Kamis, 20 September 2012

Mengkritisi GregetNuswantara dan Ajarannya (bagian 4)

Sebelum kita melanjutkan bahasan santai kita, ada baiknya kawan-kawan yang belum membaca pada paparan sebelumnya untuk membacanya di link bawah ini :
Di sana akan diuraikan pandangan saya pribadi mengapa harus menuliskan pandangan saya akan GregetNuswantara yang merupakan kepanjangan pemikiran Turangga Seta sebuah Yayasan yang berjuang di pelestarian budaya. Di tulisan sebelumnya saya juga memberikan pandangan pribadi saya selaku muslim akan ajaran tersebut. Saya punya harapan, bagi teman-teman dan saudara saya yang muslim, agar tidak terjebak dalam ajaran tersebut karena mengarah kepada kesyirikan.
Sepintas memang kalau dicermati, kayaknya ini adalah hal biasa saja. Namun kalau kita mau memperlajari secara mendalam, sesungguhnya ajaran GN jauh bahkan bertentangan dengan ajaran Islam dalam banyak hal. Karenanya kita dituntut untuk cerdas dalam mengurai ajaran ini.

Dewa
Saya menemukan Istilah dewa dalam beberapa referensi dan cerita. Pertama, dewa saya temukan dalam kisah-kisah dongeng yang saya baca sejak bangku SD sampai saat ini. Dewa dinobatkan sebagai sesuatu yang besar dan absolut. Mempunyai kekuatan besar yang tidak ditemukan pada manusia. Dalam kondisi tertentu dewa dapat berwujud manusia dengan cara menitis. Kedua, Saya menemukan istilah dewa dalam khazanah pewayangan. Ada banyak sekali nama dewa dan saya tidak hafal satu-satu dewa kecuali dewa 19 saja. Ketiga, saya menemukan istilah dewa dalam keyakinan agama lain selain Islam dan beberapa penganut pagan. Salah satunya di tanah air adalah Hindu dan Budha.
Istilah dewa dalam GN jelas tidak merujuk pada ajaran Islam. Meskipun GN tidak pernah mengeluarkan statemen bahwa mereka merujuk ajaran pada agama tertentu dan mengklaim diri No SARA, disini jelas sekali mereka sesungguhnya memiliki misi untuk ajaran yang mereprestasikan agama tertentu. Jadi aneh saja ketika ada kaum muslimin yang tertari bergabung dan kemudian membenarkan ajaran GN.
Islam tidak mengenal yang namanya dewa-dewa. Dalam Sirah Nabawi (Sejarah Nabi) Istilah dewa memang ditemukan dalam masa pra Islam. Sebelum Islam masyarakata Mekkah disebut sebagai masyarakat jahiliyah. Masyarakat bodoh. Disebut sebagai masyarakat bodoh karena mereka mempunyai karakter-karakter yang menunjukkan kebodohan mereka. Salah satu bentuk kebodohan masyarakat Mekkah kala itu adalah pola hidup yang suka mabuk, perang, membunuh bayi perempuan dan perilaku Musyrik mereka. Masyarakat Mekkah pra Islam sesungguhnya adalah penganut agama Ibrahim. Namun agama hanif tersebut telah dimodifikasi generasi berikutnya dengan menempatkan orang-orang suci yang sudah meninggal di antara mereka sebagai washilah dalam beribadah kepada Allah. Jadi jelas, referensi dewa memang jauh dari Islam bahkan bertentangan dengan Islam.
ABS, yang mengkalim diri sebagai sesepuh di GN, juga menggunakan nama dewa tertentu sebagai akun FBnya. Perkataan dan dawuhnya selalu ditunggu oleh member group yang selalu menatikan pencerahannya seraya berucapan suwun, rahayu atau hebat ketika sudah diberi wejangan oleh BW dan sesepuh lainnya.
Jadi sesungguhnya mana bukti koar-koar GN yang katanya NO SARA tersebut ? 
Saya berasumsi sesungguhnya GN punya misi tersembunyi yang tidak pernah dibeberkan kepada member muslim. Anehnya lagi member muslim tidak menyadari hal ini.
Judul: Mengkritisi GregetNuswantara dan Ajarannya (bagian 4); Ditulis oleh Riyono Putra Penanggungan; Rating Blog: 5 dari 5
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
Judul: Mengkritisi GregetNuswantara dan Ajarannya (bagian 4)
Ditulis Oleh Riyono Putra Penanggungan
Jika mengutip harap berikan link yang menuju ke artikel Mengkritisi GregetNuswantara dan Ajarannya (bagian 4) ini. Sesama blogger mari saling menghargai. Terima kasih atas perhatiannya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar