Langsung ke konten utama

Cerpen : Bapakku (Tetap) Guru

 

Oleh : Abee A. Lazz

 

Seperti biasa, setiap kali akan ujian sekolah pembagian nomor ujianku diberikan terakhir. Walas memanggilku. Mengingatkan tagihan yang harus dibayar. Lumayan, kepala tiga. Dan tak tahu, sampai kapan dapat dibayar.

Dan seperti biasa, kusampaikan pada walasku, “ nanti akan saya sampaikan bapak, bu”

Bu Guru walasku hanya mengatakan iya. Aku tahu, Walasku bosan mengingatkanku akan hal ini. Tapi sedikitpun belum ada cicilan, apalagi pelunasan.

Hingga di penghujung semester pertama kelas sembilan. Tagihan itu pun belum terbayar. Pembagian rapor dipenuhi drama.

Sejatinya aku malu sama teman-temanku. Tapi mau bagaimana lagi, orang tua belum ada duit untuk melunasi biaya itu. Mereka sudah cari kerja tambahan sebagai ojek, tetapi juga gak cukup. Sepi kata bapak.

Cari hutangan pun sudah dilakukan. Tapi semua tetangga dan kerabat sudah tahu bapakku. Percuma memberikan bantuan, mustahil dapat dilunasi.

***

Bapakku guru. Lahir dari keluarga tak mampu. Kakek buruh tani di sebuah desa. Tanpa ladang dan sawah. Mengandalkan tenaga untuk menggarap sawah. Beruntung bapak lulus sampai SMA. Ikut kerja serabutan jadi kuli bangunan pakdeku. Bapakku aktif mengajar madin. Ketika itu pernah ditawari kuliah gratis. Luluslah bapakku S1. Sarjana Agama

Berbekal ijazah sarjana agama, bapak melamar jadi guru Agama. Setiap sekolah negeri di kecamatanku dia taruh lamaran. Tak terhitung berapa amplop coklat yang sudah bapak kirim. Demikian juga sekolah-sekolah luar kecamatan. Tembus ?

Tidak.

Kata orang melamar jadi guru di sekolah negeri harus punya koneksi orang dalam. Bapakku?

tidak

Dulu, cerita bapakku, suatu kali datang Ustadz Hasan, Guru DPK Kemenag dan Kepala MI di kampung sebelah menemui bapak. MI Swasta yang didirikan sebuah yayasan pondok. Muridnya tidak banyak. Bangunannya rapuh dan jelek. Entah sudah berapa tahun tidak dicat. Gentingnya banyak yang bocor. Plafon banyak yang jebol.

“Rif, kamu kan sudah lulus S1, sarjana agama. MI ini butuh kamu. Guru Agama lama, Pak Furqon sudah almarhum. Maukah kamu mengabdi di MI.” Kata Ust Hasan dengan penuh harap.

“Inggih Ust” jawab bapakku dengan takdzim. Maklum Ust Hasan adalah gurunya di Madrasah dulu.

Singkat cerita, jadilah bapakku guru. Posisi terhormat dalam masyarakat.

Dua tahun kemudian Ustadz  Hasan sudah pensiun karena sudah 60 tahun. Posisinya digantikan orang lain.

***

Takdir menjadi guru itulah yang mempertemukan bapak dengan jodohnya. Ibuku saat ini, Zainab. Salah satu guru di MI itu dan juga anak Ust Hasan. Anak terakhir ustadz Hasan dari lima bersaudara. Tercantik, karena keempat saudaranya laki-laki.

Hubungan ini ditentang sama Ust Hasan. Ada satu kata kakekku yang tetap diingat olah ibu.

”Apa yang kamu harapkan dari Hasan ? Guru swasta dengan honor minim. Untuk hidup sendiri saja tak cukup apalagi untuk membiayaimu.”

Tapi Ibuku keukeuh pada pendirian. Baginya bapakku adalah pria tertampan di muka bumi. Bersanding dengan bapakku adalah harga mati. Apakah hati kakekku luluh? Tidak.

Hingga pernikahan bapak dan ibu tanpa restu kakekku, Buyutku yang menikahkan mereka,

Ibu keluar dari rumahnya. Segenap bantuan tidak ada. Sudah distop. Mereka menetap di rumah bapakku. Kecil diujung gang. Beda jauh dengan rumah kakekku. Besar dan tanahnya luas. Maklum, kakekku adalah tuan tanah di kampungnya.

***

Memang pernikahan tanpa restu orang tua akan tidak bahagia. Kata tetanggaku sih. Bapak ibu sudah berusaha meminta restu kepada kakek. Tapi, kakek sampai saat ini pun tetap tidak mau mengakui bapak sebagai menantu.

Sedih?

Bahkan sampai aku lahir sebagai cucu, sikap kakekku tetap  sama. sampai saat ini juga tidak diakui. Hik Hik.

Entah sampai kapan hubungan ini membaik. Batu saja luruh dengan tetesan air, masak hati tidak.

***

Hmmm...

Kuhempaskan badanku di kasur lusuh dalam kamarku. Mataku menatap genting rumah. Sorot cahaya menembus di selah-selah. Pikiranku kacau.

Biaya pendidikan untuk akhir tahun pelajaran cukup besar. Tunggakan pembayaran juga belum terbayar. Aku pusing. Apalagi bapak ibuku.

Aku sudah jarang dapat uang saku yang cukup. Palingan untuk beli jajanan dan minum. Sayang kalau aku belanjakan. Akhirnya kutabung.

Sering teman-teman ngajak ke kantin. Kubilang nanti saja kususul. Padahal aku juga tidak ke sana. Gak ada duit. Kadang kala aku berpuasa.

 

***

Bulan Januari try out Ujian akhir sudah mulai dilaksanakan. Berulang kali aku mendapat tagihan. Kujawab “ Kata bapak bulan depan dilunasi.” Iya depannya lagi.

Aku makin was-was tentang masa depanku. Setelah ini aku melanjutkan ke jenjang lebih tinggi. Tentu, biayanya juga tidak sedikit. Sedangkan penghasilan bapak tidak mencukupi. Ibu sudah lama berhenti jadi guru dan fokus mendidik aku dan kakakku.

Nasibku sama dengan kakakku. Sering ditagih wali kelas.

***

Ujian dua hari lagi dilaksanakan. Nomor ujian dibagikan. Aku dipanggil lebih awal sesuai dengan nomor urut. Aku kaget.

Walasku menyodorkan nomor ujianku. Aku bingung.

“bu...???” tanyaku penasaran “apa saya dapat keringanan?”

Bu guru menggeleng.

“apa saya dapat bantuan?” Bu guru menggeleng.

“kamu sudah lunas.” Kata walasku

“Lunas?” aku makin bingung.

Siapa dewa penolong itu. Yang melunasi uang sekolahku di injury time ujian sekolah.

***

Aku pulang dengan bahagia. Nomor ujian sudah kukantongi. Sesampainya di rumah kuucap salam. Ibuku menjawab dan membuka pintu. Kucium tangan dan pipinya. Aku sumringah. Ibu Kebingungan.

“eeeh. Ada apa ini anak ibu kok bahagia sekali?” tanya ibu.

Kuceritakan apa yang barusan kualami. Ibu manggut-manggut mendengarnya sambil tersenyum.

“ibu kok ada ya orang kayak gitu, mau bantu orang susah kayak kita tapi tidak mau diungkap jati dirinya. Kayak CEO yang menyamar saja” kataku.

Ibu tersenyum dan berkata : “oh itu, dia memang pahlawan sejati. Kebaikannya tidak mau dipublikasi. Dia beramal baik dalam diam. Allah lah yang dia harapkan.”

Mata ibu tajam menatapku.

“doakan kebaikan bagi orang seperti ini. Jangan sekali-kali lupa jasanya. Jangan jadi orang durhaka.” Kata ibu.

“siapa dia bu?” tanyaku.

“dia.......” pandangan ibu nanar ke depan. Nampak kosong dan berkaca-kaca.

“siapa bu?” aku makin penasaran.

“Dia bapakmu” jawab ibu. “Bapakmu yang telah melunasi semuanya.”

“tetapi... bapak kan tidak punya.... ?” tenggorokanku tercekik tak kuasa melanjutkan kalimat.

“bapakmu sudah dapat duit nak. Itu yang dipakai untuk melunasi biaya sekolahmu.” Tutur ibu lembut

“dari mana?” tanyaku.

“ya kerja lah. Masak mencuri. Mencuri itu dosa” tutur ibu.

“tapi gaji bapak kan kecil. Untuk makan saja tidak cukup. Bapak harus ngojek sore hari untuk menutup kebutuhan.” Tegasku.

“Bapak sudah punya kerjaan baru.” Ibu nampak sedih. Aku turut berlinang air mata meski tidak tahu hal sebenarnya.

“Bapakmu ikut pakde. Jadi kuli bangunan. Alhamdulillah bayarannya masih dapat di atas seratus per hari. Dapat makan lagi dan cemilan. Kadang kala dapat rokok. Itu Bapakmu jual. Lumayan untuk tambahan.”

“Bapak sudah lima bulan ini berhenti dari pekerjaannya jadi guru. Penghasilannya tidak cukup untuk kebutuhan hidup. Semua serba mahal. Pakdemu menawari kerjaan. Maka disambutlah kerjaan itu. Memang agak berat tapi yang penting kebutuhan kita tercukupi. Kamu bisa sekolah. Biayamu dapat dilunasi.” Lanjut ibu.

“Saat ini tidak perlu gengsi. Yang penting dapur bisa mengepul. Kalian bisa makan dan sekolah, kita mestinya bersyukur. Memang menjadi guru adalah jiwa bapakmu. Keputusan ini berat bapakmu ambil. Tapi bagaimana lagi. Kebutuhan mengalahkan segalanya. Setelah sholat istikharoh, bapakmu mantab alih profesi. ” terang ibu sambil menatap nanar. Kulihat ada butiran air mata menetes diujung matanya.

 

***

Senja telah datang. Bapakku pulang. Bagaimana aku tidak tahu bapakku menanggalkan seragam kebesarannya berganti dengan baju lusuh dan bau keringat.

Kupeluk tubuh kekar terbungkus baju kumal dihadapanku. Kucium tangannya penuh takdzim. Bapakku diam tak bergeming. Hanya kurasakan elusan lembut dirambutku. Kami diam tak bicara. Entah berapa lama.

***

Bagiku ku tetaplah guru meskipun tak mengajar lagi. Bapakku Guru kehidupan. Yang mengajarkan pengorbanan diri untuk anak dan isterinya. Bapakku, Namamu abadi di hatiku.

Semoga tidak ada guru-guru lain yang mengalami nasib seperti bapakku. Gaji kecil tanggung jawabnya besar.

Selamat Hari Guru.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BLAI SLAMET

Mohon maaf bagi kawan-kawana yang kurang paham dengan bahasa Jawa. kata di atas memang kata-kata dalam bahasa jawa. orang jawa menyebutnya sebagai unen-unen . kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia artinya kurang lebih menjadi "Celaka tetapi Selamat". kontradiktif sekali, tetapi demikianlah orang jawa. satu sisi orang terkena bencana atau kecelakaan. namun si satu sisi orang tersebut selamat. kalau kita renungkan lebih dalam lagi ternyata ada makna filosofis yang terkandung di dalamnya. Bencana atau kecelakaan atau juga kesialan memang sudah menjadi takdir yang tidak dapat kita hindari. bencana adalah kehendak Ilahi. tak seorang pun dapat menolaknya, termasuk yang nulis catatatn ini ketika mendapatkan blai   "kesialan" beruntun beberapa waktu yang lalu. orang jawa menerimanya sebagai sebuah keputusan Pencipta bagaimanapun keadaannya. namun dalam kondisi bersamaan, orang jawa mengatakan blai itu sebagai blai slamet   selama kesialan yang di dapa...

PB 14 : NILAI-NILAI ISLAM DAN KEARIFAN LOKAL DARI BERBAGAI SUKU DI INDONESIA (BAGIAN 1)

  Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin yang berisi aturan dan tata nilai untuk segala manusia yang masih hidup di alam dunia agar terhindar dari kesesatan. Dengan menerapkan ajaran Islam, manusia dapat mencapai kedamaian, kemuliaan, keselamatan, kesejahteraan, aman, sentosa, bahagia, serta meraih kedudukan yang tinggi di dunia dan akhirat kelak. Hal tersebut disebabkan manusia mengemban amanah dari Allah Swt. sebagai Abdillah, Imaratul fil ‘Ardhi, dan Khalifatullah. Manusia sebagai hamba Allah yang senantiasa harus patuh untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Manusia juga berperan sebagai pemimpin di dunia yang kelak ditanyakan tentang kepemimpinannya, baik untuk dirinya sendiri, keluarganya, ataupun sebagai pemimpin umat. Manusia di dunia ini berperan sebagai “pengganti Allah” dalam arti diberi otoritas atau kewenangan oleh Allah kemampuan untuk mengelola dan memakmurkan alam ini sesuai dengan ketentuan Allah dan untuk mencari ridha-Nya. Dari ketiga fun...

DELAP VS MEDHIT

Sekali lagi saya uraiakan kata-kata dalam bahasa Jawa untuk kita apahami kembali dikarenakan kata-kta tersebut sudah mulai  jarang kita jumpai atau kita dengarkan lagi. Kata pertama kata DELAP , arti delap adalah suatu karakter atau sifat seseorang yang suka meminta kepada orang lain. orang delap itu kreatif. tetapi kreatifnya kreatif meminta kepada orang lain. dulu kata ini dilekatkan pada anak-anak yang suka minta kue atau  minuman kepada temannya dengan intensitas tinggi atau keseringan. walaupun sejatinya dia sendiri punya dan mampu untuk beli sendiri. tetapi setiap kali orang lain pegang makanan pasti dia minta. anak tersebut delap , kata teman-temannya. namun demikian predikat delap tidak hanya dilekatkan pada anak kecil. orang dewasa pun bisa dilekati kata ini jika memang memiliki sifat delap . pejabat pemerintah yang suka minta-minta pun bisa dikatakan delap. bawahannya dijadikan sapi perahannya karena sifat delap nya itu. biasanya orang delap juga be...