Kamis, 14 Februari 2013

Kurikulum 2013 vs Mutu Guru

Kurukulum boleh berubah dengan kurikulum baru sekalipun yaitu Kurikulum 2013, ngajarnya tetap saja sama. Begitulah jargon yang banyak dipedomani guru-guru Indonesia. Sebuah jargon yang tidak jelas sumbernya. Jargon yang menunjukkan status qua serta antiperubahan. Jargon yang cenderung menikmati kemapanan. Meskipun jujur arti kemapanan itu sendiri belum dipahami.
Jangan disalahkan jika banyak di antara guru yang menjadikan jargon ini sebagai pedomannya. kenapa demikian  ? Guru Indonesia telah lama dininabobokkan dengan berbagai macam kemudahan di masa lampau. Kurikulum yang cenderung top down menjadikan guru-guru mati daya kreativitasnya. Juklak dan Juknis menjadi kitab suci yang haram untuk dilanggarnya. Jika tidak ada keduanya otomatis mereka tidak akan bekerja. Sebaliknya dengan ada keduanya mereka akan cenderung untuk memenuhi standar minimal yang ada pada keduanya. Ironi....
Demikian pula dengan sertifikasi yang ada. harapan peningkatan kinerja dengan diberikannya tunjangan dua kali gaji pokok nampaknya tidak berpengaruh efektif. Kinerja masih tetap sama. Jangan terlalu kita jauh mengukur tingkat keberhasilan guru dengan capaian nilai UN. Nilai UN masih penuh dengan rekayasa. Lihat saja keseharian guru. Datanglah lebih awal di sekolah. Saksikan jam berapa mereka datang. Simaklah saat mereka istirahat atau tidak ada jam. Lihat pula saat jam pulang sekolah. Di sana akan ketemu jawaban akan potret pendidikan kita.
jadi bagaimana dengan kurikulum 2013. Apakah akan mampu untuk meningkatkan mutu pendidikan kita ?
Secara teori jawabannya iya. tetapi prakteknya tunggu dulu. Masih banyak PR yang harus dislelesaikan oleh "penguasa" kita. terutama menyangkut Guru.

Judul: Kurikulum 2013 vs Mutu Guru; Ditulis oleh Riyono Putra Penanggungan; Rating Blog: 5 dari 5
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
Judul: Kurikulum 2013 vs Mutu Guru
Ditulis Oleh Riyono Putra Penanggungan
Jika mengutip harap berikan link yang menuju ke artikel Kurikulum 2013 vs Mutu Guru ini. Sesama blogger mari saling menghargai. Terima kasih atas perhatiannya

3 komentar:

  1. Ya, begitulah potret pendidikn tanah air. Tetapi saya yakin kalau ada kemauan pasti ada jalan. Perbaikan dunia pendidikan tinggal menanti kemauan kita saja. Bersama kita BISA

    BalasHapus
  2. Benar, kemauan memang modal awal kita dalam mencapai sesuatu. tetapi perlu dicamkan juga, bahwa kemauan saja tidak cukup. Perlu perbaikan di berbagai setor untuk meningkatkan mutu poendidikan. Salah satunya adalah pada masalah mutu guru sendiri.

    BalasHapus
  3. Kalaulah boleh kita /para guru INDONESIA bersuara mengenai mutu penidikan di INDONESIA rasanya saangat miris...... di satu pihak di tingkatkan tetapi di pihak lain di telantarkan atau secara tak sengaja di jatuhkan.Penghasilan di tin gkatkan dengan sertifikasi..... tapi secara tak sadar..... guru di kejar kejar oleh peraturan yg berubah-ubah ( DAPODIK ) Untuk memenuhi adminitrasi ini para guru banyak yang berspekulaasi bahkan cenderung menipu ( DATA DAPODIK ). Mengapa.......? Untuk memenuhi data DAPODIK para guru negeri maupun swasta harus tunggang langgang ke sekolaaah sekolah lain, agar dapat memenuhi DAPODIK harus mengajar 24 jam........ akhirnya tugas utama terlantar.......

    BalasHapus