Kamis, 29 Maret 2012

Mitos Sabdo Palon dan Noyo Genggong : Ini Jawabannya !


Telah banyak bersliweran kabar, informasi, cerita legenda dan hikayat tentang keberadaan abdi dalem Kraton MAJAPAHIT (WILWATIKTA) yang bernama SABDO PALON dan NAYA GENGGONG. Dari yang bersifat sangat halus hingga yang berisi SUMPAH SERAPAH yang bersangkutan di era runtuhnya MAJAPAHIT. Belum lagi terbitnya saduran buku-buku baik berupa ajaran atau ramalan yang mengatas namakan dua abdi ini, tetapi semuanya tidak dapat menunjukkan rujukan asli dari sumber ceritanya.

Mengingat seringnya timbul pertanyaan mengenai hal ini di group dan forum WILWATIKTA (MAJAPAHIT), maka saya berinisiatif untuk menjelaskannya secara tertulis seperti ini agar bila pertanyaan yang sama muncul, rekan-rekan dapat mereferensi jawabannya dari catatan ini. Hal ini didasarkan pada pengalaman pribadi saya, baik ketika menerima ajaran adat maupun ketika saya berkunjung ke beberapa lokasi peninggalan WILWATIKTA / MAJAPAHIT (di Jawa Timur dan Jawa Tengah).
Sesungguhnya penokohan abdi dalem yang bernama SABDO PALON dan NOYO GENGGONG itu adalah nyata dan ada (bukan bersifat ghaib atau klenik).  Akan tetapi masyarakat luas telah tercuci otaknya dengan pola berpikir mistis telah menganggap tokoh ini adalah sejenis mahluk ghaib berjenjang dewata dan mempunyai umur yang abadi.  Dan semuanya bertolak belakang dengan penjelasan apa yang saya terima selama ini, hal itu tidak lepas dari kebiasaan saya untuk mendebat (dalam batasan santun) kepada petunjuk leluhur yang saya anggap tidak bisa saya pahami lewat akal pikiran maupun hati nurani. Sehingga para leluhur yang memberi petunjuk berkenan menjelaskan secara lebih terinci guna memberi pemahaman akal dan nurani saya.

SABDO PALON dan NOYO GENGGONG belum dikenal dimasa pemerintahan raja pertama SANGRAMA WIJAYA yang berabhiseka SRI KERTARAJASA JAYAWARDHANA maupun raja kedua DYAH JAYANEGARA yang berabhiseka SRI SUNDARAPANDYADEWA ADHISWARA, di masa itu abdi dalem yang melekat pada keluarga raja adalah Sang SAPU ANGIN dan Sang SAPU JAGAD.  Dalam konteks ini nama sesungguhnya dari abdi raja tersebut bukanlah itu, gelar tersebut lebih dekat pada sifat perilaku sang abdi.  SAPU JAGAD berkonotasi SAPU = yang membersihkan / yang mengatasi dan JAGAD = masalah-masalah yang bersifat keduniawian, jadi Sang SAPU JAGAD adalah seorang abdi yang piawai dalam ilmu keduniawian dan kanuragan.  Sedangkan SAPU ANGIN berkonotasi SAPU = yang membersihkan / yang mengatasi dan ANGIN = masalah-masalah yang bersifat spiritual / kebathinan, jadi Sang SAPU ANGIN adalah seorang abdi yang piawai dalam hal keagamaan dan spiritual / kebathinan.  Begitu abdi ini menduduki jabatan tersebut, maka nama pribadinya akan ditinggalkan dan memakai gelar barunya sebagai SANG SAPU ANGIN dan SANG SAPU JAGAD. Hal ini dapat anda buktikan bila mengunjungi SITIHINGGIL MAJAPAHIT, di belakang posisi raja (SRI KERTARAJASA JAYAWARDHANA dan istri-istrinya) ada bangunan makam SANG SAPU ANGIN dan SANG SAPU JAGAD. Demikian pula lokasi Candi BAJANG RATU tempat abu jenazah SRI SUNDARAPANDYADEWA ADHISWARA (DYAH JAYANEGARA) di kompleks candi juga di temui model makam sejenis.

SABDO PALON dan NOYO GENGGONG secara eksplisit baru dikenal pada era pemerintahan raja ke-3 : Prabhu Stri / Rani DYAH TRIBHUWANA WIJAYATUNGGADEWI MAHARAJASA yang berabhiseka SRI TRIBHUWANATUNGGADEWI MAHARAJASA JAYAWISNUWARDHANI. Hal ini atas masukan dari Maha Rsi MAUDARA sebagai Mahapatih Dalam Pura, yang merubah karakter sebelumnya menjadi SABDO PALON dan NOYO GENGGONG. Alasannya adalah ketika pemerintahan raja ke-2 banyak terjadi pemberontakan akibat adanya HASUTAN dari orang-orang di dekat raja, sehingga diputuskan untuk membuat mekanisme steril dan memberi pendampingan berupa tokoh yang mampu memberikan pertimbangan obyektif kepada raja. Sedangkan masalah keamanan raja dan keluarganya diserahkan penuh kepada DHARMAPUTRA dan BHAYANGKARA (semacam paspampres dan pasukan khusus pelindung kotaraja / ibukota).

Sama dengan konsep SANG SAPU ANGIN dan SANG SAPU JAGAD, SABDO PALON dan NOYO GENGGONG bukanlah nama asli dari sang abdi tetapi gelar yanf diberikan abdi sesuai karakter tugas yang diembannya. SABDO PALON berkonotasi SABDO = seseorang yang memberikan masukan / ajaran dan PALON = kebenaran yang bergema dalam ruang semesta, jadi SABDO PALON = Seseorang abdi yang berani menyuarakan kebenaran kepada raja dan berani menanggung akibatnya (di murkai raja dll). NAYA GENGGONG berkonotasi NAYA = nayaka atau seseorang abdi raja dan GENGGONG = mengulang-ulang suara, jadi NAYA GENGGONG = Seseorang abdi yang berani mengingatkan raja secara berulang-ulang tentang kebenaran dan berani menanggung akibatnya (di murkai raja dll).  SABDO PALON bereaksi sebagai abdi yang memberikan pertimbangan sebelum raja mengambil tindakan, sedangkan NAYA GENGGONG adalah abdi yang memberikan teguran apabila raja melakukan kekeliruan dalam berperilaku.

Yang luar biasa dari konsep ini adalah SABDO PALON dan NAYA GENGGONG diambil dari abdi yang BUTA HURUF tetapi mempunyai pemahaman yang mendalam atas tugasnya sebagai pihak yang jadi pertimbangan raja. Alasannya : dengan kondisinya yang buta huruf, akan memperkecil pengaruh dari pihak luar dalam penyampaian pertimbangan ke raja, juga menjadi pertimbangan spiritual bagi raja ..... bahwa ada seseorang biasa (bukan bangsawan) dan buta huruf ptla yang berani menegur raja ..... dan teguran itu membawa suara KEBENARAN, jelas abdi ini adalah mahluk yang mendapat pencerahan dari Tuhan (kata hati sang raja). Maka unsur tertiggi dari dua abdi ini adalah kejujuran, keluguan dan pemahaman yang mendalam atas HUKUM KEBENARAN SEMESTA.  Itulah kepangkatan abdi dalem yang terdekat dengan Raja WILWATIKTA (Majapahit) : SABDO PALON dan NAYA GENGGONG.

SABDO PALON dan NAYA GENGGONG yang pertama kali ada adalah di era kepemimpinan SRI TRIBHUWANATUNGGADEWI MAHARAJASA JAYAWISNUWARDHANI. Bisa dibuktikan di petilasan beliau di desa Panggih - Trowulan, disana selain petilasan Maha Rsi MAUDARA juga akan anda temukan petilasan (sekarang dibentuk model makam) dari dua abdi kinasih : SABDO PALON dan NAYA GENGGONG ini. Karena ini konsep struktural kenegaraan di era itu, hal yang sama juga di warisi oleh raja-raja berikutnya di Majapahit, itulah sebabnya banyak sekali tersebar petilasan yang berkonotasi SABDO PALON dan NAYA GENGGONG.  Karena sejumlah beberapa era raja di Majapahit, sebanyak itu pula SABDO PALON dan NAYA GENGGONG ada.

Bila didekati secara spiritual, ada pertanyaan : Bisa tidak diasumsikan bahwa SABDO PALON dan NAYA GENGGONG adalah mahluk superior pilihan Tuhan guna menjadi pangemban Raja Majapahit ???  Jawabannya adalah BISA DIANGGAP DEMIKIAN, alasannya : JUJUR, MEMAHAMI HUKUM SEMESTA, TEGUH MENYUARAKAN KEBENARAN, PANDAI WALAUPUN BUTA HURUF, BERASAL DARI RAKYAT KEBANYAKAN, TIDAK SILAU HARTA BENDA MAUPUN JABATAN MESKIPUN DEKAT PENGAMBIL KEPUTUSAN ..... jelas hanya mahluk pilihan yang mampu menduduki derajat ini. Tapi kalau didekati secara MISTIS, bahwa SABDO PALON dan NAYA GENGGONG adalah tokoh sekaliber SEMAR atau Kanjeng Gusti Ratu Ayu KENCANASARI ...... Jawaban saya TIDAK seperti itu kedudukannya dalam tata krama keghaiban ..... malah bisa-bisa orang yang mendapat pangkat SABDO PALON dan NAYA GENGGONG itu bisa disusupi kekuatan spiritual SEMAR atau Kanjeng Gusti Ratu Ayu KENCANASARI.

Sekarang saya akan membicarakan hal yang sedikit rumit, khususnya era keruntuhan Majapahit pada masa pemerintahan : SRI GIRINDRAWARDHANA.  Dibanyak buku yang beredar pada saat ini, tergambar seakan-akan SABDO PALON dan NAYA GENGGONG ketika berpisah / memisahkan diri dengan momongannya / sang Raja mengeluarkan SUMPAH SERAPAH, yang kemudian dikenal luas oleh masyarakat sebagai : Buku SABDO PALON dan NAYA GENGGONG NAGIH JANJI dan dikenal pula sebagai JANGKA SABDO PALON dan NAYA GENGGONG.

Saya telah berupaya secara tata lahir maupun tata bathin mencari benang merah karya tulis tersebut dengan kenyataan yang ada. Tetapi berkali-kali mengalami jalan buntu guna menemukan referensi nyatanya, malah cenderung mengarah bahwa karya tersebut dilahirkan di era MATARAM ISLAM oleh salah satu pujangga kratonnya.  Yang agak unik ternyata banyak terjadi kemiripan dengan kasus pustaka raja JANGKA SRI AJI JAYABAYA yang muncul ditengah masyarakat tidak dalam bentuk penuh (cuplikan) yang disadur dalam judul JANGKA JAYABAYA MUSSASAR dan beberapa lagi yang menggunakan nama Islam dibelakangnya, padahal kita semua tahu sang Prabhu beragama Hindu-Budha. Dan lagi-lagi mengarah ke pujangga MATARAM ISLAM yang melakukan pensadurannya. Lepas dari apa yang menjadi motivasinya (apakah bernilai positif ataukah negatif bagi ketokohan SABDO PALON dan NAYA GENGGONG), saya merasa ini karya tulis sadur dari JANGKA JAYABAYA yang dikombinasikan dengan perasaan terluka sebagian masyarakat Jawa atas pertikaian ISLAM dan HINDU yang terjadi saat itu.

Mari saya tunjukkan LOGIKA nya, SABDO PALON dan NAYA GENGGONG adalah abdi yang dibuat oleh sistem pemerintahan dengan mengutamakan asas kejujuran dan nilai kebenaran semesta guna mendampingi seorang Raja Majapahit. Dimana di dalam wisudanya mereka berjanji akan senantiasa JUJUR dan TEGUH MENYUARAKAN KEBENARAN BAGI RAJA, DAN AKAN MENGABDI SEUMUR HIDUPNYA GUNA KEJAYAAN NUSANTARA. Maka ketika kejadian mereka menegur raja dengan KERAS atas hal-hal yang dianggap melanggar pranata ..... saya masih bisa terima secara logika, tetapi ketika mereka menyumpah serapah semesta raya yang dapat menimbulkan bencana bagi nusantara ..... nah yang ini saya tidak sependapat / tidak bisa saya terima secara logika. Karena jatidiri mereka telah lebih dari sekedar siap untuk berkorban demi sang raja dan nusantara raya, terus kenapa menghancurkannya dengan sumpah atas perjuangan yang mereka bangun dan pengorbanan para SABDO PALON dan NAYA GENGGONG sebelumnya ???

Disinilah saya mengajak anda semua untuk berpikir panjang dan ber-bersih hati guna memahami kebenaran yang sejati. Ketika diceritakan SABDO PALON dan NAYA GENGGONG mengambil jalannya sendiri dan berpisah dengan raja ..... ini juga hal yang tidak cocok dengan konteks sumpah jabatannya. Setelah mengalami proses perenungan dan mengunjungi lokasi petilasan yang ada khususnya di lereng GUNUNG LAWU, SAYA SECARA PRIBADI MEMPUNYAI PENDAPAT, BAHWA SABDO PALON dan NAYA GENGGONG TIDAK PERNAH BERPISAH DENGAN SRI GIRINDRAWARDHANA HINGGA AKHIR HAYATNYA. Banyak jejak kebersamaan para beliau dalam pengungsian di tlatah kekuasaan BHRE MATARAM (sepupu sepuh sang raja), dari PENGGING, PANTAI DI PESISIR SELATAN GUNUNG KIDUL, WONOGIRI, LERENG LAWU dan PUNCAK LAWU. Justru pertimbangan dari SABDO PALON dan NAYA GENGGONG lah yang menurut saya mampu menenangkan sang Raja dari gundahnya pikiran, dan memutuskan menjadi Panembahan di Gunung Lawu.  SABDO PALON dan NAYA GENGGONG juga yang membimbing proses pelepasan ego raja dan mensucikannya menjadi pertapa di sepanjang lereng hingga puncak Lawu.  Kedua tokoh ini justru menjadi kunci bagi sang Raja mencapai pemahaman tertingginya atas kebenaran semesta yang diwedhar di Candi SUKUH dan Candi CETHO, sehingga ketika pencerahan itu terjadi ...... dua abdi ini yang pertama kali menyembah kepada SRI GIRINDRAWARDHANA dengan memanggilnya sebagai PANEMBAHAN AGUNG. (ada baiknya bagi anda yang juga pelaku spiritual untuk menjejaki kembali / napak tilas perjalanan tersebut ..... setelah itu simpulkan sendiri, apakah saat itu SABDO PALON dan NAYA GENGGONG berpisah ataukah masih tetap bersama-sama dengan momongannya).

Demikian hal yang bisa saya sampaikan, menurut pemahaman akal dan budi saya setelah mempelajari adat istiadat WILWATIKTA (Majapahit) dan melakukan napak tilas keberbagai lokasi peninggalan leluhur.  Apabila ada perbedaan pandangan dengan anda sekalian, saya harap tidak mengurangi kesucian niat anda maupun saya dalam berbhakti kepada IBU PERTIWI.  JOYO-JOYO-WIJAYANTI (Menang-Menang-Dan Jadilah Pemenang Selamanya).


DEDDY ENDARTO
10 NOPEMBER 2011
sumber : facebook.com:majapahit-wilwatikta
Read more >>

Pesona Kahyangan di Penanggungan

Gunung Penanggungan pernah dikenal sebagai sepenggal ”kahyangan” di tanah Jawa karena banyaknya situs pemujaan di gunung ini. Namun, berbagai peninggalan sejarah itu diabaikan dan keberadaannya semakin menyusut karena dicuri ataupun rusak karena tergerus waktu.
VR van Romondt, arsitek sekaligus arkeolog Belanda yang pertama kali menelusuri Gunung Penanggungan dalam penelitian tahun 1936, 1937, dan 1940, menemukan 80 situs di Gunung Penanggungan. Namun, saat ini, yang tersisa hanya tinggal 46 situs. Sisanya hilang dicuri, terkubur longsoran, atau tertutup pepohonan.
Guru Besar Arkeologi dari Universitas Indonesia, Prof Agus Aris Munandar, hanya tertunduk hening ketika ditanya soal situs yang ada di Penanggungan. Kepalanya menggeleng-geleng. Dia tak habis pikir dengan kondisi saat ini.
Read more >>

Senin, 26 Maret 2012

Majapahit, Kerajaan Hindu atau Islam? Lihat Faktanya!

Jika kita mendengar kata sejarah, tentunya ingat pelajaran SMP atau SMA zaman kita sekolah yang bikin kita ngantuk.. :D
Tapi jangan beranjak dulu, dibawah ini ada sejarah unik dan ganjil yang merupakan salah satu peninggalan sejarah terbesar Indonesia. Kerajaan Majapahit namanya, sejarah dan Fakta unik apakah itu?
Yuk kita telaah sama-sama:
Seorang sejarawan pernah berujar bahwa sejarah itu adalah versi atau sudut pandang orang yang membuatnya. Versi ini sangat tergantung dengan niat atau motivasisi pembuatnya. Barangkali ini pula yang terjadi dengan Majapahit, sebuah kerajaan maha besar masa lampau yang pernah ada di negara yang kini disebut Indonesia.
peninggalan majapahit, trowulan, candi, kerajaan
Kekuasaannya membentang luas hingga mencakup sebagian besar negara yang kini dikenal sebagai Asia Tenggara. Namun demikian, ada sesuatu yang ‘terasa aneh’ menyangkut kerajaan yang puing-puing peninggalan kebesaran masa lalunya masih dapat ditemukan di kawasan Trowulan – Mojokerto ini.
Sejak memasuki Sekolah Dasar, kita sudah disuguhi pemahaman bahwa Majapahit adalah sebuah kerajaan Hindu terbesar yang pernah ada dalam sejarah masa lalu kepulauan Nusantra yang kini dkenal Indonesia. Inilah sesuatu yang terasa aneh tersebut. Pemahaman sejarah tersebut seakan melupakan beragam bukti arkeologis, sosiologis dan antropologis yang berkaitan dengan Majapahit yang jika dicerna dan dipahami secara ‘jujur ’ akan mengungkapkan fakta yang mengejutkan tentang Majapahit sekaligus juga mematahkan pemahaman yang sudah berkembang selama ini dalam khazanah sejarah masyarakat Nusantara.
Read more >>

Selasa, 20 Maret 2012

Majapahit Adalah (Bukan) Kesultanan Islam


Melihat tulisan di sini, di sini, di sini, dan di situs-situs lain, termasuk dalam forum forum-forum internet, menjadi motif saya untuk menulis tulisan ini sebagai sikap saya atas inti tulisan tersebut yang menyatakan bahwa Majapahit merupakan kerajaan Islam di Indonesia yang bernama Kesultanan Majapahit.
Saya akan mengulas hal-hal yang dijadikan dasar oleh pihak yang menyatakan Majapahit merupakan kerajaan Islam.
Pertama,  mengenai ditemukan atau adanya koin-koin emas Majapahit yang bertuliskan kata-kata ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’
Koin Dengan Lafaz Kalimat Tauhid
Ulasan saya:
Read more >>

MENCARI JEJAK ISLAM MASA SILAM DI TROWULAN


Perjalanan “Roadshow Peradaban Islam”, yang penulis (Susiyanto) jalani mendampingi DR. Adian Husaini, MA merupakan bagian darh rangkaian dakwah dalam memberikan informasi secara luas terhadap masyarakat Islam terkait dengan paham-paham menyimpang dari Barat. Perjalanan tersebut dimulai pada 29 April dan rencananya akan berlangsung hingga 9 Mei 2009. Dalam Roadshow ini turut mendampingi beliau adalah penulis (Susiyanto), M. Muslih (bagian dokumentasi), dan Pak Muslim (driver). Sebenarnya roadshow ini merupakan rangkaian dari kegiatan tasyakuran dan orasi ilmiah atas diraihnya program Doktor oleh Dr. Adian Husaini, MA dari International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) di Malaysia. Dalam roadshow ini kami telah mengunjungi sejumlah kota di Pulau Jawa. Mulai dari Ponorogo, Surakarta, Yogyakarta, Surabaya, Jember, Malang. Gresik, Semarang, dan selanjutnya Bandung.
Di sela-sela perjalanan dakwah, kami menyempatkan diri mengunjungi situs-situs bersejarah. Salah satunya adalah wilayah Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur yang menyimpan sejumlah peninggalan yang diindikasikan sebagai warisan Majapahit dan Islam. Tepat pada  6 Mei 2009 sekitar pukul 10.00 WIB kami tiba di situs Candi Wringin Lawang. Situs yang kami kunjungi selanjutnya adalah Museum Trowulan yang berfungsi sebagai Pusat Informasi Majapahit dan makam Tralaya. Tulisan ini akan mengungkapkan perjalanan yang kami lakukan terkhusus dalam penelusuran jejak Majapahit tersebut.
Read more >>

Kamis, 08 Maret 2012

Guru Sertifikasi Gigit Jari

Judul di atas terkesan miris didengar, baik oleh telinga yang normal maupun sedikit ada ganguan. Saya tulis demikian memang realita lapangan sudah membuktikan. Tidak sedikit sudah yang harus gigit jari bahkan nagis darah. padahal harapan yang ada sudah sedemikian tinggi, sudah bilang ke tetangga-tentangga, sudah bancaan segala (walaupun dana hutang.) Hutang dan kreditan perabot rumah juga sedemikian menumpuk. Dari koperasi Pergu, BRI, BPD sampaim BCA (bang Cuilan Awan) semua dihutangi. Harapan tinggal harapan apalah yang terjadi. mereka harus gigit jari.
Banyak yang menyalahkan institusi merek,. dari Kemenag, Dinas Pendidikan, Bupati dan Walikota bahkan juga DPR yang terhormat yang hanya mikir perut sendiri, nglencer sana sini.
"kemana uangnya ?".
"jangan - jangan dimakan..."
"jangan - jangan dibungakan..."
dan lain sebagainya. masih banyak lagi kalimat lain yang lebih keras dan tegas disuarakan.
di beberapa tempat juga terjadi hal yang tidak diinginkan, terjadi perdebatan sengit antara pejabat instansi dengan guru yang tersetifikasi yang TPPnya tidak juga dicairkan. Bahkan dari perdebatan tersebut akan berujung dengan perdebatan fisik (berkelahi). hmmm....bagaimana nih pak Guru ?
Seorang teman dari Sidoarjo inbox ke FB saya tentang hal ini. Dia curiga ada sesuatu yang sengaja dilakukan oleh oknum tertentu untuk mendapatkan keuntungan dari ngendonnya dana TPP. Kecurigaan yang beralasan, dan harus dijawab.
Di media massa lebih ramai lagi, wartawan berkeliaran di instansi pendidikan. Dari yang beneran sampai bodrek beterbangan  semua. Tujuannya cuma satu, kroscek kebenaran berita ini.
Baiklah saudara semua...jangan emosi dulu....kita cari benang merahnya dimana. Kalau ada yang salah, salahnya dimana. kalau ada yang perlu diluruskan, bagaimana cara meluruskannya dan siapa yang berhak untuk meluruskannya.
Begini saudara, Pihak Keuangan atau Bendahara Bayar dalam mencairkan dananya senantiasa berpatokan pada payung hukum yang ada. jika dia tidak berpatokan pada payung hukum, alamat dana yang dicaiorkan tidak akan mungkin dapat keluar. Kemungkinan kedua adalah dana keluar, tetapi ketika ada audit dari yang berwenang (semacam inspektorat, BPKP dan BPK) maka dana tersebut harus dikembalikan. dari sinilah bendahara tidak mau sembarangan. demikian juga kantor KPKN sama halnya. simpulannya patokan hukumnya apa ?
Untuk kasus sertifikasi tahun 2010, dan sebagian dari sertifikasi 2009 yang dananya tidak mau ngucur, sebetulnya permasalahannya terletak dengan adanya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 101/PMK.05/2010. yang baru yang mengatur tentang Tata Cara Pembayaran TPP baik bagi guru maupun dosen yang tersertifikasi. di sana disebutkan bahwa tunjangan akan diberikan ,u>jika sertifikat pendidik kita sudah keluar plus NRG sejak januari tahun berikutnya. lah kan ?yang saya garis bawahi itulah pangkal masalah pencairan TPP. Logikanya begini : " jika kita lulusa tahun 2010, maka sertidikat akan keluar bulan Januari 2011. sedangkan NRG kira2 6 bulan berikutnya karena ngurusnya ribet ke jakarta. Agustus kira2. dan untuk bulan Januari tahun berikutnya kan Januari 2012. so, hak kita sebagi guru akan dibayar per Januari 2012. lama banget.
Simpulan : jadi permasalahan terletak di sini. kita akan dapat Januari tahun berikutnya jika NRG sudah keluar. lama memang, tapi sabar saja.
Saran : Untuk Guru, Pengampu Pendidikan, PGRI dan organisasi kehguruan lainnya biar tidak klaim sertifikasi adalah jasanya saya sarankan untuk  melakukan gugatan ke MK untuk melakukan uji material PMK ini. siapa tahu bisa batal demi hukum dan dicairkan sebagimana tahun2 sebelumnya. amin
Read more >>