Selasa, 29 Oktober 2013

Berwisata Pantai Bajul Mati dan Gua Cina (bagian 1)

Hari Sabtu, tanggal 13 Oktober 2013, saya beserta keluarga mendapat ajakan dari tetangga untuk pergi tamasya ke Malang. Saat itu ada tiga tujuan yang akan kami kunjungi. Pertama Pantai Bajul Mati, Gua Cina dan juga Pantai Sendang Biru. Ketiganya terletak berdekatan. Karenanya semuanya bisa kita agendakan dalam satu kunjungan saja. kami berangkat dengan dua mobil Avansa. Perjalanan dimulai pukul 10 malam. Molor satu jam dari agenda yang telah kami sepakati yaitu pukul 9 malam. Bekal yang kami siapkan antara lain baju ganti, bantal untuk tidur anak-anak, makanan dan cemilan, makanan untuk pagi hari dan tentu juga obat- obatan. Saat itu bayi saya yang paling kecil memang dalam keadaan sakit mencret. Karenanya kami juga sedkit was-was apakah ikut berangkat atau tidak. Pikiran berkecamuk antara ikut atau di rumah saja mengingat kondisi anak saya. Akhirnya kami beli pampres, meskipun anak saya sudah enggan memakainya sedari kecil. Buat jaga-jaga kalau di perjalanan dia mengalami gangguan pencernakan.
Perjalanan secara umum lancar sampai dengan Malang Kota. Sekeluar dari Malang Kota kita terus ke selatan. Sopir dan rombongan sempat bingung arah ketika sudah sampai pabrik gula Kebonagung. Di sana kami tanya-tanya orang yang cangkrukan di warung kopi. Atas petunjuk dari mereka tahulah kami bahwa kami salah jalan dan harus putra balik beberapa ratus meter. Dari pertigaan Pabrik Gula tersebut harusnya kita belok kiri ke arah Turen. Jika Lurus bisa saja, namun kita akan sedikit jauh melingkar. Sebelum Kepanjen belok kiri.
Kami putuskan balik saja dan meluncur arah Turen. Sampai Turen saya sudah terlelap. Maklum ngantuk berat. Saya terjaga sambil emangku anak-anak yang sudah tidur. Tauh-tahu jalanan sudah menanjak. KIta masuk wilayah hutan yang cukup sepi. Jarang kami jumpai rumah penduduk. Jurang kiri jalan dan kanan jalan bukit dan pegunungan. KOta malang dari petunjuk jalan yang saya baca sudah sekitar 60 km kami lalui. papan petunjuk juga menginfokan bahwa sendang biru tinggal 25 km lagi. Perjalanan masih jauh. Sopir kami imbau pelan-pelan saja karena jalanan berkelok. Kami mengantisipasi kemungkinan buruk. Lebih baik terlambat dari pada tidak selamat.
Sekitar satu jam perjalanan kami hampir sampai lokasi tujuan. Ada pertigaan berisi petunjuk arah bahwa pantai bajul mati dan gua cina tinggal 5 km saja. Arahnya belok kanan. Jika lurus kita akan ke sendang biru. Kami putuskan ke Bajul Mati dulu dan nanti disambung ke Gua Cina yang memang berdekatan tak sampai 1 km. Jalanan ke Bajul mati relatif mulus. kayaknya ada pekerjaan membangun jalan di sana, saya bisa tebak karena banyak alat berat di kanan kiri jalan. sekitar 50 meter jalan masuknya berubah. cuma jalan tanah yang kurang mulus namun tidak sampai mengganggu perjalanan. Sampailah kita di Bajul mati.  Pilihan pertama adalah bajul mati, mengingat di sana area restnya lebih memadai. Ada masjid yang cukup besar, toilet dan kamar mandi yang mencukupi dan tentunya warung- warung yang menjual kebutuhan kita.
Kami sampai pukul setengah 3 dini hari. Aroma laut langsung tercium. Hawa dingin sedikit panas menerpa wajah. Suara deburan ombak yang besar dapat kami dengar dengan jelas. Namun untuk melihatnya kami kesulitan mengingat penerangan di pantai ini sangat minim. Listrik hanya ada di pemilik warung dan masjid. Sedangkan area pantai tidak ada. hanya ada nyalah api unggun di sana. Pikiran saya mungkin ada orang yang sedang berkemah dan menyalakan api. Saya merabah rabah dalam angan saja. Kira-kira seperti apa bentuk keelokan pantainya. Masih terlalu dini hari. Anak-anak saya biarjkan tidur saja, sementara saya keluar untuk minum kopi di warung sana. Warungnya cukup sepi. Hanya beberapa orang yang berjaga disamping pemilik warung. Mereka umumnya minum kopi dan makan mie. Kulihat disini cukup canggih, Warung sudah dilengkapi TV berlangganan. Tidak ada tivi lokal. Kenapa ? ternyata memang sinyal TV tidak masuk ke sini. Maklum jauh dari perdaban. Demikian juga sinyal HP. dua kartu simku tidak dapat menangkap sinyal sama sekali. Biarlah,....
Subuh menjelang. Adzan subuh sudah berkumandang. Suaranya cukup serak. Kayaknya orang tua yang adzamn. Maklum saja, saat ini memang generasi muda tidak ada lagi yang tidur di masjid. Beda dengan jaman dulu. Kuputuskan sholat dulu, bergantian dengan isteri. Anak sulungku Haedar kubangunkan untuk sholat. Bagaimanapun keadaannya dia harus sudah mulai belajar sholat. Dia sudah mau menginjak 7 tahun. Ada kewajiban kami mengajarinya. Dia investasi kami kelak. Kalau tidak sekarang kapan lagi.
Sholat usai, kami kembali ke mobil. Anak-anak saya bangunkan. "Ayo kita ke pantai " ajakku. Semua bangun. Di Timur temaram fajar sudah mulai membias kemerahan kurang dari 15 menit lagi pasti jalanan akan jelas terlihjat dan pantai yang kami tujuh pasti menyajikan keindahannya.
Berlarianlah anak-anak kesana, kecuali yang nomor dua. Dia takut ada buaya. Karena namanya pantai bajul mati yang dalam bahasa Indonesia berarti pantai Buaya Mati. Saya bilang "Jangan takut, kan buayanya sudah mati. hehehehe....."
Dan inilah pantai bajul mati itu....













Judul: Berwisata Pantai Bajul Mati dan Gua Cina (bagian 1); Ditulis oleh Riyono Putra Penanggungan; Rating Blog: 5 dari 5
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
Judul: Berwisata Pantai Bajul Mati dan Gua Cina (bagian 1)
Ditulis Oleh Riyono Putra Penanggungan
Jika mengutip harap berikan link yang menuju ke artikel Berwisata Pantai Bajul Mati dan Gua Cina (bagian 1) ini. Sesama blogger mari saling menghargai. Terima kasih atas perhatiannya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar