-
-
:“Pakdhe, Ternyata banyak ahli-ahli masalalu, ya ? Ada ahli geologi kayak Pakdhe yang mengkaji proses-proses dibumi ratusan ribu hingga jutaan tahun yang lalu. Ada ahli arkeologi dan anthropologi yang mengkaji kisah manusia dan peninggalannya ribuan tahun yang lalu. Juga ada ahli bio-evolusi dan paleontologi yang mengkaji mahkluk hidup jaman dahulu sejak bumi terbentuk. Bahkan ada Paleoanthropologi yang ahlinya Pak Jacob dari Jogja”
-
:”Lah kowe wis pinter mendongeng juga gitu, to le ?”
-
:”Tapi mbok dongeng evolusinya diterusin dhe ?”
-
Pararaton 1296 Caka : Bencana “Pagunung Anyar” dan Sandyakala ning Majapahit
Awang Harun Satyana
Judul di atas maksudnya adalah menurut Kitab Pararaton yang
diterjemahkan Brandes (1896), bahwa pada tahun 1296 Caka atau 1374
Masehi telah terjadi sebuah bencana bernama “Pagunung Anyar”
yang memundurkan Majapahit, kerajaan Nusantara terbesar. Apakah bencana
Pagunung Anyar ? Saya menafsirkannya, itu adalah erupsi gununglumpur
ala semburan LUSI (!)
Maksud hati ingin menelusuri tulisan2 sejarah tentang kronik kejadian
Bledug Kuwu di selatan Purwodadi agar bisa mencari analogi untuk kronik
semburan LUSI, ternyata penelusuran buku2 di atas malahan membawa saya
ke pemikiran bahwa : selain oleh alasan politik, Majapahit MUNGKIN telah
mundur oleh deformasi Delta Brantas akibat rentetan erupsi gununglumpur
Jombang-Mojokerto-Bangsal pada kawasan sepanjang 25 km. Mari kita lihat
sisik-meliknya.
Kita mulai dari panorama sebuah gunung yang dikeramatkan oleh
penduduk dan tokoh2 kerajaan sejak Mpu Sindok, Erlangga, dan para
pengikutnya : Gunung Penanggungan. Gunung Penanggungan, sebuah gunung
setinggi 1659 meter di utara Gunung Arjuno-Welirang, adalah gunung
paling dekat ke lokasi semburan LUSI. Gunung ini terletak di sebelah
selatan Sungai Porong dan masih ke sebelah selatan dari Gawir Watukosek,
sebuah gawir sesar hasil deformasi Sesar Watukosek yang juga
membelokkan Sungai Porong , melalui titik2 semburan lumpur panas
termasuk LUSI, juga melalui gunung2 lumpur di sekitar Surabaya dan
Bangkalan Madura.
Dari Gunung Penanggungan ke lembah dan delta Brantas pemandangannya
permai dan subur lahannya, sehingga banyak kerajaan didirikan di dataran
Brantas. Menurut Nash (1932) – “hydrogeologie der Brantas vlakte”,
Delta Brantas terbentuk berabad-abad lamanya; dan peranannya penting di
dalam percaturan politik kerajaan-kerajaan yang pernah ada di Jawa
Timur. Kemajuan dan kemunduran kerajaan2 ini kelihatannya banyak
dipengaruhi oleh segala yang terjadi di Delta Brantas.
Denys Lombard, ahli sejarah berkebangsaan Prancis yang menulis tiga volume tebal buku sejarah Jawa tahun 1990 “Le Carrefour Javanais – Essai d’Histoire Globale” (sudah diterjemahkan oleh Gramedia sejak 1996 dan cetakan ketiganya diterbitkan Maret 2005) menulis tentang “Prasasti Kelagyan”
zaman Erlangga bercandra sengkala 959 Caka (1037 M). Kelagyan adalah
nama desa Kelagen sekarang di utara Kali Porong. Prasasti Kelagyan
mmenceritakan bahwa pada suatu hari sungai Brantas yang semula mengalir
ke utara tiba-tiba mengalir ke timur memutuskan hubungan negeri Jenggala
dengan laut, merusak tanaman dan menggenangi rumah2 penduduk. Erlangga
bertindak dengan membangun bendungan besar di Waringin Pitu dan memaksa
sungai kembali mengalir ke utara. Mungkin, inilah yang disebut sebagai
bencana “Banyu Pindah” dalam buku Pararaton. Bencana seperti
ini kelihatannya terjadi berulang2, bencana yang sama dicatat di dalam
buku Pararaton terjadi lagi tahun 1256 Caka (1334 M) pada zaman
Majapahit.
Sejak zaman Kerajaan Medang abad ke-9 dan 10, Delta Brantas yang
dibentuk dua sungai (Kali Mas dan Kali Porong) diolah dengan baik, muara
Brantas dijadikan pelabuhan untuk perdagangan (Pelabuhan Hujung Galuh).
Ibukota kerajaan didirikan dan dinamakan Kahuripan yang letaknya di
dekat desa Tulangan, utara Kali Porong, di sebelah barat Tanggulangin,
di dalam wilayah Kabupaten Sidoarjo sekarang (sekitar 10 km ke sebelah
utara baratlaut dari lokasi semburan LUSI sekarang). Setelah kerajaan
Erlangga pecah menjadi dua pada abad ke-11, yaitu Panjalu (Kediri) dan
Jenggala (Kahuripan), dan Kahuripan mundur lalu dianeksasi Kediri,
pelabuhan dari Brantas ditarik ke pedalaman di Canggu, dekat Mojokerto
sekarang. Kemudian, Kediri digantikan Singhasari, lalu akhirnya Kerajaan
Majapahit pada tahun 1293 M, pusat kerajaan kembali mendekati laut di
Delta Brantas, sehingga Majapahit menjadi kerajaan yang menguasai
maritim.
Dalam hubungan dengan kemunduran Majapahit, kitab Pararaton mencatat (Brandes, 1896: “Pararaton” terbit lagi tahun 1920 setelah diedit oleh N.J. Krom) :
- Bencana yang dalam kitab Pararaton disebut “BANYU PINDAH” (terjadi tahun 1256 Caka atau 1334 M).
- Bencana yang dalam kitab Pararaton disebut “PAGUNUNG ANYAR” (terjadi tahun 1296 Caka atau 1374 M)
Secara harafiah, Banyu Pindah=Air Pindah, Pagunung Anyar = Gunung Baru.
Penelitian selanjutnya (Nash, 1932) telah menemukan bukti-bukti bahwa
telah terjadi berbagai deformasi tanah yang pangkalnya adalah
bukit-bukit Tunggorono di sebelah selatan kota Jombang sekarang,
kemudian menjalar ke timurlaut ke Jombatan dan Segunung. Akhirnya
gerakan deformasi tersebut mengenai lokasi pelabuhan Canggu di sekitar
Mojokerto sekarang, lalu makin ke timur menuju Bangsal (sekitar 25 km di
sebelah barat lokasi semburan LUSI sekarang). Di dekat Bangsal ada
sebuah desa yang namanya GUNUNG ANYAR. Begitu juga di tempat pangkal
bencana terjadi di selatan Jombang ada nama desa serupa yaitu DENANYAR
yang semula bernama REDIANYAR yang berarti gunung baru.
Perhatikan bahwa nama GUNUNG ANYAR juga dipakai sebagai nama sebuah
kawasan di dekat Surabaya yang sekarang menjadi terkenal dalam hubungan
dengan kasus semburan LUSI sebab ternyata GUNUNG ANYAR adalah sebuah
mud volcano yang membentuk kelurusan dengan LUSI.
Nah, apakah bencana alam yang memundurkan era keemasan Majapahit yang dalam kitab Pararaton disebut bencana “Pagunung Anyar”
adalah bencana-bencana terjadinya erupsi jalur gununglumpur dari
selatan Jombang-Mojokerto-Bangsal ? Jalur itu membentuk jarak sepanjang
sekitar 25 km. Kalau erupsi semua gununglumpur itu sedahsyat seperti
semburan LUSI sekarang, bisa dibayangkan bagaimana terganggunya
kehidupan di Majapahit pada akhir tahun1300-an dan pada awal 1400-an.
Serangan fatal mungkin terjadi karena rusaknya pelabuhan Canggu di dekat
Mojokerto, sehingga Majapahit yang merupakan kerajaan maritim menjadi
terisolir dan perekonomiannya mundur. Zaman itu, Canggu di Mojokerto
masih bisa dilayari dari laut sekitar Surabaya sekarang.
Sepeninggal Hayam Wuruk, raja-raja Majapahit kurang cakap memimpin
negara, banyak perang saudara, seperti Paregreg, yang melemahkan negara
sampai akhirnya Majapahit musnah pada tahun 1527 M saat diserang
kerajaan Islam pertama di Jawa : Demak. Suksesi tidak berjalan dengan
baik, one-man show mendominasi pemerintahan selama Gajah Mada dan Hayam
Wuruk, tak ada regenerasi ke penerusnya. Sepeninggal pasangan Gajah
Mada-Hayam Wuruk, negara melemah. Tetapi, catatan2 tak tertulis di buku
sejarah, kecuali Pararaton beserta kondisi geologis-geomorfologis Delta
Brantas menunjukkan, bahwa bencana alam erupsi gununglumpur ala semburan
LUSI juga patut diperhitungkan sebagai penyebab kemunduran Majapahit.
Cerita rakyat atau dongeng Jawa Timur “Timun Mas”
(seperti pernah di-posting Pak Dwi-PetroChina dan kita diskusikan tahun
lalu dalam hubungannya dengan semburan LUSI) berasal dari sekitar zaman
Kahuripan di Delta Brantas sekitar abad ke-11 (James Danandjaja, 1984 :
“Folklor Indonesia”). Kemunculan raksasa yang selalu disertai gempa,
garam yang dilempar Timun Mas yang menjadi lautan, dan terasi yang
dilempar Timun Mas yang menjadi lumpur panas yang akhirnya
menenggelamkan sang raksasa, secara samar menggambarkan kondisi
bagaimana kalau sebuah mud volcano ala LUSI meletus. Kita melihatnya
sekarang, lumpur panas dan genangan seperti laut dengan air asin
menengelamkan desa2 Sidoarjo yang dulunya adalah wilayah Kahuripan.
Apakah dongeng Timun Mas sebenarnya menggambarkan bahwa dulu pun kasus
seperti LUSI pernah terjadi ? Walahualam, tetapi penelusuran buku2
sejarah, geologi, dan folklore Timun Mas rasanya memungkinkan hal itu.
Apakah bencana LUSI sekarang akan memundurkan Jawa Timur atau bahkan
Indonesia ? Sekitar 500-600 tahun yang lalu mungkin hal yang sama telah
terjadi terhadap Majapahit ! Lima ratus tahun kemudian, mestinya kini
kita tak semudah itu patah diterjang bencana bukan ?
Awang H S
Geologist Indonesia
Catetan epiloque
” Wadduh Dhe ,,, kalau begitu semestinya kita harus melihat ulang sejarah Indonesia. Memasukkan faktor ilmu kebumian kedalam pembelajaran sejarah sangat penting untuk rakyat Indonesia dimasa mendatang. Seperti yang PakDhe tulis dahulu tentang Candi Kedulan, Ya Dhe ?
“Ya, pelajaran itu mestinya untuk generasimu dan generasi nantinya le, jas merah jangan digantung saja … Jangan Lupakan Sejarah ! “
Tulisan diatas hanya menunjukkan bahwa di daerah ini dahulu pernah
terjadi secara alamiah, juga memebrikan pelajaran bahwa MV adalah proses
alam yang pernah terjadi sejak dahulu di daerah ini. Artinya daerah
Jawa Timur terutama sekitar Porong sangat BERPOTENSI untuk terjadi atau
munculnya Mud Volkano.
Sama saja dengan daerah Jakarta yang memang dibentuk oleh endapan
banjir. Secara alamiah memang Jakarta tempatnya banjir. Tetapi bukan
untuk menyatakan karena sering banjir ya udah kita nerima saja, bukan.
Demikian juga dengan MV di Porong. Kalau anda berbuat sesuatu akhirnya dapat juga “memicu dan memacu” terbentuknya MV. Coba simak Detak-detak kelahiran LUSI.
Sumber : rovicky.wordpress.com/
Assalamualaikum Wr. Wb.
BalasHapusOm Swastiastu.
Rahayu.
Saya sangat menghargai tulisan-tulisan Anda di dalam putrapenanggungan.blogspot.com tentang peninggalan-peninggalan kuno pada era Kahuripan, Jenggala, Kediri, dan juga Majapahit. Anda selaku pemeluk Agama Islam, ternyata tidak melupakan nilai-nilai luhur Agama Siwa Buddha yang telah ditaburkan oleh para leluhur kepada keturunan-keturunannya hingga saat ini.
Semoga Anda, saya, dan juga segenap keturunan raja-raja maupun rakyat Kahuripan, Jenggala, Kediri, dan Majapahit dapat saling menyayangi, menghormati, dan menjunjung tinggi nilai-nilai Dharma (Kebenaran, Kebajikan) di mana pun kita berada serta sanggup saling membela satu sama lain
ketika kita dalam keadaan terjepit, di mana pun kita berada.
Selamat Malam. Selamat Tidur.
ALLAH SWT, Sanghyang Tunggal yang Maha Agung, senantiasa menyertai kita semua. Amin.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Om Santi Santi Om.
Rahayu.
ADIPATI KERTAWIJAYA SASRABAHU.