Senin, 17 Desember 2012

Habiburrahman El Shirazy : Pudarnya Pesona Cleopatra...

Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalam kandungan aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah ukenal."Ibunya Raihana adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan Solo dulu" kata ibu. "Kami pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenis akan besanan untuk   memperteguh   tali   persaudaraan.   Karena   itu   ibu   mohon keikhlasanmu", ucap beliau dengan nada mengiba.
Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi mentari  pagi  dihatinya,  meskipun  untuk  itu  aku  harus  mengorbankan diriku.
Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun sesungguhnya  dalam  hatiku  timbul  kecemasan-kecemasan  yang  datang begitu saja dan tidak tahu alasannya. Yang jelas aku sudah punya kriteria dan impian tersendiri untuk calon istriku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa berhadapan dengan air mata ibu yang amat kucintai. Saat khitbah (lamaran)
sekilas kutatap wajah Raihana, benar kata Aida adikku, ia memang baby face dan anggun.
Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan tak kutemukan sama sekali. Adikku, tante Lia mengakui Raihana cantik, "cantiknya alami, bisa jadi bintang  iklan  Lux  lho,  asli  !  kata  tante  Lia.  Tapi  penilaianku  lain, mungkin  karena  aku  begitu  hanyut  dengan  gadis-gadis  Mesir  titisan
Cleopatra, yang tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung melengkung indah, mata bulat bening khas arab, dan bibir yang merah. Di hari-hari menjelang pernikahanku, aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit cintaku untuk calon istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia.
Aku ingin memberontak pada ibuku, tetapi wajah teduhnya meluluhkanku. Hari pernikahan datang. Duduk dipelaminan bagai mayat hidup, hati hampa tanpa  cinta,  Pestapun  meriah  dengan  empat  group  rebana.  Lantunan shalawat Nabipun terasa menusuk-nusuk hati. Kulihat Raihana tersenyum manis, tetapi hatiku terasa teriris-iris dan jiwaku meronta. Satu-satunya harapanku adalah mendapat berkah dari Allah SWT atas baktiku pada ibuku yang kucintai. Rabbighfir li wa liwalidayya!
Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta, hanya sekedar karena aku seorang manusia yang terbiasa membaca ayat-ayatNya. Raihana  tersenyum  mengembang,  hatiku menangisi kebohonganku dan kepura-puraanku. Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir kota Malang.
Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah. Betapa susah hidup berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat bersama dengan makhluk yang bernama Raihana, istriku, tapi Masya Allah bibit cintaku belum juga tumbuh. Suaranya yang lembut terasa hambar, wajahnya yang teduh tetap terasa asing. Memasuki bulan keempat, rasa muak hidup bersama Raihana mulai kurasakan, rasa ini muncul begitu saja. Aku mencoba membuang jauh-jauh rasa tidak baik ini, apalagi pada istri sendiri yang seharusnya kusayang dan kucintai. Sikapku pada Raihana mulai lain.
Aku lebih banyak diam, acuh tak acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di ruang tamu atau ruang kerja. Aku merasa hidupku ada lah
sia-sia, belajar di luar negeri sia-sia, pernikahanku sia-sia, keberadaanku sia-sia.
Tidak hanya aku yang tersiksa, Raihanapun merasakan hal yang sama, karena ia orang yang berpendidikan, maka diapun tanya, tetapi kujawab "tidak apa-apa koq mbak, mungkin aku belum dewasa, mungkin masih harus  belajar berumah tangga "Ada kekagetan yang kutangkap diwajah Raihana ketika kupanggil 'mbak', "kenapa mas memanggilku mbak, aku kan istrimu, apa mas sudah tidak mencintaiku" tanyanya dengan guratan wajah yang sedih.
"wallahu a'lam" jawabku sekenanya. Dengan mata berkaca-kaca Raihana diam  menunduk,  tak  lama  kemudian  dia  terisak-isak  sambil  memeluk kakiku,  "Kalau  mas  tidak  mencintaiku,  tidak  menerimaku  sebagai  istri kenapa mas ucapkan akad nikah? Kalau dalam tingkahku melayani mas masih  ada  yang kurang berkenan, kenapa mas tidak bilang dan menegurnya, kenapa mas diam saja, aku harus bersikap bagaimana untuk membahagiakan mas, kumohon bukalah sedikit hatimu untuk menjadi ruang bagi pengabdianku, bagi  menyempurnakan  ibadahku  didunia  ini".  Raihana  mengiba  penuh pasrah.  Aku  menangis  menitikan  air  mata  buka  karena  Raihana  tetapi karena kepatunganku. Hari terus berjalan, tetapi komunikasi kami tidak berjalan. Kami hidup seperti orang asing tetapi Raihana tetap melayaniku menyiapkan segalanya untukku.
Suatu sore aku pulang mengajar dan kehujanan, sampai dirumah habis maghrib, bibirku pucat, perutku belum kemasukkan apa-apa kecuali segelas kopi buatan Raihana tadi pagi, Memang aku berangkat pagi karena ada janji dengan teman. Raihana memandangiku dengan khawatir. "Mas tidak apa-apa" tanyanya dengan perasaan kuatir. "Mas mandi dengan air panas saja, aku sedang menggodoknya, lima menit lagi mendidih" lanjutnya. Aku melepas semua pakaian yang basah. "Mas airnya sudah siap" kata Raihana. Aku tak bicara sepatah katapun, aku langsung ke kamar mandi, aku lupa membawa handuk, tetapi Raihana telah berdiri didepan pintu membawa handuk."Mas aku buatkan wedang jahe" Aku diam saja. Aku merasa mulas dan mual dalam perutku tak bisa kutahan.
Dengan      cepat      aku      berlari      ke      kamar      mandi      dan Raihana mengejarku dan memijit-mijit pundak dan tengkukku seperti yang dilakukan ibu. "Mas masuk angin. Biasanya kalau masuk angin diobati pakai  apa,  pakai  balsam,  minyak  putih,  atau  jamu?"  Tanya  Raihana  sa mbil menuntunku ke kamar. "Mas jangan diam saja dong, aku kan tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membantu Mas". "Biasanya dikerokin"
jawabku  lirih.  "Kalau  begitu  kaos  mas  dilepas  ya,  biar  Hana  kerokin" sahut Raihana sambil tangannya melepas kaosku. Aku seperti anak kecil yang  dimanja  ibunya.  Raihana  dengan  sabar  mengerokin  punggungku dengan sentuhan tangannya yang halus. Setelah selesai dikerokin, Raihana membawakanku   semangkok   bubur   kacang   hijau.   Setelah   itu   aku merebahkan diri di tempat tidur.
Kulihat   Raihana   duduk   di   kursi   tak   jauh   dari   tempat   tidur sambil menghafal Al Quran dengan khusyu. Aku kembali sedih dan ingin menangis,  Raihana  manis  tapi  tak  semanis  gadis-gadis  mesir  titisan Cleopatra.
Dalam tidur aku bermimpi bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku untuk makan malam di istananya. "Aku punya keponakan namanya Mona Zaki, nanti akan aku perkenalkan denganmu" kata Ratu Cleopatra. "Dia
memintaku untuk mencarikannya seorang pangeran, aku melihatmu cocok dan berniat memperkenalkannya denganmu".
Aku  mempersiapkan  segalanya.    Tepat    pukul 07.00   aku   datang   ke   istana,   kulihat   Mona   Zaki   dengan   pakaian pengantinnya, cantik sekali. Sang ratu mempersilakan aku duduk di kursi yang berhias berlian.
Aku melangkah maju, belum sempat duduk, tiba-tiba "Mas, bangun, sudah jam    setengah    empat,    mas    belum    sholat    Isya"    kata    Raihana membangunkanku.
Aku terbangun dengan perasaan kecewa. "Maafkan aku Mas, membuat Mas kurang suka, tetapi Mas belum sholat Isya" lirih Hana sambil melepas mukenanya, mungkin dia baru selesai sholat malam. Meskipun cuman mimpi tapi itu indah sekali, tapi sayang terputus. Aku jadi semakin tidak suka sama dia, dialah pemutus harapanku dan mimpi-mimpiku. Tapi apakah dia bersalah, bukankah dia berbuat baik membangunkanku untuk sholat Isya. Selanjutnya aku merasa sulit hidup bersama Raihana, aku tidak tahu dari mana sulitnya. Rasa tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar terpenjara dalam suasana konyol. Aku belum bisa menyukai Raihana. Aku sendiri belum pernah jatuh cinta, entah kenapa bisa dijajah pesona gadis- gadis titisan Cleopatra.
"Mas, nanti sore ada acara qiqah di rumah Yu Imah. Semua keluarga akan datang termasuk ibundamu. Kita diundang juga. Yuk, kita datang bareng, tidak enak kalau kita yang dieluk-elukan keluarga tidak datang." Suara lembut Raihana menyadarkan pengembaraanku pada Jaman Ibnu Hazm. Pelan-pelan ia letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dan segelas wedang jahe. Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin- dingin saja.
"Maaf,  maaf  jika  mengganggu  Mas,  maafkan  Hana,  "lirihnya,  lalu perlahan-lahan beranjak meninggalkan aku di ruang kerja. "Mbak! Eh maaf, maksudku  D..Din..Dinda  Hana!,  panggilku  dengan  suara  parau  tercekak dalam   tenggorokan.   "Ya   Mas!"   sahut   Hana   langsung   menghentikan langkahnya dan pelan-pelan menghadapkan dirinya padaku. Ia berusaha untuk tersenyum, agaknya ia bahagia dipanggil "dinda". "Matanya sedikit berbinar."Te..terima kasih Di..dinda, kita berangkat bareng kesana, habis sholat dhuhur, Insya Allah." ucapku sambil menatap wajah Hana dengan senyum yang kupaksakan.
Raihana menatapku dengan wajah sangat cerah, ada secercah senyum bersinar dibibirnya. "Terima kasih Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai baju  yang  mana  Mas,  biar  dinda  siapkan?  Atau  biar  dinda  saja  yang memilihkan ya?". Hana begitu bahagia.
Perempuan berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap sabar mencurahkan bakti meskipun aku dingin dan acuh tak acuh padanya selama ini. Aku belum pernah melihatnya memasang wajah masam atau tidak suka padaku. Kalau wajah sedihnya ya. Tapi wajah tidak sukanya belum pernah. Bah, lelaki macam apa aku ini, kutukku pada diriku sendiri. Aku memaki-maki diriku sendiri atas sikap dinginku selama ini., Tapi, setetes embun cinta yang
kuharapkan  membasahi  hatiku  tak  juga  turun.  Kecantikan  aura  titisan Cleopatra  itu? Bagaimana aku mengusirnya. Aku merasa menjadi orang yang paling membenci diriku sendiri di dunia ini.
Acara pengajian dan qiqah putra ketiga Fatimah kakak sulung Raihana membawa sejarah baru lembaran pernikahan kami. Benar dugaan Raihana, kami  dielu-elukan  keluarga,  disambut  hangat,  penuh  cinta,  dan  penuh bangga."Selamat datang pengantin baru! Selamat datang pasangan yang paling  ideal  dalam  keluarga!  Sambut  Yu  Imah  disambut  tepuk  tangan
bahagia mertua dan bundaku serta kerabat yang lain. Wajah Raihana cerah. Matanya berbinar-binar bahagia. Lain dengan aku, dalam hatiku menangis disebut pasangan ideal.
Apanya yang ideal. Apa karena aku lulusan Mesir dan Raihana lulusan terbaik dikampusnya dan hafal Al Quran lantas disebut ideal? Ideal bagiku adalah seperti Ibnu Hazm dan istrinya, saling memiliki rasa cinta yang sampai pada pengorbanan satu sama lain. Rasa cinta yang tidak lagi memungkinkan adanya pengkhianatan. Rasa cinta yang dari detik ke detik meneteskan rasa bahagia.
Tapi   diriku?   Aku   belum   bisa   memiliki   cinta  seperti  yang   dimiliki Raihana.  Sambutan  sanak  saudara  pada  kami  benar-benar  hangat.  Aku dibuat kaget oleh sikap Raihana yang begitu kuat menjaga kewibawaanku di mata keluarga. Pada ibuku dan semuanya tidak pernah diceritakan, kecuali menyanjung kebaikanku sebagai seorang suami yang dicintainya. Bahkan ia mengaku bangga dan bahagia menjadi istriku. Aku sendiri dibuat pusing dengan sikapku. Lebih pusing lagi sikap ibuku dan mertuaku yang menyindir
tentang keturunan. "Sudah satu tahun putra sulungku menikah, koq belum ada  tanda-tandanya  ya,  padahal  aku  ingin  sekali  menimang  cucu"  kata ibuku.
"Insya Allah tak lama lagi, ibu akan menimang cucu, doakanlah kami. Bukankah begitu, Mas?" sahut Raihana sambil menyikut lenganku, aku tergagap dan mengangguk sekenanya.
Setelah peristiwa itu, aku mencoba bersikap bersahabat dengan Raihana. Aku berpura-pura kembali mesra dengannya, sebagai suami betulan. Jujur, aku hanya pura-pura. Sebab bukan atas dasar cinta, dan bukan kehendakku sendiri  aku  melakukannya,  ini  semua  demi  ibuku.  Allah  Maha  Kuasa.
Kepura-puraanku memuliakan Raihana sebagai seorang istri. Raihana hamil. Ia semakin manis.
Keluarga bersuka cita semua. Namun hatiku menangis karena cinta tak kunjung tiba. Tuhan kasihanilah hamba, datangkanlah cinta itu segera. Sejak itu aku semakin sedih sehingga Raihana yang sedang hamil tidak kuperhatikan   lagi.   Setiap   saat   nuraniku   bertanya   "Mana   tanggung jawabmu!"Aku hanya diam dan mendesah sedih. "Entahlah, betapa sulit aku menemukan cinta" gumamku.
Dan akhirnya datanglah hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki bulan ke enam. Raihana minta ijin untuk tinggal bersama orang tuanya dengan alasan    kesehatan.   Kukabulkan    permintaanya   dan    kuantarkan   dia kerumahnya. Karena rumah mertua jauh dari kampus tempat aku mengajar, mertuaku tak menaruh curiga ketika aku harus tetap tinggal dikontrakan. Ketika  aku  pamitan,  Raihana  berpesan,  "Mas  untuk  menambah  biaya kelahiran anak kita, tolong nanti cairkan tabunganku yang ada di ATM. Aku taruh dibawah bantal, no.pinnya sama dengan tanggal pernikahan kita".
Setelah  Raihana  tinggal  bersama  ibunya,  aku  sedikit  lega.  Setiap  hari
Aku tidak bertemu dengan orang yang membuatku tidak nyaman. Entah apa
sebabnya bisa demikian. Hanya saja aku sedikit repot, harus menyiapkan segalanya. Tapi toh bukan masalah bagiku, karena aku sudah terbiasa saat kuliah di Mesir. Waktu terus berjalan, dan aku merasa enjoy tanpa Raihana.
Suatu saat aku pulang kehujanan. Sampai rumah hari sudah petang, aku merasa tubuhku benar-benar lemas.
Aku       muntah-muntah,       menggigil,       kepala       pusing       dan perut mual. Saat itu terlintas dihati andaikan ada Raihana, dia pasti telah
menyiapkan air panas, bubur kacang hijau, membantu mengobati masuk angin  dengan  mengeroki  punggungku,  lalu  menyuruhku  istirahat  dan menutupi tubuhku dengan selimut. Malam itu aku benar-benar tersiksa dan menderita. Aku terbangun jam enam pagi. Badan sudah segar. Tapi ada penyesalan dalam hati, aku belum sholat Isya dan terlambat sholat subuh. Baru sedikit terasa, andaikan ada Raihana tentu aku ngak meninggalkan sholat Isya, dan tidak terlambat sholat subuh.
Lintasan  Raihana  hilang  seiring  keberangkatan  mengajar  di  kampus. Apalagi aku mendapat tugas dari universitas untuk mengikuti pelatihan mutu dosen mata kuliah bahasa arab. Diantaranya tutornya adalah professor bahasa arab dari Mesir. Aku jadi banyak berbincang dengan beliau tentang mesir. Dalam pelatihan aku juga berkenalan dengan Pak Qalyubi, seorang dosen  bahasa  arab  dari  Medan.  Dia  menempuh  S1-nya  di  Mesir.  Dia menceritakan satu pengalaman hidup yang menurutnya pahit dan terlanjur dijalani.
"Apakah       kamu       sudah       menikah?"       kata       Pak       Qalyubi. "Alhamdulillah,  sudah"  jawabku.  "Dengan  orang  mana?".  "Orang  Jawa". "Pasti orang yang baik ya. Iya kan? Biasanya pulang dari Mesir banyak saudara yang menawarkan untuk menikah dengan perempuan shalehah. Paling  tidak  santriwati,  lulusan  pesantren.  Istrimu  dari  pesantren?". "Pernah,     alhamdulillah     dia     sarjana     dan     hafal     Al     Quran". "Kau sangat beruntung, tidak sepertiku". "Kenapa dengan Bapak?"
"Aku melakukan langkah yang salah, seandainya aku tidak menikah dengan orang   Mesir   itu,   tentu   batinku   tidak   merana   seperti   sekarang". "Bagaimana itu bisa terjadi?".
Kamu tentu tahu kan gadis Mesir itu cantik-cantik, dan karena terpesona dengan kecantikanya saya menderita seperti ini. Ceritanya begini, Saya seorang anak tunggal dari seorang yang kaya, saya berangkat ke Mesir
dengan biaya orang tua. Disana saya bersama kakak kelas namanya Fadhil, orang Medan juga. Seiring dengan berjalannya waktu, tahun pertama saya lulus dengan predkat jayyid, predikat yang cukup sulit bagi pelajar dari Indonesia.
Demikian juga dengan tahun kedua. Karena prestasi saya, tuan rumah tempat saya tinggal menyukai saya. Saya dikenalkan dengan anak gadisnya yang bernama Yasmin. Dia tidak pakai jilbab. Pada pandangan pertama saya
jatuh  cinta,  saya  belum  pernah  melihat  gadis  secantuk  itu.  Saya bersumpah  tidak  akan  menikaha  dengan  siapapun  kecuali  dia.  Ternyata perasaan saya tidak bertepuk sebelah tangan. Kisah cinta saya didengar oleh Fadhil. Fadhil membuat garis tegas, akhiri hubungan dengan anak tuan rumah itu atau sekalian lanjutkan dengan menikahinya. Saya memilih yang kedua. Ketika saya menikahi Yasmin, banyak teman-teman yang memberi masukan begini, sama-sama menikah dengan gadis Mesir, kenapa tidak mencari mahasiswi Al Azhar yang hafal Al Quran, salehah, dan berjilbab. Itu lebih selamat dari pada dengan YAsmin yang awam pengetahuan agamanya. Tetapi saya tetap teguh untuk menikahinya. Dengan biaya yang tinggi saya berhasil menikahi YAsmin. Yasmin menuntut diberi sesuatu yang lebih dari gadis Mesir.
Perabot rumah yang mewah, menginap di hotel berbintang. Begitu selesai S1 saya kembali ke Medan, saya minta agar asset yang di Mesir dijual untuk  modal  di  Indonesia.  KAmi  langsung  membeli  rumah  yang  cukup mewah di kota Medan.
Tahun-tahun     pertama     hidup     kami     berjalan     baik,     setiap tahunnya Yasmin mengajak ke Mesir menengok orang tuanya. Aku masih bisa memenuhi semua yang diinginkan Yasmin. Hidup terus berjalan, biaya
hidup semakin nambah, anak kami yang ketiga lahir, tetapi pemasukan tidak bertambah. Saya minta Yasmin untuk berhemat. Tidak setiap tahun tetapi tiga tahun sekali YAsmin tidak bisa.
Aku  mati-matian  berbisnis,  demi  keinginan  Yasmin  dan  anak-anak terpenuhi. Sawah terakhir milik Ayah saya jual untuk modal. Dalam diri saya
mulai muncul penyesalan. Setiap kali saya melihat teman-teman alumni Mesir yang hidup dengan tenang dan damai dengan istrinya. Bisa mengamalkan ilmu dan bisa berdakwah dengan baik. Dicintai masyarakat. Saya tidak mendapatkan apa yang mereka dapatkan.
Jika saya pengin rendang, saya harus ke warung. Yasmin tidak mau tahu dengan masakan Indonesia. Kau tahu sendiri, gadis Mesir biasanya memanggil  suaminya  dengan  namanya.  Jika  ada  sedikit  letupan,  maka rumah seperti neraka.
Puncak penderitaan saya dimulai setahun yang lalu. Usaha saya bangkrut, saya minta YAsmin untuk menjual perhiasannya, tetapi dia tidak mau. Dia malah membandingkan dirinya yang hidup serba kurang dengan sepupunya. Sepupunya mendapat suami orang Mesir.
Saya  menyesal  meletakkan  kecantikan  diatas  segalanya.  Saya  telah diperbudak dengan kecantikannya. Mengetahui keadaan saya yang terjepit, ayah dan ibu mengalah. Mereka menjual rumah dan tanah, yang akhirnya mereka tinggal di ruko yang kecil dan sempit. Batin saya menangis. Mereka berharap modal itu cukup untuk merintis bisnis saya yang bangkrut. Bisnis saya mulai bangkit, Yasmin mulai berulah, dia mengajak ke Mesir. Waktu di Mesir itulah puncak tragedy yang menyakitkan. "Aku menyesal menikah dengan  orang  Indonesia,  aku  minta  kau  ceraikan  aku,  aku  tidak  bisa bahagia kecuali dengan lelaki Mesir". Kata Yasmin yang bagaikan geledek
menyambar. Lalu tanpa dosa dia bercerita bahwa tadi di KBRI dia bertemu dengan temannya. Teman lamanya itu sudah jadi bisnisman, dan istrinya sudah  meninggal.  Yasmin  diajak  makan  siang,  dan  dilanjutkan  dengan perselingkuhan. Aku pukul dia karena tak bisa menahan diri. Atas tindakan itu  saya  dilaporkan  ke  polisi.  Yang  menyakitkan  adalah  tak  satupun keluarganya yang membelaku. Rupanya selama ini Yasmin sering mengirim surat yang berisi berita bohong. Sejak saat itu saya mengalami depresi.
Dua  bulan  yang  lalu    saya  mendapat  surat  cerai  dari  Mesir  sekaligus mendapat salinan surat nikah Yasmin dengan temannya. Hati saya sangat sakit,    ketika    si    sulung    menggigau    meminta    ibunya    pulang". Mendengar   cerita   Pak   Qulyubi   membuatku   terisak-isak.   Perjalanan hidupnya   menyadarkanku.   Aku   teringat   Raihana.   Perlahan   wajahnya terbayang dimataku, tak terasa sudah dua bualn aku berpisah dengannya. Tiba-tiba  ada  kerinduan  yang  menyelinap  dihati.  Dia  istri  yang  sangat shalehah.  Tidak  pernah  meminta  apapun.  Bahkan  yang  keluar  adalah pengabdian   dan   pengorbanan.   Hanya   karena   kemurahan   Allah   aku mendapatkan istri seperti dia. Meskipun hatiku belum terbuka lebar, tetapi wajah  Raihana  telah  menyala  didindingnya.  Apa  yang  sedang  dilakukan Raihana  sekarang?  Bagaimana  kandungannya?  Sudah  delapan  bulan. Sebentar lagi melahirkan. Aku jadi teringat pesannya. Dia ingin agar aku mencairkan tabungannya. Pulang dari pelatihan, aku menyempatkan ke toko baju muslim, aku ingin membelikannya untuk Raihana, juga daster, dan pakaian   bayi.   Aku   ingin   memberikan   kejutan,   agar   dia   tersenyum menyambut kedatanganku. Aku tidak langsung ke rumah mertua, tetapi ke kontrakan untuk mengambil uang tabungan, yang disimpan dibawah bantal.
Dibawah  kasur  itu  kutemukan  kertas  merah  jambu.  Hatiku  berdesir, darahku  terkesiap.  Surat  cinta  siapa  ini,  rasanya  aku  belum  pernah membuat surat cinta untuk istriku. Jangan-jangan ini surat cinta istriku
dengan lelaki lain. Gila! Jangan-jangan istriku "serong"?. Dengan rasa takut kubaca surat itu satu persatu. Dan Rabbi ternyata surat-surat itu adalah ungkapan hati Raihana yang selama ini aku zhalimi. Ia menulis, betapa ia mati-matian  mencintaiku,  meredam  rindunya  akan  belaianku.  Ia menguatkan diri untuk menahan nestapa dan derita yang luar biasa. Hanya Allah lah tempat ia meratap melabuhkan dukanya. Dan ya Allah, ia tetap setia memanjatkan doa untuk kebaikan suaminya. Dan betapa dia ingin hadirnya cinta sejati dariku.
"Rabbi dengan penuh kesyukuran, hamba bersimpuh dihadapan-Mu. Lakal hamdu ya Rabb. Telah muliakan hamba dengan Al Quran. Kalaulah bukan karena  karunia-Mu  yang  agung  ini,  niscaya  hamba  sudah  terperosok kedalam jurang kenistaan. Ya Rabbi, curahkan tambahan kesabaran dalam diri hamba" tulis Raihana. Dalam akhir tulisannya Raihana berdoa "Ya Allah inilah hamba-Mu yang kerdil penuh noda dan dosa kembali datang mengetuk pintumu, melabuhkan derita jiwa ini kehadirat-Mu. Ya Allah sudah tujuh bulan ini hamba-Mu ini hamil penuh derita dan kepayahan. Namun kenapa begitu tega suami hamba tak mempedulikanku dan menelantarkanku. Masih kurang  apa  rasa  cinta  hamba  padanya.  Masih  kurang  apa  kesetiaanku padanya. Masih kurang apa baktiku padanya? Ya Allah, jika memang masih ada yang kurang, ilhamkanlah pada hamba-Mu ini cara berakhlak yang lebih mulia lagi pada suamiku. Ya Allah, dengan rahmatMu hamba mohon jangan murkai  dia  karena  kelalaiannya.  Cukup  hamba  saja  yang  menderita. Maafkanlah dia, dengan penuh cinta hamba masih tetap menyayanginya. Ya Allah   berilah hamba   kekuatan  untuk tetap berbakti dan memuliakannya. Ya Allah, Engkau maha Tahu bahwa hamba  sangat  mencintainya  karena-Mu.  Sampaikanlah  rasa  cinta  ini kepadanya  dengan  cara-Mu.  Tegurlah  dia  dengan  teguran-Mu.  Ya  Allah
dengarkanlah doa hamba-Mu ini. Tiada Tuhan yang layak disembah kecuali
Engkau, Maha Suci Engkau".
Tak terasa air mataku mengalir, dadaku terasa sesak oleh rasa haru yang luar biasa. Tangisku meledak. Dalam tangisku semua kebaikan Raihana terbayang.  Wajahnya  yang  baby  face  dan  teduh,  pengorbanan  dan pengabdiannya yang tiada putusnya, suaranya yang lembut, tanganya yang halus   bersimpuh   memeluk  kakiku,   semuanya   terbayang   mengalirkan perasaan haru dan cinta. Dalam keharuan terasa ada angina sejuk yang turun dari langit dan merasuk dalam jiwaku. Seketika itu pesona Cleopatra telah memudar berganti cinta Raihana yang datang di hati. Rasa sayang dan cinta pada Raihan tiba-tiba begitu kuat mengakar dalam hatiku. Cahaya Raihana terus berkilat-kilat dimata. Aku tiba-tiba begitu merindukannya. Segera kukejar waktu untuk membagi cintaku dengan Raihana. Kukebut kendaraanku. Kupacu kencang seiring dengan air mataku yang menetes sepanjang jalan. Begitu sampai di halaman rumah mertua, nyaris tangisku meledak.  Kutahan  dengan  nafas  panjang  dan  kuusap  air  mataku. Melihat kedatanganku, ibu mertuaku memelukku dan menangis tersedu- sedu. Aku jadi heran dan ikut menangis. "Mana Raihana Bu?". Ibu mertua hanya menangis dan menangis. Aku terus bertanya apa sebenarnya yang telah terjadi. "Raihana   istrimu..istrimu dan anakmu yang dikandungnya". "Ada apa dengan dia". "Dia telah tiada". "Ibu berkata apa!". "Istrimu telah meninggal     seminggu     yang     lalu.     Dia     terjatuh     di     kamar mandi. Kami membawanya ke rumah sakit. Dia dan bayinya tidak selamat. Sebelum  meninggal,  dia  berpesan  untuk  memintakan  maaf  atas  segala kekurangan  dan  kekhilafannya  selama  menyertaimu.  Dia  meminta  maaf karena tidak bisa membuatmu bahagia. Dia meminta maaf telah dengan tidak  sengaja  membuatmu  menderita.  Dia  minta  kau  meridhionya". Hatiku bergetar hebat. "Ke… kenapa ibu tidak memberi kabar padaku?". "Ketika Raihana dibawa ke rumah sakit, aku telah mengutus seseorang
untuk menjemputmu di rumah kontrakan, tapi kamu tidak ada. Dihubungi ke kampus  katanya  kamu  sedang  mengikuti  pelatihan.  Kami  tidak  ingin mengganggumu. Apalagi Raihana berpesan agar kami tidak mengganggu ketenanganmu selama pelatihan. Dan ketika Raihana meninggal kami sangat sedih, Jadi maafkanlah kami".
Aku  menangis  tersedu-sedu.  Hatiku  pilu.  Jiwaku  remuk.  Ketika  aku merasakan cinta Raihana, dia telah tiada. Ketika aku ingin menebus dosaku, dia telah meninggalkanku. Ketika aku ingin memuliakannya dia telah tiada. Dia telah meninggalkan aku tanpa memberi kesempatan padaku untuk sekedar minta maaf dan tersenyum padanya. Tuhan telah menghukumku dengan     penyesalan     dan     perasaan     bersalah     tiada     terkira.
Ibu  mertua  mengajakku  ke  sebuah  gundukan  tanah  yang  masih  baru dikuburan pinggir desa. Diatas gundukan itu ada dua buah batu nisan. Nama dan hari wafat Raihana tertulis disana. Aku tak kuat menahan rasa cinta, haru,  rindu  dan  penyesalan  yang  luar  biasa.  Aku  ingin  Raihana  hidup kembali.
Tiba-tiba dunia gelap gulita.
Cerita ini diperuntukkan
Bagi orang-orang yang hanya menilai wanita dari kecantikan luarnya saja
Judul: Habiburrahman El Shirazy : Pudarnya Pesona Cleopatra...; Ditulis oleh Riyono Putra Penanggungan; Rating Blog: 5 dari 5
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
Judul: Habiburrahman El Shirazy : Pudarnya Pesona Cleopatra...
Ditulis Oleh Riyono Putra Penanggungan
Jika mengutip harap berikan link yang menuju ke artikel Habiburrahman El Shirazy : Pudarnya Pesona Cleopatra... ini. Sesama blogger mari saling menghargai. Terima kasih atas perhatiannya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar