Senin, 12 November 2012

Bergelut dengan Maut : Sebuah Renungan untuk Mendekatkan Diri kepada Allah

Hidup dan mati adalah rahasia Allah. Hidup juga mati adalah kehendak Allah. Tidak ada manusia satu pun yang mengerti dan paham kapan dirinya akan dipanggil Allah. Sama halnya tidak seorangpun yang tidak dapat menolak kenapa dia dilahirkan oleh Allah di muka bumi ini. Sehingga kehidupan dan kematian akan selalu menjadi rahasia Allah. Kehidupan adalah rahasia, kematian pun akan menjadi rahasia. Selalu menjadi rahasia. Hanya jawaban keta-kata Allah saja melalui pesan RasulNya yang dapat kita jadikan pedoman. Firman itulah satu satunya petunjuk bagi kita tentang rahasia ini.
Sehubungan dengan kematian, secara pribadi saya pernah mengalami beberapa peristiwa yang hampir merenggut nyawa saya. Alhmadulillah, saya selamat lainnya juga selamat meskipu juga ada yang mendapatkan takdirnya dari kejadian itu. Semoga saya dapat memtik hikmahnya untuk lebih dekat kepada Allah swt.
Kejadian pertama yang hampir merenggut nyawa saya terjadi di waktu kecil. Usia saya pada saat itu kira-kira 8 tahun. Saya masih sekolah di bangku SD. Sebagai orang desa, segalah sesuatunya dikerjakan secara manual dengan tenaga manusia. Mulai dari memasak, mencuci, menimbah air dan sebagainya. Khusus menimbah air, orang-orang desa di tempat saya membuat sumur dengan dengan kedalaman 4-7 meter. dari kedalaman segitu air sudah keluar dengan jernihnya. Hal ini bertolak belakang dengan desa sebelah, Manduro yang harus membuat sumur sampai kedalaman 20-50 m. Saat itu pagi hari dan saya harus menimbah air untuk mandi lantaran air di bol (tempat air mandi dari kerajinan tanah liat) habis. Air saya timbah dengan timbah yang dilulur dengan seutas tali tampar. Karena pinggir sumur licin dan air berat saya hke dalam sumur tersebut. Pikiran saya panik saat itu. Kemungkinan saya tidak akan tertolong. Tetapi untungnya air tidak terlalu dalam, hanya sekitar sedada saya. Saya berteriak sekencang kencangnya dan langsung ditolong warga dan orang tua saya dengan menmasukkan tangga ke dalam sumur. saya selamat dan basah kuyup. alhamdulillah.
Kejadian kedua terjadi pada tahun 2006. Saat itu saya pengantin baru sekitar 3 minggu. saat itu saya diajak untuk rekreasi ke Yogyakarta bersama rombongan SMP Muhammadiyah 4 Gempol dengan 2 bis. Saat itu saya ikut bis ke-2. Bis mini yang berpenumpang guru-guru dan karyawan. saya duduk bersebelahan dengan istri. Pak Kebun, Mbah Mur (sekarang almarhum) saat itu turut serta. Tidak pernah didapati dalam sejarah Pak Mur mau diajak rekreasi. Saat itu Mbah Mur mengalami sakit perut dan harus berhenti berkali-kali di pom bensin. Mbah Mur sendiri bertanya kepada saya jarak antara pulang kembali dan melanjutkan perjalanan jauh mana. Saya jawab jauh pulang karena kita sudah sampai di Ngawi. Mungkin 3 jam lagi sampai di Yogya. Mbah Mur memutuskan melanjutkan perjalanan. lamanya berhenti di POM Bensin mengakibatkan perjalanan semakin lama. Sampai di Pantai Parangtritis Yogya sekitar jam 5 pagi. Kami semua sholat subuh dan membersihkan badan. Saya dan isteri gantian mandi dan sholat sambil menjada barang bawahan. Seusai sholat kami kembali ke bis untuk kemudian melanjutkan menikmati pantai. Belum sampai ke area parkir kami merasakan bumi digunjangkan dengan sedahsyat-dahsyatnya. Banyang surat Al Zalzalah begitu hebat di pandangan saya saat itu. Isteri mau berlari mencari tempat berteduh. Mengetahui hal itu langsung saya sambar dan saya dekap erat. Posisi saya saat itu di gang rumah-rumah di sepanjang pantai. Saya teringat dengan nasehat kakek saya, ketika terjadi lindu jangan sampai berteduh. Maka saya tetap berada di tempat itu mengingat tempat saya saya rasa cukup lapang. Benar saja gempa bumi yang berlangsung kurang dari 1 menit tersebut tidak menciderai kami yang ada di tanah lapang. Sedang murid saya yang berlindung di teras tertimpat teras ambruk. 
Karena takut tsunami maka kami putuskan mencari area yangtinggi dengan kembali ke kota. Alhamdulillah kami semua selamat. Namun sepanjang perjalanan masuk kota Yogya pemandangan miris kami saksikan di kanan kiri jalan. Rumah-rumah penduduk banyak yang roboh. Jenazah-jenazah banyak yang sudah dikeluarkan dari balik reruntuhan bangunan. Saat itu tjaringan seluler sudah tidak dapat digunakan. Pikiran kami semua masih panik. Kami ketakutan, jangan-jagan tsunami akan terjadi. alhamdulillah kami selamat.
Kejadian ketiga tahun 2010. Saat itu saya sudah memiliki 2 orang putera. Ketika itu saya hendak sambang ke rumah orang tua saya di Dusun Dateng Watesnegoro. Jarak rumah mertua dengan orang tua cuma 3 km. Kami bersepeda motor dengan berboncengan 4 orang. Maklum anak-anak masih kecil. Perjalanan lancar-lancar saja. samapi di raya Dateng-Ngoro saya sudah menyalahkan lampu sign kanan sebagai isyarat bahwa saya akan menyeberang ke kanan. Dari arah belakang tidak ada kendaraan. lama juga kendaraan dari depan tidak habis-habis  sehingga saya tidak dapat menyeberang. Posisi saya sudah ke kanan. saat itu, mendadak ada sebuah mobil elf menyalip dari arah berlawanan dan mengambil lajur saja. Spontan saya panik dan langsung menarik gas ke kiri karena jaraknya sangat dekat dengan saya. Pada saat bersamaan dari arah belakang ada truk yang melaju dengan kecepatan penuh dan mengerem dengan cepat dan membunyikan klakson.ciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit........pikiran saya saya akan tewas diterjang mobil baik adri depan maupun belakang. Alhamdulillah mobil belakang melambat dan berhenti. saat itu saya sudah menepi di sisi kiri jalan. Dalam hati saya bersyukur plus mengerutu sama sopir elf. Tp alhamdulillah masih selamat.
Kejadian keempat saya alamai barusan saja saat mMilad Akbar Muhammadiyah yang digelar PDM Pasuruan. Acara dilaksanakan siang hari setelah sholat dhuhur. Saat dhuhur saya belum berangkat. Saya masih di SD Mutu Gempol bersama rekan-rekan guru. Kami putuskan sholat dhuhur dan asyar dijamak qhosor. jam 12 kami berngkat ke dolog Kejapanan. Dari sana kami berangkat bersama-sama dengan rombongan Muhammadiyah dan ortom. Sesampainya di Purwosari kami disuguhi acara hiburan mulai dari drum band, tari, puisi dan tapak suci. Saat aktraksi tapak suci langit sudah mendung gelap. beberapa tetesan air hujan mulai turun. angin juga berhembus sangat kencang. Beberapa bagian tenda acara mulai berjatuhan ditenjang angin. Kain renda jatuh di meja tamu utama. Pikiran saya sudah tidak enak. beberapa atap tenda yang terbuat dari seng kemudian jatuh. Pikiran saya makin was-was. Bersamaan dengan itu hujan mulai turun dengan lebatnya. Semua orang sudah mulai berteduh di tenda. Mereka berjubel. Karena angin kencang maka tidak dapat menghindarkan diri dari guyuran air hujan. Kami mulai basah. Beberapa atap mulai bocor. Angin bertambah kencang bertiup menyapu lapangan. Beberapa atap tenda yang terbuat dari seng mulai rontok dan beterbangan. Bersamaan dengan itu tenda bergoyang-goyang tanda akan roboh. Jamaah mulai panik dan berusaha menyelamatkan diri dari bahaya yang sudah ada di depan mata. Orang-orang tua berlarian walaupun dengan tenaga tua yang mereka miliki. Sebagian histeris karena seng terbang dan jatuh menimpah mereka. Ada yang terluka terkena koyakan seng. Ada yang tertimpa tiang tenda dan banyak juga yang terjatuh.
Saya sendiri tidak dapat berbuat banyak. Saya menuntun pak Yunus TU SMPM 4 Gempol yang kesulitan berjalan. Beberapa seng mengarah ke saya namun berhasil saya hindari. Pak Yunus lari berlawanan arah dengan saya. saya tidak dapat menghalaunya karena ada seng yang mengarah ke saya dengan kecepatan tinggi. Ada kekhawatiran dalam hati saya akan bahaya seng yang tajam tersebut. Ketika seng mendekat langsung saya tepis ke kiri dan kanan. Sekitar 2-3 kali saya menepis seng tersebut. Dalam pikiran saya berkecamuk jangan-jangan seng tersebut menusuk saya ketika saya lengah. Saya jadi teringat film laga mandarin ketika beraksi menepis seng-seng yang beterbangan.
Saya semakin menjauh. dari jauh nampak tenda seudah roboh semua disapu badai. saya kembali ke mobil namun kunci tertutup. Meskipun saya selamat pikiran saya masih tidak enak. Saya kembali ke lokasi. Kali ini saya melawan arah angin. Saya menerobos namun tidak kuat. Sehingga langka saya berbelok arah. saya berusaha mencari teman-teman SD Mutu. Alhamdulillah semua selamat. beberapa ibu Aisyiyah Gempol mengalami ketakutan luar biasa. Ada Mbak Hesti yang tak henti-hentinya beristighfar. Ada pula mbak nanik yang biasanya ceria dengan suaranya yang lantang mendadak layu tak berdaya meminta dituntun karena tidak kuta berjalan. Saya tuntun beliaunya. Ketika ada anak muda Muhammadiyah saya minta dia untuk menuntunnya ke arah yang aman. Bu Innama memanggil saya menanyakan Mbak Nita putrinya tadi bersama anaknya. Saat itu mbak Nita sedang hamil tua. say cari-cari tidak ketemu. Kata beberapa teman sudah menjauh di arah barat.
saya kembali ke reruntuhan untuk memastikan tidak ada yang tertimpa tenda, Saya tengok ke kolong Tenda yang roboh tidak ada. Alhamdulillah. saya bantu -bantu menata kursi yang berserakan.
Angin sudah mulai redah demikian juga hujannya. Alhamdulillah. Semua selamat dan hanya mengalami luka ringan. Namun trauma akibat kejadian ini tidak dapat dihilangkan saat itu juga. Saya lihat banyak ibu-ibu yang lemat tak kuasa berdiri dan harus dibopong ke ambulan. Saya juga lihat bapak-bapak yang dudah tua kedinginan seperti ayam kehilangan induk. Saya tidak dapat berbuat banyak karena juga sama basah kuyupnya. Saya menuju mobil dan bersiap pulang bersama. 
Kami semua selamat, namun malamnya saya masuk angin karena lebih dari 3 jam memakai baju basah kuyup.
Judul: Bergelut dengan Maut : Sebuah Renungan untuk Mendekatkan Diri kepada Allah; Ditulis oleh Putra Penanggungan; Rating Blog: 5 dari 5
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
Judul: Bergelut dengan Maut : Sebuah Renungan untuk Mendekatkan Diri kepada Allah
Ditulis Oleh Putra Penanggungan
Jika mengutip harap berikan link yang menuju ke artikel Bergelut dengan Maut : Sebuah Renungan untuk Mendekatkan Diri kepada Allah ini. Sesama blogger mari saling menghargai. Terima kasih atas perhatiannya

1 komentar:

  1. muhammadiyah yg mengaku pengikut muhammad diberi bencana oleh Allah. kayaknya ada yang salah dengan pemimpinnya

    BalasHapus