Kamis, 21 Februari 2013

Rutinitas Hidup, Mau Kemana Tujuan Kita ?

Hidup adalah sebbuah rutinitas. Terus berulang dari satu masa ke masa lainnya. Detik-demi detik. Menit, jam, hari bulan, bahkan sampai tahun. Perputaran masa itu menimbulkan rutinitas yang harus dijalani. Kadang ada rasa jenuh dalam diri. Kadang mulai bosan dengan keadaan. Karena semua berjalan teratur dengan ritme yang sama. Terus menerus tiada henti. Pagi -pagi buta kita bangun utuk tunaikan kewajiban kita sebagai hambah Allah. Sholat subuhlah kita semua. Jika tidak sedang malas maka ada tambahan ibadah bagi kita. Sholat fajar dilanjut dzikir usai subuh. Jika sedang kehilangan selera bisa jadi kita tidur lagi tanpa melaksanakan aktifitas lainnya. Seringnya pula kita lalai. Subuh menjadi bersamaan dengan dhuha. Jika sudah demikian tiba saatnya kita ingat kembali. raba kembali hati sanubari kita. Instrospeksi diri, apa sebenarnya tujuan kita.
Sarapan pagi seusai mandi adalah kenikmatan. Ada energi yang sedang kita kumpulkan untuk memulai aktivitas kita. Kita tidak tahu sampai kapan kita akan bekerja. Kadangkala lembur karena beban kerja menumpuk. Kadangkala pula kita suntuk karena target tan pernah sampai. Ada waktunya kita santai . Sedikit kita buka jendela monitor. Pantau arus lalu lintas di facebook. Sapa sana sapa sini. Chatthing denga rekanan. Basa basi dan lain sebagainya.
Istirahat siang adalah jedah favorit kita. Bisa berselonjor kaki rileks sementara. Menunggu waktu jam masuk kerja. Tentu kita utamakan kewajiban kita terlebih dahulu. Sholat Dhuhur dan makan siang. Sisanya kita bisa tidur-tiduran. Jika tidur beneran maka itu anugerah yang mengankkan di antara sempitnya waktu. Tiba -tiba saja sudah jam satu. Kembalilah kita berburuh dengan waktu menyelesaikan pekerjaan yang tertunda.
Sore hari kita pulang. Ada perasaan rindu dengan keluarga. istri dan anak-anak pastinya telah menunggu di rumah. " Ayah dapat apa ?" tanya mereka. Jika tidak bawah apa-apa ada perasaan galau di hati. kenapa juga tidak aku belikan saja mereka permen barang seribu rupiah. tentu mereka akan sangat bahagia. Wajah sumringah itu senantiasa kita rindu. Biar capek dan penat belum hilang. Ketika kita lihat senyum mereka terasa semuanya menjadi ringan. Untuk merekalah kita mencari nafkah. (bersambung)
Read more >>

Rabu, 20 Februari 2013

Cerpen Kehidupan : Aku Terpaksa Menikahinya

Cerpen Kehidupan : Aku Terpaksa Menikahinya – Keren dah ni cerpen. So,,baca ya,tapi jangan pake nangis ya. Cukup di ambil hikmah dari cerita pendek ini.Oke, Silahkan baca cerpen berikut.

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.
Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.
Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.
Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.
Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.
Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.
Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.
Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.
“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.
Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”
“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.
Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.
Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.
Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.
Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.
Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.
Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.
Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.
Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.
Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.
Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.
Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.
Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.
Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.
Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!
Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.
Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.
Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.
Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”
Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”
Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”
Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.
Sumber : _http://bundaiin.blogdetik.com
Read more >>

Cerpen Kisah wanita yang menjual keperawanannya

Wanita itu berjalan agak ragu memasuki hotel berbintang lima . Sang petugas satpam yang berdiri di samping pintu hotel menangkap kecurigaan pada wanita itu. Tapi dia hanya memandang saja dengan awas ke arah langkah wanita itu yang kemudian mengambil tempat duduk di lounge yang agak di pojok.
Petugas satpam itu memperhatikan sekian lama, ada sesuatu yang harus dicurigainya terhadap wanita itu. Karena dua kali waiter mendatanginya tapi, wanita itu hanya menggelengkan kepala. Mejanya masih kosong. Tak ada yang dipesan. Lantas untuk apa wanita itu duduk seorang diri. Adakah seseorang yang sedang ditunggunya.
Petugas satpam itu mulai berpikir bahwa wanita itu bukanlah tipe wanita nakal yang biasa mencari mangsa di hotel ini. Usianya nampak belum terlalu dewasa. Tapi tak bisa dibilang anak-anak. Sekitar usia remaja yang tengah beranjak dewasa.
Setelah sekian lama, akhirnya memaksa petugas satpam itu untuk mendekati meja wanita itu dan bertanya:
” Maaf, nona … Apakah anda sedang menunggu seseorang? “
” Tidak! ” Jawab wanita itu sambil mengalihkan wajahnya ke tempat lain.
” Lantas untuk apa anda duduk di sini?”
” Apakah tidak boleh? ” Wanita itu mulai memandang ke arah sang petugas satpam..
” Maaf, Nona. Ini tempat berkelas dan hanya diperuntukan bagi orang yang ingin menikmati layanan kami.”
” Maksud, bapak? “
” Anda harus memesan sesuatu untuk bisa duduk disini ”
” Nanti saya akan pesan setelah saya ada uang. Tapi sekarang, izinkanlah saya duduk di sini untuk sesuatu yang akan saya jual ” Kata wanita itu dengan suara lambat.
” Jual? Apakah anda menjual sesuatu di sini? ”
Petugas satpam itu memperhatikan wanita itu. Tak nampak ada barang yang akan dijual. Mungkin wanita ini adalah pramuniaga yang hanya membawa brosur.
” Ok, lah. Apapun yang akan anda jual, ini bukanlah tempat untuk berjualan. Mohon mengerti. ”
” Saya ingin menjual diri saya, ” Kata wanita itu dengan tegas sambil menatap dalam-dalam kearah petugas satpam itu.
Petugas satpam itu terkesima sambil melihat ke kiri dan ke kanan.
” Mari ikut saya, ” Kata petugas satpam itu memberikan isyarat dengan tangannya.
Wanita itu menangkap sesuatu tindakan kooperativ karena ada secuil senyum di wajah petugas satpam itu. Tanpa ragu wanita itu melangkah mengikuti petugas satpam itu.
Di koridor hotel itu terdapat kursi yang hanya untuk satu orang. Di sebelahnya ada telepon antar ruangan yang tersedia khusus bagi pengunjung yang ingin menghubungi penghuni kamar di hotel ini. Di tempat inilah deal berlangsung.
” Apakah anda serius? ”
” Saya serius ” Jawab wanita itu tegas.
” Berapa tarif yang anda minta? ”
” Setinggi-tingginya. .”
” Mengapa?” Petugas satpam itu terkejut sambil menatap wanita itu.
” Saya masih perawan ”
” Perawan? ” Sekarang petugas satpam itu benar-benar terperanjat. Tapi wajahnya berseri. Peluang emas untuk mendapatkan rezeki berlebih hari ini.. Pikirnya
” Bagaimana saya tahu anda masih perawan?”
” Gampang sekali. Semua pria dewasa tahu membedakan mana perawan dan mana bukan.. Ya kan?”
” Kalau tidak terbukti? “
” Tidak usah bayar …”
” Baiklah …” Petugas satpam itu menghela napas. Kemudian melirik ke kiri dan ke kanan.
” Saya akan membantu mendapatkan pria kaya yang ingin membeli keperawanan anda. ”
” Cobalah. ”
” Berapa tarif yang diminta? ”
” Setinggi-tingginya. ”
” Berapa? ”
” Setinggi-tingginya. Saya tidak tahu berapa? ”
” Baiklah. Saya akan tawarkan kepada tamu hotel ini. Tunggu sebentar ya. ”
Petugas satpam itu berlalu dari hadapan wanita itu.
Tak berapa lama kemudian, petugas satpam itu datang lagi dengan wajah cerah.
” Saya sudah dapatkan seorang penawar. Dia minta Rp. 5 juta. Bagaimana?”
” Tidak adakah yang lebih tinggi? ”
” Ini termasuk yang tertinggi, ” Petugas satpam itu mencoba meyakinkan.
” Saya ingin yang lebih tinggi…”
” Baiklah. Tunggu disini …” Petugas satpam itu berlalu.
Tak berapa lama petugas satpam itu datang lagi dengan wajah lebih berseri.
” Saya dapatkan harga yang lebih tinggi. Rp. 6 juta rupiah. Bagaimana?”
” Tidak adakah yang lebih tinggi?”
” Nona, ini harga sangat pantas untuk anda. Cobalah bayangkan, bila anda diperkosa oleh pria, anda tidak akan mendapatkan apa apa. Atau andai perawan anda diambil oleh pacar anda, andapun tidak akan mendapatkan apa apa, kecuali janji. Dengan uang Rp. 6 juta anda akan menikmati layanan hotel berbintang untuk semalam dan keesokan paginya anda bisa melupakan semuanya dengan membawa uang banyak. Dan lagi, anda juga telah berbuat baik terhadap saya. Karena saya akan mendapatkan komisi dari transaksi ini dari tamu hotel. Adilkan. Kita sama-sama butuh… ”
” Saya ingin tawaran tertinggi … ” Jawab wanita itu, tanpa peduli dengan celoteh petugas satpam itu.
Petugas satpam itu terdiam. Namun tidak kehilangan semangat.
” Baiklah, saya akan carikan tamu lainnya. Tapi sebaiknya anda ikut saya. Tolong kancing baju anda disingkapkan sedikit. Agar ada sesuatu yang memancing mata orang untuk membeli. ” Kata petugas satpam itu dengan agak kesal.
Wanita itu tak peduli dengan saran petugas satpam itu tapi tetap mengikuti langkah petugas satpam itu memasuki lift.
Pintu kamar hotel itu terbuka. Dari dalam nampak pria bermata sipit agak berumur tersenyum menatap mereka berdua.
” Ini yang saya maksud, tuan. Apakah tuan berminat? ” Kata petugas satpam itu dengan sopan.
Pria bermata sipit itu menatap dengan seksama ke sekujur tubuh wanita itu …
” Berapa? ” Tanya pria itu kepada Wanita itu.
” Setinggi-tingginya ” Jawab wanita itu dengan tegas.
” Berapa harga tertinggi yang sudah ditawar orang? ” Kata pria itu kepada sang petugas satpam.
” Rp.. 6 juta, tuan ”
” Kalau begitu saya berani dengan harga Rp. 7 juta untuk semalam. ”
Wanita itu terdiam.
Petugas satpam itu memandang ke arah wanita itu dan berharap ada jawaban bagus dari wanita itu.
” Bagaimana? ” tanya pria itu.
”Saya ingin lebih tinggi lagi …” Kata wanita itu.
Petugas satpam itu tersenyum kecut.
” Bawa pergi wanita ini. ” Kata pria itu kepada petugas satpam sambil menutup pintu kamar dengan keras.
” Nona, anda telah membuat saya kesal. Apakah anda benar benar ingin menjual? ”
” Tentu! ”
” Kalau begitu mengapa anda menolak harga tertinggi itu … ”
” Saya minta yang lebih tinggi lagi …”
Petugas satpam itu menghela napas panjang. Seakan menahan emosi. Dia pun tak ingin kesempatan ini hilang.
Dicobanya untuk tetap membuat wanita itu merasa nyaman bersamanya.
” Kalau begitu, kamu tunggu di tempat tadi saja, ya. Saya akan mencoba mencari penawar yang lainnya. ”
Di lobi hotel, petugas satpam itu berusaha memandang satu per satu pria yang ada. Berusaha mencari langganan yang biasa memesan wanita melaluinya. Sudah sekian lama, tak ada yang nampak dikenalnya. Namun, tak begitu jauh dari hadapannya ada seorang pria yang sedang berbicara lewat telepon genggamnya.
” Bukankah kemarin saya sudah kasih kamu uang 25 juta Rupiah. Apakah
itu tidak cukup? ” Terdengar suara pria itu berbicara.
Wajah pria itu nampak masam seketika
” Datanglah kemari. Saya tunggu. Saya kangen kamu. Kan sudah seminggu lebih kita engga ketemu, ya sayang?! ”
Kini petugas satpam itu tahu, bahwa pria itu sedang berbicara dengan wanita.
Kemudian, dilihatnya, pria itu menutup teleponnya. Ada kekesalan di wajah pria itu.
Dengan tenang, petugas satpam itu berkata kepada Pria itu: ” Pak, apakah anda butuh wanita … ??? ”
Pria itu menatap sekilas kearah petugas satpam dan kemudian memalingkan wajahnya.
” Ada wanita yang duduk disana, ” Petugas satpam itu menujuk kearah wanita tadi.
Petugas satpam itu tak kehilangan akal untuk memanfaatkan peluang ini.
“Dia masih perawan..”
Pria itu mendekati petugas satpam itu.
Wajah mereka hanya berjarak setengah meter. ” Benarkah itu? ”
” Benar, pak. ”
” Kalau begitu kenalkan saya dengan wanita itu … ”
” Dengan senang hati. Tapi, pak …Wanita itu minta harga setinggi tingginya.”
” Saya tidak peduli … ” Pria itu menjawab dengan tegas.
Pria itu menyalami hangat wanita itu.
” Bapak ini siap membayar berapapun yang kamu minta. Nah, sekarang seriuslah ….” Kata petugas satpam itu dengan nada kesal.
” Mari kita bicara di kamar saja.” Kata pria itu sambil menyisipkan uang kepada petugas satpam itu.
Wanita itu mengikuti pria itu menuju kamarnya.
Di dalam kamar …
” Beritahu berapa harga yang kamu minta? ”
” Seharga untuk kesembuhan ibu saya dari penyakit ”
” Maksud kamu? ”
” Saya ingin menjual satu satunya harta dan kehormatan saya untuk kesembuhan ibu saya. Itulah cara saya berterima kasih …. ”
” Hanya itu …”
” Ya …! ”
Pria itu memperhatikan wajah wanita itu. Nampak terlalu muda untuk menjual kehormatannya. Wanita ini tidak menjual cintanya. Tidak pula menjual penderitaannya. Tidak! Dia hanya ingin tampil sebagai petarung gagah berani di tengah kehidupan sosial yang tak lagi gratis. Pria ini sadar, bahwa di hadapannya ada sesuatu kehormatan yang tak ternilai. Melebihi dari kehormatan sebuah perawan bagi wanita. Yaitu keteguhan untuk sebuah pengorbanan tanpa ada rasa sesal. Wanita ini tidak melawan gelombang laut melainkan ikut kemana gelombang membawa dia pergi. Ada kepasrahan diatas keyakinan tak tertandingi. Bahwa kehormatan akan selalu bernilai dan dibeli oleh orang terhormat pula dengan cara-cara terhormat.
” Siapa nama kamu? ”
” Itu tidak penting. Sebutkanlah harga yang bisa bapak bayar … ” Kata wanita itu
” Saya tak bisa menyebutkan harganya. Karena kamu bukanlah sesuatu yang pantas ditawar. ”
”Kalau begitu, tidak ada kesepakatan! ”
” Ada ! ” Kata pria itu seketika.
” Sebutkan! ”
” Saya membayar keberanianmu. Itulah yang dapat saya beli dari kamu. Terimalah uang ini. Jumlahnya lebih dari cukup untuk membawa ibumu ke rumah sakit. Dan sekarang pulanglah … ” Kata pria itu sambil menyerahkan uang dari dalam tas kerjanya.
” Saya tidak mengerti …”
” Selama ini saya selalu memanjakan istri simpanan saya. Dia menikmati semua pemberian saya tapi dia tak pernah berterima kasih. Selalu memeras. Sekali saya memberi maka selamanya dia selalu meminta. Tapi hari ini, saya bisa membeli rasa terima kasih dari seorang wanita yang gagah berani untuk berkorban bagi orang tuanya. Ini suatu kehormatan yang tak ada nilainya bila saya bisa membayar …”
” Dan, apakah bapak ikhlas…? ”
” Apakah uang itu kurang? ”
” Lebih dari cukup, pak … ”
” Sebelum kamu pergi, boleh saya bertanya satu hal? ”
” Silahkan …”
” Mengapa kamu begitu beraninya … ”
” Siapa bilang saya berani. Saya takut pak … Tapi lebih dari seminggu saya berupaya mendapatkan cara untuk membawa ibu saya ke rumah sakit dan semuanya gagal. Ketika saya mengambil keputusan untuk menjual kehormatan saya maka itu bukanlah karena dorongan nafsu. Bukan pula pertimbangan akal saya yang `bodoh`… Saya hanya bersikap dan berbuat untuk sebuah keyakinan … ”
” Keyakinan apa? ”
” Jika kita ikhlas berkorban untuk ibu atau siapa saja, maka Tuhan lah yang akan menjaga kehormatan kita … ” Wanita itu kemudian melangkah keluar kamar.
Sebelum sampai di pintu wanita itu berkata:
” Lantas apa yang bapak dapat dari membeli ini … ”
” Kesadaran… ”

Di sebuah rumah di pemukiman kumuh. Seorang ibu yang sedang terbaring sakit dikejutkan oleh dekapan hangat anaknya.
” Kamu sudah pulang, nak ”
” Ya, bu … ”
” Kemana saja kamu, nak … ???”
” Menjual sesuatu, bu … ”
” Apa yang kamu jual?” Ibu itu menampakkan wajah keheranan. Tapi wanita muda itu hanya tersenyum …
Hidup sebagai yatim lagi miskin terlalu sia-sia untuk diratapi di tengah kehidupan yang serba pongah ini. Di tengah situasi yang tak ada lagi yang gratis. Semua orang berdagang. Membeli dan menjual adalah keseharian yang tak bisa dielakan. Tapi Tuhan selalu memberi tanpa pamrih, tanpa perhitungan
….
” Kini saatnya ibu untuk berobat … ”
Digendongnya ibunya dari pembaringan, sambil berkata: ” Tuhan telah membeli yang saya jual… ”.
Taksi yang tadi ditumpanginya dari hotel masih setia menunggu di depan rumahnya. Dimasukannya ibunya ke dalam taksi dengan hati-hati dan berkata kepada supir taksi:
”Antar kami ke rumah sakit”
Tamat. . .
Read more >>

Senin, 18 Februari 2013

Jumlah Jam Ajar Bertambah, Berharap Perbaikan Karakter Bangsa

Dalam draft atau rancangan kurikulum 2013 terpampang jelas pembagian jam pelajaran untuk setiap mata pelajaran yang diajarkan di setiap jenjang pendidikan. Jika kita cermati dengan seksama, sebetulnya perubahan yang terjadi tidak cukup signifikan pada tataran jam pelajaran. Perubahan mencolok memang terjadi pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang semula umumnya diajarkan 2 Jam Pelajaran menjadi 4 Jam pelajatan per minggu. Demikian ada penambahan jam pelajaran untuk mata pelajaran PAI sebanyak 2 jam pelajaran. Perubahan juga kita dapati pada perubahan nama mata pelajaran PAI. Dalam kurikulum 2013 PAI mendapatkan tambahan kalimat Dan Budi Pekerti sehingga Menjadi Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti.
Mengapa Budi Pekerti yang ditambahkan ke Pendidikan Agama Islam dan bukan pada pelajaran lain semacam PKN. Pendidikan Agama bagaimanapun juga sangat bermuatan nilai-nilai mulia. Karenanya dengan penekanan Budi Pekerti dengan sendirinya Penekanan Materi Akhlak menjadi prioritas utama.
Dalam Rembug Pendidikan Muhammadiyah Jawa Timur Jelang Kurikulum 2013 hal ini sangat disoroti oleh pembicara. Salah satu pembicara. Salah satu pembicara yaitu Prof. Zainuddin Maliki dengan tegas menyatakan seharusnya Karekter Bangsa atau Akhlak Mulia harusnya menjadi target utama dalam pendidikan kita. Hancurnya pendidikan karena sudah tidka mengindahkan nilai-nilai budi pekerti. Percuma diberikan penekanan pada kreatifitas dan inovasi jika masalah budi pekerti diabaikan.
Senada dengan Prof Zainuddin, Mendikbud ketika disoal saat sosialisasi Kurikulum dengan menaikkan jumlah jam PAI Mendikbud menjawab, "Justeru dengan menaikkan jam PAI inilah kami harapkan ada perbaikan akhlak dan karakter bangsa"
Jadi, jelas sudah bahwa perhatian kurikulum disamping pada nilai kreativitas siswa sehingga diharap menjadi bangsa yang kreativ, harapan besar lainnya adalah perbaikan akhlak dan karakter bangsa yang saat ini "dianggap" compang-camping.
Read more >>

M. Nuh : Beban Mengajar 24 Jam Perlu Direvisi

Di hadapan peserta Rembug Pendidikan Muhammadiyah Jawa Timur Mendikbud berkenan menyampaikan sosialisasi Kurikulum Pendidikan tahun 2013. dalam kesempatan itu Mendikbud memaparkan beberapa argumen mengapa Kurikulum KTSP atau kurikulum 2006 perlu direvisi. Ada beberapa alasan logis yang dipakai Mendikbud untuk melakukan perbahan. Dalam kesempatan itu Mendikbud juga menyangga bahwa yang dilakukan oleh Kementrian bukan mengikuti tradisi ganti menteri ganti kurikulum. "Ini murni kebutuhan untuk menyelamatkan generasi kita" Kata Mendikbud.
Rasional yang digunakan untuk mengganti kurikulum tersebut antara lain :
  1. Beban Kurikulum 2006 terlalu berat bagi peserta didik. Sebagai contoh adalah Mapel IPS kelas I sudah membaca teks bacaan. Padahal seharusnya anak didik baru diajarkan untuk Baca Tulis dan Berhitung. Di samping itu ada materi yang seharusnya belum diberikan di bangku sekolah dasar sudah diberikan di SD. Materi kenegaraan (PKN) tentang struktur organisasi pemerintahan RI dan alat kelengkapannya seharusnya belum ada di SD. Nalar atau logika anak belum masuk.
  2. beban kerja guru sudah terlampau besar. Di Kurikulum 2013 gurudalam mengajar hanya menyiapkan recana pembelajaran saja. Untuk Kurikulum sudah diplot dari pusat sampai silabus pembelajaran. Dengan demikian guru berkurang satu bebannya. Selama ini guru terlalu dibebani dengan persoalan administrasi sehingga guru jarang memiliki kesempatan untuk meng-upgrade kemampuannya dengan menimbah ilmu kembali. Dalam kesempatan itu juga Mendikbud berjanji akan meninjau kembali beban mengajar guru 24 jam.
  3. Indeks prestasi belajar Indonesia rangking dunianya sangat rendah. Hal ini disebabkan banyak materi pembelajaran yang tidak dimasukkan dalam kurikulum kita. Salah satunya adalah masalah pengolahan data dalam pembelajaran kita.
  4. Persoalan kenakalan yang melibatkan remaja atau pelajar. karena dalam kurikulum 2013 penekanan pendidikan Agama ditingkatkan dengan memperbanyak jam pelajaran agama plus Budi pekerti.
Read more >>

Rembug Pendidikan Muhammadiyah Jatim Berjalan Sukses

Rembug Nasional Pendidikan Muhammadiyah Jawa Timur jelang Kurikulum 2013 berjalan sukses Sabtu, 16 Pebruari 2013. Peserta tumplek blek di UMM Dome. Undangan yang semula hanya sekitar 700 peserta ternyata overload. Tidak kurang dari 3000 peserta memadati Dome. Belum lagi yang enggan masuk dan memilih untuk berda di luar arena karena di dalam penuh sesak dan lebih memilih melihat-lihat stan pameran PT DMU. Wal hasil panitia harus berjuang ekstra memberikan pelayanan terbaik termasuk di dalamnya konsumsi. Banyak juga peserta yang tidak mendapatkan konsumsi makan siang walaupun panitia telah menambah kuota untuk konsumsi.
Pelakasanaan rembug secara umum berjalan cukup sukses dan mendapatkan acungan jempol dari Mendikbud M. Nuh. " Jika dari pihak lain masih bicara haram dan halalnya, pro dan kontranya, Muhammadiyah selangka lebih maju dengan sudah mempersiapkan diri menyambutnya" Katanya disambut applous peserta rembug.
Read more >>

Kamis, 14 Februari 2013

Kurikulum 2013 vs Mutu Guru

Kurukulum boleh berubah dengan kurikulum baru sekalipun yaitu Kurikulum 2013, ngajarnya tetap saja sama. Begitulah jargon yang banyak dipedomani guru-guru Indonesia. Sebuah jargon yang tidak jelas sumbernya. Jargon yang menunjukkan status qua serta antiperubahan. Jargon yang cenderung menikmati kemapanan. Meskipun jujur arti kemapanan itu sendiri belum dipahami.
Jangan disalahkan jika banyak di antara guru yang menjadikan jargon ini sebagai pedomannya. kenapa demikian  ? Guru Indonesia telah lama dininabobokkan dengan berbagai macam kemudahan di masa lampau. Kurikulum yang cenderung top down menjadikan guru-guru mati daya kreativitasnya. Juklak dan Juknis menjadi kitab suci yang haram untuk dilanggarnya. Jika tidak ada keduanya otomatis mereka tidak akan bekerja. Sebaliknya dengan ada keduanya mereka akan cenderung untuk memenuhi standar minimal yang ada pada keduanya. Ironi....
Demikian pula dengan sertifikasi yang ada. harapan peningkatan kinerja dengan diberikannya tunjangan dua kali gaji pokok nampaknya tidak berpengaruh efektif. Kinerja masih tetap sama. Jangan terlalu kita jauh mengukur tingkat keberhasilan guru dengan capaian nilai UN. Nilai UN masih penuh dengan rekayasa. Lihat saja keseharian guru. Datanglah lebih awal di sekolah. Saksikan jam berapa mereka datang. Simaklah saat mereka istirahat atau tidak ada jam. Lihat pula saat jam pulang sekolah. Di sana akan ketemu jawaban akan potret pendidikan kita.
jadi bagaimana dengan kurikulum 2013. Apakah akan mampu untuk meningkatkan mutu pendidikan kita ?
Secara teori jawabannya iya. tetapi prakteknya tunggu dulu. Masih banyak PR yang harus dislelesaikan oleh "penguasa" kita. terutama menyangkut Guru.

Read more >>

Senin, 11 Februari 2013

Semua Tergantung Maqamnya

Nabi Muhammad pernah bersabda tentang suatu perkara yang diserahkan kepada bukan pakrnya, maka tunggu saja saatnya (kehancuran). Hal ini berlaku General. Semua unsur profesi jika tidak diserahkan pada orang yang punya  Maqam atau profesionalitas atas suatu pekerjaan maka alamat kehancuran yang akan  didapat.
Seorang kawan terjatuh. Kakinya terkilir. Pada saat itu posisinya sedang berada di Yogyakarta. Ketika balik ke Jatim rentang waktunya sudah dua hari. Kaki semakin bengkak dan sulit untuk dibuat jalan, Solusinya, kakinya dipijit atau diurut. Satu orang didatangi. Namun hasilnya belum maksimal. Kemudian dipijitkan lagi sampi kepada empat orang. Ketika sampai ke empat orang ini, dianya mala tidka dapat jalan. Akhirnya atas solusi seorang teman lainnya dibawah ke suatu daerah yang disana ada seorang yang mumpuni dalam urusan tulang belulang.
Jadilah dipijit lagi. Menurut sang ahli, ada tiga bagian tulang yang mengalami dislokasi. Dengan cekatan tulang belulang engkel kaki itu dibetulkan. Krekk, seperti di film-film Jet Li. Jadi sedikit enakan. dan sudah dapat dibuat menapak dengan nyaman walaupun jalan masih belum bisa.
Kedua, kemarin ada undangan dari salah satu saudara sepupuh untuk ikut Gugur Gunung atau kerja bakti menggali pondasi rumah baru. Dalam bahasa kampung disebut soyo. Kerja dimulai pagi sekali dengan banca'an terlebih dahulu. Hasi itu makan pagi. Kerja dimulai. Saya bawah cangkul untuk menggali pondasi. Baru beberapa menit saja sudah ngos-ngosan. Maklum saya tidak pernah angkal cangkul. Paling berat saya hanya angkat kapur saja.
Itulah kalau kerja bukan pada maqomnya. Yang pertama bisa jadi penyakit salah urat tidak sembuh. Yang kedua, jika saya nglancangi jadi tukang batunya pasti rumahnya tidak akan jadi.
Semua sudah ada maqomnya,
Read more >>

Jumat, 08 Februari 2013

Perilaku Imitasi Anak

Anak atau balita adalah buah hati bagi orang tuanya. Saat-saat itu adalah saat mulai perkembangannya. Baik Phisik maupun psikisnya. Tingkahnya kadang bikin gemas dan sangat menyenangkan. Celotehnya akan membuat kangen siapa saja. Dengan nada biacara yang agak cedal akan semakin menambah menarik tutur katanya. Polos dan tidak dibuat-buat. Itulah anak kecil. Beda dengan kita yang sudah dewasa.
Anak kecil ibaratnya kain putih. Itu yang kudapat dari bangku kuliah dulu. Terserahlah kedua orang tuanya. Mau dikemanakan dia. Akan dicat apa dia. Dibentuk seperti apa dia. Karena dengan pengaruh kedua orang tuanya ini dia kelak akan tumbuh dan menjadi manusia. Jika pola penerapannya baik, mudah-mudahan baik pula hasilnya. JIka pola pengasuhannya salah bisa jadi salah pula hasilnya.
Seorang anak akan melihat orang tuanya sebagai figur utama yang layak dicontoh sebelum mencontoh lainnya. Komunikasi keseharian akan terekam dengan sendirinya dalam benak anak. Perkemanan itulah nantinya akan menjadi semacam rujukan bagi anak untuk berbuat atau bertutur. Hal inilah yang disebut sebagai proses imitasi. Proses meniru apa yang pernah dilihat atau didengarnya. Jika dia pernah melihat orang tua makan sambil bicara. Maka akan dia contoh juga. Meskipun anak memang suka makan sambil bicara. Jika orang tua suka mengumpat dengan umpatan yang kotor di depan anak. Maka jangan heran jika suatu saat anak akan mengumpat di depan kita. So, hati-hati...
Orang tua adalah cermin bagi anak. Kata-kata bijak sering mengatakan, jika engkau ingin lihat engkau di masa kecilmu. Lihatlah anakmu. Anak adalah foto kopimu. Meskipun tidak seratus persen benar, tidak ada salahnya kita pedomani kata-kata itu agar kita tetap mawas diri dan berusaha agar dapat memberikan pelajaran yang terbaik bagi anak kita
Read more >>

Kamis, 07 Februari 2013

Rencana Sosialisasi Kurikulum 2013 Muhammadiyah Jawa Timur

SMS saya berbunyi. Ada SMS masuk. Dari Cak Sholihin Fanani, Kepala SD Muhammadiyah 4 Surabaya. Isinya sebuah berita tentang Sosialisasi Kurikulum 2013 yang akan diselenggarakan oleh PW Muhammadiyah Jawa Timur yang nantinya akan ditempatkan di Dome Universitas Muhammadiyah Malang. Acaranya sendiri akan dilaksanakan Sabtu, 16 Pebruari 2013 mulai pukul 07.00 sampai dengan pukul 16.00.
Dalam SMS tersebut rencananya yang akan menjadi pembiacar adalah Bapak Prof. DR. Thohir Luth Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur. Prof. M. Nuh, Mendikbud RI, Prof. Baedowi dan Profesor Zainuddin Maliki dari Dewan Pendidikan Jawa Timur.
Bagi yang berkenan hadir di acara tersebut tidak dikenakan biaya alias free. Yang minat dapat menghubungi PWM pada jam kerja.
Read more >>

Rabu, 06 Februari 2013

Kartu Sakti itu Bernama NRG

Hari ini saya bahagia. Tapi cuma sedikit saja. dan itu sudah lebih dari cukup bagi saya untuk dijadikan spirit hidup. Bahagia karena saya mendapatkan fisik NRG saya dalam bentuk kartu. NRG atau Nomer Registrasi Guru (NRG) adalah barang berharga bagi guru yang sudah dinyatakan lulus sertifikasi baik melalui jalur portofolio maupun PLPG. Untuk mendapatkan kartu ini diperlukan kesabaran ekstra dan masa tunggu yang sangat lama. Saya sendiri baru mendapatkan kartu ini sekitar satu setengah tahun sejak saya lulus sertifikasi tahun 2011. Selama kurun waktu itu saya dan juga teman-teman yang lain berada situasi yang tidak pasti. Tidak pasti apakah akan keluar NRGnya. Lebih tidak pasti apa akan keluar juga Tunjangan Profeesi Pendidiknya (TPP).
Saya tidak tahu sejak kapan ada aturan harus ada NRG ini guna mencairkan TPP. Tapi yang jelas, tambah tahun pihak kemdikbud dan juga Kmentrian Keuangan selalu membuat perbaikan sistem dimana-mana dalam rangka memperketat sistem sertidikasi sendiri. Mulai dari adanya UKG untuk mengukur sejauh mana kompetensi guru yang telah lulus sertifikasi sampai mengadakan UKG bagi guru yang belum untuk menentukan longlist pelaksanaan PLPG berikutnya. Terakhir, aturan sertifikasi diperbaiki dengan mengadakan Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang menyita waktu untuk kuliah ini hampir satu tahun. Adapun perkulihannya dilaksanakan secara reguler. Akibatnya dapat kita prediksi akan banyak kelas yang kosong karena ditinggalkan guru yang menempuh PPG.  Di sisi lain, sekolah akan kelimpungan mencari tenaga pengganti guru yang bersangkutan. Tambah tenaga lagi. Bagaimana jika guru yang bersangkutan sudah selesai PPG ? Akan dikemanakan guru yang tadi ditugasui sebagai pengganti ?
Kembali ke NRG. Kartu ini memang sakti. Kartu ini dapat mencairkan uang dalam jumlah jutaan. Jika tidak ada kartu ini, walaupun kita sudah lulus bertahun-tahun TPPnya dijamin tidak akan keluar. Sayangnya, Berdasarkan PMK yang baru, TPP dapat dicairkan bulan Januari Tahun berikutnya setelah NRG ini keluar. 
Ingin tahu fisiknya NRG. Lihat saja NRG saya berikut ini !

Read more >>