Rabu, 23 Januari 2013

Muludan : Sebuah Tradisi

Saat saya SD, setipa kali momentum 12 Rabiul awal sekolah selalu menyelenggarakan kegiatan. Paling sering adalah kegiatan pengajian yang diisi oleh guru agama di sekolah itu. Kegiatan lain hampir tidak ada kecuali kegiatan makan buah yang dibawa dari rumah masing-masing. Buah-buah tersebut sebelumnya dikumpulkan dulu di kantor kemudian dibagi kembali ke siswa supaya merata. Dalam benak kami siswa SD saat itu, ini hanyalah akal licik guru-guru saja agar dapat dipilih dan disisihkan buah yang bagus untuk dibawa pulang. Su'udhon sih, dan memang itu kenyataannya. Walapun murid-murid telah membawah buah yang bagus-bagus dan jumlahnya tidak sedikit. Ketika dibagi kembali biasanya buah-buah kelas menengah ke bawah. Kemana buah kelas atasnya ? Mana anggur merahnya ? Mana apel fujinya ? kok kita hanya dapat bagian pisang meluluh....hehehe
Hal inilah yang kemudian membuat sebagian dari kita galau. Kayak pak pres kita ya ? pakai kata Galau segala. Sehingga ada niat tak baik timbul dalam sanubari kita. Bagaimana caranya agar buah itu tidak ke tangan pendekar berwatak jahat. Hehehe...jadi deh sebagian buah itu kami sembunyikan si belakang sekolah. Pas dikumpulkan ya sebagian saja. Sisanya masih utuh kami simpan dan kami sembunyikan. Nanti kalau pulang diambil lagi.
Jadi gak ikhlas ya ?
Padahal niatan utamanya tadi mengadakan peringatan maulid nabi. Ternyata ?

25 tahun kemudian
Saya sudah jadi guru loh, hehehe...Kalau dulu waktu saya SD ada acara bawah buah. Ternyata sekarang juga masih ada. Kayaknya sudah mentradisi ya. Tapi sorry man, saya tidak suka melakukan hal-hal yang dulu saya benci. Yaitu mengambil bawaan buah siswa pas muludan. Biar itu dimakan siswa saja.
Kalau dikasih ?
Masak saya tolak !!!
Kenangan masa kecil, 23 Januari 2013
Judul: Muludan : Sebuah Tradisi; Ditulis oleh Riyono Putra Penanggungan; Rating Blog: 5 dari 5
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
Judul: Muludan : Sebuah Tradisi
Ditulis Oleh Riyono Putra Penanggungan
Jika mengutip harap berikan link yang menuju ke artikel Muludan : Sebuah Tradisi ini. Sesama blogger mari saling menghargai. Terima kasih atas perhatiannya

2 komentar:

  1. Jangan munafiq kamu punya organisasikamu peringati hari lahirnya, padahal yang diperingati adalah panutan kita.

    BalasHapus
  2. apa perlu saya jelaskan mengapa muhammadiyah tdk pernah memperingati maulid na
    bi dg kegiatan sbgm dilakukn kbykan org pada umumnya? namun satu sisi ada milad d muhammadiyah?

    BalasHapus