Rabu, 09 Mei 2012

Orkes Dangdut : Antara Hiburan Rakyat dan Eksploitasi

Orkes dangdut, siapa yang tidak pernah nonton? Baik di televisi maupun langsung di lapangan becek, pasar, jalan raya maupun rumah-rumah warga yang sedang punya hajat. Dari orang dewasa, remanja bahkan nenek-nenek dan anak-anak pun senang nonton orkes dangdut.
Orkes dangdut adalah sebuah hiburan. Hiburan yang murah meriah dan bahkan gratis dan yang penting menyenangkan. Menyenangkan bagi yang menonton apalagi yang menyanyi. Yang menonton senang dan gembira karena mendapat tontonan gratis sedang yang menyanyi senang mendapat bayaran menyanyi plus saweran dari penonton.
Orkes dangdut saat ini menggurita. Ibaratnya jamur di musim hujan orkes dangdut saat ini berkembang dengan pesat-pesatnya. hampir di setiap desa saat ini sudah bermunculan grup orkes dangdut. Bisa satu, dua atau bahkan lebih grup yang ada tentu dengan kualitas yang berbeda pula. Kualitas inilah yang nanti menentukan tarif manggung mereka.
Mengenai tarif manggung grup orkes dangdut beragam tergantung kualitas dan nama besar yang dibawah oleh grup tersebut. Untuk yang mutunya kelas kampung mungkin kisaran 5 jutaan. tetapi untuk kelas kakap bisa jatdi puluhan  bahkan ratusan juta rupiah. Tentu dengan biduan yang lebih bagus lagi. Dan jika ingin biduan yang lebih top semisal Ayu Ting Ting atau Juple maka harus keluar kocek yang lebih tebal lagi.
Dalam Orkes dangdut dikenal istilah joget dan sawer. Joget adalah menari mengikuti irama lagu dengan model tarian yang tidak ada aturan bakunya. Boleh sekedar menggoyang bagian tubuh tertentu semisal pinggung, kepala, kaki bahkan hanya jari saja atau bahkan semua tubuh bergoyang. Hal ini lumrah daam orkes dangdut. Tetapi ada aturan juga yang sering disampaikan MC agar jangan sampai senggol-senggolan sehingga berujung pada tawuran.
Fenomena tawuran
adalah fenomena umum yang dijumpai pada seriap pertunjukan orkes dangdut. Boleh dikata ada orkes ada tawuran. Jadi jangan heran ketika ada orkes maka dijumpai tawuran yang kadangkala membawa korban baik itu sekedar luka maupun nyawa.Biasanya juga mereka tawuran karena mabok sehabis minum minuman keras.
Tradsisi lain dalam orkes adalah sawer. Sawer adalah memberikan uang pada biduan dengan jabatan tangan. Jika ada biduan yang semlohe dan enak suara plus goyangannnya maka ada saja penontong yang ngasih uang kepadanya. pemberian uang tersebut biasanya juga diiringi jogetan baik di atas maupun bawah panggung. Besarannya pun beragam tergantung kocek masing - masing.

Eksploitasi
Kata diatas saya tulis demikian karena kenyataannya menurut mata telanjang saya demikian. Ada hal-hal tertentu yang dieksploitasi dalam orkes dangdut yang tentunya diharapkan menjadi daya tarik tersendiri yang mengundang penonton.
Pertama adalah Baju minim. Sudah umum penyanyi dangdut memakai baju minim nan seksi. Jarang dijumpai penyanyi dangdut pakai baju longgar dan tertutup. Inilah yang membedakan dangdut dengan Samroh. Dalam pertunjukan dangdut mereka terbuka dan terkesan vulgar. Dan umumnya juga wanita. Jarang dijumpai biduan pria. Baju itu harus mengumbar....jika tidak maka terkesan tidak menarik. Jangan protes, karena tidak ada UU yang melarangnya dan ini juga sebagai kebebsan berkespresi menurut HAM.
Kedua adalah Tubuh. Seorang biduan semakin seksi semakin disukai. Ada bagian tertentu yang memang dijadikan daya tarik semisal (maaf) paha, pinggul, dan tentunya "susuatu". Apalagi tubuhnya putih mulus plus bajuh minim. Hmmm.... dan herannya kenapa selalu wanita. Dan anda jangan protes dan jangan munafik. Siapa yang tidak tertarik melihatnya. Jika anda senang lihat saja, jika senang tetapi dilarang agama yang jangan ditonton. Jangan juga demo, karena yang mereka tampilkan adalah hak dia cari nafkah.
Ketiga adalah goyangan. Tak asyik dangdut tanpa goyangan. Semua musyik dangdut selalu menyertakan goyangan meskipun lagu yang dibawahkan termasuk lagu sedih sekalipun mereka tetap goyang. Goyangannya pun variatif dan menuntut kreativitas. Mulai dari goyang gergaji, goyang ngebor, sampai dengan goyang jempol. Para biduan biasanya membuat goyangan sendiri sebagai ciri khas tampilan panggung mereka. Ada kesan memang beberapa goyangan artis dangdut sangat erotis. Jangan diprotes, maka semakin kencang protes disampaikan maka para biduan semakin senang. Protesan anda adalah sarana iklan yang paling mengenah. taruh contoh Inul Daratista. Dia bukan siapa-siapa. Gara-gara diprotes Bang Haji Rhoma Irama, mendadak dia menjadi tenar seketika. Dapat dibayangkan berapa job yang dia dapat setelah itu. Jadi, biarkan saja sampai dia karatan. hehehe....
Keempat adalah syair lagu. Banyak syair-syair lagu yang mengeksploitasi hal-hal berbau pornografi sehingga sebetulnya lagu tersebut layak sensor. Taruhlah contoh lagu CINTA SATU MALAM, HAMIL DULUAN. Yang lebih awal adalah lagu MAIN KAWIN-KAWINAN. Namun untuk tayangan pertunjukan di kampung-kampung siapa yang dapat menyensor. Kalaupun diketati maka jawabannya selalu HAM.
Kelima adalah anak-anak. banyak anaka-anak sekarang dijadikan obyek mencari uang dengan dijadikan biduan cilik. Meskipun biduan cilik jangan beranggapan lagu yang dibawakan adalah lagu anak-anak. Lagu yang dibawahkan tetap lagu orang dewasa. Penampilannya pun juga seperti orang dewasa. Mulai dari baju, goyangan sampai ekploitasi tubuh. Tentu atas seijin orang tuanya. Mungkin dengan cara ini anaknya akan jadi orang hebat dan mudah mencari uang ketika dewasa. Dan saran saya jangan protes. Itu termasuk HAM juga. Orang punya hak untuk mendidik anaknya sendiri.
So, inilah dangdut dan inilah hiburan rakyat yang murah meriah. Yang dicintai sebagai prodek asli negeri ini. Buka musik rock atau jazz. Jadi selamat menonton jika anda suka dan jangan tonton jika anda kurang suka.
Judul: Orkes Dangdut : Antara Hiburan Rakyat dan Eksploitasi; Ditulis oleh Riyono Putra Penanggungan; Rating Blog: 5 dari 5
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
Judul: Orkes Dangdut : Antara Hiburan Rakyat dan Eksploitasi
Ditulis Oleh Riyono Putra Penanggungan
Jika mengutip harap berikan link yang menuju ke artikel Orkes Dangdut : Antara Hiburan Rakyat dan Eksploitasi ini. Sesama blogger mari saling menghargai. Terima kasih atas perhatiannya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar