perangai, cara hidup, pakaian dan lain-lain, sehingga meskipun kalian itu Muslim, tetapi kalian telah meninggalkan Syari’at Islam sedikit demi sedikit. Dan itulah yang mereka inginkan.”

“Kenapa mereka tidak berani terang-terangan menginjak-injak Bu Guru?” tanya mereka. Sesungguhnya dahulu mereka terang-terang menyerang, misalnya Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Tetapi sekarang tidak lagi. Begitulah ummat Islam. Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan sadar, akhirnya hancur. Tetapi kalau diserang serentak terang-terangan, baru mereka akan sadar, lalu mereka bangkit serentak. Selesailah pelajaran kita kali ini, dan mari kita berdo’a dahulu sebelum pulang…”

Matahari bersinar terik tatkala anak-anak itu keluar meninggalkan tempat belajar mereka dengan pikiran masing-masing di kepalanya.

***

Ini semua adalah fenomena Ghazwu lFikri (perang pemikiran). Dan inilah yang dijalankan oleh musuh-musuh Islam. Allah berfirman dalam surat At Taubah yang artinya:

“Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, sedang Allah tidak mau selain menyempurnakan cahayaNya, sekalipun orang-orang kafir itu benci akan hal itu.”(QS. At Taubah :32).

Musuh-musuh Islam berupaya dengan kata-kata yang membius ummat Islam untuk merusak aqidah ummat umumnya, khususnya generasi muda Muslim. Kata-kata membius itu disuntikkan sedikit demi sedikit melalui mas media, grafika dan elektronika, tulisan-tulisan dan talk show, hingga tak terasa.

Begitulah sikap musuh-musuh Islam. Lalu, bagaimana sikap kita…?
 
-----------
sumber : arrahmah.com
Read more >>

Senin, 28 Oktober 2013

Aktivitas Baru : Berkebun dan Menanam Bunga

http://www.tastyislandhawaii.com/images/shibata_mango_tree08.jpg
Akhir-akhir ini ada kesibukan baru buat saya. Aktivitas ini rutin saya lakukan, jika tidak pagi ya sore hari. Saya jarang melewatkannya jika memang sudah terpaksa tidak ada waktu untuk melakukannya. Aktivitas ini lazim disebut orang sebagai berkebun. Ya, berkebun. Kesannya memang sangat jauh dengan aktivitas saya sebagai seorang tenaga pendidik di sebuah lembaga pendidikan Muhammadiyah. memang, aktivitas ini saya lakukan di luar pekerjaan. Aktivitas ini semacam hiburan saja. namun, di sisi lain dapat mendatangkan ketenangan batin dan tentunya kepuasan.
Saya tidak melihat aktivitas saya ini sebagai hobby baru. Bagi saya ini aktivitas biasa saja namun efeknya luar biasa. Ada kalanya saya harus mengeluarkan uang untuk membeli tanaman, pupuk dan juga kelengkapan lainnya semisal pot ataupun polibag. Semua kegiatan saya tersebut lebih banyak saya lakukan dalam pot atau polibag. Hanya sebagian kecil saja yang saya tanam pada pekarangan baik depan ataupun belakang rumah. Maklum tanahnya sempit. Lebih dari itu sekarang masih musim panas dengan tingkat suhu yang ekstrim. Percuma saya beli bibit mahal dan kemudian saya paksa untuk ditanam namun pada akhirnya harus menghembuskan nafas terakhir karena tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan. Jadinya sebagian besar masih saya taruh dalam pot atau polibag seraya menunggu masuk musim hujan.
Beberapa tanaman yang saya tanam di halaman baik belakang maupun depan adalah tanaman keras yang sudah siap ditanam. Ada pohon sirsak pemberian tetangga di rumah isteri yang sudah hidup dengan nyaman di area yang baru. Saya tidak khawatir karena tanaman ini saya nilai cukup siap untuk hidup. beberapa hama memang mengancam. Tapi dengan sabar harus saya singkirkan. Pohon salam di belakang juga sudah mencapai dua meter. Banyak tetangga yang memanfaatkan, silakan. Memang sengaja saya peruntukkan bagi yang mau. Pohon Jeruk Pecel sudah mulai beranjak tinggi meski belum setahun ditanam. namun karena cangkokan, belum menunjukkan bakal hendak berbuah. Berbeda dengan jambu bangkok yang dulu hidupnya tidak saya kehendaki. Berkali-kali saya babat, beribu kali pula dia bersemi. Nampaknya pohon ini mempunyai semangat hidup yang tinggi. Saya biarkan saja. Sekarang dia sudah berbuah. Dulu pernah berbuah sekali dan hanya sebiji. Itupun dicuri tangan usil yang lewat. Biar saja. Sekarang buahnya rimbun. Beberapa saya bungkus sampai kertas. Kertasnya sekarang sudah tidak muat karena sudah mulai membesar. Mau ganti kertas masih malas. Mungkin sudah ada 20 buah yang berbuah. namun masih 1 buah yang saya panen. Bukan karena masak betul, melainkan anak keduaku nangis minta diambilkan. terpaksa saya petik. Waktu dibuka dan dimakan, dia mulai ranum. Mungkin sebulan lagi dia masak betul. Lumayan, bisa mencicipi jerih payah kesabaran.
Pohon pepayaku luar biasa. Dulu dia binasa, sekarang penerusnya mulai ada. Dua batang dibelakang rumah sudah menjulang dan berbuah. Meskipun bukan golongan pepaya yang layak jual senang saja saya mengawasi perkembangannya. Kalau makan saya belum juga berselera. Buktinya dua kali panen tidak satupun saya coba memakannya. hanya isteri yang hobby makanan lembek ini. Jadi bidadarikulah yang menghabiskannya.
Pohon mangga depan rumah tergolong istimewa. tahun lalu saya panen hampir 200 buah. Luar biasa. tahun ini tak sampai sepuluh buah yang dia hasilkan. Saya tidak tahu mengapa. Usut puya usut, dia ngambek. Sehabis panen tahun kemarin, karena terlalu banyak benalu saya kepras batangnya. Kebetulan ada Paklekku yang tukang bangunan yang mengerjakan rumah. Sekarang dia tidak berbuah. hanya batang lama saja yang berbuah. Makanya jangan dikepras, dia akan ngambek dan mogok berbuah. Ah, tanaman tak ubahnya juga manusia. Dia juga bisa ngambek.
Depan rumahnku asri. Puluhan pot berjajar di segenap posisi. Bunga-bunga menghiasi. jadi indahlah depan rumah. Sejuk dipandang. Membuat betah penghuni dan tamu yang datang. Ada rencana besar saya bangun taman bunga di depan. Nunggu dulu kalau sudah ada uang dan uluran tangan. hayo siapa yang punya tanaman nanum tidak terawat, saya siap membantu anda.
Read more >>

Selasa, 08 Oktober 2013

Doa Menyembelih Hewan Qurban

Oleh: Badrul Tamam
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi Kita Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya, serta umatnya yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.
Setiap orang yang berkurban tentunya berharap ibadahnya tersebut diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Di samping memperhatikan jenis hewan kurban, umur dan kondisi hewan kurban yang selamat dari cacat, kita juga harus memperhatikan tatacara penyembelihannya. Di antaranya, memperhatikan bacaan saat menyembelih. Apa dzikir atau doa yang diajarkan oleh syariat saat menyembelih hewan kurban?
Pada ringkasnya, bagi orang yang ingin menyembelih hewan qurban disunnahkan baginya saat akan menyembelih untuk membaca:
بِسْمِ اللَّه اللَّهُمَّ  وَاللَّهُ أَكْبَرُ اَللَّهُمَّ هَذَا مِنْكَ وَلَكَ، هَذَا عَنِّي
Artinya: (Dengan Nama Allah, Allah Maha Besar, Ya Allah ini dari-Mu dan untuk-Mu, ini kurban dariku).
Jika ia menyembelihkan hewan qurban milik orang lain, ia membaca:
بِسْمِ اللَّه اللَّهُمَّ  وَاللَّهُ أَكْبَرُ اَللَّهُمَّ هَذَا مِنْكَ وَلَكَ، هَذَا عَنْ فُلَانٍ
"Dengan Nama Allah, Allah Maha Besar, Ya Allah ini dari-Mu dan untuk-Mu, ini kurban dariku." Di tambah:
اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ فُلَانٍ وَآلِ فُلَانٍ
"Ya Allah, terimalah kurban dari fulan dan keluarga fulan," (dengan menyebut namanya).
Namun yang wajib dari bacaan ini adalah membaca Basmalah (Bismillah). Jika sudah membacanya, maka sah penyembelihan hewan qurban tersebut walau tidak menambah bacaan selainnya. Adapun kalimat-kalimat sesudahnya hanya anjuran, bukan wajib. Hal ini didasarkan kepada firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,
فَكُلُواْ مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللّهِ عَلَيْهِ إِن كُنتُمْ بِآيَاتِهِ مُؤْمِنِينَ
"Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya." (QS. Al-An'am: 118)
وَلاَ تَأْكُلُواْ مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ
"Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya.  Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan." (QS. Al-An'am: 121)
Diriwayatkan dalam Shahihain, dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata:
ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا
Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam berkurban dengan ekor domba jantan yang dominasi warna putih dan bertanduk. Beliau menyembelihnya dengan tangannya sendiri, membaca basmalah dan bertakbir serta meletakkan kakinya di atas samping lehernya."
Imam Muslim meriwayatkan dari 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam memerintahkan untuk membawakan satu ekor kibas bertanduk yang hitam kakinya, hitam bagian perutnya, dan hitam di sekitar kedua matanya. Lalu dibawakan kepada beliau untuk beliau sembelih sendiri. Beliau berkata kepada 'Aisyah, "Wahai 'Aisyah, ambilkan sebilah pisau." Kemudian beliau bersabda, "Asahlah pisau itu dengan batu." 'Aisyah pun mengerjakan. Kemudian beliau mengambil pisau dan mengambil kibas tersebut, lalu beliau membaringkannya dan menyembelihnya. Kemudian beliau berucap:
بِسْمِ اللَّه اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّد وَآل مُحَمَّد وَمِنْ أُمَّة مُحَمَّد
"Dengan nama Allah, ya Allah terimalah dari Muhammad dan keluarga Muhammad, serta dari umat Muhammad." Kemudian beliau menyembelihnya.
Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan tentang maksudnya, yaitu beliau membaringkannya dan menyembelihnya sambil membaca kalimat di atas. (Lihat Syarah Muslim li al-Nawawi dalam keterangan hadits di atas)
Dan diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu 'Anhu berkata: "Aku menyaksikan Shalat Idul Adha di musholla bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika beliau selesai khutbah beliau turun dari mimbar dan dibawakan kepada beliau seekor domba jantan lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyembelihnya sambil mengucapkan:
بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا عَنِّي وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِي
"Dengan nama Allah dan Allah Maha Besar, ini dariku dan dari setiap orang yang tidak berkurban dari umatku." (Dishahihkan oleh-Al-albani rahimahullah dalam Shahih al-Tirmidzi)
Terdapat tambahan dalam sebagian riwayat,
اَللَّهُمَّ إِنَّ هَذَا مِنْكَ وَلَكَ
"Ya Allah, sesungguhnya ini dari-Mu dan untuk-Mu." (Lihat: Irwa' al-Ghalil, no. 1138 dan 1152)
Maksud, Allahumma Minka (Ya Allah, sesungguhnya ini dari-Mu): hewan kurban ini adalah rizki pemberian-Mu yang sampai kepadaku dari Engkau. Sedangkan Wa Laka (dan untuk-Mu) adalah ikhlas untuk-Mu.(Lihat: al-Syarah al-Mumti': 7/492). Wallahu Ta'ala A'lam. [PurWD/voa-islam.com]
  • Sumber: Website AL-ISLAMU; SUAL WA JAWAB yang beralamat: www.islamqa.com, dengan judul (terjemahannya: "Apa yang Dibaca Saat Menyembelih Hewan Qurban?".
Read more >>

Bacaan Doa Rasulullah ketika Menyembelih Hewan Kurban


Alhamduluillah, Sekalian puja dan puji hanya milik Allah SWT. Tuhan penguasa alam raya. Sholawat dan salam semoga tetap terlimpahkan kepada rasulullag junjugan kita Nabi Muhammad SAW.
Hukumnya sunnah bagi orang yang berkurban atau hendak menyembeli hewan qurban dengan membaca Basmalah dan takbir sebagaimana yang tersebut dalam Shahihain, dari Qatadah dan Anas RA :

ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا

"Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam berkurban dengan dua ekor domba jantan putih campur hitam lagi bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelihnya sambil membaca BASAMALAH dan bertakbir dan meletakkan kaki beliau diatas leher keduanya."
Sedangkan dalam lafadz Muslim dari riwayat Anas, "Dan beliau membaca:

بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ

Dalam Shahih Muslim, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam membaca doa saat menyembelih hewan kurbannya sebagai berikut :

بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ

"Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah, terimalah dari Muhammad dan keluarga Muhammad serta umat Muhammad."
Imam Nawawi mengatakan dalam mensyarah hadits ini: Di dalamnya terdapat dalil untuk dianjurkannya seorang pengorban saat menyembelih bersamaan membaca Bismillah dan takbir  membaca Allahumma Taqabbal Minni (Ya Allah Terimalah dariku)."

Bacaan Saat Menyembelih Sendiri
Jika seseorang menyembelih sendiri hewan kurbannya yang diperuntukkan atas nama dirinya dan keluarganya untuk membaca saat menyembelih:
بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْ أَهْلِي
"Bismillah Wallahu Akbar, Ya Allah terimalah dariku dan keluargaku."
Atau dengan menyebut namanya sendiri:
بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ فُلَانٍ وَآلِ فُلَانٍ
"Bismillah Wallahu Akbar, Ya Allah terimalah dari fulan dan keluarga fulan."
Atau membaca bacaan lainnya:
بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ اَللَّهُمَّ هَذَا عَنِّي وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِيْ
"Bismillah Wallahu Akbar, Ya Allah ini dariku dan dari keluargaku."
Ini didasarkan kepada hadits dari Jabir bin Abdillah, ia berkata: Aku menghadiri Shalat Idul Adha bersama Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam di Mushalla. Saat beliau selesai berkhutbah, beliau turun dari mimbarnya. Kemudian dibawakan satu ekor domba lalu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menyembelihnya sendiri dengan tangannya sambil membaca:
بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا عَنِّي وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِي
"Bismillah Allahu Akbar, Ini dariku dan dari umatku yang tidak berkurban." (HR. al-Tirmidzi dan dishahihkan Al-Albani dalam Shahih al-Tirmidzi)
Terdapat redaksi dalam riwayat lain,
اَللَّهُمَّ إِنَّ هَذَا مِنْكَ وَلَكَ
"Ya Allah, sesungguhnya ini dari-Mu dan untuk-Mu." (Irwa' al-Ghalil, no. 1138, 1152) [Lihat Al-Syarh al-Mumti', Al-'Allamah al-Utsaimin: 7/492]
Jika Menyembelihkan Kurban Orang Lain
Jika seseorang menyebelihkan kurban orang lain maka sesudah membaca Basmalah dan Takbir,
هَذَا عَنْ فُلَانٍ اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ فُلَانٍ وَآلِ فُلَانٍ
"Ini dari si fulan, Ya Allah, terimalah dari fulan dan keluarga fulan." (Dinukil dari fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin.
Bacaan Pokok Saat Menyembelih
Pada dasarnya bacaan yang wajib ketika menyembelih adalah membaca BASMALAH, yakni BISMILLAH atau BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM. Adapun bacaan tambahan sesudahnya adalah sunnah, bukan wajib. Dasarnya, firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ
"Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. " (QS. AL-An'am: 121)
Begitu pula firman-Nya:
فَكُلُوا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ بِآيَاتِهِ مُؤْمِنِينَ
"Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayatN" (QS. Al-An'am: 118) Wallahu Ta'ala A'lam.
Read more >>