Selasa, 29 Oktober 2013

Sapi Pun Bisa Sedih : Pembelajaran Tentang Etika Menyembelih Hewan Qurban

Tahun ini alhamdulillah, kami bisa berkurban. Bersama pengurus Musholla Al Hidayah depan rumah kita patungan untuk membeli seekor lembu atau sapi. Sesuai syariat 1 ekor sapi diperuntukkan bagi 7 orang yang berkurban. Tahun ini memang ada lonjakan harga sapi secara luar biasa. Bisa ditebak ini akibat siapa. Tapi saya tidak membahasnya, karena akan ada yang marah pada saya. Semula kita hendak iuran 1,5 juta per orang. Mengingat harga 10,5 juta seekor sapi tidaklah memuaskan maka kami naikkan iuran sampai 1,8 juta per orang. Dengan iuran sekian maka kita sudah dapat memperoleh sapi dengan penampilan yang pantas.
Saya berada dalam posisi yang cukup delimatis. Satu sisi saya adalah orang yang aktif di musholla Al Hidayah dan termasuk penggagas kurban patungan ini. Perlu diingat bahwa ini adalah kurban patungan pertama di Musholla ini. Namun juga saya adalah pengurus Takmir masjid At Taqwa II yang ada di Dusun Dateng. Karenanya saya sudah permisi ke takmir masjid maupun Mushollah jika pekerjaan saya kurang maksimal.
Di Masjid saya diberi tugas untuk mencari jagal atau tukang sembelih hewan kurab atau sapi. Untu kambing kami bisa menghandle sendiri. Namun kalau sapi kita kesulitan secara teknis. Dua tahun sebelumnya kita pernah memaksakan untuk menyembelih sendiri. Hasilnya, tentu tidak terperihkan. Sapi seolah - olah dijadikan ajang percobaan pembunuhan saja. Akhirnya mulai tahun kemarin kita anggarkan untuk pemboleng ini. Biayanya lumayan. tahun ini 300 ribu perekor. Karena kita sembelih dua maka kita keluarkan 600 ribu per ekor. lebih murah 50rb daripada di mushollah saya yang minta 350rb per ekor.
Sampailah kita di Hari H. Sang jagal kesasar ke Candi Sidoarjo. Acara penyembelihan molor sampai pukul 9. Karena tanggung jawab saya, maka sayalah yang salah. namun kawan-kawan dapat menyadarinya.
Bagi tukang jagal sapai, pekerjaan meyembelih hewan kurban tidak banyak melibatkan orang. Untuk menjatuhkan dan mengikat hanya butuh dua orang saja. Selebihnya kita hanyalah penonton. Kalaupun membantu, kita cuma menjadi pemegang saja. Selebihnya, aksi mendebarkan ini dilakukan oleh jagal.
Setelah terikat kuat, sapi diposisikan kepalanya di lubang penyembelihan yang sebelumnya telah digalih. Sebagai alas maka diambilkan gedebok atau batang pohon pisang. Setelah baca doa dan takbir, sapi disembelih.....darah mengalir deras. Beberapa menit kemudian, aksi teatrikal penyayatan dilangsungkan cepat sekali.
Ada kejadian menarik saat penyembelihan. Karena ada dua sapi maka prosesnya bergiliran. Saat penyembelihan itu, sapi satunya menyaksikan rekannya di sembelih. saat menggorok telah usai tiba-tiba sapi yang tidak disembelih jatuh. Saya kaget, demikian juga orang-orang. Sapi itu tidak bangun-bangun. Ketika dilepas satu ikatannya pun dia tidak bangun-bangun. Saya langsung mendekati. Saya lihat dia sesenggukan. Dari matanya saya lihat air mata yang mengalir. Dalam hati saya berfikir. Mungkinkah dia menangis. Lama juga kejadian ini. lebih dari 5 menit sapi itu terbaring dan menangis. Saya jadi punya kesimpulan, meskipun dia hewan dia masih punya hati nurani. Dia tidak tega melihat kawannya yang disembelih di depan matanya. Dia iba, dia kasihan. Sama halnya dengan manusia
Pelajaran berharga dapat kita tarik dari kisah ini. Jangan menyembelih hewan di depan hewan lainnya. Hewan juga punya hati nurani







Judul: Sapi Pun Bisa Sedih : Pembelajaran Tentang Etika Menyembelih Hewan Qurban; Ditulis oleh Riyono Putra Penanggungan; Rating Blog: 5 dari 5
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
Judul: Sapi Pun Bisa Sedih : Pembelajaran Tentang Etika Menyembelih Hewan Qurban
Ditulis Oleh Riyono Putra Penanggungan
Jika mengutip harap berikan link yang menuju ke artikel Sapi Pun Bisa Sedih : Pembelajaran Tentang Etika Menyembelih Hewan Qurban ini. Sesama blogger mari saling menghargai. Terima kasih atas perhatiannya

1 komentar: