Selasa, 21 Januari 2014

Sinkretisme Agama

Dulu, sewaktu saya kuliah, di saat saya mendapat tugas menyusun skripsi sebagai tugas akhir perkuliahan S-1 saya sempat bingung. Banyak judul telah saya ajukan kepada Kajur, semua dikembalikan ke saya. Banyak alasan kenapa judul itu dikembalikan. Salah satunya adalah judul itu terlampau mudah bagi saya. Kedua, judul itu juga sebelumnya sudah pernah dibahas oleh mahasiswa lain. Yang tidak mengenakkan bagi saya, judul itu kemudian diberikan kepada rekan saya untuk dijadikan judul penelitian dia.
Jujur saja, ketika saya kuliah, orientasi saya secepatnya lulus S-1. Bukan karena saya tidak senang menuntut ilmu. Hal ini dikarenakan saya enggan untuk menambah biaya pendidikan yang tidak sedikit. Maklum, pekerjaan saya saat itu adalah seorang guru swasta dengan gaji seadanya. Sekolah saya juga sekolah kecil di daerah pinggiran sehingga tidak mampu memberikan gaji tinggi. Di samping itu saya juga harus hidup mandiri di tempat yang jauh dari orang tua, mulai makan sampai juga dengan keperluan sandang. Untuk urusan papan, saya relatif aman. Meskipun harus tidur di TK ABA Porong dan ada kalanya tidur di Masjid An Nur Kampus UMSIDA saya rasa kesemuanya sudah lebih dari cukup.
Kembali kepada masalah tugas akhir tersebut. Akhirnya saya pulang dengan tangan hampa. Berhari-hari saya berfikir seirus kiranya judul apa yang jarang atau bahkan belum pernah dipakai orang lain dan cocok bagi saya. Lebih-lebih mudah dikerjakan. Berhari-hari  termenung. Bermalam-malam susah tidur. Biasanya jika sudah demikian saya keluar menuju warung untuk makan. Nasi goreng adalah makanan favorit saya. Satu piring sebenarnya masih kurang untuk mengganjal perut. Mau bagaimana lagi, dana pas-pasan. Selesai makan, saya biasanya mandi. Gak peduli malam hari dan dingin. Setelah itu fress dan dapat tidur dengan tenang.
DI saat itulah saya dapat inspirasi judul yang lumayan buat saya. (bersambung)
Read more >>