Rabu, 05 September 2012

Surat Terbuka dari Seorang Sahabat

SURAT TERBUKA

 

Berikut ini adalah sebuah surat terbuka dari seorang sahabat yang mengundurkan diri dari Greget Nuswantara sebuah akun yayasan Turangga Seta yang ada di Facebook.
Teman-teman Turangga Seta dan Greget Nuswantara yang saya hormati,

akhirnya tiba saatnya saya memposting surat ini untuk mengundurkan diri sebagai anggota Turangga Seta, kesibukan kerja dan rutinitas petualangan mempelajari Budaya dan Sejarah daerah yang saya kunjungi berdampak pada tidak maksimal dan konsisten membagi ruang pada visi Turangga Seta,
walau telah berupaya bersikap tetap netral dalam peran yang saya ambil dalam menyikapi visi dan sejarah versi Turangga Seta akan membuat saya sendiri tidak merasa nyaman dengan kenyataan temuan lapangan yang saya peroleh.

satu hal yang pasti adalah kurangnya literatur Sejarah yang di miliki Turangga Seta sebagai bahan kajian ataupun pembanding dalam mencoba mengurai Sejarah panjang Nusantara menyebabkan
kesan kemegahan budaya dan peradaban masa lalu yang selalu di tampilkan baik dalam Grup GregetNuswantara maupun media TS lainnya akan sangat berdampak pada sentralistik budaya etnis tertentu dalam hal ini adalah Javanisme sementara kaitan dengan daerah lainnya sangat kurang di respon dan di teliti lebih jauh, padahal kita sama mengetahui bahwa dalam siklus yang sama dalam suatu fase sejarah, antara satu daerah dan lainnya akan sangat berhubungan erat baik dalam pertalian hubungan Kekeluargaan, Budaya, Teknologi maupun Perdagangan.

untuk Sejarah Majapahit versi Turangga Seta sendiri sebagai dasar pijakan dalam merestorasi sejarah Nusantara akan menimbulkan polemik panjang, begitu juga asumsi yang sangat kontroversial tentang penimbunan berbagai bangunan peradaban di seluruh Nusantara pasca keruntuhan Majapahit,, bagaimana mungkin peristiwa Fenomenal Leluhur melakukan triwikrama serentak tuk menutupi bangunan –bangunan megah akibat masuknya ajaran baru yang menurut TS merusak sendi kehidupan tidak sempat tergores dalam catatan resmi sejarah maupun budaya tutur di tanah Jawa bahkan di wilyah lainnya seperti di Kalimantan, Sumatera, Bali, dan Sulawesi bahkan Timur Nusantara yang menurut Turangga Seta saat itu adalah adipati bawahan dari Majapahit,
tidak konstruktif nya periodesasi dan alur infromasi serta tidak sistematis pembabaran sejarah versi Turangga Seta dibandingkan catatan literatur di berbagai daerah akan menyebabkan sangat susah bagi generasi muda untuk mempelajari dan mencoba merangkai sejarah Nusantara secara utuh, dan hal ini tetap akan menjadi penghalang bagi Turangga Seta yang akan merombak total sejarah Nusantara.

sebagai pembanding literatur jauh sebelum Majapahit berdiri di tanah Timur Nusantara telah ada Kesultanan Tidore juga di Sulawesi telah berdiri kerajaan Gowa yang berdaulat dan pada puncak keemasan Kerajaan Gowa telah meliputi seluruh kawasan Timur Indonesia bahkan hingga Australia yang mana perwakilan dagang berbagai kerajaan Nusantara baik itu Bima, Buton, Ternate dan Tidore juga perwakilan Eropa dari Portugis, Spanyol dan Inggris diberi tempat dalam naungan kerajaan Gowa, karena Makassar saat itu adalah bandar teramai se Asia Timur Raya, bahkan angkatan laut kerajaan Inggris meminta ijin pada Raja Gowa untuk menempati kawasan Australia.
jadi klaim Turangga Seta yang mana seluruh kerajaan di Nusantara saat itu menginduk pada Majapahit sebagai pusat pemerintahan atau Kerajaan Induk sangat tidak relevan dengan bukti lapangan dan literatur yang kami temukan karena catatan Lontara kerajaan Gowa sangat detail menjelaskan moment penting yang terjadi saat itu.

juga tentang klaim Turangga Seta atas Beteng bawah laut utara kota Jayapura sebagai bangunan peninggalan Leluhur, yangmana kita sama mengetahui belum ada satupun anggota Turangga Seta maupun member grup manapun yang berkunjung ke sana apalagi tuk melakukan ekplorasi, tidak tergesa-gesa kah teman-teman meng-klaim tanpa ada penelitian lebih jauh, hal ini kami anggap bukanlah sebuah upaya mendidik dan mencerdaskan anak Bangsa..

Hal yang sangat saya apresiasi adalah keberanian Turangga Seta menyuarakan interpretasi hasil penilitian sendiri tentang kemegahan Nusantara via GregetNuswantara secara terbuka , paling tidak imbas dari hasil penelitian tersebut utamanya tentang klaim adanya bangunan megah yang tertimbun (sengaja ditimbun) seperti Piramid dan sebagainya memacu kesadaran anak bangsa mencintai Sejarah utamanya ketika melihat grup diskusi serupa via FB lainnya dapat mengambil referensi dari Grup GregetNuswantara baik secara sembunyi maupun terang-terangan seperti seperti Bangsa Bumi,. walau kemudian mereka juga memberi interpretasi yang berbeda tetap saja pembenaran akan hipotesa mengenai asal muasal sejarah masih tetap sama bersifat mengangkat etnis tertentu.... :- D

apapun tindakan, metode dan sikap teman-teman dalam merangkai bingkai sejarah akan tetap kami hormati namun alangkah indahnya bila kita bersama tak melupakan esensi ke’Bhineka’an Budaya Nusantara sendiri, demikian juga asumsi keabsolutan informasi via Leluhur akan sangat membentuk kita menjadi sosok yang tidak Humanis jika harus mengikutinya tanpa bukti konkret. Cukup sudah pada masa lalu saat masa rezim otoriter berkuasa budaya dan sejarah kita diseragamkan, berikan nuansa lebih pada anak bangsa untuk berkarya dan memberi warna pada sejarahnya sendiri.
seperti yang teman-teman ketahui kami sangat respect pada kejujuran dalam penelitian dan mempelajari sejarah, juga membuka ruang sebebasnya akan alur informasi dari literatur dan diskusi darimanapun yang jelas sumbernya disertai bukti otentik dan dapat di pertanggungjawabkan, hal ini yang kami tidak dapatkan via media GregetNuswantara dan Karena tidaksamaan visi ini, kami harus mengundurkan diri.

Dengan demikian, mulai saat ini Saya bersama seluruh member Armada Timur yang berada di Sulawesi, NusaTenggara Barat dan Timur, Ternate dan Tidore, Ambon dan Papua sudah tidak ada sangkut pautnya dengan semua aktifitas Turangga Seta.

‘jabat erat tangan dan mari berkarya bersama demi Nusantara’

Jakarta, 05 September, 2012
Anthonio LanglangBuana
Dan Mungkin Ketika saya upload surat ini, postingan di GregetNuswantara sudah dihapus
Judul: Surat Terbuka dari Seorang Sahabat ; Ditulis oleh Riyono Putra Penanggungan; Rating Blog: 5 dari 5
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
Judul: Surat Terbuka dari Seorang Sahabat
Ditulis Oleh Riyono Putra Penanggungan
Jika mengutip harap berikan link yang menuju ke artikel Surat Terbuka dari Seorang Sahabat ini. Sesama blogger mari saling menghargai. Terima kasih atas perhatiannya

11 komentar:

  1. saya jg termasuk pengagum kebesaran nusantara (GN=Nuswantara) dan terus terang walau tidak menjadi member saya juga tertarik sekaligus mengikuti uraian2 yg disampaikan Turangga Seta (TS) via GregetNuswantara (GN), hanya saja benar seperti yang disampaikan yang punya blog penanggungan ini, TS/GN cenderung 'diktator' dengan menumpas kritik atau pandangan yg sedikit saja melenceng dari tema (tujuan)yang mereka sampaikan, seakan kebenaran satu-satunya adalah mereka (TS) dgn serpihan2 wangsit yang mereka bawa.
    sangat disayangkan dimana semangat menggali keluhuran budaya bangsa tetapi tidak mentolelir sedikit pun perbedaan pendapat (sudut pandang)...
    mengenai faham2 yang dianut TS/GN sendiri memang menurut saya pribadi sangat bertolak belakang dengan Islam dimana mereka mengedepankan kedewaan (baca: menyan) sebagai referensi.
    TS/GN terlihat sangat anti dengan budaya barat yang katanya munyuk & ndobol sedangkan mereka sendiri bekerja tetap saja menggunakan produk barat,sebut saja GPS, alat uji geolistrik, dsb...hehe...
    ada satu kepenasaran saya, jika benar TS/GN memang sudah bisa berhubungan dengan bangsa atlantis yang katanya masih ada dan serba tahu/ maju, berilah satu bukti kongkrit keberadaan mereka,misalnya minta salah satu produk mereka yang bisa dilihat dan dirasakan...pastinya bangsa atlantis (selat-an) itu tidak kikir dan sombong khan..?hehe...
    penemuan2 yang mereka sampaikan juga banyak berdasar dari 'kecurigaan' terhadap timbunan (gunung/bukit), mungkin ini akibat fantasi kepiramidaan yang terinspirasi dari bosnian piramid...entahlah....
    dan apapun itu saya tetap menghormati semangat TS/GN untuk mengungkap kebesaran nusantara dengan cara2 mereka, mungkin pola fikir saya saja yang memang belum sampai kesitu...
    rahayu _/\_

    BalasHapus
  2. saya hanya mengikuti postingan2 GN saja, menurut saya yang pokok adalah mereka menganggap yang ghoib adalah real, tapi tidak apalah semua orang boleh berimajinasi apapun itu, yah lumayan untuk bacaan dikala senggang,

    BalasHapus
  3. Sy bkn pengikut TS/GN, dan sayapun tidak menghujat mereka, karena sepengetahuan saya, mereka menguak sejarah Nusantara berdasarkan peninggalan yang ada, tdk mungkin berdasarkan Islam, krn sdh diklaim Islam masuk sesudah masehi, maka wajar saja sandi-sandi tntang nusantara diadob atau di ambil dari peninggalan leluhur tanah nusantara. dan saya berpendapat istilah2 yg digunakan TS/GN (Contoh:Dewa) itu bukan krn merujuk ke agama tertentu, tetapi dikarenakn sandi yg ada melalui seni penyampaian yg mudah diterima pada jaman itu, ya adanya memang itu. Sya hy apresiasi saja dgn usaha mereka yg sudah mencoba menguak nusantara,walaupun memang blm pda titik sempurna atw penyimpulan. bahkan dalam Tauhid yg sebanrnya, ada yg beranggapan bhwa sebenarnya islam berasal muasal dari Tanah jawa, jk hal ini terungkap maka tatanan syareat akan berubah. jadi wajar saja jika msh bnyk rahasia yg ingin diungkap. oleh karenanya sy setuju jk tdk berdasrkan literatur agama islam terlebih dahulu, karn bisa mengandung SARA yg lbh cpt bergejolak. mudah2n bisa jadi wacana pandangan sya yg masih awam...

    BalasHapus
  4. saya sangat kagum dengan keryakinan dan kerja keras GN apapun yang mereka lakukan tujuannya untuk mengungkap sejarah nusantara secara pasti/tidak ada campur tangan KOLONIAL/PRODUK IMPORT.saya yakin semua bangsa ingin mengunggulkan leluhur mereka masing2 tidak terkecuali ajaran leluhur yang kita import.bodohnya bangsa kita adalah lebih memuja2 budaya asing ketimbang menggali kearifan sendiri/lokal.sadarkah kita bahwa kita telah menjadi orang yang terasing dari budaya kita sendiri.itu pendapat saya yang mudah2an tidak menyinggung kita sesama bangsa NUSANTARA dan maaf bila ada kata2 saya yang kurang berkenan.dalam hal ini saya masih belajar.segala saran dan sanggahan saya terima.RAHAYU.

    BalasHapus
  5. Cuma mau ngecek, disensor dulu apa nggak ni?

    BalasHapus
  6. Mantap, Mas Anthonio...

    BalasHapus
  7. Ini dari Harry Potter, dan juga si anonim yang ngecek dulu sensoran blognya. Saya cuma berharap agar upaya apapun yang baik, yang bercita-cita ingin mengangat kembali harkat dan martabat Bangsa kita, yang sekarang habis dilindas kebodohan aneka bentuk, janganlah sampai kalah oleh kebodohan itu. Saya bisa ke sini karena lihat xenocross siapa itu memuai thread bantahan di Kaskus terhadap Turangga Seta yang kini halamannya sudah 380an. Penggunaan Kaskus sendiri sebagai media bantah2an menurut saya kurang bijak, karena orang cenderung bersembunyi di belakang nama-nama buatan ya seperti Harry Potter ini. Berikutnya tanpa bermaksud memuji, Turangga Seta cukup ngawur dan gentlemen untuk nongol secara terbuka, yang hasilnya di antaranya ya dibuatkan thread bantahan di Kaskus. Coba kita lihat salah satu aktivis thread bantahan itu pakai nama xenocross, lah itu kan ya sara jadinya. Harry Potter sendiri cross, dan walaupun bukan xeno, tapi punya teman xeno. Dan Harry Potter yang lagi nulis ini, bukan cross, tapi xeno. Menurut hemat saya kalau kurang sreg dengan cara Turangga Seta, silakan buat grup sendiri yang niat, semangat, dengan cara dan metode yang dikembangkan sesreg mungkin, selama niatnya untuk mengembalikan harga diri bangsa yang lagi ambleg...kalo merasa bahwa menyanisme itu gak pas, silakan buat grup pembuktian kebesaran nuswantara dengan cara yang berbeda. Coba kalo ternyata dengan banyak grup, metode, dan angle budaya yang berbeda, tetap saja terbukti bahwa Nusantara pantas jaya. Bangkitlah harga diri bangsa kita dari Merauke sampai Sabang. Kalo teman2 semua tidak atau belum mampu menemukan literatur atau sumber sejarah yang valid secara akademik, jangan berkecil hati, galileo juga dulu dikurung. Yang saya gak sreg adalah karena perbedaan cara dan sudut pandang, terus kita berenti menggali kebesaran itu, kita malah sibuk bantah2an, dan kita sibuk cari literatur asing yang katanya lebih valid. Nah inilah kebiasaan kita yang membuat kumpeni senang, gampang mencari titik pisah, alias self devide et impera. Kata kumpeni, njajah indonesia kaya main aikido, kagak usah pake tenaga. Jadi, ayo teman2, silakan beda cara, beda sudut pandang, beda budaya, beda keyakinan, tapi tetaplah berupaya menggali kembali harkat dan martabat Bangsa Indonesia yang hampir ambles ke Inti Bumi. Jangan dibesar-besarkan berkelahinya, nanti malah tambah capek, dan daikido penjajah gaya baru. Semangat, semangat, semangat, I love you full. Sekali merdeka tetap merdeka!!!

    BalasHapus
  8. maaf beribu maaf temen2 dan saudara2,sy mencoba memberi alasan kenapa TS itu tidak mau ada pemikiran yg berseberangan dengan mereka,sy tdk menjelekkan dan tdk menyayangkan tindakan TS,krena mereka berasal dr sorosilah trah leluhur mereka dan jaman dulu kala seorang raja menganut ucapan sabdo pandito ratu,artinya baik buruknya ucapan raja itu sebah amanah,mungkin itu yg di pegang sebagai dasar TS,dan sebenarnya kita tdk perlu susah2 mengkritisi dan mencemooh hasil pandangan mereka,mereka sedang berusaha membuka dan menguak peninggalan leluhur,krena sampai saat inipun blm ada sejarah yg pasti kapankan dan siapakan yg mengalami masa itu,dan saya harap teman2 serta saudara2 d sini,cukup menunggu jika memang terbukti benar,artinya kita semua sangat bangga lahir dr sebuah tanah dmana sebuah peradaban tinggi manusia berada dan tersebar d seluruh penjuru dunia.melihat orang dr sisi buruk sangat biasa,tp melihat kebaikan orang sangat jarang terjadi,maaf beribu maaf jika kliru ucapan saya,tidak bermaksud untuk membuat susasana menjadi keruh,tp hanya sedikit memberikan pandangan saja,Rahayu _/\_

    BalasHapus
  9. Saya sudah membuka youtube dan mengikuti Nuswantara Code of Atlantis Empire dari 1 s/d 50 ditambah dengan yang lain-lain yang berhubungan dengan Turangga Seta. Saya melihat Java sentrisme yang demikian kuatnya, sehingga seakan-akan hendak membangkitkan kembali khayalan Gajah Mada tentang Majapahit dan Nusantara yang ditulis oleh Mpu Prapanca di dalam Kitab Negarakertagama.
    Nusantara adalah istilah yang dipakai di dalam Negarakertagama yang merujuk pada Sumpah Palapa dari Gajah Mada adalah istilah sempat dibawa-bawa ke dalam politik nasional Indonesia, padahal itu hanyalah khayalan Gajah Mada saja. Biasalah, ceritapun ditulis untuk menciptakan mitos Gajah Mada sedemikian rupa supaya semakin hebat dan wah termasuk mitos akhir hidupnya yang pergi ke laut.
    Ketika Majapahit diperintah oleh Hayam Wuruk dengan mahapatihnya Gajah Mada, maka orang pun tahu bahwa Majapahit tidak pernah menguasai Sunda, sehingga memakai istilah Nusantara, maka Sunda tidak ikut di dalamnya. Ini salah satu alasan penolakan istilah Nusantara.
    Sepanjang pengetahuan saya bahwa Sumatera itu tidak pernah dikuasai Majapahit, karena tidak ada bukti lain bahwa Majapahit menguasai Sumatera.Tidak ada satu prasasti pun dapat ditemukan di Sumatera yang membuktikan bahwa Majapahit pernah berkuasa di Sumatera, sehingga satu-satunya yang dijadikan rujukan yang mengatakan bahwa Majapahit menguasai Sumatera hanyalah Kita Negarakertagama itu.Berbeda halnya dengan Sriwijaya yang pernah menguasai Jawa yang dibuktikan melalui beberapa prasasti yang ditemukan di daerah Pekalongan, dll. Kalau dikatakan bahwa Majapahit pernah melakukan invasi, maka itu benar, tapi tidak menguasai Sumatera. Itupun Gajah Mada harus mengalami kekalahan di daerah Aceh Tamiang meskipun dia dapat meloloskan diri ke salah satu pulau di sana dengan membiarkan pasukannya hancur. Selain itu kitab Hikayat Hang Tuah mengungkapkan bahwa Majapahit selalu dapat dihalau oleh Hang Tuah bersama saudaranya.
    Dengan demikian, maka istilah Nusantara atau Nuswantara hanya berlaku untuk daerah kecil mulai dari sebagian Jawa Tengah sekarang dan Jawa Timur sekarang serta Bali dan NTB (minus Sunda). Saya menolak istilah Nusantara apalagi Nuswantara dalam kerangka pikir yang ditulis Mpu Prapanca di dalam Kitab Negarakertagama.
    Mari kita memakai istilah Indonesia saja, karena dasar persatuan Indonesia adalah SUMPAH PEMUDA 1928, bukan Sumpah Palapa. Kesamaan kita adalah bahwa kita sama-sama dijajah oleh Belanda dan kemudian para pemuda bersumpah bersatu untuk sebuah cita-cita Indonesia merdeka hingga akhirnya kemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada 17/08-1945.
    Saya setuju dengan pencarian Atlantis apalagi kalau itu ada di Samudera Indonesia, tapi janganlah dalam bingkai Nuswantara sebagaimana ditulis dalam Kitab Negarakertagama tadi yang pada akhirnya membangkitkan kembali Majapahit hingga menjadi Jawa-sentris. Melainkan keindonesiaan kitalah yang patut kita bangkitkan, sehingga kita bangga menjadi bangsa Indonesia. Republik Indonesia yang merdeka.


    BalasHapus