Kamis, 02 Agustus 2012

Astaghfirullah, Aku Telah Membuat Isteriku Menangis


http://elsaelsi.files.wordpress.com/2011/04/menangis.jpgSatu ketika menjelang ulang tahun ketiga pernikahan kami, kuajak isteriku untuk mengevaluasi perjalanan cinta yang tengah kami rajut dalam bingkai perkawinan. Kami tidak punya masalah, semuanya berjalan baik-baik saja. Namun kami, terutama aku, sangat menyadari bahwa untuk menyatukan dua unsur yang berbeda ke dalam sebuah kesatuan membutuhkan usaha yang tak sedikit dari masing-masing pihak. Sebagian dari usaha itulah yang ingin kami wujudkan.
Untuk menyelami tiap-tiap pribadi yang datang dari latar belakang yang berbeda, kami menyepakati suatu cara. Masing-masing kami membuat sebuah daftar yang terdiri dari dua bagian : hal-hal yang disukai dan yang tidak disukai dari pasangan. Tanpa saling mengetahui, kami harus mengisi daftar sendiri berdasarkan hal-hal yang ditemui dari keseharian. Semuanya akan kami lakukan sampai tanggal peringatan penikahan kami di tahun itu. Dimana kami akan mempertukarkan daftar yang telah dilengkapi. Dengan harapan akan membuat kami berubah menjadi diri yang lebih disukai dan memahami.
Namun ketika waktu yang ditunggu telah datang, isteriku tak menyelesaikan isian daftarnya. “Aku takut!” katanya waktu itu. Sementara aku telah menyiapkan sebuah amplop tertutup yang di dalamnya berisi daftarku sendiri. Tapi pertukaran itu memang tak pernah terjadi. Masih banyak cara lain yang akan membuat kami saling memahami, begitu isteriku mencoba berkilah.

Lima tahun berlalu dengan damai, kami telah melalui hidup berkeluarga sebagaimana orang lain menjalaninya. Perjalanan penuh cinta, sehingga melewati batas-batas pengungkapan berupa kata, pengejawantah dari keagungan makna yang bukan sekedar sebutan.  Semuanya mengalir  tanpa guncangan yang berarti, paling hanya sealun riak kecil setara hembusan angin mengguncangkan dedaunan di ujung ranting. Kekuatan yang justru sebagai penghadir satu simfoni baru menuju irama kehidupan yang lebih indah.
Sampai akhirnya kami terdampar di era jejaring dan media sosial. Sebuah zaman dimana yang jauh bisa menjadi dekat sementara yang dekat menjadi jauh, dimana tweet dan status jadi gumaman. Ketika itu isteriku mulai meragukan arti komitmenku, sebagaimana keraguannya akan ketulusan yang tak pernah terungkapkan. Sebab cintaku hanya memenuhi hati dan kesadaran bukannya berupa tebaran kata apalagi suara.
Upaya pembelaan dirilah yang membawaku ke perhentian terakhir lima tahun yang lalu, sebuah amplop putih tertutup rapat yang telah terpendam nyaris terlupakan di lemari arsipku kembali kuangkat ke permukaan. Sebagai bukti bagaimana seharusnya isteriku memahamiku. Amplop itu berisi daftarku, meskipun tanpa pertukaran aku akan menyerahkannya. Menyerahkan untuk dibuka oleh isteriku hari ini. Ada keraguan dan sedikit rasa takut dalam dirinya mengiringi, takut akan adanya hal-hal yang menyakitkan di dalam sana, sebab satu bagian dari daftar itu adalah hal-hal yang tak kusukai darinya!
Gemetar tangannya melakukan itu, sobekan sayap penutup amplop di bagian belakang telah memunculkan celah tempat keluarnya dua lembar kertas biasa yang kuisikan lima tahun yang lalu. Salah satunya sebuah daftar empat kolom dan tiga puluh lima baris dengan judul : Daftar Hal-hal yang Kusuka dan yang Tidak Kusuka dari Orang yang Sangat Kusayangi : E*******i ! Pada bagian ‘Yang Kusuka’, aku hanya menulis Keseluruhan Dirimu! dan pada bagian ‘Yang Tidak Kusuka’ kutuliskan Nihil.

Pada lembar yang lain tergurat seuntai bait : Setiap kali kutambahkan satu hal yang tidak kusuka darimu dalam daftarku, aku harus menghapus dua kebaikan yang kumiliki! Oleh sebab itu kusadari, kalau sesungguhnya tak ada yang tak kusuka darimu, karena di saat kita mencintai seseorang segalanya akan tampak baik dan kita akan menerima apa adanya!


Kulihat segumpal air bening mengalir dari kelopak matanya, berjatuhan berwujud tetesan, yang setiap tetesnya mengabarkan ribuan makna.
Sebentuk harap dari sudut terdalam lubuk hatiku, semoga apa yang dirasakan isteriku hari ini juga bisa engkau rasakan wahai wanita Indonesia, tatkala diposisikannya engkau di sisi rusuk orang tercinta, darimana awalnya engkau bermula.

Sumber : //elsaelsi.wordpress.com/
Judul: Astaghfirullah, Aku Telah Membuat Isteriku Menangis; Ditulis oleh Riyono Putra Penanggungan; Rating Blog: 5 dari 5
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
Judul: Astaghfirullah, Aku Telah Membuat Isteriku Menangis
Ditulis Oleh Riyono Putra Penanggungan
Jika mengutip harap berikan link yang menuju ke artikel Astaghfirullah, Aku Telah Membuat Isteriku Menangis ini. Sesama blogger mari saling menghargai. Terima kasih atas perhatiannya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar