Sabtu, 29 Desember 2012

Sekali Lagi, Hukum Mengucap “Selamat Natal”

SETIAP datang saat Natal (dan Tahun Baru Masehi) kerap kali muncul perdebatan seputar boleh-tidaknya mengucapkan “Selamat Natal”. Sebagian mengharamkan, sebagian membolehkan. Namun akhir-akhir ini, suara kalangan yang membolehkan semakin kencang. Jusuf Kalla membolehkan ucapan itu, Shalahuddin Wahid membolehkan juga, Menteri Agama Suryadarma Ali membolehkan, Fahri Hamzah (anggota DPR PKS) juga membolehkan, Ketua PP Muhammadiyah membolehkan.
Untuk melegitimasi pembolehan ucapan “Selamat Natal” ini, banyak pihak bersandar pada fatwa Dr. Yusuf Al Qaradhawi, fatwa Dewan Ulama Al Azhar, fatwa Dewan Ulama Palestina, hingga fatwa pemimpin Ikhwanul Muslimin dan Presiden Mursi di Mesir. Rata-rata semua fatwa ini berporos pada ayat Al Qur’an:
وَإِذَا حُيِّيْتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّواْ بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيباً
“Jika mereka memberikan ucapan selamat kepada kalian, maka balaslah dengan ucapan yang lebih baik, atau yang semisalnya; sesungguhnya Allah atas segala sesuatu Maha Memperhitungkan.” [Surat An Nisaa’: 86].
Hal demikian ini tentu sangat membuat bingung kaum Muslimin di Indonesia, yang sekian lama mengacu kepada fatwa MUI tentang haramnya mengucapkan “Selamat Natal”. Mereka pun bertanya-tanya: mana yang benar, diharamkan atau dibolehkan? Demi meluruskan persepsi keliru seputar ucapan “Selamat Natal” ini, berikut kami haturkan beberapa catatan penting.
[1]. Sekitar tahun 80-an Buya Hamka rahimahullah, sebagai Ketua MUI, telah menetapkan fatwa haramnya ucapan Natal. Fatwa itu terus menjadi pegangan MUI, sampai saat ini. Ketika itu Buya Hamka ditekan oleh pemerintah Soeharto, terkait dengan fatwanya. Namun beliau bersikukuh, tidak mau mundur dari fatwanya; namun beliau mau mundur sebagai Ketua MUI, sebagai bukti sikap konsisten-nya dalam mempertahankan fatwa haram ucapan “Selamat Natal”.
[2]. Di dunia Islam modern, ada sebagian ulama yang membolehkan ucapan “Selamat Natal”, seperti Syaikh Dr. Yusuf Al Qaradhawi. Beliau mendasarkan fatwanya dengan pertimbangan berbuat baik kepada orang lain, termasuk Ahlul Kitab (Kristiani-Yahudi). Beliau berdalil dengan ayat Al Qur’an: “Allah tidak melarang kalian berbuat baik dan berbuat adil kepada orang-orang yang tidak memerangi kalian karena agama dan tidak mengusir kalian dari kampung halaman kalian, karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat adil. Bahwasanya Allah hanya melarang kalian loyal  kepada orang-orang yang memerangi kalian karena agama dan mengusir kalian dari kampung halaman kalian,  dan mereka mengusir kalian dengan terang-terangan, maka siapa yang loyal kepadanya,  mereka itulah orang-orang yang zhalim.” (Surat Al Mumtahanah). Sementara Dewan Fatwa Al Azhar memilih sikap pertengahan, yaitu membolehkan mengucap “Selamat Natal” dengan syarat-syarat ketat (6 syarat). Intinya, mengucap selamat tanpa membenarkan agama dan akidah mereka, juga tanpa ikut terlibat dalam ritual agama mereka.
[3]. Dalam salah satu pertimbangan fatwanya, Dewan Ulama Al Azhar berdalih, bahwa tidak ada larangan qath’iy dalam Syariat yang menetapkan haramnya ucapan “Selamat Natal”. Tetapi alasan ini bisa dibantah oleh riwayat yang dibawakan oleh Dewan Fatwa ini sendiri, bahwa Nabi Saw bersabda: “Sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya, maka ini adalah hari raya kita (Idul Fithri dan Idul Adha).” (HR. Bukhari). Jika merujuk hadits ini, maka setiap kaum memiliki hari raya masing-masing. Termasuk Ahlul Kitab (Nashrani-Yahudi) berarti memiliki hari raya juga. Berarti di zaman Rasulullah Saw, mereka sudah memiliki hari raya juga. Lalu pertanyaannya, apakah Nabi Saw, para Khulafaur Rasyidin, serta Ijma’ para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum; apakah mereka di masa hidupnya pernah mengucapkan “Selamat Natal”? Atau katakanlah, apa mereka pernah mengucapkan, “Selamat Hari Raya Ahli Kitab”? Kenyataannya, tidak ada contoh perbuatan seperti itu di masa Nabi Saw dan Khulafaur Rasyidin. Jadi, andaikan ada yang membolehkan ucapan “Selamat Natal” itu, ia adalah perbuatan baru dalam Syariat; atau unsur luar agama yang hendak diislamisasikan. Nas’alullah al ‘afiyah.
[4]. Kita mesti ingat, bahwa asal-usul perayaan Natal, bukan berasal dari ajaran Injil atau Taurat. Ia adalah perayaan yang muncul kemudian, dan menurut sebagian pendapat, momen 25 Desember itu dikaitkan dengan hari lahir “Dewa Matahari”. Perayaan Natal ini semacam kompromi antara basis agama Nashrani yang berasal dari risalah Samawi dengan paganisme Romawi.
[5]. Kalau kita sepakat membolehkan atau menghalalkan ucapan “Selamat Natal”, maka hal ini merupakan kemenangan besar bagi SYIAR agama Kristiani. Mereka akan merasa memiliki kesejajaran dengan kaum Muslimin dalam syiar keagamaan. Dr. Yusuf Al Qaradhawi menolak pendapat Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Al Iqtidha, bahwa ucapan “Selamat Natal” tidak ada kaitannya dengan perasaan ridha terhadap akidah orang kafir; ucapan Selamat Natal di satu lembah, perasaan ridha di lembah yang lain, keduanya tidak dapat dicampur-adukkan (kata Al Qaradhawi). Tanggapannya: bagi ulama yang bersih hatinya dan kuat imannya, mungkin ucapan “Selamat Natal” itu tak akan menodai keimanannya; tapi bagaimana dengan orang awam dari kalangan Muslimin? Siapa bisa menjamin bahwa mereka tak akan terjerumus lebih jauh lantaran telah dibukanya pintu-pintu menuju pengakuan terhadap kebenaran agama lain itu?
[6]. Jika kita membolehkan ucapan “Selamat Natal”, berarti kita akan membolehkan juga ucapan-ucapan selamat yang lain yang berkaitan dengan hari-hari raya orang Kristiani dan Yahudi itu? Misalnya, kita harus juga mengucapkan “Selamat Paskah”, “Selamat Misa Kudus”, “Selamat Barnispah” (hari raya Yahudi), dan lainnya. Bahkan hal ini bisa berkembang lebih jauh, menjadi “Selamat Hari Raya Nyepi”, “Selamat Hari Raya Galungan”, “Selamat Imlek”, “Selamat Hari Raya Komunis”, dan seterusnya. Toh, pertimbangannya, mereka tidak selalu memerangi kaum Muslimin secara agama dan mengusir kaum Muslimin dari kampung halaman. Jika demikian cara berpikirnya, ya hancur agama ini. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah.
[7]. Andaikan kita tidak mengucap “Selamat Natal” bukan berarti kita menutup pintu-pintu perbuatan baik kepada Kristiani-Yahudi. Tidak demikian. Kita boleh sopan-santun dan ramah kepada mereka; kita boleh bertetangga dan bergaul dengan mereka; kita boleh menghormati ibadah dan ritual mereka; kita boleh muamalah dengan mereka; kita boleh saling bantu-membantu dan kerjasama dalam menghadapi tantangan bersama, dan lain-lain. Hanya karena Anda tidak mengucapkan “Selamat Natal”; tidak akan membuat Anda kehilangan kesempatan untuk berbuat baik kepada mereka. Apalagi, kalau alasan ucapan “Selamat Natal” itu sebatas basa-basi belaka. Sudah basa-basi, melanggar prinsip akidah, dan tidak ada madharatnya kalau kita tidak mengucap “Selamat Natal”. Coba sebutkan hujjah kepada kita, apakah dengan tidak mengucap “Selamat Natal”, lalu kita tidak bisa berbuat baik kepada kaum Kristiani dan Yahudi? Sebutkan hujjah-mu, wahai manusia berakal.
[8]. Kalau Anda harus menjelaskan, mengapa tidak mengucapkan “Selamat Natal”. Katakan saja dengan baik dan santun: “Maaf, urusan ucapan selamat Natal ini dalam agama kami termasuk perkara ibadah. Kami dilarang mengucapkan demikian. Kalau Anda merasa keberatan dengan sikap kami, silakan Anda tidak mengucapkan selamat hari raya kepada kami. Atau kalau Anda tidak keberatan, ketahuilah bahwa di luar urusan ucapan selamat ini, masih banyak kesempatan bagi kita untuk saling berbuat baik. Terimakasih atas pengertian Anda.” Ucapkan kata-kata demikian.
[9]. Setidaknya, menurut MUI di Indonesia, ucapan “Selamat Natal” itu haram diucapkan. Bisa jadi fatwa yang berlaku di Indonesia berbeda dengan di negeri lain. Hal itu karena alasan historis, sosiologis, budaya, dan sebagainya. Tentu MUI sudah memperhitungkan segala macam konsiderans (pertimbangan), sebelum menyatakan haramnya ucapan “Selamat Natal”. Kalau di negeri Syaikh Al Qaradhawi atau di Mesir, disana diperbolehkan ucapan “Selamat Natal”, mungkin itu terkait dengan kondisi mereka. Sedangkan keadaan di Indonesia, terutama terkait dengan missi-missi Kristenisasi, sangat berbeda dengan di negara lain.
[10]. Jika mengucap “Selamat Natal” itu dianggap syubhat, yang belum jelas halal-haramnya; maka dalam menyikapi syubhat, lebih baik kita meninggalkannya, agar tidak terjerumus ke dalam perkara haram. Kaidahnya: “Da’ maa yuribuka ila ma laa yuribuk” (tinggalkan apa yang meragukanmu, berpindahlah ke yang tidak meragukanmu).
Dan akhirnya kita tutup kajian ringkas ini dengan meneguhkan satu pendapat kuat di kalangan Salafus Shalih, bahwa Nabi Saw, para Khulafaur Rasyidin, menurut Ijma’ para Shahabat, menurut Ijma’ empat Imam Madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali); bahwa tak satu pun dari mereka yang pernah mengucapkan “Selamat Natal” atau “Selamat Hari Raya Yahudi-Nashrani”. Jika Nabi dan para Shahabat tidak pernah melakukan perbuatan itu, lalu apa artinya pendapat ulama-ulama yang membolehkan itu? Apakah mereka menjadi sumber Syariat, selain Nabi Saw?
Ingat sebuah riwayat ketika Nabi Saw berjalan di perkampungan kaum Yahudi, lalu mendapati mereka sedang berpuasa. Lalu beliau bertanya, “Ini hari apa? Mengapa mereka berpuasa?” Lalu dijawab, saat itu adalah hari 10 Muharram (Asyura), kaum Yahudi sedang merayakan hari terbebasnya Musa ‘As dan kaumnya dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya. Maka Nabi menegaskan, bahwa beliau lebih berhak mewarisi sejarah Musa daripada kaum Yahudi. Atas peristiwa itu, lalu Nabi Saw mulai mensunnahkan puasa Sunnah Asyura. Agar berbeda dengan Yahudi, beliau tambahkan puasanya menjadi Tasu’a Asyura (puasa tanggal 9 dan 10 Muharram). Ini berarti, andaikan kaum Nabi Musa dan Nabi Isa memiliki hari raya yang haq di sisi Allah, maka ummat Islam lebih berhak mewarisi hari raya itu dengan amal-amal kebaikan, bukan mereka.
Semoga kajian sederhana ini bermanfaat. Amin Allahumma amin.
AM. Waskito adalah  penulus buku "Bersikap Adil Kepada Wahabi"


Sumber : Hidayatullah
Read more >>

Ucapan Selamat Natal : Saya Yakin Hukumnya Tetap Haram

Ini keyakinan saya pribadi. Bagi yang berkeyakinan lain saya tetap menghargai. Saya tidak perlu menjabarkan tentang dali-dalilnya panjang lebar. Yang jelas memang tidak pernah dituntunkan junjungan saya Nabi Muhammad SAW. Nabi tidak pernah mengucapkan selamat pada perayaan agama lain. Saya bukan orang yang mau nglangkahi kanjeng Nabi dengan membuat tradisi baru yang tidak pernah beliau buat. Jadi saya cari aman saja dalam beragama dengan tidak perlu mengucapkan selamat kepada perayaan agama lain termasuk di dalamnya natal.
Apakah emnang saya tidak mempunyai teman yang memiliki agama berbeda ? Saya punya dan memang banyak dan saya tetap tidak mengucapkan selamat.
Terus dimana toleransi saya ? saya menunjukkan toleransi cukup dengan menghargai keyakinan mereka, memberikan ruang bagi mereka untuk beribadah. Saya tidak mengganggu mereka.
Bukankah dengan tidak mengucapkan selamat berarti saya tidak toleran ? Siapa bilang
Bukankah teman lain mengucapkan selamat idul fitri ketika kita lebaran ? benar
Mengapa kita tidak ? Itu hak dia, dan dia tidak boleh menuntut yang serupa kepada saya. Kalau saya dituntut ya maaf dulu.
dldldld
Read more >>

Peringatan Hari Ibu, Aneh

Jaman sekarang ini serba aneh. Semuanya dibuatkan hari tersendiri khusus untuk kegiatan peringatan saja. Bisa jadi satu tahun kelender akan ada peringatan ini peringatan itu. Sehingga setahun pul dengan peringatan saja. dan usulan hari ini hari itu ada baiknya untuk mencari tanggal lowong yang belum digunakan untuk peringatan tertentu. Khawatirnya nanti kalau sudah ditentukan tanggalnya akan bentrok dengan tanggal lainnya yang telah digunakan untuk peringatan tertentu.
Berbicara tentang peringatan, bebrapa hari yang lalu ada sebuah peringatan khusus untuk ibu. Maaf, untuk bapak memang belum ditentukan tanggalnya. Khusus ibu tanggal 22 Desember diperingati sebagai hari ibu. Saat itu dapat saya prediksi sebelumnya dan saya yakin status update facebook atau twitter akan banyak membahas masalah ibu. Jika sebelumnya isinya galau-galau meluluh sekarang tentang IBU. Ucapan terima kasih plus puja dan sanjung dialamatkan pada ibu hari ini.
Kegiatan pun dibuat. Muali dari memasak khusus untuk ibu yang dilakukan anak dan bapak. hari ini ibu break semua dan dimanjakan seperti ratu. Merias ibu sampai membasuh kaki ibu. Luara biasa sekali. Ibu memang jasamu tiada tara.
Namun anehnya, memperingati jasa dan kebaikan ibu kok cuma setahun sekali. Sebelumnya kemana ya ?
Read more >>

Rabu, 26 Desember 2012

Kenangan IMM Sidorajo : Celana Sobek

Perjalanan Refreshing sampailah jua di Balekampang. Sebuah Pantai yang eksotis di selatan Malang. Pasirnya lumayan putih. Pepohonan masih lebat di pinggir pantai. Karangnya juga masih bagus ketika air surut akan terlihat jelas. Ombaknya sungguh besar dan luar biasa. Pemandangan menarik dapat kita saksikan di sana. Salah satunya adalah adanya sebuah pura di atas batu karang. Untuk mencapai ke sana kita bisa meniti jembatan yang sudah tersedia. Dari sana pemandangan pantai lepas dapat kita saksikan dari posisi yang lebih tinggi.
Bagusnya panorama ternyata kurang didukung dengan pengelolahan yang bagus. Padahal kalau mau jujur, pesona pantai Balekambang jika dikelolah dengan baik maka akan mendatangkan profit yang luar biasa.
Kembali ke tema celana sobek. Layaknya anak muda kami sangat bersuka cita dengan refreshing ini. Mandi di pantai. Lari sana lari sini. Bermain air dan juga bermain pasir. Bosan dengan itu semua kami main bola. Kemudian mandi lagi dan juga mencari ikan. Memang tidak ditemukan ikan disana. Keong pun tak kami temukan.
Saat mandi itulah ternyata ada kejadian aneh yang tidak kami ketahui sebabnya. Kami tau sebabnya ketika kami semua mentas dari air. Shobah enggan keluar dari air dan hanya tertawa nyengir. Kemudian dia berjalan dengan posisi tetap duduk seolah dia tidak memiliki kaki. Sikap anehnya membuat kami semua bingung. Kebetulan di sana hanya kami semua lelaki.
Ketika ditanya mengapa ba ? dia hanya geleng-geleng kepala kemudian membuka bajunya. Baju yang terbuka itu kemudian dililitkan ke pinggangnya. Sambil berjalan kami bertanya kepadanya. Ternyata dia celananya sobek tersangkut karang saat mandi di pantai tadi dan dia ternyata juga tidak memakai celana dalam. Wkwkwkwkwkwk....pantesan bersikap aneh. Lebih para lagi saat itu Shobah tidak membawa ganti. Waduh bagaimana ini....
Saat itu kebetulan saya hanya membawa ganti untuk saya sendiri dan selembar sarung untuk sholat. Saat saya tawarkan mau tidak hanya memakai sarung saja untuk menutup tubuh dia jawab mau. Jadilah dia sarungan saja saat pulang ke Sidoarjo plus memakai jaket.
Kena batunya juga. Sudah jatuh tertimpa pohon lagi
Read more >>

Kenangan IMM Sidoarjo : Orang yang Mengolok Suatu Saat Akan Kena Batunya

Rekreasi IMM ke Balekambang adalah kenangan yang tak terlupakan. Saat itu si mbahku meninggal dan saya tidak tahu. Tahunya ketika pulang. Maklum teknologi tidak sepesat sekaang. Saat tu (tahu 2000) dapat saya pastikan belum ada kader yang memiliki HP. Jadi saya tidak dapat ditemukan saat si mbah meninggal.
Tetapi tidak hanya itu saja. Saat itu perjalanan dengan menggunakan truk tentara memaksa kami duduk menyamping. Sisi kosong tengah yang seharusnya dapat digunakan untuk nyantai terpaksa tetap diisi karena pesertanya banyak. Jadinya kami berdesakan. Karena posisi menyamping maka ada saja di antara kami yang tidak kuat. Yang selalu mabuk perjalanan darat sudah dipastikan muntah-muntah. Ada kader immawati yang kala itu masuk angin dan terpaksa kami beri pertolongan seadanya.
Shobbah atau Muhammad Fathus Shobah mencoba mencairkan suasana dengan bersikap latah. Dia pura-pura masuk angin dan muntah-muntah. Huekkkkkk.....huekkkk...... berulang kali dia lakukan. Yang merasa jijikan sangat tersiksa dengan suasana itu. Yang marah pastilah banyak. Yang merasa gembira justru lebih banyak lagi. Dan Shobbah terus saja melanjutkan aksinya. Hueekkkkkk....
Perjalanan tak terasa sampailah juga keluar meninggalkan Kota Malang dan terus mengarah ke selatan. Perjalanan sudah hampir sampai. Ketika hampir sampai itulah medannya semakin menantang. Jalan berkelak kelok dan anik turun. Kami semua berdebar dan hati cemas kuatir terjadi sesuatu. Saat jalan yang berilku inilah ternyata ada yang tidak kuat dan mabuk darat. Selidik punya selidik ternyata Shobbah yang mabu darat.
Oalah...Habis Ngolok-ngolok kan malah dia sendiri yang sekarang muntah-muntah...Hehhehe
Rasakno.....
Read more >>

Kenangan IMM Sidoarjo : Promotor Poligami

DI antara orang-orang yang sering membantu kegiatan IMM Sidaorjo dan merelakan kendaraannya untuk digunakan IMM adalah S****d. S****d adalah adik seorang dosen UMSIDA. Sa****d sangat antusias dengan kegiatan IMM. Ketika kegiatan IMM S****d rela mobilnya yang mirip Blazzer digunakan untuk transportasi teman-teman kader ke sana. Mobil itu sendiri di kemudikaan kalau tidak Handoko ya Nunuk. Bahkan seringkali bensinnya dapat gratisan karena S****d sering mendapatkan voucer bensin gratis dari anggota dewan.
S****d adalah pengusaha jamu. Dia mempunyai toko jamu kecil di sebelah utara Masjid Jasem. Toko itu dijaga oleh dua pramusaji yang salah seorang diantaranya Cicik yang kemudian disunting oleh Fatkhan seorang kader IMM dari desa Durungbedug Candi.
Disamping itu S****d juga mempunyai usaha olahan jamu botol dengan merk purbasalma. Usahanya ini ada di rumah istrinya di Durungbanjar, Mbak Ning. Mbak Ning adalah istri ke dua. Sebelumnya dia adalah karyawan di toko jamu S****d. Karena tertarik S****d kemudian menikahinya secara sirri. Sedangkan Istri pertamanya adalah orang Sidoarjo kota. Dia tidak serumah lagi dengan S****d karena S****d memadunya. Istri pertama ini meminta cerai daripada dimadu.
S****d sering ke kampus untuk sholat di Masjid An Nur. Melihat peluang bisnis di kampus cukup menjanjikan S****d menyewa koperasi masjid yang telah lama menganggur. Jadilah koperasi itu menjadi toko S****d yang menjual makanan ringan dan juga minuman disamping foto kopi. S****d bekerja sama dengan Joko.
Selama bergaul dengan S****d adalah tema favorit yang selalu dia bahas dimanapun dan dengan siapapun dia berbicara. Tema itu tak lain adalah poligami. Menurutnya sunnah poligami adalah sunnah yang baik dan sepatutnya dilakukan lelaki muslim. Karenanya dia mencontohkan sunnah itu dengan berpoligami. Kepada setiap orang dia menyeruhkan hal ini. Jamaah masjid, mahasiswa dan mahasiswi juga demikian. Selalu  poligami bahasannya. Pikiran saya kayak tidak ada saja sunnah nabi yang lain selain poligami. Jangan-jangan dia maniak seks. Hehehe..
Biarlah itu hak dia untuk promo masalah poligami. Tetapi jujur saja kadang telinga  ini jengah juga mendengar bahasan poligami terus. Banyak juga mahasiswa dan terutama mahasiswi lari terbirit-birit mendengar bahasan ini. Dalam hati kenal tidak ngajak bahas poligami. Entar jangan-jangan diajak kawin lari...
Ada seorang mahasiswi yang nampaknya memikat hati S****d. Namanya Sumarmi atau bekennya Irma. Suaranya merdu dan bisa qiroat. Dalam beberapa kegiatanan dialah pelantun ayat suci kami. Nampaknya S****d melancarkan aksi. Pendekatan dilakukannya. Kayaknya gagal. Kasihan. Dan lebih kasihan lagi kalau yang perempuan termakan gombalnya dengan dasar sunnah itu.
Ahhh...berusaha nyunnah sebagaimana Nabi kok dipilih yang enak saja. Coba dia mau poligami nyontoh Nabi. cari janda yang tua anaknya banyak melarat lagi. Masih mau nggak dia Poligami.
Read more >>

Kenangan IMM Sidoarjo : Rekreasi ke Balekambang Naik Buku

IMM Sidoarjo di jaman kami adalah IMM yang miskin. Miskin karena kami lumayan miskin. Miskin karena kami tidak dapat jadup dari kampus. Berbeda dengan saat ini, sepengetahuan saya IMM di kampus Muhammadiyah sudah cukup diopeni. Anggaran kegiatan dan tahunan sudah ada. Kalaupun kurang mungkin cukup mencari ke beberapa orang saja yang dipandang sebagai gudang uang. Karena saking miskinnya ini kami dituntut kreatif dalam menghasilkan pundi-pundi rupiah. Sepeser rupiah bagi kami akan sangat menunjang kegiatan organisasi. Di samping itu sebagai mahasiswa kami mencoba untuk mengembangkan jiwa kewirausahaan di lingkungan kami sendiri.
Salah satu yang kami tempuh adalah jualan buku. Untuk jualan buku mustahil bagi kami kulakan sendiri dan dijual kembali. Salah satu jalan ya kami jual jasa saja untuk mendapatkan rupiah. Kebetulan saya mempunyai satu rekan yang terlibat dalam dunia perbukuan. Saat itu dia masih ikut sama orang lain dan sering mengadakan pameran buku di beberapa tempat. Ketika saya calling dianya OK. Jadilah kami ambil buku dari dia untuk mengadakan pameran di kampus UMSIDA.
Pameran yang kami lakukan tak lebih dari dua minggu. Dengan duarasi dua minggu kami sudah optimis mampu mencapai target yang kami tentukan. Dari pihak temen juga mensyaratkan untuk diadakan selama dua minggu saja. Lebih dari itu tidak boleh.
Dan syukurlah selama dua minggu itu kami mendapatkan hasil yang cukup memuaskan. Saat itu tidak sampai lima ratus ribu. Uang sekitar itu saat ini mungkin tidak berarti. Namun pada saat itu uang sebesar itu sudah sangat besar nilainya.
Sesuai kesepakatan uang tersebut karena milik bersama maka akan kami gunakan bersama-sama. Ada usul menarik dari teman-teman, karena bosan dengan kegiatan-kegiatan yang serius=serius maka bagaimana kalau digunakan untuk refresing. Memang dana sebesar itu tidak akan cukup jika digunakan untuk rekreasi ke tempat yang jauh. Ke temapat yang dekat saja tidak akan cukup untuk menyewa kendaraan. Maka demi mengirit anggaran dan rasa kebersamaan semua kader kami sepakat refreshing dengan kendaraat darurat. Kami menyewa truk Angkatan Laut  (AL).
Jadilah kami berangkat ke Pantai Balekambang malang dengan menyewa truk tentara. Karena dana masih saja kurang kami sepakat untuk iuran sebesar lima ribu rupiah. Lumayan lah refreshing meskipun hanya dengan truk tentara. Yang penting rasa kebersamaan tetap terjalin antara kita semua.
Jadilah kami ke Rekreasi ke Balekambang naik buku
Read more >>

Kenangan IMM Sidoarjo : Dakwah Terpadu, Kambing pun Ngompol di Pangkuanku

Dakwah terpadu masih saja menyisakan pengalaman dan sekaligus kenangan bagi kami semua kader ikatan. Kegiatan yang dihelat setiap bertepatan dengan idul adha ini memang dijadikan sarana untuk melatih diri dalam berdakwah. Walaupun kami belum bisa berdakwah bil lisan, namun dengan dakwah terpadu kami dapat melakukan dakwah bil hal. Dakwah bil hal ternyata sama sulitnya dengan dakwah bil lisan. Sebagaimana dakwah terpadu sebelumnya. Kami semua tetap harus bahu membahu mencari donatur yang sedia untuk menyumbangkan hewan kurbannya kepada IMM. Sering kali kami bertamu person by person untuk melobi. Mengirim proposal ke instansi dan juga amal usaha. Jatah rutin kami juga dapatkan dari Departemen Agama Sidoarjo meski hanya berupa seekor kambing. Tetapi bagi kami itu merupakan pemberian yang luar biasa.
Pernah kami mengajukan ke Yayasan Nurul Azhar Porong pimpinan Ust. H. Abd. Rachim Noer. Kami dijanjikan mendapat dua ekor kambing dari yayasan tersebut oleh beliau. H-1 kami meluncur ke Porong. Kala itu Porong belum seperti  saat ini dan Ustadz Abd. Rachim masih hidup. Sesampainya ke Porong kami ditemui oleh Pak Machmud salah seorang pengurus yayasan dan juga PC Muhammadiyah Porong. Kami diajak langsung ke TKP mengambil kambing di kandangnya. Kami mengambilnya di Dusun Reno Kenongo yang saat ini sudah terendam lumpur dan hilang dari peta wilayah Porong. Sesampainya di kandang kami langsung ditunjukkan kambing yang harus kami bawah. Ada dua ekor kambing yang ditunjuk dan langsung kami tuntun keluar. Kami kaget, loh kok kambing seekornya betina. Saya diam saja. Sudah diberi saja alhamdulillah. Sudah tidak usah banyak komentar. Hehehe....
Perjalanan kami lanjutkan. Kali ini kami mengendarai dua motor berboncengan. Kambing-kambing itu kami ikat dan kami pangku untuk memudahkan membawanya. Saya kebetulan bawah yang jantang. Teman yang lain bawah yang betina. Saya lupa siapa saja mereka. Yang saya ingat saya sama Wendik. Perjalanan lancar-lancara saja. Memang dalam kilometer tertentu kami harus berhenti dan break untuk istirahat. Di samping itu kami harus membetulkan posisi kambing yang sering berontak. Mungkin si kambing juga ingin duduk dengan posisi yang enak.
Sesampainya di Krembung kok terasa hangat di paha saya. Wah......semakin lama semakin hangat dan banjir. Saya tidak tenang. Saya minta wendik berhenti, untuk memastikan keadaan. Dan ternyata si Kambing ngompol di pangkuanku. Walah walah ngompol kok gak bilang-bilang.
DASAR WEDUS.......
Read more >>

Kenangan IMM Sidoarjo : Dakwah Terpadu dan Durian Palsu

Dakwah terpadu adalah agenda rutin IMM Sidoarjo sebagai wujud nyata tri kompetensi dasar kader yaitu relegiusitas dan humanitas. Kegiatan dakwah terpadu selalu dibarengkan dengan pelaksanaan Idul Adha. Dalam kegiatan itu, di samping dilaksanakan sholat Ied berjamaah juga dilangsungkan penyembelihan hewan kurban. Tempat pelaksanaan dakwah terpadu dicarikan lokasi dimana Muhammadiyah di sana masih minus dan diharapkan turut mendongkrak dakwah Muhammadiyah dan penerimaan masyarakat terhadap dakwah Muhammadiyah. Dalam bahasa saya yang kasar “masio ora arep Muhammadiyah, aku yakin mesti arep daging teko Muhammadiyah” (Meskipun tidak mau sama Muhammadiyah, saya yakin masih mau kalau dikasih daging dari Muhammadiyah)
Dalam dakwah terpadu yang dilangsungkan juga penyembelihan hewan kurban sudah barang tentu IMM membawa sendiri hewan kurban tersebut baik berupa sapi mapun kambing. Sudah barang tentu semua hewan kurban itu adalah hasil pembelian kader. Sebagian besar adalah sumbangan dari para bapak Muhammadiyah dan amal usaha.Selain itu juga berasal dari masyarakat yang turut bersimpati terhadap kegiatan ini. Dalam melaksanakan kegiatan ini kami bahu membahu mencarinya. Dengan susah payah akhirnya kami dapat juga hewan tersebut. Paling sering kami mengambilnya sendiri ke rumah-rumah, mushollah,masjid atau ke amal usaha Muhammadiyah. Meski demikian kamisemua merasa puas karena turut terjun dalam lapangan dakwah Muhammadiyah walaupun mungkin nilainya kecil.
Dalam kegiatan berburuh hewan kurban tersebut kami sering mengambilnya sampai larut malam takbiran. Kendaraan yang kami pakai seadanya. Saat itu motor termasuk kendaraan yang mahal apalagi mobil Tidak banyak kader yang punya motor. Saya sendiri tidak punya. Mobil juga demikian sudah menjadi kendaraan yang super mahal bagi kami yang notebene mahasiswa berkantong tipis. Namun demikian ada juga beberapa kader yang dengan ikhlas menyumbangkan kendaraannya baik mobil atau motor untuk kegiatan ini termasuk mengangkut kader dan juga hewan kurban, Salah satunya Adi Susanto. Seorang kader dari Buduran.
Perjalanan kami saat itu ke Waru dekat termainal Bungurasih. Kala itu kami mendapat bantuan dari ibu-ibu majelis taklim di sebuah perumahan atas link dari kader inayatullah Fuad Badri. Kami mendapatkan 2 ekor kambing Kibas. Karena lokasi dakwah terpadu dengan lokasi sumbangan jauh kami menggunakan mobil. Ketepatan saat itu mobil bak terbuka Adi dibawa. Lokasi dakwah terpadu saat itu di daerah Tarik rumah Pimpinan Cabang Tarik Bapak Suroso di dusun Balogkangkung (kalau tidak salah). Kami naik mobil bertiga. Semuanya di depan. Pengambilan hewan kurban cukup lancar. Sekembali ke Tarik perjalanan merayap di daerah Krian. Maklum hujan baru saja redah dan jalanan cukup padat karena berbarengan dengan malam takbiran. Tradisi kala itu orang-orang banyak yang pawai dengan kendaraan termasuk motor. Akibatnya jalanan cukup macet,
Di tengah kemacetan itu kami tetap menikmati pemandangan malam kanan dan kiri hingga kami mengawasi orang-orang yang sedang dengan nikmatnya makan durian di trotoar jalan. Perasaan kepingin pastilah muncul di hati kami masing-masing dan tentu terutama saya. Saat itu bisa ditebak kami kantongnya cekak tapi tidak dengan Adi yang lumayan tebal karena sudah bekerja. Mobil menepi dan kami diajak pilih-pilih durian. Ahai...ternyata ada si bos yang ngajak nraktir.
Kami beli 3  buah dan kami makan di tempat lain sambil cari area yang agak lapang untuk parkir mobil. Makan durian tengah malam yang dingin ternyata sangat nikmat dan tanpa terasa sudah dua buah yang habis kami makan. Tinggal satu buah yang belum kami makan. Ketika kami bela durian itu saya jadi teringat teman-teman di lokasi. Jadi gak enak hati jika harus dimakan sendiri. Saat itupula muncul ide jahil kami. Durian yang sudah kami makan langsung kami bungkus kembali dengan tali. Tak lupa isinya kami masukkan agar tetap berat dan seolah-olah masih utuh. Sedangkan yang satunya tadi yang belum termakan kami urung makan dan kami ikat dengan tali. Kami punya rencana untuk mengerjai temen-temen dengan durian palsu tadi tetapi tetap kami sisakan kejutan durian satu yang belum termakan. Semua setuju. OK lanjut pulang ke lokasi dakwah terpadu.
Sampai juga kami di desa Balongkangkung yang agak masuk ke pedalaman ini. Kendaraan masuk ke daerah tak beraspal dan langsung ke rumah empuhnya sekaligus ada masjid di halamannya. Teman-teman kader yang sedari duduk dan ngobrol-ngobrol langsung bangkit membantu menurunkan kambing di bak belakang. Ketika seorang di antara mereka naik, langsung terperanjat karena di bak ada dua buah durian terikat. Langsung saja disambarnya durian tersebut. “Alhamdulillah, rejeki” katanya
Melihat ada teman yang berteriak yang lainnya langsung menyerbu karena mengerti ada rejeki nomplok. Langsung saja dibuka ikatan tadi dan siap-siap menyantapnya beramai-ramai. Alangkah kagetnya teman-teman karena durian tadi tidak berisi durian seperti biasanya. Yang ada hanyalah isinya. Langsung saja sumpah serapah di arahkan kepada kami.Kami hanya tertawa terbahak-bahak. Semuanya juga tertawa malu. Bersamaan dengan itu kami mengeluarkan durian dari jok depan. Tak ayal durian yang hanya tinggal sebiji itu langsung diserbu beramai-ramai. Maklum, jarang-jarang kami makan enak.
Read more >>

Minggu, 23 Desember 2012

Kenangan IMM Sidoarjo : Lauk Makan Kami Mujaer Beracun

Sidoarjo adalah daerah pesisir untuk sebagian kawasannya. Jangan  heran jika Sidoarjo disebut juga sebagai kota Udang dan juga bandeng. Produk unggulan Sidaorjo memang bandeng dan udang itu. Sampai-sampai lambang Kabupaten Sidoarjo itu adalah udang dan bandeng. Sebagai Kabupaten dengan kekayaan alam yang demikian seharusnya kecukupan gizi dan protein di Sidaorjo lebih dari cukup. Itu idealnya, Nyatanya demikian saya juga kurang tau. Tetapi yag jelas di lapangan pemilik tambak rata-rata ya orang-orang kaya. Sisanya adalah penggarap saja atau buruh di sana.
Kembali ke topik, Ini adalah membahas kenangan kami sebagai IMM Sidoarjo yang nyata kantongnya kurang tebal jika dibanding dengan mahasiswa di Malang atau Surabaya. Saat nyangkruk di Sekretariat yang merupakan rumah pinjaman di Candi adakalanya kami pergi ke daerah Kedungpeluk untuk memancing. Yang kami pancing bukan bandeng atau udang sebagaimana diulas di depan. yang kami pancing adalah ikan mujaer. Ikan mujaer adalah ikan hama yang tidak diternakkan di tambak. Karenanya orang-orang yang ingin memancing dibebaskan untuk memancing ikan ini. Ikan ini ibaratnya hama. Pemilik tambak ikhlas untuk dipancingi tambaknya jika yang dipancing adalah ikan ini. Jadi kami tanpa beban ketika memancing karena sudah ada hukum tak tertulis tentang hal ini.
Jika hasil kami sudah cukup maka kami kembali ke Sekretariat. yang membersihkan ya kami sendiri. Ada Abror yang memang hobby memancing. Untuk urusan masak adalah urusan Immawati (Julukan kader IMM yang perempuan). Jika yang masak dimasak oelh kader-kader kita sekitaran Sidoarjo maka Abror ikut nimbrung makan karena sesuai lidah. Namun jika yang masak adalah kader kita Ade Eviyanti maka Abror tidak akan masak. katanya Beracun...Kenapa ?
Ade Eviyanti adalah salah satu kader terbaik. Pernah menjabat sebagai bendahara. Ade berasal dari Makasaar. Jamaknya orang Makasar, Ade sangat suka masakan yang sangat pedas. Lombok atau cabe berapapun  akan dimasakkan dalam masakannya. Jika kurang pedas, maka rasanya kurang top markotop. Hehehe...ini menurut Ade
Berbeda dengan Abror yang tidak suka makanan pedas. Jika masakan itu dimasak Ade maka sudah dapat dipastikan masakan iku BERACUN


-----
Maaf Mbak Ade
Read more >>

Kenangan IMM Sidoarjo : Durung Ndadak

Acara kurang dari satu minggu digelar. Sementara uang panitia belum terkumpul maksimal. Proposal memang sudah masuk dan belum  ada tanggapan. Logikanya jika dananya tidak mencukupi maka akan berpengaruh pada acara. kalau tidak gagal pastilah panitia akan tekor. Sementara tau sendirilah kita panitia adalah para mahasiswa pinggiran. mahasiswa level dua. Kaya tidak, miskin sudah pasti. Oleh karenanya kami berfikir serius untuk kesuksesan acara. Jika acara dibatalkan tidak mungkin. Undangan sudah dikirim ke masing-masing yang diundang. Jika ditunda kita akan kerja dua kali. Jika diteruskan maka kita harus kerja ekstra cari dana.
Kebetulan saat itu kami belum memasukkan proposal ke UMSIDA. Panitia ternyata dengan faktor X tidak atau kelupaan untuk memasukkan proposal itu ke kampus. Sehingga tidak mengherankan uang belum cair juga karena proposal belum masuk. Maka kami juga kelimpungan. Saar rapat panitia baru kami ketahui semua bahwa memang proposal belum dimasukkan. Sekretaris panitia yang saat itu ditanya cuma senyum saja.
Kemudian dia menjawab " Hehehehe...kan durung ndadak (Belum mendadak"
Maksudnya masih ada waktu satu minggu kan belum mendadak jika proposal disampaikan. padahal semua tahu di kampus ada aturan bahwa proposal kegiatan harus masuk minimal satu bulan sebelum acara di laksanakan. Semua tertawa termasuk ketuanya saat itu Ucok Ferdinandes Situmorang dengan kata "durung ndadak" itu.
Akhirnya yang bersangkutan mendapatkan gelar di belakan namanya A**** Durung Ndadak

----
nama saya samarkan.
Read more >>

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Sidoarjo : Sebuah Penempahan

Terus terang saya adalah produk penempahan. Sebagai produk tempahan saya mengalami penempahan berkali-kali. Tidak hanya satu pande besi yang menempah saya. Banyak penempah yang terlibat dalam penempahan hidup ini. Mulai ketika kecil diasuh oleh kedua orang tua, dikeloni saben malam sama si mbah sampai sering tidur di TPQ. Semasa kuliah hampir tiap hari mendiami gedung TK ABA Porong sendirian sampai selalu bermalam di Masjid An Nur Sidoarjo. Perjalanan hidup terus berlanjut dan memang seharusnya demikian. Tempahan-tempahan lainnya saya rasakan kala terlibat di dalam organisasi baik itu di kampus mapun kala berada dalam masyarakat. Yang paling terasa adalah ketika berda di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah  (IMM) Sidorajo. Dulu saya sangat yakin bahwa organisasi banyak manfaatnya. namun saya yakin pula bahwa manfaat tersebut dapat dirasakan dalam tempo akan datang bukan saat itu juga. Jika saya rasakan saat itu juga berarti instan.
Karena itu seiring perjalanan hidup maka manfaat itu akan kita rasakan. Ya, salah satunya saat ini. Saya mulai jadi orang, Bukan jadi kambing atau sapi....
Hehehehe...Serius amat.
Pada kesempatan yang akan datang saya akan menulis kenangan kenangan ketika di IMM Sidoarjo dan tentunya akan saya bumbuhi dengan humor - humor kecil biar tidak terkesan kaku. Salam Ikatan !!!
Read more >>

Sabtu, 22 Desember 2012

Cara Membuat Media Pembelajaran (bagian 6) : Kartu Jodoh



Sambungan dari postingan sebelumnya. Berikut ini saya posting kembali tentang diskripsi media pembelajaran. Kali ini tentang kartu jodoh. bagaimana media pembelajaran kartu jodoh ini, sebaiknya anda simak saja paparan diskripsi berikut ini, semoga bermanfaat :

DISKRIPSI  MEDIA PEMBELAJARAN

I . Identitas
1. Nama Media                             : Kartu Jodoh.
      2. Mata Pelajaran                         : Akhlak
      3. Satuan Pendidikan                    : SD
4. Kelas / Semester                        : 1 / Genap
5. Standar Kompetensi                 : Membiasakan Perilaku Terpuji.
  1. Kompetensi Dasar       :
- Menampilkan perilaku terpuji
- Menampilkan perilaku tolong-menolong.
- Menampilkan perilaku hormat terhadap orang tua.
- Menampilkan perilaku adab makan dan  minum
- Menampilkan perilaku adab belajar.

7. Tujuan Pembelajaran     :
- Siswa mampu menampilkan perilaku terpuji
- Siswa  mampu menampilkan perilaku tolong-menolong.
- Siswa mampu menampilkan perilaku hormat terhadap orang tua.
- Siswa mampu menampilkan perilaku adab makan dan  minum
- Siswa mampu menampilkan perilaku adab belajar.

II. Teknik Pembuatan Media
1. Menentukan jenis media yang akan dibuat, yaitu visual.
2. Mencari bahan pembuatan media, antara lain kertas HVS warna
            3. Menyiapkan alat pembuatan media berupa gunting,  dan alat tulis.
      4. Menggunting kertas HVS sebanyak 5 lembar .
      5. Menentukan langkah-langkah penggunaan media Kartu Jodoh.
      6. Menentukan kriteria penilaian.
                                                                                                                             
III. Langkah-langkah penggunaan
            1. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok
            2. Kartu  Jodoh dibagikan kepada masing-masing kelompok secara acak.
      3. Anggota kelompok bersama-sama menyusun kartu jodoh agar menemukan
          pasangan yang tepat antara kartu soal dan kartu jawaban.
      4. Masing-masing kelompok berlomba menyusun kartu jodoh tersebut secara tepat.
      5. Lakukan koreksi bersama  setelah semua kelompok selesai.
      6. Mintalah salah satu penanggung jawab kelompok untuk menjelaskan hasil
          penyusunan kartu jodoh  tsb. Kemudian mintalah komentar dari kelompok
          lainnya.
      7. Kelompok yang paling cepat dan benar akan mendapatkan point tertinggi.
      8. Berikan apresiasi setiap hasil kerja murid.
      9. Lakukan klarifikasi, penyimpulan dan tindak lanjut.

Keterangan : wujud media terlampir

                                                                                                Gempol, 16 Juli 2010

            Mengetahui
            Kepala SD Muhammadiyah 1 Gempol                                   Pembuat Media




            RIYONO, S.PdI                                                                     RIYONO, S.PdI
Read more >>

CARA MEMBUAT MEDIA PEMBELAJARAN (Bagian 5) : POTONGAN AYAT



Beberaapa bulan yang lalu selalu saya sempatkan membuat diskripsi media pembelajaran. Namun karena saya sibuk saya tidak sempat lagi posting. Dalam kesempatan ini saya postingkan yang ke lima, yaitu potongan ayat. Media ini cocok digunakan dalam pembelajaran PAI khususnya materi Al Quran. Tapi jangan lupa sobat semua, monggo kasih saran dan masukan pada kolom yang sudah tersedia atau bisa di facebook comment sesuai login anda. Berikut Diskripsinya :

DISKRIPSI MEDIA PEMBELAJARAN

I . Identitas
  1. Nama Media                           : Potongan Ayat
  2. Mata Pelajaran                        : AL-Quran
  3. Satuan Pendidikan                  : SD
  4. Kelas / Semester                      : 1 / Genap
  5. Standar Kompetensi               : Menghafal Al-Quran Surah-surah Pendek.
  6. Kompetensi Dasar       :
- Menghafal Surah al-Kautsar dengan lancar.
- Menghafal Surah an-Nasr dengan lancar.
- Menghafal Surah al-Asr dengan lancar.

  1.  Tujuan Pembelajaran :
- Siswa mampu menghafal Surah al-Kautsar dengan lancar.
- Siswa mampu menghafal Surah an-Nasr dengan lancar.
- Siswa mampu menghafal Surah al-Asr dengan lancar.
II. Teknik Pembuatan Media
1. Menentukan jenis media yang akan dibuat, yaitu visual.
2. Mencari bahan pembuatan media, antara lain kertas HVS warna
            3. Menyiapkan alat pembuatan media berupa gunting,  dan alat tulis.
      4. Menggunting kertas HVS sebanyak 5 lembar .
      5. Menentukan langkah-langkah penggunaan media Potongan Ayat.
      6. Menentukan kriteria penilaian.
                                                                                                                             
III. Langkah-langkah penggunaan
            1. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok
            2. Kartu  potongan ayat dibagikan kepada masing-masing kelompok secara acak.
      3. Anggota kelompok bersama-sama menyusun potongan ayat agar menjadi sebuah
          surat yang urut.
      4. Masing-masing kelompok berlomba menyusun potongan ayat tersebut secara urut.
      5. Lakukan koreksi bersama  setelah semua kelompok selesai.
      6. Mintalah salah satu penanggung jawab kelompok untuk menjelaskan hasil
          penyusunan potongan ayat  tsb. Kemudian mintalah komentar dari kelompok
          lainnya.
      7. Kelompok yang paling cepat akan mendapatkan point tertinggi.
      8. Berikan apresiasi setiap hasil kerja murid.
      9. Lakukan klarifikasi, penyimpulan dan tindak lanjut.

Keterangan : wujud media terlampir

                                                                                                Gempol, 16 Juli 2010

            Mengetahui
            Kepala SD Muhammadiyah 1 Gempol                       Pembuat Media




            RIYONO, S.PdI                                                         RIYONO, S.PdI

Read more >>