Rabu, 06 November 2013

Agama Baru Itu Bernama Sepak Bola

Abad 21 telah kita masuki. Banyak orang berpendapat bahwa abad ini banyak orang berbondong-bondong mencari ketenangan spiritual. Setelah pada abad sebelumnya orang telah terlena dengan falsafah komunis dan juga kapitalis. Mengganggap Tuhan telah mati dan kebahagiaan hanya diukur dengan pencapaian materi, maka pada abad ini akan terjadi sebaliknya. Kegersangan spiritual akan menuntun manusia kembali kepada fitrahnya. Kemana lagi jika tidak kembali kepada agama dan mencari kebenaran Tuhan.
Pendapat ini bisa dianggap benar. Namun juka bisa dianggap salah. Dianggap benar karena pada saat ini tren keagamaan manusisa meningkat. Rumah ibadah terutama masjid ramai didirikan. Seminar-seminar serta kegiatan tabligh masalah agama kerap kali dilakukan. Pakaian pun demikian, banyak orang kemudian menggunakan simbol-simbol agama dalam kehidupan. Semua jika dibuat generalisasi akan mengindikasikan bahwa pola keberagamaan manusia pada abad ini meningkat tajam. Jika semula orang acuh terhadap agama, maka pada abad ini mereka kembali kepadanya.
Namun, di sisi lain seahrusnya kita merasa prihatin. Keprihatinan kita terutama menyangkut kualitas beragama itu sendiri. Meminjam istilah Amien Rais, pola tauhid manusia tidak berdampak secara sosial. Kita lihat orang berbondong-bondong memakai simbol agama, naik haji, sholat, mengerjakan puasa serta mendirikan rumah ibadah, Namun secara haqiqi semuanya hanya menyangkut kebutuhan keberagamaan personal saja. Pola keberagamaan manusia abad ini tidak menyentuh level yang lebih umum, misalnya pola peribadatan membekas dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Terbawa dalam iklim kerja dan membentuk masia beragama tidak hanya pribadi tetapi juga sosialnya.
Kita lihat buktinya, mereka yang katanya beragama toh pada akhirnya tertangkap korupsi, tertangkap tidur dengan wanita yang bukan isterinya. Menerima suap, menyuap dan lain sebagainya sebagai bentuk perlakuan keji.

Agama Abad 21
banyak orang memandang sejatinya agama abad 21 bukanlah kebangkitan agama samawi ataupun agama bumi. Ternyata kebangkitan agama yang dimaksud adalah sesuatu yang dapat menyatukan. Sesuatu yang dapat menghipnotis manusia untuk melakukan sesuatu meski dalam keadaan payah sekalipun. Mampu mendatangkan manusia ke suatu negeri dengan dana pribadi yang tak ternilai. Membuat manusia bersikap ekstrem dalam pembelaan. Jangankan harta, nyawa mereka pertaruhkan.
Ternyata agama yang mampu membangunkan manusia dari tidurnya pada dini hari hanya untuk sekedar nonton TV itu bernama sepak bola. Iya, sepak bola. Boleh percaya atau tidak.Gara-gara bola semuanya bisa dinomorduakan. Apalagi hanya sekedar persoalan agama. Sholat misalnya,
Padahal kalau mau jujur, sejatinya sepakbola adalah romantisme masa kecil seseorang. Bereebut sesuatu, menendangnya dan kemudian berteriak kegirangan. Kalau mau jujur, mengapa harus berebut sebuah bola. Beri saja mereka satu satu biar tidak terjadi perkelahian di antara mereka.
Ya, agama itu bernama bola. Ayo nanti jam 2 bangun. Ada liga champion Chelsea.......
Judul: Agama Baru Itu Bernama Sepak Bola; Ditulis oleh Riyono Putra Penanggungan; Rating Blog: 5 dari 5
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
Judul: Agama Baru Itu Bernama Sepak Bola
Ditulis Oleh Riyono Putra Penanggungan
Jika mengutip harap berikan link yang menuju ke artikel Agama Baru Itu Bernama Sepak Bola ini. Sesama blogger mari saling menghargai. Terima kasih atas perhatiannya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar