Rabu, 19 Februari 2014

Jika Saja Gunung Kelud Meletus Selasa, 12 Pebruari 2014

Jika Saja Gunung Kelud Meletus Selasa, 12 Pebruari 2014 tentu akan lain ceritanya. Cerita menyangkut kehidupan saya, cerita tentang pengalaman saya, terutama tentang bencana yang menimpa yang bisa-bisa merenggut nyawa. Pada hari Selasa tersebut perjalanan saya ke Blitar lewat Malang dan Pulang lewat Kediri memberi pelajaran yang sangat berharga. Betapa rahasia Allah itu hanya sedikit saja yang kita ketahui. Betapa kuasa Allah sangat tidak terbatas dan tak mampu kita jangkau.
Pada perjalanan pulang dari Blitar yang lewat Kediri, rombongan pengirin pengantin kami tinggal dua kendaraan. Satu Bis dan Satu Elf. Rute yang diambil oleh sang sopir Bis di depan sengaja mengambil jalur dalam dilewatkan jalur alternatif. daerah Ponggok dan sisi utara Blitar sampai sisi Timur Kediri macam Plosoklaten, Puncu dan Pare kemudian Kandangan.
Saat itu saya menggerutu, kenapa dilewatkan jalur ini. Sudah jalurnya sempit, Bisanya juga berkali-kali mogok. Perjalanan yang seharusnya memakan waktu 3-4 jam molor hingga di atas 4 jam. Sampai di rumah sudah habis isya'. Tenaga terforsir di jalanan. di rumah tinggal capeknya saja. 
Namun, ketika saya mendengar kabar hari jumat kemarin ketika Gunung Kelud meletus semalam, saya disamping bersedih juga merasa bersyukur. Alhamdulillah, Gunung Kelud Kau letuskan sekarang yang Allah. Tidak dapat saya bayangkan jika Selasa itu engkau letuskan. Akan bagaimana nasib kami ?
Read more >>

Jumat, 14 Februari 2014

Ketika Gunung Kelud Mengeluarkan Isinya

kawan, kemarin saya sudah kisahkan bahwa dua hari yang lalu saya mengantarkan mantenan ke daerah Blitar. saya juga berkisah tentang prosesinya yang memang agak sedikit berbeda dengan tradisi masyarakat saya. saya kisahkan juga saya sempat mampir ke makam orang besar negeri ini, Bung Karno.
Pagi ini kawan, saya dikagetkan suara ibu-ibu yang datang ke pedagang sayur dan ikan sebelah rumah. Mereka sambat rumahnya kotor berdebu. Saya belum tahu sebabnya. Tahu-tahu ternyata rumah saya juga demikian. Efek letusan itu sampai juga di tempatku.
Saya teringat Quran Surat Al Qoriah yang mengabarkan tentang kiamat. apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat) (1) dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya (2) dan manusia bertanya: "Mengapa bumi (menjadi begini)?" (3) pada hari itu bumi menceritakan beritanya, (4) karena Sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. (5)
Memang ini bukan kiamat besar, ini hanya kiamat kecil. Namun kedahsyatannya dapat kita rasakan sedemikian rupa. Apalagi nanti kiamat besar, subhanallah.

Ngoro Mojokerto Kena debu Gn Kelud

Atap rumah di Ngoro Mojokerto Kena debu Gn Kelud

Pohon kesayangan saya, Matoa pun tertutup debu

Kalau ini bak kontrol

jalan raya di Ngoro Mojokerto Kena debu Gn Kelud

jalan raya di Ngoro Mojokerto Kena debu Gn Kelud
 

Read more >>

Kamis, 13 Februari 2014

Makam Bung Karno (Proklamator RI)

Soekarno atau Bung Karno adalah nama besar bagi bangsa ini. Orang inilah yang dulu pernah mengambil resiko besar dalam rangka mewujudkan Negara Merdeka Bernama Republik Indonesia bersama rekannya Hatta. Kemarin saya berkesempatan untuk berziara ke pusara beliau. Ziarah ini adalah untuk kedua kalinya. Sebelumnya tahun 1999 lampau saya pernah kesana. Banyak perubahan memang dalam bentuk makam ini. Memang waktu telah berjalan lama, Tak mengherankan jika makam Bung Karno makin kelihatan indah. Berikut gambar yang saya abadikan lewat HP saya Champ Ayu Ting Ting. hehehe

Patung Bung Karno di Depan Lorong

Taman Air Mancur
 

Prasasti : Diresmikan Pak Harto

Makam Bung Karno

Gerbang Masuk Bergaya Penataran

Pendapa Makam Bung Karno

Read more >>

Senyummu Nggilani : (Pasang Banner di Lereng Gunung)

Selasa kemarin saya berkesempatan untuk melakukan perjalanan ke Blitar. Bukan untuk refresing atau tamasya, namun dalam rangka mengantar keponakan yang telah menikah dengan lelaki dari Blitar. Perjalanan yang diagendakan pukul enam pagi harus molor sampai dengan pukul tujuh. Biasa, kaum hawa masih sibuk dengan dirinya sendiri. Urusan make up dan dandan belum selesai. Setelah sejam menunggu baru rombongan terkumpul. Perjalanan pun dimulai.
Ada yang menarik memang dengan tradisi Jawa. Pemberangkatan rombongan dilakukan lewat jalur timur. Berarti kami harus melalui rute Pasuruan-Malang baru sampai Blitar. Tetapi ketika pulang diharuskan lewat Jalur Barat, Blitar-Kediri-Jombang baru sampai Mojokerto.
Saya tidak hendak membahas tentang masalah pengantin baru, cukuplah bahasan itu menjadi ladang para Kyainya yang mengisi walimah selamah sejam penuh di siang bolong. Sementara Jamaah enak terkantuk-kantuk.
Ada yang menarik sepanjang perjalanan. Foto-foto Muda mudi, Tua - Tuwir bertebaran di jalanan. Ada yang nampak serius memang. Ada yang senyumnya dipaksakan. Ada yang dari kalangan artis, pembalab, politikus bahkan siapapun yang tidak saya kenal sama sekali berlomba manis-manisan dalam mengumbar senyum. Ya, kalau dibilang hak ya hak mereka. Tapi mata ini juga punya hak untuk tidak melihat penampakan mereka. Apalagi saat ini belum masuk musim kampanya terbuka. Seharusnya KPU sudah menertibkannya. Dicopot untuk selanjutnya ditimbun di kantornya. Atau kalau perlu dijual eceran di pasar. Lumayan lah.
Tetapi jangan harap KPU mampu dan mau mencopot banner caleg yang ada di gunung pegat Ponggok Blitar. Saya jamin, KPU enggan. Bukan karena apa. Banner tersebut dipasang di lereng gunung. Ukurannya pun jumboh. sehingga ketika kita melintas, kita akan melihatnya dengan jelas. Saya sedikit tersenyum melihatnya. Kreativitasnya patut juga untuk diacungi jempol bahkan ditiru oleh Caleg lain. Namun, bagi saya pribadi saya lebih nikmat rasanya jika gunung kecil di tengah persawahan itu dibiarkan alami tanpa adanya foto para Caleg yang terhormat. Nuansanya akan lebih fres dan menyegarkan. Tapi biarlah.
Kekhawatiran saya adalah ketika foto ini dilihat oleh salah satu member Yayasan Turangga Seta lewat Grup Facebook GregetNuswantara yang ada mala bukan dianggap sebagai foto caleg. Jangan-jangan foto ini dianggap sebagai penampakan leluhur yang hendak menagih janji.
Bravo Indonesia !!!

Catatan :
Sayang saya tidak mengabadikan momen tersebut. Mengingat saya tdk membawa foto digital. Saya hanya mengabadikan dengan foto HP yang kualitasnya kurang mendukung

Read more >>