Sabtu, 04 Februari 2017

Telaga Sarangan, Beda Dulu dan Sekarang

Telaga Sarangan, Magetan adalah salah satu destinasi pariwisata unggulan Jawa Timur. Telaga Sarangan yang merupakan jenis wisata alam terletak di lereng Gunung Lawu. Hawa dingin dan eksotisnya pemandangan memberikan tawaran menarik bari pecinta traveling, termasuk di dalamnya saya.
Pertama kali saya menginjakkan kaki di Telga Sarangan adalah semasa saya masih SLTA dulu. Saya adalah anak STM, ketika kelas II ditunjuk sebagai anggota Paskibra tingkat kecamatan dalam event HUT RI ke 50. Sebauah pengalaman berharga bagi saya kala itu, termasuk pula ketika diajak untuk berlibur ke Telaga Sarangan pasca agenda pengibaran dan penurunan usai. 
Kala itu perjalanan ke telaga sarangan dapat ditempu dalam tempo 6-7 jam saja. Beberapa jam kami berwisata ke sana. Mulai menikmati pemandangan telaga yang asyik, berjalan-jalan mengitari telaga sampai merasakan kuliner khasnya yaitu sate Kelinci.
Kesempatan kedua, saya dapatkan kala saya mengikuti acara Musyawarah Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur. Kala itu diselenggarakan di salah satu hotel yang ada di Sarangan. Saya lupa nama hotelnya. Yang jelas, suasananya sejuk dingin empuk. Saat itu yang terpilih sebagai ketu Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur adalah Muhammad Mirdasy. Pada kesempatan ini saya juga masih dapat menikmati perjalanan. Menikmati keindahan Saranga, berjalan-jalan sampai makan pecel khas Magetan.
Kesempatan ketiga adalah ketika saya menjadi guru di SD Muhammadiyah 1 Gempol. Kala itu saya masih perjaka. Belum ada beban sebagai keluarga.Mau rekreasi kemanapun belum ada yang memberatkan hati.
Perjalanan keempat, aadlah beberapa hari kemarin. Sabtu, 28 Januari 2017 bertepatan dengan imlek. Kami berangkat bersama rombongan Guru PAI kecamatan Gempol. Banyak peserta rombongan yang mengundurkan diri dengan berbagai alasan. Perjalanan lumayan berat, macet luar biasa di Nganjuk karena ada pembangunan Double track Kereta api yang melintang di are hutan Caruban dan Saradan. Belum lagi, jalanan rusak yang luar biasa. wal hasil, kami sampai jam setengah 5 sore hari. Sesaat saja kami di sana. Waktu Isya' kami langsung pulang balik.
Ada beberapa catatan yang perlu saya sampaikan. Pertama, ternyata pada saat ini, perlu waktu yang lebih banyak untuk sampai ke suatu tempat. Hal ini disebabkan sudah banyaknya kendaraan yang ada tetapi tidak diimbangi dengan penambahan akses jalan raya. Kedua, Wajah Telaga Sarangan tidak sepertti dulu lagi. Akses masuk Telaga sudah dipenuhi dengan kios-kios PKL, termasuk jugajalan  tepian telaga yang disisakan kurang dari 5 meter saja. Sepenuhnya kios-kios PKL. Bahkan area bermain anak-anak juga tertutup kios-kios tersebut. Belum lagi banyaknya hotel-hotel dan losmen yang sudah menggusur pepohonan yang ada
Untuk akses jalanan masuk tempat Wisata perlu diacungi jempol. Bagus dan mulus, meskipun jujur ketika kita nanjak ke sana memicu adrenalin yang luar biasa. Terobosan jalan tembus Tawangmangu-Sarangan adalah contoh yang luar biasa.
Saran saya.PKL tetep harus ada tapi ditata yang bagus sehingga wajag indah Sarangan nampak kembali. Khusus hotel dan losmen tidak usah ditambah lagi kuantitasnya. dan yang penting jangan menyediakan akses maksiat.
Read more >>