Selasa, 22 November 2011

Jadwal PLPG Angkatan 35 s.d 39 telah hadir

Jadwal pelksanaan PLPG angkatan 35 samapai dengan 39 telah diupload dari pihak LPTK Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya. Bagi telan-teman, silakan untuk melihatnya di sini
Read more >>

Kamis, 10 November 2011

Ketika Para Juru Dakwah Telah DipanggilNya, Kembali (Bag. 5)

Masjid At Taqwa II adalah saksi bisu perjalanan dakwah yang dilakukan H. Hasan Subagio. Tokoh karismatik dari dusun Dateng Desa Watesnegoro Ngoro Mojokerto. Tokoh yang tetap kukuh dalam jalur dakwah dan menghabiskan masa hidupnya hanya dalam rangka mendakwahkan Islam. Tokoh Muhammadiyah yang cukup punya nama. Yang menjadi tempat untuk mengaduh dan bertanya. Lingkup dakwahnya tidak hanya sekedar di wilayah kecamatan Ngoro saja  tetapi menyebar ke lain daerah semisal Mojokerto, Pasuruan, Sidoarjo, Jombang dan sekitarnya. Memang almarhum tidak sebesar tokoh-tokoh Muhammadiyah lainnya. tetapi kegigihannya menyisir dakwah di level bawah inilah yang jarang didapati tandingannya. Apalagi jika segenap hidupnya dihabiskan untuk dakwah.
Masjid At Taqwah II, secara geografis letaknya strategis. Terletak di jantung Dusun Dateng Watesnegoro. Pusat kegiatan dakwah kaum muslimin.
Sebelum awal tahun 90an masjid ini adalah satyu-satunya rumah ibadah di Dateng. baru saat itu seiring dengan perkembangan pendududk di setiap RT berdiri mushollah-mushollah. Tercatat ada 3 Mushollah yang ada di Dusun Dateng. Namun Masjid At Taqwa II tetaplah jujukan mereka untuk beribadah. ada kesan mistis dan kehangatan spiritual jika melaksanakan sholat di masjid ini. Bacaan tartil dan gerakan sholat tumakninah menjadikan sholat mereka terasa khusuk.Memang yang belum pernah menjalankan sholat  di masjid ini terasa lama. gerakan dan bacaannya lambat. dan kadang membuat orang yang tidak pernah sholat seperti ini menjadi "nglambyar".
Mengapa demikian. Sholat adalah ibdah yang diwajibkan oleh Allah SWT. Sunnahnya adalah Nabi Muhammad SAW sebagai teladan. Sebisa mungkin gerakan dan bacaan sesuai dengan yang dicontohkan Nabi. Kalau tidak sama persis minimal mendekati.
(bersambung)
Baca juga : 
Read more >>

Rabu, 09 November 2011

Ketika Para Juru Dakwah Telah DipanggilNya, Kembali (Bagian 4)

Akhirnya jenazah selesai sudah disucikan. Tidak banyak proses yang kuketahui hingga akhirnya jenazah dikafani. Menurut keluarga ada satu wasiat yang tidak dapat dipenuhi. Bahwasanya almarhum telah berwasiat untuk dikafani dengan kain ihram yang dugunakan untuk meleaksanakan ibadah hajinya di tahun 1978. Namun, sampai jenasah disucikan kain tersebut tidak ditemukan. Akhirnya diambil keputusan bahwa jenazah dikafani dengan kain kafan biasanya.
Ada waktu jedah yang lumayan lama antara mensucikan sampai mengubur jenazah. Pasalnya dari pihak keluarga yang jauh belum datang. maka ditunggulah pihak keluarga tersebut untuk menyaksikan kali terakhir almarhum sebelum dikebumikan.
Jenazah diangkat dibawah ke Masjid At Taqwa II yang letaknya berada teapat di depan rumah Almarhum.
Ada yang menarik tetang masjid ini. menurut sejarah masjid ini dibangun sebelum penulis dilahirkan. Tidak ada dokumen pasti. namun yang jelas, masjid ini mengalami beberapa pemugaran. Mulai dari bentuk gedhek yang sangat sederhana sampai sekarang menjadi masjid yang lumayan besar. Masjid yang sekarang adalah masjid yang baru. Sedangkan masjid yang lama digunakan sebagai sarana pendidikan TK ABA 14 setalah dirombak total oleh Muhammadiyah dan Aisyiyah.
Tentang nama sendiri sebenarnya nama masjid ini adalah Nurul Islah, tetapi waktu pendataan mendadak menjadi Masjid At Taqwa II. Bagaimana kronologisnya ? wallahu aa'lam
Jenazah disemayamkan di depan mihrab. Para petakziyah segera mengambil air wudhu. yang sudah memeiliki wudhu secara tertib membentuk shaf guna melaksanakan sholat jenazah. Penuh sesak di dalam masjid sampai keluar ke teras masjid. Sholat dibagi menjadi beberapa gelombang. Gelombang pertama sholat dipimpin imam H. Barokah (mantan ketua PC Muhammadiyah Gempol).
Tidak sampai 5 menit usai sudah sholat tersebut. (bersambung)
Read more >>

Hasil Ujian Ulang Tulis dan Praktek dan Hasil PLPG angkatan 20 s.d. 27

Pengumuman Hasil Ujian Ulang untuk Tulis dan Praktek dan hasil PLPG Angkatan 20 s.d. 27 sudah dapat dilihat hasilnya di sini
Read more >>

Sabtu, 05 November 2011

Ketika Para Juru Dakwah Telah DipanggilNya, Kembali (Bag. 3)

Bersama istri dan kedua anakku kulangkakan kaki kami ke arah barat. Haedar berjalan dengan kugandenga sedang Haekal bersama dengan ibunya di gendongan. Jarak rumah kami dengan almarhum hanya kisaran 100 m saja. Rumah almarhum menghadap arah barat. tepat seberang jalan terdapat sebuah masjid yang menjjadi pusat dakwah dan kegiatan di kampung Dateng.
Istriku masuk lewat pintu belakang dengan Haekal. Sedangkan aku dengan Haedar langsung menuju bagian halaman depan rumah melewati samping utara rumah yang masih sangat luas tanahnya. memang salah satu orang yang meiliki pekarangan tanah yang luas adalah almarhum di kampung Dateng.
Di depan sudah banyak para pelayat yang sudah datang. Beberapa Jamaah Masjid At Taqwa II nampak dengan raut kesedian. namapak juga warga kampung lainnya, tokoh masyarakat, warga Muhammadiyah dari Ngoro, Gempol dan lainnya yang tidak semuanya aku kenal satu persatu. Kusalami satu persatu dari mereka. mereka membalas. Ada juga sapaan dan pertanyaan tentang kabar.
kujawab kabar tersebut dengan hamdalah.
"Apa jenazah sudah datanga" tanyaku pada seorang pelayat.
"sudah pak, di dalam. tetapi belum disucikan" jawabnya
Kulihat ruang tamu rumah almarhum. Sesosok jenazah dibaringkan di atas amben. Sesosok yang dulunya tegas memegang prinsip dan keyakinan. Sesosok yang ikhlas dalam dakwahnya. Bahkan saking ikhlasnya, sampai dengan usia senja beliau tidak berkenan ketika mendapat undangan dakwah dijemput pengundang. beliaunya lebih suka jika berangkat sendiri dengan mengendarai motor. sendiri. padahal kadangkala jarak yang dijemput sampai puluhan kilometer dan malam hari. Subhanallah, juru dakwah yang lain kadangkala tidak sanggup untuk melaksanakannya.
Kukuatkan diri menatap sosok tersebut. aku tidak masuk ke dalam karena jenazah akan Segera disucikan. Sementara belum nampak keluarga yang ditinggalkan. menurut informasi semua masih di rumah sakit mengurus administrasi.
Kami semua menunggu, ada yang duduk-duduk di kusih yang terbatas jumlahnya. Ada yang berdiri, bercengkeramah. Tidak terasa panas karena halaman rumah almarhum terlindungi pepohonan yang sangat rimbun. Pohon mangga utamanya sudah berusia puluhan tahun. Yang kuingat pepohonan tersebut sudah ada sebelum aku ada
(bersambung)
Baca juga :
Read more >>

Jumat, 04 November 2011

Ketika Para Juru Dakwah Telah DipanggilNya, Kembali (Bag. 2)

Sontak kabar itu mengagetkan aku. demikian juga istri yang ada di dapur. Ada perasaan tak percaya, sedih, kehilangan menjadi satu. Kecamuk pikiran juga tak menentu. Pertanyaan - pertanyaan berputar di ubun - ubunku.
"Bagaimana nasib umat ini ?" gumanku dalam hati "Bagaimana warga Muhammadiyah ?" aku masih tak percaya. "Dimanakah kami bertanya dan mengaduh ?"
Secepat mungkin kugendong si kecil Haekal dan kumandikan di belakang menyusul Haedar. Kupakaikan pakaian bagi mereka berdua. Khusus Haedar kukenakan untuknya seragam olah raga TKnya, kebetulan Haedar sudah saya plot untuk sekolah di TK ABA 14 Watesnegoro depan Rumah Almarhun H. Hasan dikarenakan dalam waktu relatif singkat kami sekeluarga akan berpindah ke Glatik Watesnegoro.

sementera istri yang ada di belakang segera berbenah dan meninggalkan aktivitas rutin perdapuran. Secepatnya kami sekeluarga berangkat untuk bertakziyah ke rumah duka.
Dengan mengendarai motor secepatnya kami berangkat takziyah. Dari depan rumah 100m kami menyusuri Gg. Muhammadiyah yang sempit di desa Carat. masuk jalan besar kukendarai motor dengan kecepatan maksimal (80km/jam). Ramai lalu lalang kendaraan. Ada motor para karyawan pabrik NIP, PNS dan juga tak luput orang-orang yang pergi pulang ke pasar. Dumb Truck juga turut serta mewarnai kesemarawutan angkutan jalan.
Suasana hening. Isrtiku terdiam. Hanya Haedar saja yang berkali-kali bertanya menanyakan kabar H. Hasan.
"Mbah Kaji meninggal ta ya ....?" tanyanya.
Sesekali kujawab " ya...!" singkat saja. sebenarnya saya enggan menjawab pertanyaan itu. namun aku tidak ingin mematikan keberaniaannya untuk bertanya. kreativitasnya. Anak kecil, belum memahami makna kematian. Jiwanya polos, meskipun sesekali menghibur kami dengan kenakalannya yang sontak membuat kami marah.
Jalan Besar sudah kami lewati. kami masuk dusun Wates dan tidak melewati Gerbang Dateng. rencanaku motorku kuparkir di rumah orang tuaku yang memang ada di sisi timur Dateng sedang rumah H. Hasan ada di sisi Baratnya.
Sepi sekali jalanan kampung. hening dan memberikan kesan kesedihan. Kampung yang ditinggal tokoh besarnya. Panutan. (bersambung)
Read more >>

Kamis, 03 November 2011

Hitam di Dahi, Nyunni ?

Tanya:
“Bagaimana cara menyamarkan/menghilangkan noda hitam di kening/di jidat karena sewaktu sujud dalam shalat terlalu menghujam sehingga ada bekas warna hitam?”
0281764xxxx


Jawab:
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ
Yang artinya, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud” (QS al Fath:29).
Banyak orang yang salah paham dengan maksud ayat ini. Ada yang mengira bahwa dahi yang hitam karena sujud itulah yang dimaksudkan dengan tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Padahal bukan demikian yang dimaksudkan.
Diriwayatkan oleh Thabari dengan sanad yang hasan dari Ibnu Abbas bahwa yang dimaksudkan dengan ‘tanda mereka…” adalah perilaku yang baik.
Diriwayatkan oleh Thabari dengan sanad yang kuat dari Mujahid bahwa yang dimaksudkan adalah kekhusyukan.
Juga diriwayatkan oleh Thabari dengan sanad yang hasan dari Qatadah, beliau berkata, “Ciri mereka adalah shalat” (Tafsir Mukhtashar Shahih hal 546).
عَنْ سَالِمٍ أَبِى النَّضْرِ قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ إِلَى ابْنِ عُمَرَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ قَالَ : مَنْ أَنْتَ؟ قَالَ : أَنَا حَاضِنُكَ فُلاَنٌ. وَرَأَى بَيْنَ عَيْنَيْهِ سَجْدَةً سَوْدَاءَ فَقَالَ : مَا هَذَا الأَثَرُ بَيْنَ عَيْنَيْكَ؟ فَقَدْ صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُمْ فَهَلْ تَرَى هَا هُنَا مِنْ شَىْءٍ؟
Dari Salim Abu Nadhr, ada seorang yang datang menemui Ibnu Umar. Setelah orang tersebut mengucapkan salam, Ibnu Umar bertanya kepadanya, “Siapakah anda?”. “Aku adalah anak asuhmu”, jawab orang tersebut.
Ibnu Umar melihat ada bekas sujud yang berwarna hitam di antara kedua matanya. Beliau berkata kepadanya, “Bekas apa yang ada di antara kedua matamu? Sungguh aku telah lama bershahabat dengan Rasulullah, Abu Bakr, Umar dan Utsman. Apakah kau lihat ada bekas tersebut pada dahiku?” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3698)
عَنِ ابْنِ عُمَرَ : أَنَّهُ رَأَى أَثَرًا فَقَالَ : يَا عَبْدَ اللَّهِ إِنَّ صُورَةَ الرَّجُلِ وَجْهُهُ ، فَلاَ تَشِنْ صُورَتَكَ.
Dari Ibnu Umar, beliau melihat ada seorang yang pada dahinya terdapat bekas sujud. Ibnu Umar berkata, “Wahai hamba Allah, sesungguhnya penampilan seseorang itu terletak pada wajahnya. Janganlah kau jelekkan penampilanmu!” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3699).
عَنْ أَبِى عَوْنٍ قَالَ : رَأَى أَبُو الدَّرْدَاءِ امْرَأَةً بِوَجْهِهَا أَثَرٌ مِثْلُ ثَفِنَةِ الْعَنْزِ ، فَقَالَ : لَوْ لَمْ يَكُنْ هَذَا بِوَجْهِكِ كَانَ خَيْرًا لَكِ.
Dari Abi Aun, Abu Darda’ melihat seorang perempuan yang pada wajahnya terdapat ‘kapal’ semisal ‘kapal’ yang ada pada seekor kambing. Beliau lantas berkata, ‘Seandainya bekas itu tidak ada pada dirimu tentu lebih baik” (Riwayat Bahaqi dalam Sunan Kubro no 3700).
عَنْ حُمَيْدٍ هُوَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ : كُنَّا عِنْدَ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ إِذْ جَاءَهُ الزُّبَيْرُ بْنُ سُهَيْلِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ فَقَالَ : قَدْ أَفْسَدَ وَجْهَهُ ، وَاللَّهِ مَا هِىَ سِيمَاءُ ، وَاللَّهِ لَقَدْ صَلَّيْتُ عَلَى وَجْهِى مُذْ كَذَا وَكَذَا ، مَا أَثَّرَ السُّجُودُ فِى وَجْهِى شَيْئًا.
Dari Humaid bin Abdirrahman, aku berada di dekat as Saib bin Yazid ketika seorang yang bernama az Zubair bin Suhail bin Abdirrahman bin Auf datang. Melihat kedatangannya, as Saib berkata, “Sungguh dia telah merusak wajahnya. Demi Allah bekas di dahi itu bukanlah bekas sujud. Demi Allah aku telah shalat dengan menggunakan wajahku ini selama sekian waktu lamanya namun sujud tidaklah memberi bekas sedikitpun pada wajahku” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3701).
عَنْ مَنْصُورٍ قَالَ قُلْتُ لِمُجَاهِدٍ (سِيمَاهُمْ فِى وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ) أَهُوَ أَثَرُ السُّجُودِ فِى وَجْهِ الإِنْسَانِ؟ فَقَالَ : لاَ إِنَّ أَحَدَهُمْ يَكُونُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ مِثْلُ رُكْبَةِ الْعَنْزِ وَهُوَ كَمَا شَاءَ اللَّهُ يَعْنِى مِنَ الشَّرِّ وَلَكِنَّهُ الْخُشُوعُ.
Dari Manshur, Aku bertanya kepada Mujahid tentang maksud dari firman Allah, ‘tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud’ apakah yang dimaksudkan adalah bekas di wajah?
Jawaban beliau, “Bukan, bahkan ada orang yang ‘kapal’ yang ada di antara kedua matanxa itu bagaikan ‘kapal’ yang ada pada lutut onta namun dia adalah orang bejat. Tanda yang dimaksudkan adalah kekhusyu’an” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3702).
Bahkan Ahmad ash Showi mengatakan, “Bukanlah yang dimaksudkan oleh ayat adalah sebagaimana perbuatan orang-orang bodoh dan tukang riya’ yaitu tanda hitam yang ada di dahi karena hal itu adalah ciri khas khawarij (baca: ahli bid’ah)” (Hasyiah ash Shawi 4/134, Dar al Fikr).
Dari al Azroq bin Qois, Syarik bin Syihab berkata, “Aku berharap bisa bertemu dengan salah seorang shahabat Muhammad yang bisa menceritakan hadits tentang Khawarij kepadaku. Suatu hari aku berjumpa dengan Abu Barzah yang berada bersama satu rombongan para shahabat. Aku berkata kepadanya, “Ceritakanlah kepadaku hadits yang kau dengar dari Rasulullah tentang Khawarij!”.
Beliau berkata, “Akan kuceritakan kepada kalian suatu hadits yang didengar sendiri oleh kedua telingaku dan dilihat oleh kedua mataku. Sejumlah uang dinar diserahkan kepada Rasulullah lalu beliau membaginya. Ada seorang yang plontos kepalanya dan ada hitam-hitam bekas sujud di antara kedua matanya. Dia mengenakan dua lembar kain berwarna putih. Dia mendatangi Nabi dari arah sebelah kanan dengan harapan agar Nabi memberikan dinar kepadanya namun beliau tidak memberinya.
Dia lantas berkata, “Hai Muhammad hari ini engkau tidak membagi dengan adil”.
Mendengar ucapannya, Nabi marah besar. Beliau bersabda, “Demi Allah, setelah aku meninggal dunia kalian tidak akan menemukan orang yang lebih adil dibandingkan diriku”. Demikian beliau ulangi sebanyak tiga kali. Kemudian beliau bersabda,
يَخْرُجُ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ رِجَالٌ كَانَ هَذَا مِنْهُمْ هَدْيُهُمْ هَكَذَا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ ثُمَّ لاَ يَرْجِعُونَ فِيهِ سِيمَاهُمُ التَّحْلِيقُ لاَ يَزَالُونَ يَخْرُجُونَ
“Akan keluar dari arah timur orang-orang yang seperti itu penampilan mereka. Dia adalah bagian dari mereka. Mereka membaca al Qur’an namun alQur’an tidaklah melewati tenggorokan mereka. Mereka melesat dari agama sebagaimana anak panah melesat dari binatang sasarannya setelah menembusnya kemudia mereka tidak akan kembali kepada agama. Ciri khas mereka adalah plontos kepala. Mereka akan selalul muncul” (HR Ahmad no 19798, dinilai shahih li gharihi oleh Syeikh Syu’aib al Arnauth).
Oleh karena itu, ketika kita sujud hendaknya proporsonal jangan terlalu berlebih-lebihan sehingga hampir seperti orang yang telungkup. Tindakan inilah yang sering menjadi sebab timbulnya bekas hitam di dahi.
sumber :ustadzaris.com
tapi bagaimana jika tanpa kita kehendaki ternyata hitam dengan sendirinya ?......
wah...masa harus pake pemutih ?
Read more >>

Ketika Para Juru Dakwah Telah DipanggilNya, Kembali

            Tanggal 1 Oktober 2011, ba'dah subuh. Ketika itu keadaan tubuhku masih dalam keadaan capai setelah aktivitas yang sangat padat yang aku kerjakan seharian penuh pada hari jumat sebelumnya. kugunakan waktu senggang habis subuh sampai dengan waktu akan berangkat sekolah dengan sedkit bermalas-malasan di kamar bersama anak-anak yang masih terlelap dengan wajah kejujuran meraka. sementara istri telah lama membantu aktivitas dapur umum di belakang. Waktu itu kami masih berada di perumahan WMI (dibaca : Wisma Mertua Indah). Kurang lebih hampir lima tahun sudah kami ndompleng di sana sampai menelorkan 2 generasi penerus yang kesemuanya laki-laki. HAEDAR ASADULLAH LAZZUARDI dan HAEKAL AZHAR LAZZUARDY. Yang pertama bermakna Singa Allah yang Pemberani yang bagi kami adalah permata hati. dan yang kedua bermakna Pria Gagah Rupawan yang menyinarkan kebaikan yang bagi kami adalah harta kami yang berharga. sambil memeluk mereka berdua kadang kala diri masih terbawah dalam sebuah lena. Tertidur.....
           tit....tit....tit.......suara nada sms HP N****a jelek milikku berdering. paling pikirku ada salah satu staf pendidik di SD MUTUyang ijin gak masuk. mungkin sakit atau anaknya sakit, atau ibu-bapaknya sakit, tetangganya meninggal dunia dan lain sebagainya. kubiarkan saja. ada perasaan malas membuka sms pagi. salah satu penyebabnya adalah hal di atas.
           tulit...tulit....tulit....nada dering berisik dari HP N****a jelek milikku berdering membangunkan tidur malasku. kusaut HP tersebut. dari BPK. Bukan Badan Pemeriksa Keuangan, tetapi Bapakku yang telepon.kupencet tombol terima. tidak ada suara, mati. kulihat kembali pada layar. 1 panggilan tak terjawab. "telat..." pikirku. sekarang kubuka sms yang tadi masuk
"innalillahi wa inna ilaihi raji'un....telah berpulang ke rahmatullah Ust. H. Hasan Subagio...."
"deg.......!!!!"(bersambung)

Read more >>

Rabu, 02 November 2011

Amalan Sholih di Awal Dzulhijah

Alhamdulillah, Allah subhanahu wa ta’ala masih memberikan kita berbagai macam nikmat, kita pun diberi anugerah akan berjumpa dengan bulan Dzulhijah. Berikut kami akan menjelasakan keutamaan beramal di awal bulan Dzulhijah dan apa saja amalan yang dianjurkan ketika itu. Semoga bermanfaat.
Keutamaan Sepuluh Hari di Awal Bulan Dzulhijah
Di antara yang menunjukkan keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah adalah hadits Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ . يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ
“Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.”[1]
Di antaranya lagi yang menunjukkan keutamaan hari-hari tersebut adalah firman Allah Ta’ala,
وَلَيَالٍ عَشْرٍ
“Dan demi malam yang sepuluh.” (QS. Al Fajr: 2). Di sini Allah menggunakan kalimat sumpah. Ini menunjukkan keutamaan sesuatu yang disebutkan dalam sumpah.[2] Makna ayat ini, ada empat tafsiran dari para ulama yaitu: sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah, sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, sepuluh hari pertama bulan Ramadhan dan sepuluh hari pertama bulan Muharram.[3] Malam (lail) kadang juga digunakan untuk menyebut hari (yaum), sehingga ayat tersebut bisa dimaknakan sepuluh hari Dzulhijah.[4] Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan bahwa tafsiran yang menyebut sepuluh hari Dzulhijah, itulah yang lebih tepat. Pendapat ini dipilih oleh mayoritas pakar tafsir dari para salaf dan selain mereka, juga menjadi pendapat Ibnu ‘Abbas.[5]
Keutamaan Beramal di Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijah
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.”[6]
Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan,
Read more >>

Selasa, 01 November 2011

Larangan Memotong Kuku dan Mencukur Rambut Bagi Pekurban

Al Lajnah Ad Da-imah (Komisi Fatwa di Saudi Arabia) pernah ditanya, “Katanya ada hadits yang menjelaskan bahwa siapa yang ingin berqurban atau keluarga yang diniatkan pahala untuk berqurban, maka ia tidak boleh mencukur bulu, rambut kepala dan juga memotong kuku sampai ia berqurban. Apakah larangan ini umum untuk seluruh anggota keluarga (yang diniatkan dalam pahala qurban), baik dewasa atau anak-anak? Ataukah larangan ini berlaku untuk yang sudah dewasa saja, tidak termasuk anak-anak?”
Jawab:
Kami tidak mengetahui lafazh hadits sebagaimana yang penanya sebutkan. Lafazh yang kami tahu sebagaimana shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diriwayatkan oleh al Jama’ah kecuali Al Bukhari yaitu dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha,
إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِى الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ
“Jika kalian telah menyaksikan hilal Dzul Hijah (maksudnya telah memasuki satu Dzulhijah, pen) dan kalian ingin berqurban, maka hendaklah shohibul qurban membiarkan (artinya tidak memotong) rambut dan kukunya.”[1]
Dalam lafazh lainnya,
مَنْ كَانَ لَهُ ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ فَإِذَا أُهِلَّ هِلاَلُ ذِى الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّىَ
“Siapa saja yang ingin berqurban dan apabila telah memasuki awal Dzulhijah (1 Dzulhijah), maka janganlah ia memotong rambut dan kukunya sampai ia berqurban.”[2]
Maka hadits ini menunjukkan terlarangnya memotong rambut dan kuku bagi orang yang ingin berqurban setelah memasuki 10 hari awal bulan Dzulhijah (mulai dari tanggal 1 Dzulhijah, pen).
Hadits pertama menunjukkan perintah untuk tidak memotong (rambut dan kuku). Asal perintah di sini menunjukkan wajibnya hal ini. Kami pun tidak mengetahui ada dalil yang memalingkan dari hukum asal yang wajib ini. Sedangkan riwayat kedua adalah larangan memotong (rambut dan kuku). Asal larangan di sini menunjukkan terlarangnya hal ini, yaitu terlarang memotong (rambut dan kuku). Kami pun tidak mengetahui ada dalil yang memalingkan dari hukum asal yang melarang hal ini.
Secara jelas pula, hadits ini khusus bagi orang yang ingin berqurban. Adapun anggota keluarga yang diikutkan dalam pahala qurban, baik sudah dewasa atau belum, maka mereka tidak terlarang memotong bulu, rambut dan kuku. Meraka (selain yang berniat qurban) dihukumi sebagaimana hukum asal yaitu boleh memotong rambut dan kulit dan kami tidak mengetahui adanya dalil yang memalingkan dari hukum asal ini.
Read more >>