Langsung ke konten utama

SKI Kelas 9 PB 5 : 3.6 Menganalisis biografi tokoh penyebar Islam di berbagai wilayah Indonesia - Syaikh Abdur Rauf as-Singkili & Syaikh Muhammad Arsyad al Banjari

1. Syaikh Abdur Rauf as-Singkili 
Nama aslinya adalah Abdur Rauf al-Fansuri yang lahir di kota Singkil. Beliau adalah orang pertama kali yang mengembangkan Tarekat Syattariyah di Indonesia. 
Sekitar tahun 1640, beliau berangkat ke tanah Arab untuk mempelajari ilmu-ilmu keislaman. Abdur Rauf as-Singkili pernah bermukim di Makkah dan Madinah. Ia mempelajari Tarekat Syattariyah dari gurunya yang bernama Ahmad Qusasi dan Ibrahim al-Qur’ani. Kemudian, Abdur Rauf as-Singkili pernah menjadi Mufti Kerajaan Aceh ketika diperintah oleh Sultanah Safiatuddin Tajul Alam. 
Abdur Rauf as-Singkili memiliki sekitar 21 karya dalam bentuk kitab-kitab tafsir, hadits, fiqh, dan tasawuf. Beberpa karyanya antara lain sebagai berikut. 
  1. Kitab Tafsir yang berjudul Turjuman al Mustafid (Terjemah Pemberi Faedah), yakni merupakan kitab tafsir pertama yang dihasilkan di Indonesia. 
  2. Umdat al Muhtajin, yaitu karya terpenting yang ditulis oleh Abdur Rauf asSingkili. Buku ini terdiri dari 7 bab yang memuat tentang dzikir, sifat Allah dan Rasul-Nya, serta asal-usul ajaran mistik. Pada pembahasan di bab terakhir, beliau menceritakan tentang riwayat hidupnya dan gurunya.
  3. Mir’at at-Tullab fi Tahsil Ma’rifah Ahkam asy-Syar’iyah li al-Malik al-Wahab (Cermin bagi Penuntut Ilmu Fikih untuk Memudahkan Mengenal Segala Hukum Syariat). Kitab ini memuat berbagai masalah Madzhab Syafi’i yang merupakan panduan bagi para qadhi
Abdur Rauf as-Singkili meninggal di Aceh. Beliau dikenal dengan sebutan Teungku Syiah Kuala. Sebagai penghargaan masyarakat Aceh kepada perjuangan beliau, maka namanya dijadikan sebagai nama perguruan tinggi di Aceh, yaitu Universitas Syiah Kuala. Kampus ini didirikan pada tahun 1961 di Banda Aceh.

2. Syaikh Muhammad Arsyad al Banjari 
Muhammad Arsyad al-Banjari lahir di Lok Gabang, Martapura, Kalimantan Selatan pada tahun 1710. Beliau lahir dari pasangan Abdullah dan Siti Aminah. Setelah wafat, beliau dikenal dengan sebutan Datuk Kalampayan karena dimakamkan di Desa Kalampayan. 
Ketika masih kanak-anak, beliau diadopsi oleh Sultan Tahlilullah untuk dididik secara tuntas. Bahkan, beliau dikirim ke Makkah dan Madinah untuk belajar di sana selama lebih kurang 30 tahun. 
Sebelum berangkat ke tanah suci, beliau dinikahkan dengan seorang putri yang bernama Bajut sebagai sarana untuk mengikat perasaan dengan keluarga di tanah air. 
Di antara gurunya yang sangat berpengaruh adalah Syekh ‘Athaillah yang pernah memberikan izin kepada Muhammad Arsyad al-Banjari untuk mengajar dan memberi fatwa di Masjidil Haram. Selama belajar di tanah Suci ia berteman dengan para ulama, di antaranya sebagai berikut.
  1. Syaikh Abdus Samad al-Palimbani.
  2. Abdul Wahab Bugis dari Makassar yang kemudian menjadi menantunya (dinikahkan dengan Syarifah binti Muhammad Arsyad al-Banjari). 
  3. Syaikh Abdurrahman Masri dari Jakarta
Langkah pertama yang dilakukan Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari sekembalinya dari belajar di tanah suci adalah membina kader-kader ulama. Ia meminta kepada Sultan Tamjidillah sebidang tanah untuk dijadikan sebagai pusat pendidikan. Di tempat itu, dibangun rumah tinggal, ruang belajar, perpustakaan, serta asrama bagi para santri.
Berkat perjuangan keras beliau dengan dibantu menantunya akhirnya pusat pendidikan tersebut ramai dikunjungi para santri dari berbagai daerah. Tempat tersebut hingga saat ini dikenal dengan nama “Kampung dalam Pagar”. Sebab, para santri yang belajar dilarang meninggalkan tempat tersebut tanpa izin. 

Muhammad Arsyad al-Banjari juga aktif menulis buku. Di antara karyanya yang terbesar adalah kitab yang berjudul Sabilul Muhtadin (Jalan Orang yang Mendapat Petunjuk). Karena keilmuan beliau yang luar biasa, Muhammad Arsyad al-Banjari mendapat julukan “Matahari Agama” dari Banjar.

SEKIAN. Silakan isi daftar hadir berikut !

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BLAI SLAMET

Mohon maaf bagi kawan-kawana yang kurang paham dengan bahasa Jawa. kata di atas memang kata-kata dalam bahasa jawa. orang jawa menyebutnya sebagai unen-unen . kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia artinya kurang lebih menjadi "Celaka tetapi Selamat". kontradiktif sekali, tetapi demikianlah orang jawa. satu sisi orang terkena bencana atau kecelakaan. namun si satu sisi orang tersebut selamat. kalau kita renungkan lebih dalam lagi ternyata ada makna filosofis yang terkandung di dalamnya. Bencana atau kecelakaan atau juga kesialan memang sudah menjadi takdir yang tidak dapat kita hindari. bencana adalah kehendak Ilahi. tak seorang pun dapat menolaknya, termasuk yang nulis catatatn ini ketika mendapatkan blai   "kesialan" beruntun beberapa waktu yang lalu. orang jawa menerimanya sebagai sebuah keputusan Pencipta bagaimanapun keadaannya. namun dalam kondisi bersamaan, orang jawa mengatakan blai itu sebagai blai slamet   selama kesialan yang di dapa...

PB 14 : NILAI-NILAI ISLAM DAN KEARIFAN LOKAL DARI BERBAGAI SUKU DI INDONESIA (BAGIAN 1)

  Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin yang berisi aturan dan tata nilai untuk segala manusia yang masih hidup di alam dunia agar terhindar dari kesesatan. Dengan menerapkan ajaran Islam, manusia dapat mencapai kedamaian, kemuliaan, keselamatan, kesejahteraan, aman, sentosa, bahagia, serta meraih kedudukan yang tinggi di dunia dan akhirat kelak. Hal tersebut disebabkan manusia mengemban amanah dari Allah Swt. sebagai Abdillah, Imaratul fil ‘Ardhi, dan Khalifatullah. Manusia sebagai hamba Allah yang senantiasa harus patuh untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Manusia juga berperan sebagai pemimpin di dunia yang kelak ditanyakan tentang kepemimpinannya, baik untuk dirinya sendiri, keluarganya, ataupun sebagai pemimpin umat. Manusia di dunia ini berperan sebagai “pengganti Allah” dalam arti diberi otoritas atau kewenangan oleh Allah kemampuan untuk mengelola dan memakmurkan alam ini sesuai dengan ketentuan Allah dan untuk mencari ridha-Nya. Dari ketiga fun...

SKI kelas 9 PB 3: Peran Walisongo Dalam Dakwah Islam di Indonesia

a. Pendidikan dan Pengembangan Keilmuan  sumber : pecihitam.org Syekh Maulana Malik Ibrahim atau yang lebih dikenal dengan Sunan Gresik mendirikan Pesantren di desa Gapura, Gresik, guna mendidik kader-kader pemimpin muslim yang andal.  Sunan Ampel mendirikan Pesantren Ampel Denta. Di antara murid-muridnya adalah Raden Paku, Raden Fatah, Raden Makdum Ibrahim, Syarifuddin, serta Maulana Ishaq. Jejak dakwah Sunan Ampel bukan hanya di Surabaya dan ibu kota Majapahit, tetapi juga meluas sampai ke daerah Sukadana, Kalimantan.  Dakwah awal Sunan Bonang dilakukan di Kediri yang menjadi pusat ajaran Bhairawa-Thantra dengan mendirikan masjid di daerah Singkal. Sunan Bonang terkenal sebagai tokoh yang piawai dalam berdakwah dan menguasai berbagai disiplin ilmu, mulai dari fiqh, ushul fiqh, ushuluddin, tasawuf, seni, sastra, arsitektur, dan berbagai ilmu kesaktian. b. Seni-Budaya  Seni dan buday a  tertentu disesuaikan dengan nilai-nilai ajaran Islam. Hal ini melalui proses...