Kamis, 31 Januari 2013

Ketika Anakku Mulai "Bisa" Berjalan

Aku seorang ayah dengan tiga putra. Semuanya lelaki. Jarak usianya pun relatif dekat. pasutan 2-3 tahun saja. Mereka anak-anak yang lucu dengan dunianya masing-masing. Terlahir dari rahim isteriku tercinta. Memang ada harapan kami untuk mendapatkan seorang putri. namun harus bagaimana lagi, Allah percaya bahwa kami cocok diberi amanah anak lelaki. karenanya ketika anak kami lelaki. tampan dan perkasa
Kesemua anakku tumbuh dengan baik tanpa ada kendala yang berarti. Alhamdulillah. Suka duka membesarkan mereka memang luar biasa. Jatuh dan bangun diterpa riak gelombang kami rasa. Namun sejauh ini kami masih dapat bertahan. dan Mudah-mudahan Tuhan pun tetap memberi kami keteguhan.
Ketiga putraku tumbuh dengan pesat. pada usia belum genap setahun rata-rata mereka sanggup berjalan. Yang pertama 10 bulan. yang kedua 11 bulan dan yang terakhir ini menginjak usia 12 bulan. Luar biasa. Melihat mereka mulai belajar berjalan. Semangatnya. Ketika sudah mampu tak terbersit sedikitpun keinginan berhenti. terus, dan terus mereka berjalan berputar-putar di ruang tamu menuju ruang keluarga dan juga kamar tidur. Demi keamanan pintu depan sengaja kututup. Aku juga khawatir dia jatuh mengingat teras kami agak menjorok. ANak kecil memang kurang hati-hati.
Read more >>

Jumat, 25 Januari 2013

Baju Takwa Baru untuk Anakku

Selasa, 22 Januari 2013 adalah dua hari jelang peingatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Bagi saya pribadi tidak ada yang istimewa. Bagi sebagian orang mungkin peringatan ini luar biasa. Biarlah. Saya tidak ingin membahasnya panjang lebar di sini.Bahasan saya justeru dilihat dari segi lain saja. Salah satunya dari sudut pandang anak saya yang notebene masih tergolong balita dan satunya masih kanak-kanak.
Bagi anak kecil, perayaan ini sangat istimewa sekali. Mungkin ini adalah pengalaman pertamanya seumur hidupnya. Rasa keingintahuaannya masih sangat besar terhadap hal-hal baru yang belum diketahui. Karenanya siap-siap saja untuk melihat tingkahnya dan sesekali menjawab pertanyaan si kecil yang kadang tidak disangka-sangka.
Hari itu istimewa, kenapa demikian ? Anakku yang TK diminta oleh gurunya membawa buah dan berpakaian busana muslim hari rabunya. Hari sudah sore ketika si mbahnya bilang ini ke saya. Kok anak saya gak bilang ya ? Padahal saya belum juga belikan buah untuk dia bawah besok. Di samping itu juga baju dia yang biasa dipake ngaji sudah kotor tadi tertumpai sirup. Baju lainnya sih ada namun sudah lumayan lusuh bagi dia. Maklum bajunya sudah agak lamaan. Perkembangan fisik anak saya terlampau cepat. Baju yang dibelikan setahun yang lalu saja sudah banyak yang tidak cukup. Di samping itu sudah banyak yang koyak juga terutama di bagian selakangan. Kasihan jika harus saya pakaikan baju yang tidka layak itu.
Terpaksa, saya tancap gas. Langsung saya ajak si sulung pergi ke Kejapanan. Belanja hari ini buah dan baju taqwa untuk si sulung. Yang kedua juga ikut. Biasanya dia tidak pernah minta sesuatu. Namun jika ada yang cocok meskipun sangat jelek tidak akan dia surut memintanya. Pengalaman beli jaket dahulu. Saya carikan pertama ketemu jaket Indonesia. Pas ukurannya. Harga belum jadi tetapi jaket itu dibawa terus. Pandangan mata saya jatuh ke jaket lainnya. Bahannya halus dan coraknya bagus. Saya naksir dan harganya memang agak mahalan dikit. Saya cobakan jaket itu. Si nomor dua bersikukuh tidak mau. Apa daya biarlah. Kekahawatiran saya dia akan minta tapi sesuka hatinya saja.
Pembelian baju takwa untuk si sulung beres. Dia tidak pernah neko-neko. Ukuran pas corak yang kurang sip. Hijau gelap bro. Kontras dengan warna kulit anaksaya yang hitam manis. Bagaimana lagi ukuran yang pas tidak ada lagaai. Biar saja, hehehe...
Saya kasihan lihat yang kedua, dia belum punya baju takwa. Iseng saya carikan ukuran yang pas dan ada. Saya cobakan dia tidak mau. Saya bujuk masih tidak mau. Mungkin dianya tidak mood dengan baju takwa. Saya beli saja barangkali dia cocok di rumah. Bener saja, di rumah dia pakai terus dan tidak mau dilepas. Jelang tidur pun masih dipakai. Khawatir kena ngompol, saat tidurnya sudah pulas dilepaslah oleh Bunda.
Pembelian berikutnya adalah buah. Wah, hebat bener pengarih sang Nabi ini. Jelang kelahirannya banyak orang hilir mudik untuk membelikan kado beliau. Rata-rata buah-buahan segar. Deretan pembeli menutup rapat lapak buah sahabat saya yang juga kepala SMP Muhammadiyah 4 Gempol, Mukhammad Lutfi, S.Pd. Luar biasa. Penuh sesak. Padahal kalau mau jujur harganya jauh sekali dari jangkauan. Mahal sekali. Memang jelang muludan. Harga buah melonjak tinggi ke awang-awang. Deal juga buahnya. Pulang deh,....
Esoknya anakku pakai baju takwanya untuk sekolah. Sorenya dipake untuk ikut kenduri di Mushollah depan rumah. Yang kedua ikut. Ketika menyaksikan banyak orang bawa buah. Dia nanya. "yah, durennya mana ?". Sontak wak Nggung yang disamping saya tertawa lebar. Memang anak saya penggemar berat duren. Beda dengan yang pertama, dia tidak suka buah dan sayuran. Yang kedua memang doyan makan. Setiap makanan dia suka. Termasuk di dalamnya Durian. 
Ini foto dia ketika pakai baju barunya, besoknya juga dia pakai lagi ketika jalan-jalan ke Taman Datu








Read more >>

Rabu, 23 Januari 2013

Muludan : Sebuah Tradisi

Saat saya SD, setipa kali momentum 12 Rabiul awal sekolah selalu menyelenggarakan kegiatan. Paling sering adalah kegiatan pengajian yang diisi oleh guru agama di sekolah itu. Kegiatan lain hampir tidak ada kecuali kegiatan makan buah yang dibawa dari rumah masing-masing. Buah-buah tersebut sebelumnya dikumpulkan dulu di kantor kemudian dibagi kembali ke siswa supaya merata. Dalam benak kami siswa SD saat itu, ini hanyalah akal licik guru-guru saja agar dapat dipilih dan disisihkan buah yang bagus untuk dibawa pulang. Su'udhon sih, dan memang itu kenyataannya. Walapun murid-murid telah membawah buah yang bagus-bagus dan jumlahnya tidak sedikit. Ketika dibagi kembali biasanya buah-buah kelas menengah ke bawah. Kemana buah kelas atasnya ? Mana anggur merahnya ? Mana apel fujinya ? kok kita hanya dapat bagian pisang meluluh....hehehe
Hal inilah yang kemudian membuat sebagian dari kita galau. Kayak pak pres kita ya ? pakai kata Galau segala. Sehingga ada niat tak baik timbul dalam sanubari kita. Bagaimana caranya agar buah itu tidak ke tangan pendekar berwatak jahat. Hehehe...jadi deh sebagian buah itu kami sembunyikan si belakang sekolah. Pas dikumpulkan ya sebagian saja. Sisanya masih utuh kami simpan dan kami sembunyikan. Nanti kalau pulang diambil lagi.
Jadi gak ikhlas ya ?
Padahal niatan utamanya tadi mengadakan peringatan maulid nabi. Ternyata ?

25 tahun kemudian
Saya sudah jadi guru loh, hehehe...Kalau dulu waktu saya SD ada acara bawah buah. Ternyata sekarang juga masih ada. Kayaknya sudah mentradisi ya. Tapi sorry man, saya tidak suka melakukan hal-hal yang dulu saya benci. Yaitu mengambil bawaan buah siswa pas muludan. Biar itu dimakan siswa saja.
Kalau dikasih ?
Masak saya tolak !!!
Kenangan masa kecil, 23 Januari 2013
Read more >>

Selasa, 22 Januari 2013

Hari Ini, Akan Terjadi Fenomena Gerhana Jupiter

Stellarium Ilustrasi kenampakan Jupiter dan Bulan pada Selasa (22/1/2013) malam sekitar pukul 21.38 WIB. Malam ini, Bulan dan Jupiter hanya akan berjarak 3-5 derajat.
JAKARTA, KOMPAS.com — Fenomena gerhana Jupiter atau okultasi Jupiter akan terjadi Selasa (22/1/2013) hari ini. Bumi, Bulan, dan Jupiter akan terletak pada satu garis lurus sehingga pada beberapa saat Bulan akan menutupi planet gas raksasa terbesar di tata surya itu.

"Gerhana Jupiter akan terjadi pada sekitar pukul 11.00 WIB dengan durasi antara 30 menit hingga 60 menit, bergantung lokasinya," kata astronom amatir, Ma'rufin Sudibyo, Minggu (20/1/2013).

Warga Amerika Selatan beruntung bisa menyaksikan fenomena ini. Sementara di Indonesia, fenomena ini harus dilewatkan begitu saja. Karena terjadi di siang hari, Bulan dan Jupiter tak tampak di langit nusantara.

Namun, tak perlu khawatir, Jupiter dan Bulan masih bisa dinikmati malam harinya, mulai Matahari terbenam hingga Rabu (23/1/2013) dini hari, sekitar pukul 01.00 WIB. Seperti beberapa malam terakhir setelah banjir Jakarta, Kamis (17/1/2013), Bulan dan Jupiter tampak benderang di langit Jakarta yang relatif cerah.

Setelah gerhana, Jupiter bakal muncul kembali dan berada pada jarak yang sangat dekat dengan Bulan. "Pada saat itu, Indonesia akan menyaksikan Jupiter dan Bulan berjejeran dengan jarak sudut hanya antara 3 hingga 5 derajat," ungkap Ma'rufin.

Jarak antara Bulan dan Jupiter yang terlihat dari Indonesia masih kalah dekat dengan jarak yang terlihat dari wilayah Amerika Serikat. Di sana, bulan dan Jupiter hanya akan berjarak 0,5 derajat. Bulan dan Jupiter pada jarak tersebut hanya akan terjadi lagi tahun 2026.

Joe Rao dalam tulisannya di Space.com, Minggu, menguraikan bahwa fenomena gerhana Jupiter serta Bulan dan Jupiter yang berdekatan hanyalah sebuah ilusi, hanya sudut pandang manusia di Bumi, terkait gerak keduanya mengelilingi Matahari.

Selama fenomena kedekatan Bulan dan Jupiter, Jupiter akan tampak bergerak mengelilingi Bulan. Kenyataannya, Bulanlah yang bergerak lebih cepat dari Jupiter dalam sudut pandang manusia di Bumi.

Jupiter dan Bulan malam ini bisa dilihat dengan mata telanjang, asalkan langit cerah. Beberapa malam terakhir, keduanya bahkan tampak dari Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta. Setelah malam ini, keduanya masih akan tampak, tetapi dengan jarak yang semakin menjauh.
sumber : kompas
Read more >>

Guru PNS Boleh Mengajar di Sekolah Swasta

JAKARTA, KOMPAS.com - Guru-guru berstatus pegawai negeri sipil akhirnya dibolehkan mengajar di sekolah swasta. Pemerintah memberi payung hukum dalam rancangan perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru.

”Ada harapan memperbaiki beberapa persoalan yang dihadapi guru dengan adanya rencana revisi PP No 74/2008. Kekhawatiran sekolah swasta tak lagi dapat bantuan tenaga pengajar dari pemerintah tak perlu terjadi lagi. Guru PNS tetap bisa diperbantukan di sekolah swasta,” kata Sekretaris Jenderal Pengurus Besar PGRI Sahiri Hermawan, di Jakarta, Rabu (16/1).

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh membenarkan, pemerintah merestui guru PNS diperbantukan ke sekolah swasta. Sebab, sekolah swasta juga berperan membantu pendidikan anak-anak bangsa.

Pada 2010, banyak dinas pendidikan di daerah menginstruksikan agar guru-guru PNS yang diperbantukan di sekolah swasta ditarik dan berdinas di sekolah negeri. Kebijakan itu meresahkan sekolah swasta, umumnya sekolah swasta kecil yang tak mampu mengangkat semua guru menjadi guru tetap yayasan.

”Kebijakan soal guru PNS diperbantukan di sekolah swasta melegakan karena meringankan beban sekolah swasta. Kami juga mendorong pemerintah memperbanyak bantuan guru PNS ke sekolah swasta,” ungkap Sahiri.

Ketua Umum Pengurus Besar PGRI Sulistiyo mengatakan, pemerintah juga diminta menyetarakan masa kerja guru swasta seperti guru PNS. Program itu selama ini tak berjalan baik. Pada pembayaran tunjangan profesi guru swasta, pemerintah memukul rata tunjangan profesi sebesar Rp 1,5 juta per bulan bagi guru swasta.

Beban kerja jam guru minimal 24 jam mengajar tatap muka per minggu juga akan diubah. Guru dengan tugas tambahan sebagai kepala sekolah, wali kelas, diusulkan 12 jam per minggu. Adapun guru selama 18 jam per minggu.

”Beban kerja guru tak hanya tatap muka di kelas. Seharusnya tugas tambahan guru yang lain juga diperhitungkan. Tampaknya ini diakomodasi di rancangan revisi PP Guru,” kata Sulistiyo.

Demikian juga soal penghasilan minimal guru, kini diperjuangkan agar ditetapkan pemerintah. ”Jangan sampai ada lagi guru yang dibayar tak layak. Pemerintah harus menetapkan gaji minimal guru,” ujar Sulistiyo.

Terkait dengan revisi organisasi profesi guru, sejumlah organisasi lain, seperti Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Federasi Guru Independen Indonesia (FGII), dan Ikatan Guru Indonesia, masih keberatan. (ELN)
Sumber : edukasi.kompas.com
Read more >>

Kamis, 17 Januari 2013

Candi Belahan atau Petirtaan Sumber Tetek


Candi Belahan atau Candi sumber Tetek terletak di wilayah Dusun Belahan, Desa Wonosonyo, Kecamatan Gempol, Pasuruan, Jawa Timur, tepatnya sekitar 40 km dari kota Pasuruan. Candi ini sebenarnya kalau dilihat dari arsitektur bangunannya merupakan petirtaan yang sangat unik dan mempesona, karena terdapat dua patung wanita Dewi Sri serta Dewi Laksmi. Dari salah satu patung yang berdiri disitu, yaitu patung Dewi Laksmi mengalir air melalui tetek (kedua puting susu),  yang ditampung pada sebuah kolam berukuran kurang lebih 6 x 4 meter di depan/bawah patung tersebut. Maka dari itu masyarakat setempat menyebut, candi Belahan ini dengan sebutan candi Sumber Tetek.
Kedua patung ini merupakan lambang kesuburan dan kemakmuran, posisi kedua patung tersebut berdiri berdampingan membelakangi dinding yang terbuat dari batu bata dihiasi dengan relief yang menggambarkan Wisnu menunggang Garuda setinggi sekitar tiga meter. Air yang keluar dari patung tersebut mengalir sepanjang tahun, bahkan di musim kemarau sekalipun. Candi ini merupakan salah satu dari sekitar 80 bangunan candi kecil yang ditemukan di seputaran Gunung Penanggungan. Terletak pada ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan air laut. Bahkan candi ini merupakan salah satu candi yang belum pernah dipugar.
Air yang bersumber dari tetek patung Dewi Laksmi ini sangat jernih, hingga sampai sekarang digunakan sebagai keperluan sehari-hari. Oleh masyarakat setempat. Kebutuhan air bersih ini tak hanya dinikmati penduduk Belahan Jawa, namun juga warga desa tetangga yang letaknya jauh di kaki gunung dan dikenal sebagai warga Belahan Nangka meliputi Dukuh Genengan, Jeruk Purut, Gedang, Pojok, Karang Nangka, Dieng, Kandangan serta penduduk Kunjoro yang berbatasan dengan Mojokerto
Konon menurut warga setempat, air tersebut dipercaya memiliki khasiat tertentu seperti bisa menjadikan awet muda dan kesembuhan terhadap segala penyakit-penyakit. Sosok penunggu kawasan ini dipercaya menjaga kelestarian situs petirtaan Sumber Tetek. Konon pada masa penjajahan Belanda (banyak koleksi patung yang berada di Belanda), ada upaya untuk mengangkut salah satu ornamen candi. Tetapi tidak ada satu orang pun yang mampu mengangkatnya sehingga upaya pengangkutan tersebut gagal dan keaslian situs Sumber Tetek tersebut tetap terjaga sampai sekarang.
Meski belum tersentuh pemugaran, Candi Belahan atau Petirtaan Sumber Tetek sangatlah pantas untuk ditawarkan sebagai Daerah Kunjungan Wisata. Karena ditunjang dengan eksotika candi yang sangat unik dan mempesona, dengan dua patung wanita Dewi Sri serta Dewi Laksmi yang mengalir air melalui kedua teteknya (puting susu). Kejernihan serta kesegaran air Sumber Tetek yang ditampung di kolam tersebut serta keindahan alamnya tetap memiliki daya pikat yang kuat. Selain itu semua, menuju lokasi wisata candi ini jalan perbukitan yang menanjak dan bekelok, disuguhi pemandangan berupa hutan pohon akasia dan areal ladang penduduk. Jika cuaca cerah, kepenatan kita selama perjalanan akan terobati dengan hadirnya pemandangan indah dari puncak gunung Penanggungan. Suasana yang sejuk, tenang dan asri khas pedesaan akan semakin sejuk ketika sapaan ramah penduduk setempat yang sudah tidak merasa asing dengan wisatawan karena desa mereka sering menjadi rute pendakian menuju puncak Gunung Penanggungan.
Catatan: Sujarwo (Pustakawan)
Rujukan:
– Menjelajah Obyek Wisata Kabupaten Pasuruan. Bagian Humas, Pemereintah Daerah Kabupaten Pasuruan.
- Pesona Wisata Kabupaten Pasuruan. Dinas Pariwisata Kabupaten Pasuruan (Brosur)
sumber : jawatimuran.wordpress.com
Read more >>

Sejarah Kerajaan Kahuripan dan Raja Airlangga

Sejarah kerajaan kahuripan, sejarah raja airlanggaAirlangga adalah pendiri Kerajaan Kahuripan, yang memerintah tahun 1009-1042 dengan gelar Abhiseka Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa. Sebagai seorang raja, ia memerintahkan Mpu Kanwa untuk mengubah Kakawin Arjunawiwaha yang menggambarkan keberhasilannya dalam peperangan. Di akhir masa pemerintahannya, kerajaannya dibelah dua menjadi Kerajaan Kadiri dan Kerajaan Jenggala, bagi kedua putranya.
Airlangga lahir tahun 990, Ayahnya bernama Udayana, raja Kerajaan Bedahulu dari Wangsa Warmadewa, Ibunya bernama Mahendradatta dari Wangsa Isyana dari kerajaan Medang.
Airlangga menikah dengan putri pamannya, yaitu Dharmawangsa Teguh di Watan, ibu kota Kerajaan Medang (Maospati,Magetan Jatim). Ketika pesta berlangsung, kota Watan diserbu Raja Wurawari yang menjadi sekutu Kerajaan Sriwijaya. Kejadian ini tercatat dalam prasasti Pucangan, penyerangan ini terjadi sekitar tahun 928 saka.
Dalam serangan itu, Dharmawangsa Teguh tewas, sedangkan Airlangga lolos ke hutan pegunungan Wanagiri ditemani pembantunya Mpu Narotama. Saat itu ia berumur 16 tahun, sejak kejadian itu ia mulai menjalani hidup sebagai seorang pertapa. Bukti peninggalannya dapat dijumpai di Sendang Made, Kudu, Jombang, Jatim. Setelah tiga tahun hidup di hutan, Airlangga didatangi oleh utusan rakyat yang memintanya membangun kembali kerajaan Medang, karene kota Watan sudah hancur, ia membangun kota Watan Mas di dekat Gunung Penanggungan.
Saat pertamakali ia naik tahta wilayah kerajaannya hanya meliputi daerah Sidoarjo dan Pasuruan saja, karena sepeninggal Dharmawangsa Teguh banyak daerah bawahan yang melepaskan diri. Pada tahun 1023 Kerajaan Sriwijaya yang menjadi musuh besar Wangsa Isyana dikalahkan Rajendra Coladewa raja Colamandala dari India. Ini membuat Airlangga leluasa menyiapkan diri untuk menakhlukkan pulau Jawa
Sejak tahun 1025, Airlangga memperluas kekuasaan dan pengaruhnya seiring dengan melemahnya Sriwijaya. Mula-mula yang dilakukan Airlangga adalah menyusun kekuatan untuk menegakkan kembalikekuasaan Wangsa Isnaya atas pulau Jawa. Namun awalnya tidak berjalan dengan baik, karena menurut prasasti Terep (1032), Watan Mas kemudian direbut musuh, sehingga Airlangga melarikan diri ke desa Patakan. Berdasarkan prasasti Kamalagyan (1037), ibu kota kerajaan sudah pindah di Kahuripan (Sidoarjo).
Airlangga pertama-tama mengalahkan Raja Hasin, 1030 menakhlukkan Wisnuprbhawa raja Wuratan, Wijayawarma raja Wengker, kemudian Panuda raja Lewa. Pada tahun 1032, Airlangga dikalahkan oleh seorang raja wanita dari Tulungagung, istana Watan Mas dihancurkan. Airlangga terpaksa melarikan diri ke desa Patakan ditemani Mapanji Tumanggala, dan membangun kota baru di Kahuripan, dalam tahun itu juga Raja Wurawari dapat dikalahkan bersama Mpu Narotama. Terakhir tahun 1035, Airlangga menumpas pemberontakan Wijayawarma raja Wengker yang pernah ditaklukannya dulu. Wijayawarma melarikan diri dari kota Tapa namun kemudian mati dibunuh rakyatnya sendiri.
Pembangunan Kerajaan
Kerajaan yang baru dengan pusatnya di Kahuripan, Sidoarjo ini, wilayahnya membentang dari Pasuruan di timur hingga Madiun di barat. Pantai utara Jawa, terutama Surabaya dan Tuban, menjadi pusat perdagangan yang penting untuk pertama kalinya. Airlangga naik tahta dengan gelar abhiseka Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa. Airlangga juga memperluas wilayah kerajaan hingga ke Jawa Tengah, bahkan pengaruh kekuasaannya diakui sampai ke Bali. Menurut prasasti Pamwatan (1042), pusat kerajaan kemudian pindah ke Daha (Kediri).
Setelah keadaan aman, Airlangga mulai mengadakan pembangunan-pembangunan demi kesejahteraan rakyatnya. Pembangunan yang dicatat dalam prasasti-prasasti peninggalannya antara lain.
Membangun Sri Wijaya Asrama tahun 1036.
Membangun bendungan Waringin Sapta tahun 1037 untuk mencegah banjir musiman.
Memperbaiki pelabuhan Hujung Galuh, yang letaknya di muara Kali Brantas, dekat Surabayasekarang.
Membangun jalan-jalan yang menghubungkan daerah pesisir ke pusat kerajaan.
Meresmikan pertapaan Gunung Pucangan tahun 1041.
Memindahkan ibu kota dari Kahuripan ke Daha
Ketika itu, Airlangga dikenal atas toleransi beragamanya, yaitu sebagai pelindung agama Hindu Syiwa dan Buddha.
Airlangga juga menaruh perhatian terhadap seni sastra. Tahun 1035 Mpu Kanwa menulis Arjuna Wiwaha, yang diadaptasi dari epic Mahabharata. Kitab tersebut menceritakan perjuangan Arjunamengalahkan Niwatakawancaka, sebagai kiasan Airlangga mengalahkan Wurawari.
Pembelahan kerajaan
Pada tahun 1042 Airlangga turun takhta menjadi pendeta, ia bergelar Resi Aji Paduka Mpungku Sang Pinaka Catraning Bhuwana. Berdasarkan cerita rakyat, putri mahkota Airlangga menolak menjadi raja dan memilih hidup sebagai pertapa bernama Dewi Kili Suci. Nama asli putri tersebut dalam prasasti Cane (1021) sampai prasasti Turun Hyang (1035) adalah Sanggramawijaya Tunggadewi. Menurut Serat Calon Arang, Airlangga kemudian bingung memilih pengganti karena kedua putranya bersaing memperebutkan takhta. Mengingat dirinya juga putra raja Bali, maka ia pun berniat menempatkan salah satu putranya di pulau itu. Gurunya yang bernama Mpu Bharada berangkat ke Bali mengajukan niat tersebut namun mengalami kegagalan. Fakta sejarah menunjukkan Udayana digantikan putra keduanya yang bernama Marakata sebagai raja Bali, dan Marakata kemudian digantikan adik yang lain yaitu Anak Wungsu.
Airlangga lalu membagi dua wilayah kerajaannya. Mpu Bharada ditugasi menetapkan perbatasan antara bagian barat dan timur. Peristiwa pembelahan ini tercatat dalam Serat Calon Arang, Nagarakretagama, dan prasasti Turun Hyang II. Maka terciptalah dua kerajaan baru. Kerajaan barat disebut Kadiri berpusat di kota baru, yaitu Daha, diperintah oleh Sri Samarawijaya. Sedangkan kerajaan timur disebut Janggala berpusat di kota lama, yaitu Kahuripan, diperintah oleh Mapanji Garasakan.
Dalam prasasti Pamwatan, 20 November 1042, Airlangga masih bergelar Maharaja, sedangkan dalam prasasti Gandhakuti, 24 November 1042, ia sudah bergelar Resi Aji Paduka Mpungku. Dengan demikian, peristiwa pembelahan kerajaan diperkirakan terjadi di antara kedua tanggal tersebut.
Tidak diketahui dengan pasti kapan Airlangga meninggal. Prasasti Sumengka (1059) peninggalan Kerajaan Janggala hanya menyebutkan, Resi Aji Paduka Mpungku dimakamkan di tirtha atau pemandian. Kolam pemandian yang paling sesuai dengan berita prasasti Sumengka adalah Candi Belahan di lereng Gunung Penanggungan. Pada kolam tersebut ditemukan arca Wisnu disertai dua dewi. Berdasarkan prasasti Pucangan (1041) diketahui Airlangga adalah penganut Hindu Wisnu yang taat. Maka, ketiga patung tersebut dapat diperkirakan sebagai lambang Airlangga dengan dua istrinya, yaitu ibu Sri Samarawijaya dan ibu Mapanji Garasakan.
Tokoh-tokoh Penting masa Airlangga
Mahendradatta, juga dikenal di Bali dengan sebutan Gunapriya Dharmapatni, adalah puteri raja Sri Makutawangsa wardhana dari Wangsa Isyana (Kerajaan Medang). Ia menikah dengan Udayana, raja Bali dariWangsa Warmadewa, yang kemudian memiliki beberapa orang putra, yaitu Airlangga yang kemudian menjadi raja di Jawa, dan Anak Wungsu yang kemudian menjadi raja di Bali
Mpu Narotama adalah pembantu Airlangga yang setia menemani sejak masa pelarian sampai masa pemerintahan majikannya itu. Menurut prasasti Pucangan, Airlangga dan Narotama berasal dari Bali. Keduanya datang ke Jawa tahun 1006.
Sanggramawijaya Tunggadewi adalah putri Airlangga yang menjadi pewaris takhta Kahuripan, namun memilih mengundurkan diri sebagai pertapa bergelar Dewi Kili Suci. Pada masa pemerintahan Airlangga, sejak kerajaan masih berpusat di Watan Mas sampai pindah ke Kahuripan, tokoh Sanggramawijaya menjabat sebagai rakryan mahamantri alias putri mahkota. Gelar lengkapnya ialah Rakryan Mahamantri i Hino Sanggramawijaya Dharmaprasada Tunggadewi. Nama ini terdapat dalam prasasti Cane (1021) sampai prasasti Turun Hyang I (1035). Tokoh Dewi Kili Suci dalam Cerita Panji dikisahkan sebagai sosok agung yang sangat dihormati. Ia sering membantu kesulitan pasangan Panji Inu Kertapati dan Galuh Candrakirana, keponakannya.
Dewi Kili Suci juga dihubungkan dengan dongeng terciptanya Gunung Kelud. Dikisahkan semasa muda ia dilamar oleh seorang manusia berkepala kerbau bernama Mahesasura. Kili Suci bersedia menerima lamaran itu asalkan Mahesasura mampu membuatkannya sebuah sumur raksasa.
Sumur raksasa pun tercipta berkat kesaktian Mahesasura. Namun sayang, Mahesasura jatuh ke dalam sumur itu karena dijebak Kili Suci. Para prajurit Kadiri atas perintah Kili Suci menimbun sumur itu dengan batu-batuan, Timbunan batu begitu banyak sampai menggunung, dan terciptalah Gunung Kelud. Oleh sebab itu, apabila Gunung Kelud meletus, daerah Kediri selalu menjadi korban, sebagai wujud kemarahan arwah Mahesasura.
Dewi Kili Suci juga terdapat dalam Babad Tanah Jawi sebagai putri sulung Resi Gentayu raja Koripan. Kerajaan Koripan kemudian dibelah dua, menjadi Janggala dan Kadiri, yang masing-masing dipimpin oleh adik Kili Suci, yaitu Lembu Amiluhur dan Lembu Peteng.
Kisah ini mirip dengan fakta sejarah, yaitu setelah Airlangga turun takhta tahun 1042, wilayah kerajaan dibagi dua, menjadi Kadiri yang dipimpin Sri Samarawijaya, serta Janggala yang dipimpin Mapanji Garasakan.
Pada masa pemerintahan Airlangga dan raja-raja sebelumnya, jabatan tertinggi sesudah raja adalah rakryan mahamantri. Jabatan ini identik dengan putra mahkota, sehingga pada umumnya dijabat oleh putra atau menantu raja.
Dari prasasti-prasasti yang dikeluarkan Airlangga sejak 1021 sampai 1035, yang menjabat sebagai rakryan mahamantri adalah Sanggramawijaya Tunggadewi. Sedangkan, pada prasasti Pucangan (1041) muncul nama baru, yaitu Samarawijaya sebagai rakryan mahamantri.
Sanggramawijaya Tunggadewi identik dengan putri sulung Airlangga dalam Serat Calon Arang yang mengundurkan diri menjadi pertapa bernama Dewi Kili Suci. Dalam kisah tersebut, Dewi Kili Suci diberitakan memiliki dua orang adik laki-laki. Dengan demikian, Samarawijaya dipastikan adalah adik Sanggramawijaya Tunggadewi.
Perang Saudara
Sebelum turun takhta tahun 1042, Airlangga dihadapkan pada masalah persaingan antara kedua putranya. Maka, ia pun membelah wilayah kerajaannya menjadi dua, yaitu Kadiri dan Janggala. Peristiwa ini diberitakan dalam Nagarakretagama dan Serat Calon Arang, serta diperkuat oleh prasasti Turun Hyang (1044).
Dalam prasasti Turun Hyang, diketahui nama raja Janggala setelah pembelahan ialah Mapanji Garasakan. Nama raja Kadiri tidak disebutkan dengan jelas, namun dapat diperkirakan dijabat oleh Samarawijaya, karena sebelumnya ia sudah menjabat sebagai putra mahkota.
Prasasti Turun Hyang tersebut merupakan piagam pengesahan anugerah Mapanji Garasakan tahun 1044 terhadap penduduk desa Turun Hyang yang setia membantu Janggala melawan Kadiri. Jadi, pembelahan kerajaan yang dilakukan oleh Airlangga terkesan sia-sia belaka, karena kedua putranya, yaitu Samarawijaya dan Mapanji Garasakan tetap saja berebut kekuasaan.
Adanya unsur Teguh dalam gelar Samarawijaya, menunjukkan kalau ia adalah putra Airlangga yang dilahirkan dari putri Dharmawangsa Teguh. Sedangkan Mapanji Garasakan adalah putra dari istri kedua. Dugaan bahwa Airlangga memiliki dua orang istri didasarkan pada penemuan dua patung wanita pada Candi Belahan di lereng Gunung Penanggungan, yang diyakini sebagai situs pemakaman Airlangga.
Pembelahan kerajaan sepeninggal Airlangga tidak membuahkan hasil. Perang saudara tetap terjadi antara Garasakan raja Janggala melawan Sri Samarawijaya raja Kadiri. Mula-mula kemenangan berada di pihak Janggala. Pada tahun 1044 Garasakan menetapkan desa Turun Hyang sebagai sima swatantra atau perdikan, karena para pemuka desa tersebut setia membantu Janggala melawan Kadiri.
Pada tahun 1052 Garasakan memberi anugerah untuk desa Malenga karena membantu Janggala mengalahkan Aji Linggajaya raja Tanjung. Linggajaya ini merupakan raja bawahan Kadiri. Piagam yang berkenaan dengan peristiwa tersebut terkenal dengan nama prasasti Malenga.
Mpu Bharada muncul dalam Serat Calon Arang sebagai tokoh yang berhasil mengalahkan musuh Airlangga, yaitu Calon Arang, seorang janda sakti dari desa Girah.
Dikisahkan pula, Airlangga berniat turun takhta menjadi pendeta. Ia kemudian berguru pada Mpu Bharada. Kedua putranya bersaing memperebutkan takhta. Berhubung Airlangga juga putra sulung raja Bali, maka ia pun berniat menempatkan salah satu putrnya di pulau itu.
Mpu Bharada dikirim ke Bali menyampaikan maksud tersebut. Dalam perjalanan menyeberang laut, Mpu Bharada cukup dengan menumpang sehelai daun. Sesampainya di Bali permintaan Airlangga yang disampaikan Mpu Bharada ditolak oleh Mpu Kuturan, yang berniat mengangkat cucunya sebagai raja Bali.
Berdasarkan fakta sejarah, raja Bali saat itu (1042) adalah Anak Wungsu adik Airlangga sendiri.
Airlangga terpaksa membelah wilayah kerajaannya demi perdamaian kedua putranya. Menurut  Nagarakretagama, Mpu Bharada bertugas menetapkan batas antara kedua belahan negara.
Dikisahkan, Mpu Bharada terbang sambil mengucurkan air kendi. Ketika sampai dekat desa Palungan, jubah Mpu Bharada tersangkut ranting pohon asam. Ia marah dan mengutuk pohon asam itu menjadi kerdil. Oleh sebab itu, penduduk sekitar menamakan daerah itu Kamal Pandak, yang artinya “asem pendek”.
Desa Kamal Pandak pada zaman Majapahit menjadi lokasi pendirian Prajnaparamitapuri, yaitu candi pendharmaan arwah Gayatri, istri Raden Wijaya.
Selesai menetapkan batas Kerajaan Kadiri dan Janggala berdasarkan cucuran air kendi, Mpu Bharada mengucapkan kutukan, barang siapa berani melanggar batas tersebut hidupnya akan mengalami kesialan. Menurut prasasti Mahaksobhya yang diterbitkan Kertanagara raja Singhasari tahun 1289, kutukan Mpu Bharada sudah tawar berkat usaha Wisnuwardhana menyatukan kedua wilayah tersebut.
Nagarakretagama juga menyebutkan, Mpu Bharada adalah pendeta Buddha yang mendapat anugerah tanah desa Lemah Citra atau Lemah Tulis. Berita ini cukup unik karena ia bisa menjadi guru spiritual Airlangga yang menganut agama Hindu Wisnu.
Calon Arang adalah seorang tokoh dalam cerita rakyat Jawa dan Bali dari abad ke-12. Tidak diketahui lagi siapa yang mengarang cerita ini. Salinan teks Latin yang sangat penting berada di Belanda, yaitu di Bijdragen Koninklijke Instituut. ia adalah seorang janda pengguna ilmu hitam yang sering merusak hasil panen para petani dan menyebabkan datangnya penyakit. Calon Arang mempunyai seorang puteri bernama Ratna Manggali, yang meskipun cantik, tidak dapat mendapatkan seorang suami karena orang-orang takut pada ibunya. Karena kesulitan yang dihadapi puterinya, Calon Arang marah dan ia pun berniat membalas dendam dengan menculik seorang gadis muda. Gadis tersebut ia bawa ke sebuah kuil untuk dikorbankan kepada Dewi Durga. Hari berikutnya, banjir besar melanda desa tersebut dan banyak orang meninggal dunia. Penyakit pun muncul.
Raja Airlangga yang mengetahui hal tersebut kemudian meminta bantuan penasehatnya, Empu Baradah untuk mengatasi masalah ini. Empu Baradah lalu mengirimkan seorang prajurit bernama Empu Bahula untuk dinikahkan kepada Ratna. Keduanya menikah besar-besaran dengan pesta yang berlangsung tujuh hari tujuh malam, dan keadaan pun kembali normal.
Calon Arang mempunyai sebuah buku yang berisi ilmu-ilmu sihir. Pada suatu hari, buku ini berhasil ditemukan oleh Bahula yang menyerahkannya kepada Empu Baradah. Saat Calon Arang mengetahui bahwa bukunya telah dicuri, ia menjadi marah dan memutuskan untuk melawan Empu Baradah. Tanpa bantuan Dewi Durga, Calon Arang pun kalah. Sejak ia dikalahkan, desa tersebut pun aman dari ancaman ilmu hitam Calon Arang.

Kesimpulan
Airlangga adalah anak dari Udayana dari Wangsa Warmadewa, Ibunya bernama Mahendradatta dari Wangsa Isyana dari kerajaan Medang. Airlangga meempunya dua orang adik, yaitu Marakata yang kemudian menjadi raja Bali, dan Anak Wungsu yang menggantikan Marakata, Airlangga menikah dengan putri pamannya, yaitu Dharmawangsa Teguh di Watan, ibu kota Kerajaan Medang. Tetapi saat pernikahan berlangsung terjadi penyerangan besar dari raja Wurawari.
Dalam serangan itu, Dharmawangsa Teguh tewas, sedangkan Airlangga lolos ke hutan pegunungan Wanagiri ditemani pembantunya Mpu Narotama. Saat itu ia berumur 16 tahun, sejak kejadian itu ia mulai menjalani hidup sebagai seorang pertapa.
Diakhir masa pemerintahannya ia membagi kerajaanya menjadi dua yaitu Kadiri yang berpusat di Daha, dan Jenggala yang berpusat di Kahuripan. Dalam hal pemerintahan ia di bantu oleh Mpu Bharada yang juga sebagai gurunya, Mpu Bharada juga yang menjadi panutan ketika Airlangga membelah kerajaannya menjadi dua. 
Daftar Pustaka
  1. Poesponegoro & Notosusanto (ed.). 1990. Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka.
  2. Slamet Muljana. 1979. Nagarakertagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bharata
  3. http://id.shvoong.com/humanities/history/2076543-sejarah-kerajaan-bali/#ixzz1M1htVKRe
sumber :http://genoong.blogspot.com/
Read more >>

Temu Alumni SD Muhammadiyah 1 Gempol Berjalan Sukses

http://sdmuh1gempol.sch.id/wp-content/uploads/2013/01/Reuni-40.jpg
Temu alumni SD Muhammadiyah 1 Gempol yang diselenggarakan hari Sabtu tanggal 12 Januari 2013 berjalan dengan mulus. Pelaksanaan acara secara keseluruhan berjalan dengan lancar sebagaimana diagendakan sebelumnya. Suasana meriah dan haru sangat kental terasa dalam pelaksanaan temu alumni ini. Banyak wajah-wajah yang gembira lantaran sudah sekian tahun tidak berjumpa kini dipertemukan kembali dalam reuni.
Dalam acara temu kangen ini juga ditampilkan slide-slide foto masa lampau SD Muhammadiyah 1 Gempol. Para peserta nampak antusias menyimak foto demi foto yang ditampilkan. Suasana menjadi hidup dan kerapkali diselingi gelaktawa peserta lantaran foto masa kecilnya tampil di layar LCD. Komentar -komentar beragam muncul. Salah satunya dari Bapak Muflich Hasyim yang merupakan salah satu guru di SD Muhammadiyah 1 Gempol kala itu. “Waktu kecil dulu jelek ya, ingusan. Sekarang cantik-cantik dan ganteng”. Sontak saja statemen itu disambut dengan gelaktawa peserta.
Acara temu alumni diawali dengan penampilan tari siswi-siswi SD Muhammadiyah 1 Gempol yang menampilkan 2 tari sekaligus. Pertama adalah tari cilipir disusul dengan tari remo. Penampilan kedua adalah pildacil yang dibawakan oleh Ananda Syaukiyah yang merupakan putri Ibu Hj. Anik Wakhidah, S.Ag guru SD Muhammadiyah 1 Gempol. dan kemudian dilanjutkan dengan acara inti.
Dalam acara inti banyak diisi sambutan-sambutan. Sambutan panitia disampaikan oleh Ibu Dewiyanti selaku ketua dan penggagas temu alumni. Dalam sambutannya Bu Dewi banyak menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih baik kepada peserta yang berkenan hadir maupun kepada pihak sekolah yang banyak membantu kegiatan ini. Sambuatan dari sekolah diwakili oleh Bapak Siswanto, S.Pd. Kepala sekolah saat itu memang masih ada acara lain yang tidak dapat ditinggalkan. dalam sambutannya Pak Sis juga meminta maaf sebesar-besarnya dan berterima kasih atas terselenggaranya acara ini. Mudah-mudahan dapat dilanjutkan di masa mendatang. Pak Sis juga tak lupa menyampaikan salam dari kepala sekolah. Dari pihak Majelis sambutan disampaikan oleh H. Barokah. H. Barokah banyak menyampaikan suka duka memimpin lembaga yang ternyata banyak menghabiskan dana dalam berinvestasi pembangunan. Dalam kesempatan ini juga disinggung bahwa SD dan lembaga lainnya sedang membangun atas bantuan pemerintah. Namun dana yang dibutuhkan masih kurang. Kalkulasi dana yang kurang ada saat itu masih berkisar 150 juta.
Sambutan mantan guru diwakili oleh Pak Muflich. Dengan gaya guyonannya mampu membuka lembar memori saat di SD. Angan-angan peserta kerap dibawa kembali ketika masa sekolah di SD Muhammadiyah 1 Gempol. Pada kesempatan itu pula Pak Muflich berpesan agar acara seperti ini diselenggarakan secara rutin. Pesan berikutnya dari Pak Muflich cukup mendalam ” Jangan sekali-kali kau ludahi sumur yang pernah engkau minum airnya”. Tak lupa pula Pak Muflich mengajak alumni untuk turut mebesarkan SD Muhammadiyah 1 Gempol dimanapun berada. Sambutan peserta juga berasal dari alumni baik yang senior maupun yunior. Yang senior diwakili oleh Bu Innama yang juga guru SD Muhammadiyah 1 Gempol. Beliau adalah angkatan pertama SD Muhammadiyah 1 Gempol.
Sayangnya dalam acara ini walaupun undangan yang disebar mencapai 250 undangan namun peserta yang hadit tak lebih dari 50 orang. Hal ini disebabkan banyak hal. Petama adalah karena diselengarakan dalam hari efektif kerja sehingga banyak yang masih bekerja sehingga kesulitan untuk meninggalkan pekerjaannya. Kedua karena dilaksanakan bukan pada masa liburan. Banyak peserta yang ingin hadir. Namun karena dilaksanakan buka pada masa libur mereka belum bisa pulang kampung. Salah satu harapan peserta mudah-mudahan ke depan dapat dilaksanakan dengan lebih meriah dan banyak peserta.
Read more >>

Bank Syariah Mandiri Beri Beasiswa Didik SD Muhammadiyah1 Gempol

Surabaya, Bank Syariah Mandiri (BSM) adalah salah satu perusahaan perbankan di tanah air yang berbasis syariah. BSM sendiri adalah anak perusahaan Bank Mandiri yang 100 persen sahamnya dimiliki oleh Bank Mandiri. Sebagai Bank nasional BSM menempati rangking 20 besar Bank nasional dan rangking pertama untuk Bank Berbasis Syariat. Dalam kurun tahun 2012 kemarin BSM sudah tersebar di seluruh wilayah Kabupaten di Jawa Timur dan sekarang mulai merambah di wilayah kecamatan yang ada di Jawa Timur.
Bank Syariah telah menjalin kerjasama dengan Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sebagai salah satu mitra Muhammadiyah BSM memiliki timbal balik dengan Muhammadiyah. Salah satunya adalah dengan menyalurkan dana bantuan Corporate Social  Responbility (CSR)  yang nilai mencarapi 50 juta berupa beasiswa didik kepada siswa Muhammadiyah. Pemberian beasiswa didik ini disalurkan melalui Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur.
SD Muhammadiyah 1 Gempol merupakan salah satu sekolah yang beruntung mendapatkan bantuan tersebut. Ada tiga siswa SD Muhammadiyah 1 Gempol yang mendapat bantuan. Total bantuan adalah Rp. 50.000 per bulan berlaku selama satu semester atau enam bulan. Jadi satu siswa total mendapatkan bantuan Rp. 300.000,00. Meskipun tidak besar bantuan ini sangat berarti bagi para siswa.
Dalam sambuatannya Pimpinan Wilayah Muhammadiyah yang diwakili oleh bendahara PWM, Bapak Syaifuddin Zaini menegaskan bahwa semoga ini bermanfaat dan dapat digunakan dengan benar. Muhah-mudahan bantuan ini juga mendatangkan keberkahan baik bagi yang menerima terlebih bagi yang memberi. Ke depan BSM diharapkan dapat bekerja sama dengan Muhammadiyah pada level ke bawah termasuk di dalamnya adalah amal usaha muhammadiyah AUM.
Read more >>

Rabu, 09 Januari 2013

SBI dibubarkan : Saya Setuju

SBI emmang sukan sekolah bertaraf internasional. Standarisasinya apa ? Wong kurikulum internasional saja tidak ada. Yang ada adalah SBI Sekolah BerTARIF Internasional. Bayarnya pake dolar. Mahal Gan
Read more >>

Senin, 07 Januari 2013

Pesta Telah Usai

Perhelatan besar itu sudah usai. Sekarang saatnya kita kembali ke habitat kita masing masing. Yang jadi guru kembali saja jadi guru. Yang jadi presiden dan pejabat silakan jadi pejabat lagi. Yang tukang ojek, sopir dan juga tukang becak mari kembali mencari sesuap nasi. Untung kalau sisa dapat kita tabung kembali. Yang pemulung ini pesta kita. Jika sebelumnya anda hanya jadi penonton pesta besar itu sekarang giliran pesta anda. Sampa dan barang bekas sudah menggunung. Timbunan tersebut mungkin jadi masalah buat pemerintah dan dinas kebersihan. Namun bagimu adalah rejeki tak terkira. Mudah-mudahan untungmu berlipat. Ada duit koruptor yang turut hanyut terbawa banjir kegembiraan di malam itu.
Ya, tahun baru sudah usai. Mungkin uang saya, uang anda dan uang kita sudah habis dan mungkin barangkali sudah habis-habisan di tanggal tua itu hanya untuk memperingati pergantian tahun saja. Berapa dananya yang dihabiskan untuk menyulut kembang api di pukul 00.00. Berapa rupiah yang mesti dikeluarkan untuk membeli terompet yang hanya berbunyi treeet saja itu. Berapa uang yang mesti dihamburkan untuk menyewa sound sistem sampai biduan-biduan dangdut guna menyemarakkannya ? saya tidak tahu. Tanya saja Jokowi yang menggelar peringatan itu di sepanjang jalanan Jakarta. Sebuah prestasi kah ? Tentu saja di tengah penderitaan rakyat yang tergusur dan terpaksa harus menepi di bantaran sungai karena lahan nenek buyutnya sudah disulap menjadi mall dan supermarket. Hitung-hitung hiburan gratis. Lupakan penat. LUpakan hutang dan juga derita. Biarkan saja kita enjoy khusus untuk sehari ini. Begitu gumanmu dan juga mungkin aku. mari nikmati jangan pikirkan hal-hal itu. Korupsi dan ketikadilan. Percuma...
Dan kini, pesta telah usai. KIta masih saja di sini. Di bumi yang sama ini. Indonesia
Dan mari kita nikmati kepenatan yang sama yang ada di tahun, windu, dasawarsa dan mungkin abad yang sama sebelumnya.
Read more >>

Kamis, 03 Januari 2013

SD Mutu Juarai Teater Kabupaten Pasuruan

SD Mutu Gempol kembali mengukir prestasi di tingkat Kabupaten Pasuruan. Ditunjuk sebagai wakil Kecamatan Gempol di Pekan Seni Pelajar Tahun 2012 di Lomba Teater Pekan Seni Pelajar SD Mutu menunjukkan kapasitasnya sebagai langganan juara. Di ajang dua tahunan ini SD Mutu menyabet juara 2 di bawah Kecamatan Prigen.
Dalam penampilannya SD Mutu membawakan lakon Timun Mas. Legenda rakyat Jawa Tengah tersebut dibawakan dengan apik oleh siswa-siswi SD Mutu. dalam penampilannya SD Mutu memadukan 3 unsur teater yaitu dialog, tari dan musik. Untuk dialog dan naskah secara keseluruhan ditulis dan disutradarai oleh Lestariningsih, S.Pd. Sedangkan untuk koreografi ditata oleh Titik Sri Rahayu. Khusus tatanan musik dibuat live dengan penata musik Jumani Priyantono.
Read more >>

Ada 2 Buto Ijo Bule di Teater SD Mutu

Penampilan SD Mutu di Pekan Seni Pelajar Kabupaten Pasuruan pada cabang lomba teater berhasil menyabet juara 2. Ada ayang unik dalam penampilan SD mutu kali ini yaitu munculnya dua buto ijo. Buto Ijo dalam lakon Timun Mas sejatinya hanya seorang saja. Namun dalam pengembangan lakon atau pakem dibuat dua. Dan yang unik kedua buto tersebut adalah mereka berambut dan tidak gundul. Jika pada umumnya orang Indonesia rambutnya biasanya hitam tetapi pada penampilan buto ijo ini rambutnya pirang.
Kedua buto ijo ini diperankan oleh Ilham Akbar kelas enam dan Sabri kelas lima. Keduanya memiliki karakter yang hampir sama yaitu jahat. Keduanya selalu melakukan dialog yang sama dan diulang dari buto yang besar ke buto yang kecil. Keduanya berniat untuk menyantap daging Timun Mas sebagaimana perjanjian dengan ibu Timun Mas sebelumnya. Namun berkat kecerdikan Timun Mas kedua Buto tersebut dapat dilumpukan.
Read more >>

Rabu, 02 Januari 2013

3 Teknologi Nenek Moyang Yang Tidak Lagi Terpakai

Beberapa teknologi yang dulu pernah digunakan oleh nenek moyang kita sekarang sudah kelihatan jadul dan telah ditinggalkan. Beberapa benda tersebut sebagian besar dibuat dari batu, tanah liat dan juga kayu. Benda yang tidak dimanfaatkan lagi itu dibiarkan saja teronggok rusak tidak diurusi. Berikut ini beberap peninggalan teknologi nenek moyang yang sudah tidak dipergunakan lagi :
1. Lesung
Lesung adalah alat tradisional dalam pengolahan padi atau gabah menjadi beras. Fungsi alat ini memisahkan kulit gabah (sekam, Jawa merang) dari beras secara mekanik. Lesung terbuat dari kayu berbentuk seperti perahu berukuran kecil dengan panjang sekitar 2 meter, lebar 0,5 meter dan kedalaman sekitar 40 cm.
Lesung sendiri sebenarnya hanya wadah cekung, biasanya dari kayu besar yang dibuang bagian dalamnya. Gabah yang akan diolah ditaruh di dalam lubang tersebut. Padi atau gabah lalu ditumbuk dengan alu, tongkat tebal dari kayu, berulang-ulang sampai beras terpisah dari sekam.
Lesung di Jawa biasa dibuat dari kayu embacang yang tua.

2. Kentongan atau Pentongan
Kentongan atau yang dalam bahasa lainnya disebut jidor adalah alat pemukul yang terbuat dari batang bambu atau batang kayu jati yang dipahat.
Kegunaan kentongan didefinisikan sebagai tanda alarm, sinyal komunikasi jarak jauh, morse, penanda adzan, maupun tanda bahaya. Ukuran kentongan tersebut berkisar antara diameter 40cm dan tinggi 1,5M-2M.[rujukan?] Kentongan sering diidentikkan dengan alat komunikasi zaman dahulu yang sering dimanfaatkan oleh penduduk yang tinggal di daerah pedesaan dan pegunungan.
Sejarah budaya kentongan sebenarnya dimulai sebenarnya berasal dari legenda Cheng Ho dari Cina yang mengadakan perjalanan dengan misi keagamaan. Dalam perjalanan tersebut, Cheng Ho menemukan kentongan ini sebagai alat komunikasi ritual keagamaan. Penemuan kentongan tersebut dibawa ke China, Korea, dan Jepang. Kentongan sudah ditemukan sejak awal masehi. Setiap daerah tentunya memiliki sejarah penemuan yang berbeda dengan nilai sejarhnya yang tinggi. Di Nusa Tenggara Barat, kentongan ditemukan ketika Raja Anak Agung Gede Ngurah yang berkuasa sekitar abad XIX menggunakannya untuk mengumpulkan massa. Di Yogyakarta ketika masa kerajaan Majapahit, kentongan Kyai Gorobangsa sering digunakan sebagai pengumpul warga.
Di Pengasih, kentongan ditemukan sebagai alat untuk menguji kejujuran calon pemimpin daerah. Di masa sekarang ini, penggunaan kentongan lebih bervariatif.
Kentongan merupakan alat komunikasi zaman dahulu yang dapat berbentuk tabung maupun berbentuk lingkaran dengan sebuah lubang yang sengaja dipahat di tengahnya. Dari lubang tersebut, akan keluar bunyi-bunyian apabila dipukul. Kentongan tersebut biasa dilengkapi dengan sebuah tongkat pemukul yang sengaja digunakan untuk memukul bagian tengah kentongan tersebut untuk menghasilkan suatu suara yang khas.  Kentongan tersebut dibunyikan dengan irama yang berbeda-beda untuk menunjukkan kegiatan atau peristiwa yang berbeda. Pendengar akan paham dengan sendirinya pesan yang disampaikan oleh kentongan tersebut.
Awalnya, kentongan digunakan sebagai alat pendamping ronda untuk memberitahukan adanya pencuri atau bencana alam. Dalam masyarakat pedalaman, kentongan seringkali digunakan ketika suro-suro kecil atau sebagai pemanggil masyarakat untuk ke masjid bila jam salat telah tiba. Namun, kentongan yang dikenal sebagai teknologi tradisional ini telah mengalami transformasi fungsi. Dalam masyarakat modern, kentongan dijadikan sebagai salah satu alat yang efektif untuk mencegah demam berdarah. Dengan kentongan, monitoring terhadap pemberantasan sarang nyamuk pun dilakukan. Dalam masyarakat tani, seringkali menggunakan kentongan sebagai alat untuk mengusir hewan yang merusak tanaman dan padi warga.
Kentongan dengan bahan pembuatan dan ukurannya yang khas dapat dijadikan barang koleksi peninggalan seni budaya masa lalu yang dapat dipelihara untuk meningkatkan pemasukan negara. Kentongan dengan bunyi yang khas dan permainan yang khas menjadi sumber penanada tertentu bagi masyarakat sekitar.Selain itu, kentongan merupakan peninggalan asli bangsa Indonesia dan memiliki nilai sejarah yang tinggi.Perawatannya juga sederhana, tanpa memerlukan tindakan-tindakan khusus.
Kentongan masih banyak kita temui dalam masyarakat modern, namun fungsi kentongan sebagai alat komunikasi tradisional memiliki sejumlah kekurangan yang menyebabkan tergesernya kentongan tersebut dengan teknologi modern. Kegunaan kentongan yang sederhana dan jangkauan suara yang sempit menyebabkan kentongan tidak menjadi alat komunikasi utama dalam dunia modern ini.
Di era globalisasi sekarang ini alat komunikasi telah berkembang jauh melebihi batasan pemikiran sebagian besar manusia. Ketiadaan batasan ruang dan waktu membuat orang berlomba-lomba menciptakan beragam penemuan yang lebih praktis dan lebih luas jangkauannya.

3. Lumpang
Lumpang merupakan wadah berbentuk bejana yang terbuat dari kayu atau batu untuk menumbuk padi, kopi, ataupun bahan olahan lainnya. Alu adalah alat penumbuknya yang terbuat dari kayu dengan bagian tengah yang mengecil untuk pegangan. Pesatnya mekanisasi pertanian membuat lumpang tidak lagi populer namun sesekali masih digunakan untuk menumbuk singkong dalam proses pembuatan getuk.
Lumpang batu pernah sangat banyak ditemui di desa-desa di Pulau Jawa karena batu andesit yang merupakan bahan baku alat ini dan juga candi-candi banyak ditemukan di sungai-sungainya. Penduduk di pulau lain biasanya menggunakan lesung karena lebih mudah mendapatkan kayu daripada batu andesit.
Dari beberapa penggalian purbakala diperoleh kesimpulan bahwa lumpang batu telah ada sejak zaman prasejarah. Lumpang batu purba ditemukan di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat serta Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan.

Read more >>