Selasa, 22 November 2011

Jadwal PLPG Angkatan 35 s.d 39 telah hadir

Jadwal pelksanaan PLPG angkatan 35 samapai dengan 39 telah diupload dari pihak LPTK Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya. Bagi telan-teman, silakan untuk melihatnya di sini
Read more >>

Kamis, 10 November 2011

Ketika Para Juru Dakwah Telah DipanggilNya, Kembali (Bag. 5)

Masjid At Taqwa II adalah saksi bisu perjalanan dakwah yang dilakukan H. Hasan Subagio. Tokoh karismatik dari dusun Dateng Desa Watesnegoro Ngoro Mojokerto. Tokoh yang tetap kukuh dalam jalur dakwah dan menghabiskan masa hidupnya hanya dalam rangka mendakwahkan Islam. Tokoh Muhammadiyah yang cukup punya nama. Yang menjadi tempat untuk mengaduh dan bertanya. Lingkup dakwahnya tidak hanya sekedar di wilayah kecamatan Ngoro saja  tetapi menyebar ke lain daerah semisal Mojokerto, Pasuruan, Sidoarjo, Jombang dan sekitarnya. Memang almarhum tidak sebesar tokoh-tokoh Muhammadiyah lainnya. tetapi kegigihannya menyisir dakwah di level bawah inilah yang jarang didapati tandingannya. Apalagi jika segenap hidupnya dihabiskan untuk dakwah.
Masjid At Taqwah II, secara geografis letaknya strategis. Terletak di jantung Dusun Dateng Watesnegoro. Pusat kegiatan dakwah kaum muslimin.
Sebelum awal tahun 90an masjid ini adalah satyu-satunya rumah ibadah di Dateng. baru saat itu seiring dengan perkembangan pendududk di setiap RT berdiri mushollah-mushollah. Tercatat ada 3 Mushollah yang ada di Dusun Dateng. Namun Masjid At Taqwa II tetaplah jujukan mereka untuk beribadah. ada kesan mistis dan kehangatan spiritual jika melaksanakan sholat di masjid ini. Bacaan tartil dan gerakan sholat tumakninah menjadikan sholat mereka terasa khusuk.Memang yang belum pernah menjalankan sholat  di masjid ini terasa lama. gerakan dan bacaannya lambat. dan kadang membuat orang yang tidak pernah sholat seperti ini menjadi "nglambyar".
Mengapa demikian. Sholat adalah ibdah yang diwajibkan oleh Allah SWT. Sunnahnya adalah Nabi Muhammad SAW sebagai teladan. Sebisa mungkin gerakan dan bacaan sesuai dengan yang dicontohkan Nabi. Kalau tidak sama persis minimal mendekati.
(bersambung)
Baca juga : 
Read more >>

Rabu, 09 November 2011

Ketika Para Juru Dakwah Telah DipanggilNya, Kembali (Bagian 4)

Akhirnya jenazah selesai sudah disucikan. Tidak banyak proses yang kuketahui hingga akhirnya jenazah dikafani. Menurut keluarga ada satu wasiat yang tidak dapat dipenuhi. Bahwasanya almarhum telah berwasiat untuk dikafani dengan kain ihram yang dugunakan untuk meleaksanakan ibadah hajinya di tahun 1978. Namun, sampai jenasah disucikan kain tersebut tidak ditemukan. Akhirnya diambil keputusan bahwa jenazah dikafani dengan kain kafan biasanya.
Ada waktu jedah yang lumayan lama antara mensucikan sampai mengubur jenazah. Pasalnya dari pihak keluarga yang jauh belum datang. maka ditunggulah pihak keluarga tersebut untuk menyaksikan kali terakhir almarhum sebelum dikebumikan.
Jenazah diangkat dibawah ke Masjid At Taqwa II yang letaknya berada teapat di depan rumah Almarhum.
Ada yang menarik tetang masjid ini. menurut sejarah masjid ini dibangun sebelum penulis dilahirkan. Tidak ada dokumen pasti. namun yang jelas, masjid ini mengalami beberapa pemugaran. Mulai dari bentuk gedhek yang sangat sederhana sampai sekarang menjadi masjid yang lumayan besar. Masjid yang sekarang adalah masjid yang baru. Sedangkan masjid yang lama digunakan sebagai sarana pendidikan TK ABA 14 setalah dirombak total oleh Muhammadiyah dan Aisyiyah.
Tentang nama sendiri sebenarnya nama masjid ini adalah Nurul Islah, tetapi waktu pendataan mendadak menjadi Masjid At Taqwa II. Bagaimana kronologisnya ? wallahu aa'lam
Jenazah disemayamkan di depan mihrab. Para petakziyah segera mengambil air wudhu. yang sudah memeiliki wudhu secara tertib membentuk shaf guna melaksanakan sholat jenazah. Penuh sesak di dalam masjid sampai keluar ke teras masjid. Sholat dibagi menjadi beberapa gelombang. Gelombang pertama sholat dipimpin imam H. Barokah (mantan ketua PC Muhammadiyah Gempol).
Tidak sampai 5 menit usai sudah sholat tersebut. (bersambung)
Read more >>

Hasil Ujian Ulang Tulis dan Praktek dan Hasil PLPG angkatan 20 s.d. 27

Pengumuman Hasil Ujian Ulang untuk Tulis dan Praktek dan hasil PLPG Angkatan 20 s.d. 27 sudah dapat dilihat hasilnya di sini
Read more >>

Sabtu, 05 November 2011

Ketika Para Juru Dakwah Telah DipanggilNya, Kembali (Bag. 3)

Bersama istri dan kedua anakku kulangkakan kaki kami ke arah barat. Haedar berjalan dengan kugandenga sedang Haekal bersama dengan ibunya di gendongan. Jarak rumah kami dengan almarhum hanya kisaran 100 m saja. Rumah almarhum menghadap arah barat. tepat seberang jalan terdapat sebuah masjid yang menjjadi pusat dakwah dan kegiatan di kampung Dateng.
Istriku masuk lewat pintu belakang dengan Haekal. Sedangkan aku dengan Haedar langsung menuju bagian halaman depan rumah melewati samping utara rumah yang masih sangat luas tanahnya. memang salah satu orang yang meiliki pekarangan tanah yang luas adalah almarhum di kampung Dateng.
Di depan sudah banyak para pelayat yang sudah datang. Beberapa Jamaah Masjid At Taqwa II nampak dengan raut kesedian. namapak juga warga kampung lainnya, tokoh masyarakat, warga Muhammadiyah dari Ngoro, Gempol dan lainnya yang tidak semuanya aku kenal satu persatu. Kusalami satu persatu dari mereka. mereka membalas. Ada juga sapaan dan pertanyaan tentang kabar.
kujawab kabar tersebut dengan hamdalah.
"Apa jenazah sudah datanga" tanyaku pada seorang pelayat.
"sudah pak, di dalam. tetapi belum disucikan" jawabnya
Kulihat ruang tamu rumah almarhum. Sesosok jenazah dibaringkan di atas amben. Sesosok yang dulunya tegas memegang prinsip dan keyakinan. Sesosok yang ikhlas dalam dakwahnya. Bahkan saking ikhlasnya, sampai dengan usia senja beliau tidak berkenan ketika mendapat undangan dakwah dijemput pengundang. beliaunya lebih suka jika berangkat sendiri dengan mengendarai motor. sendiri. padahal kadangkala jarak yang dijemput sampai puluhan kilometer dan malam hari. Subhanallah, juru dakwah yang lain kadangkala tidak sanggup untuk melaksanakannya.
Kukuatkan diri menatap sosok tersebut. aku tidak masuk ke dalam karena jenazah akan Segera disucikan. Sementara belum nampak keluarga yang ditinggalkan. menurut informasi semua masih di rumah sakit mengurus administrasi.
Kami semua menunggu, ada yang duduk-duduk di kusih yang terbatas jumlahnya. Ada yang berdiri, bercengkeramah. Tidak terasa panas karena halaman rumah almarhum terlindungi pepohonan yang sangat rimbun. Pohon mangga utamanya sudah berusia puluhan tahun. Yang kuingat pepohonan tersebut sudah ada sebelum aku ada
(bersambung)
Baca juga :
Read more >>

Jumat, 04 November 2011

Ketika Para Juru Dakwah Telah DipanggilNya, Kembali (Bag. 2)

Sontak kabar itu mengagetkan aku. demikian juga istri yang ada di dapur. Ada perasaan tak percaya, sedih, kehilangan menjadi satu. Kecamuk pikiran juga tak menentu. Pertanyaan - pertanyaan berputar di ubun - ubunku.
"Bagaimana nasib umat ini ?" gumanku dalam hati "Bagaimana warga Muhammadiyah ?" aku masih tak percaya. "Dimanakah kami bertanya dan mengaduh ?"
Secepat mungkin kugendong si kecil Haekal dan kumandikan di belakang menyusul Haedar. Kupakaikan pakaian bagi mereka berdua. Khusus Haedar kukenakan untuknya seragam olah raga TKnya, kebetulan Haedar sudah saya plot untuk sekolah di TK ABA 14 Watesnegoro depan Rumah Almarhun H. Hasan dikarenakan dalam waktu relatif singkat kami sekeluarga akan berpindah ke Glatik Watesnegoro.

sementera istri yang ada di belakang segera berbenah dan meninggalkan aktivitas rutin perdapuran. Secepatnya kami sekeluarga berangkat untuk bertakziyah ke rumah duka.
Dengan mengendarai motor secepatnya kami berangkat takziyah. Dari depan rumah 100m kami menyusuri Gg. Muhammadiyah yang sempit di desa Carat. masuk jalan besar kukendarai motor dengan kecepatan maksimal (80km/jam). Ramai lalu lalang kendaraan. Ada motor para karyawan pabrik NIP, PNS dan juga tak luput orang-orang yang pergi pulang ke pasar. Dumb Truck juga turut serta mewarnai kesemarawutan angkutan jalan.
Suasana hening. Isrtiku terdiam. Hanya Haedar saja yang berkali-kali bertanya menanyakan kabar H. Hasan.
"Mbah Kaji meninggal ta ya ....?" tanyanya.
Sesekali kujawab " ya...!" singkat saja. sebenarnya saya enggan menjawab pertanyaan itu. namun aku tidak ingin mematikan keberaniaannya untuk bertanya. kreativitasnya. Anak kecil, belum memahami makna kematian. Jiwanya polos, meskipun sesekali menghibur kami dengan kenakalannya yang sontak membuat kami marah.
Jalan Besar sudah kami lewati. kami masuk dusun Wates dan tidak melewati Gerbang Dateng. rencanaku motorku kuparkir di rumah orang tuaku yang memang ada di sisi timur Dateng sedang rumah H. Hasan ada di sisi Baratnya.
Sepi sekali jalanan kampung. hening dan memberikan kesan kesedihan. Kampung yang ditinggal tokoh besarnya. Panutan. (bersambung)
Read more >>

Kamis, 03 November 2011

Hitam di Dahi, Nyunni ?

Tanya:
“Bagaimana cara menyamarkan/menghilangkan noda hitam di kening/di jidat karena sewaktu sujud dalam shalat terlalu menghujam sehingga ada bekas warna hitam?”
0281764xxxx


Jawab:
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ
Yang artinya, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud” (QS al Fath:29).
Banyak orang yang salah paham dengan maksud ayat ini. Ada yang mengira bahwa dahi yang hitam karena sujud itulah yang dimaksudkan dengan tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Padahal bukan demikian yang dimaksudkan.
Diriwayatkan oleh Thabari dengan sanad yang hasan dari Ibnu Abbas bahwa yang dimaksudkan dengan ‘tanda mereka…” adalah perilaku yang baik.
Diriwayatkan oleh Thabari dengan sanad yang kuat dari Mujahid bahwa yang dimaksudkan adalah kekhusyukan.
Juga diriwayatkan oleh Thabari dengan sanad yang hasan dari Qatadah, beliau berkata, “Ciri mereka adalah shalat” (Tafsir Mukhtashar Shahih hal 546).
عَنْ سَالِمٍ أَبِى النَّضْرِ قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ إِلَى ابْنِ عُمَرَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ قَالَ : مَنْ أَنْتَ؟ قَالَ : أَنَا حَاضِنُكَ فُلاَنٌ. وَرَأَى بَيْنَ عَيْنَيْهِ سَجْدَةً سَوْدَاءَ فَقَالَ : مَا هَذَا الأَثَرُ بَيْنَ عَيْنَيْكَ؟ فَقَدْ صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُمْ فَهَلْ تَرَى هَا هُنَا مِنْ شَىْءٍ؟
Dari Salim Abu Nadhr, ada seorang yang datang menemui Ibnu Umar. Setelah orang tersebut mengucapkan salam, Ibnu Umar bertanya kepadanya, “Siapakah anda?”. “Aku adalah anak asuhmu”, jawab orang tersebut.
Ibnu Umar melihat ada bekas sujud yang berwarna hitam di antara kedua matanya. Beliau berkata kepadanya, “Bekas apa yang ada di antara kedua matamu? Sungguh aku telah lama bershahabat dengan Rasulullah, Abu Bakr, Umar dan Utsman. Apakah kau lihat ada bekas tersebut pada dahiku?” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3698)
عَنِ ابْنِ عُمَرَ : أَنَّهُ رَأَى أَثَرًا فَقَالَ : يَا عَبْدَ اللَّهِ إِنَّ صُورَةَ الرَّجُلِ وَجْهُهُ ، فَلاَ تَشِنْ صُورَتَكَ.
Dari Ibnu Umar, beliau melihat ada seorang yang pada dahinya terdapat bekas sujud. Ibnu Umar berkata, “Wahai hamba Allah, sesungguhnya penampilan seseorang itu terletak pada wajahnya. Janganlah kau jelekkan penampilanmu!” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3699).
عَنْ أَبِى عَوْنٍ قَالَ : رَأَى أَبُو الدَّرْدَاءِ امْرَأَةً بِوَجْهِهَا أَثَرٌ مِثْلُ ثَفِنَةِ الْعَنْزِ ، فَقَالَ : لَوْ لَمْ يَكُنْ هَذَا بِوَجْهِكِ كَانَ خَيْرًا لَكِ.
Dari Abi Aun, Abu Darda’ melihat seorang perempuan yang pada wajahnya terdapat ‘kapal’ semisal ‘kapal’ yang ada pada seekor kambing. Beliau lantas berkata, ‘Seandainya bekas itu tidak ada pada dirimu tentu lebih baik” (Riwayat Bahaqi dalam Sunan Kubro no 3700).
عَنْ حُمَيْدٍ هُوَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ : كُنَّا عِنْدَ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ إِذْ جَاءَهُ الزُّبَيْرُ بْنُ سُهَيْلِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ فَقَالَ : قَدْ أَفْسَدَ وَجْهَهُ ، وَاللَّهِ مَا هِىَ سِيمَاءُ ، وَاللَّهِ لَقَدْ صَلَّيْتُ عَلَى وَجْهِى مُذْ كَذَا وَكَذَا ، مَا أَثَّرَ السُّجُودُ فِى وَجْهِى شَيْئًا.
Dari Humaid bin Abdirrahman, aku berada di dekat as Saib bin Yazid ketika seorang yang bernama az Zubair bin Suhail bin Abdirrahman bin Auf datang. Melihat kedatangannya, as Saib berkata, “Sungguh dia telah merusak wajahnya. Demi Allah bekas di dahi itu bukanlah bekas sujud. Demi Allah aku telah shalat dengan menggunakan wajahku ini selama sekian waktu lamanya namun sujud tidaklah memberi bekas sedikitpun pada wajahku” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3701).
عَنْ مَنْصُورٍ قَالَ قُلْتُ لِمُجَاهِدٍ (سِيمَاهُمْ فِى وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ) أَهُوَ أَثَرُ السُّجُودِ فِى وَجْهِ الإِنْسَانِ؟ فَقَالَ : لاَ إِنَّ أَحَدَهُمْ يَكُونُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ مِثْلُ رُكْبَةِ الْعَنْزِ وَهُوَ كَمَا شَاءَ اللَّهُ يَعْنِى مِنَ الشَّرِّ وَلَكِنَّهُ الْخُشُوعُ.
Dari Manshur, Aku bertanya kepada Mujahid tentang maksud dari firman Allah, ‘tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud’ apakah yang dimaksudkan adalah bekas di wajah?
Jawaban beliau, “Bukan, bahkan ada orang yang ‘kapal’ yang ada di antara kedua matanxa itu bagaikan ‘kapal’ yang ada pada lutut onta namun dia adalah orang bejat. Tanda yang dimaksudkan adalah kekhusyu’an” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3702).
Bahkan Ahmad ash Showi mengatakan, “Bukanlah yang dimaksudkan oleh ayat adalah sebagaimana perbuatan orang-orang bodoh dan tukang riya’ yaitu tanda hitam yang ada di dahi karena hal itu adalah ciri khas khawarij (baca: ahli bid’ah)” (Hasyiah ash Shawi 4/134, Dar al Fikr).
Dari al Azroq bin Qois, Syarik bin Syihab berkata, “Aku berharap bisa bertemu dengan salah seorang shahabat Muhammad yang bisa menceritakan hadits tentang Khawarij kepadaku. Suatu hari aku berjumpa dengan Abu Barzah yang berada bersama satu rombongan para shahabat. Aku berkata kepadanya, “Ceritakanlah kepadaku hadits yang kau dengar dari Rasulullah tentang Khawarij!”.
Beliau berkata, “Akan kuceritakan kepada kalian suatu hadits yang didengar sendiri oleh kedua telingaku dan dilihat oleh kedua mataku. Sejumlah uang dinar diserahkan kepada Rasulullah lalu beliau membaginya. Ada seorang yang plontos kepalanya dan ada hitam-hitam bekas sujud di antara kedua matanya. Dia mengenakan dua lembar kain berwarna putih. Dia mendatangi Nabi dari arah sebelah kanan dengan harapan agar Nabi memberikan dinar kepadanya namun beliau tidak memberinya.
Dia lantas berkata, “Hai Muhammad hari ini engkau tidak membagi dengan adil”.
Mendengar ucapannya, Nabi marah besar. Beliau bersabda, “Demi Allah, setelah aku meninggal dunia kalian tidak akan menemukan orang yang lebih adil dibandingkan diriku”. Demikian beliau ulangi sebanyak tiga kali. Kemudian beliau bersabda,
يَخْرُجُ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ رِجَالٌ كَانَ هَذَا مِنْهُمْ هَدْيُهُمْ هَكَذَا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ ثُمَّ لاَ يَرْجِعُونَ فِيهِ سِيمَاهُمُ التَّحْلِيقُ لاَ يَزَالُونَ يَخْرُجُونَ
“Akan keluar dari arah timur orang-orang yang seperti itu penampilan mereka. Dia adalah bagian dari mereka. Mereka membaca al Qur’an namun alQur’an tidaklah melewati tenggorokan mereka. Mereka melesat dari agama sebagaimana anak panah melesat dari binatang sasarannya setelah menembusnya kemudia mereka tidak akan kembali kepada agama. Ciri khas mereka adalah plontos kepala. Mereka akan selalul muncul” (HR Ahmad no 19798, dinilai shahih li gharihi oleh Syeikh Syu’aib al Arnauth).
Oleh karena itu, ketika kita sujud hendaknya proporsonal jangan terlalu berlebih-lebihan sehingga hampir seperti orang yang telungkup. Tindakan inilah yang sering menjadi sebab timbulnya bekas hitam di dahi.
sumber :ustadzaris.com
tapi bagaimana jika tanpa kita kehendaki ternyata hitam dengan sendirinya ?......
wah...masa harus pake pemutih ?
Read more >>

Ketika Para Juru Dakwah Telah DipanggilNya, Kembali

            Tanggal 1 Oktober 2011, ba'dah subuh. Ketika itu keadaan tubuhku masih dalam keadaan capai setelah aktivitas yang sangat padat yang aku kerjakan seharian penuh pada hari jumat sebelumnya. kugunakan waktu senggang habis subuh sampai dengan waktu akan berangkat sekolah dengan sedkit bermalas-malasan di kamar bersama anak-anak yang masih terlelap dengan wajah kejujuran meraka. sementara istri telah lama membantu aktivitas dapur umum di belakang. Waktu itu kami masih berada di perumahan WMI (dibaca : Wisma Mertua Indah). Kurang lebih hampir lima tahun sudah kami ndompleng di sana sampai menelorkan 2 generasi penerus yang kesemuanya laki-laki. HAEDAR ASADULLAH LAZZUARDI dan HAEKAL AZHAR LAZZUARDY. Yang pertama bermakna Singa Allah yang Pemberani yang bagi kami adalah permata hati. dan yang kedua bermakna Pria Gagah Rupawan yang menyinarkan kebaikan yang bagi kami adalah harta kami yang berharga. sambil memeluk mereka berdua kadang kala diri masih terbawah dalam sebuah lena. Tertidur.....
           tit....tit....tit.......suara nada sms HP N****a jelek milikku berdering. paling pikirku ada salah satu staf pendidik di SD MUTUyang ijin gak masuk. mungkin sakit atau anaknya sakit, atau ibu-bapaknya sakit, tetangganya meninggal dunia dan lain sebagainya. kubiarkan saja. ada perasaan malas membuka sms pagi. salah satu penyebabnya adalah hal di atas.
           tulit...tulit....tulit....nada dering berisik dari HP N****a jelek milikku berdering membangunkan tidur malasku. kusaut HP tersebut. dari BPK. Bukan Badan Pemeriksa Keuangan, tetapi Bapakku yang telepon.kupencet tombol terima. tidak ada suara, mati. kulihat kembali pada layar. 1 panggilan tak terjawab. "telat..." pikirku. sekarang kubuka sms yang tadi masuk
"innalillahi wa inna ilaihi raji'un....telah berpulang ke rahmatullah Ust. H. Hasan Subagio...."
"deg.......!!!!"(bersambung)

Read more >>

Rabu, 02 November 2011

Amalan Sholih di Awal Dzulhijah

Alhamdulillah, Allah subhanahu wa ta’ala masih memberikan kita berbagai macam nikmat, kita pun diberi anugerah akan berjumpa dengan bulan Dzulhijah. Berikut kami akan menjelasakan keutamaan beramal di awal bulan Dzulhijah dan apa saja amalan yang dianjurkan ketika itu. Semoga bermanfaat.
Keutamaan Sepuluh Hari di Awal Bulan Dzulhijah
Di antara yang menunjukkan keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah adalah hadits Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ . يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ
“Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.”[1]
Di antaranya lagi yang menunjukkan keutamaan hari-hari tersebut adalah firman Allah Ta’ala,
وَلَيَالٍ عَشْرٍ
“Dan demi malam yang sepuluh.” (QS. Al Fajr: 2). Di sini Allah menggunakan kalimat sumpah. Ini menunjukkan keutamaan sesuatu yang disebutkan dalam sumpah.[2] Makna ayat ini, ada empat tafsiran dari para ulama yaitu: sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah, sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, sepuluh hari pertama bulan Ramadhan dan sepuluh hari pertama bulan Muharram.[3] Malam (lail) kadang juga digunakan untuk menyebut hari (yaum), sehingga ayat tersebut bisa dimaknakan sepuluh hari Dzulhijah.[4] Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan bahwa tafsiran yang menyebut sepuluh hari Dzulhijah, itulah yang lebih tepat. Pendapat ini dipilih oleh mayoritas pakar tafsir dari para salaf dan selain mereka, juga menjadi pendapat Ibnu ‘Abbas.[5]
Keutamaan Beramal di Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijah
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.”[6]
Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan,
Read more >>

Selasa, 01 November 2011

Larangan Memotong Kuku dan Mencukur Rambut Bagi Pekurban

Al Lajnah Ad Da-imah (Komisi Fatwa di Saudi Arabia) pernah ditanya, “Katanya ada hadits yang menjelaskan bahwa siapa yang ingin berqurban atau keluarga yang diniatkan pahala untuk berqurban, maka ia tidak boleh mencukur bulu, rambut kepala dan juga memotong kuku sampai ia berqurban. Apakah larangan ini umum untuk seluruh anggota keluarga (yang diniatkan dalam pahala qurban), baik dewasa atau anak-anak? Ataukah larangan ini berlaku untuk yang sudah dewasa saja, tidak termasuk anak-anak?”
Jawab:
Kami tidak mengetahui lafazh hadits sebagaimana yang penanya sebutkan. Lafazh yang kami tahu sebagaimana shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diriwayatkan oleh al Jama’ah kecuali Al Bukhari yaitu dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha,
إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِى الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ
“Jika kalian telah menyaksikan hilal Dzul Hijah (maksudnya telah memasuki satu Dzulhijah, pen) dan kalian ingin berqurban, maka hendaklah shohibul qurban membiarkan (artinya tidak memotong) rambut dan kukunya.”[1]
Dalam lafazh lainnya,
مَنْ كَانَ لَهُ ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ فَإِذَا أُهِلَّ هِلاَلُ ذِى الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّىَ
“Siapa saja yang ingin berqurban dan apabila telah memasuki awal Dzulhijah (1 Dzulhijah), maka janganlah ia memotong rambut dan kukunya sampai ia berqurban.”[2]
Maka hadits ini menunjukkan terlarangnya memotong rambut dan kuku bagi orang yang ingin berqurban setelah memasuki 10 hari awal bulan Dzulhijah (mulai dari tanggal 1 Dzulhijah, pen).
Hadits pertama menunjukkan perintah untuk tidak memotong (rambut dan kuku). Asal perintah di sini menunjukkan wajibnya hal ini. Kami pun tidak mengetahui ada dalil yang memalingkan dari hukum asal yang wajib ini. Sedangkan riwayat kedua adalah larangan memotong (rambut dan kuku). Asal larangan di sini menunjukkan terlarangnya hal ini, yaitu terlarang memotong (rambut dan kuku). Kami pun tidak mengetahui ada dalil yang memalingkan dari hukum asal yang melarang hal ini.
Secara jelas pula, hadits ini khusus bagi orang yang ingin berqurban. Adapun anggota keluarga yang diikutkan dalam pahala qurban, baik sudah dewasa atau belum, maka mereka tidak terlarang memotong bulu, rambut dan kuku. Meraka (selain yang berniat qurban) dihukumi sebagaimana hukum asal yaitu boleh memotong rambut dan kulit dan kami tidak mengetahui adanya dalil yang memalingkan dari hukum asal ini.
Read more >>

Senin, 31 Oktober 2011

Pengumuman Hasil PLPG Guru MI Angkatan 18 & 19 (STIESIA)


Hasil PLPG Angkatan 18 dan 19 khusus guru MI kabupaten Jombang dan Lamongan sudah keluar per senin 31 Oktober 2011. Hasilnya dapat didownload di sini
Read more >>

Qorban Kerbau, Bolehkah


Hari raya Idul Adha yang sering juga disebut hari raya qorban tinggal dua hari lagi. Kaum muslimin yang akan melaksanakan ibadah 'udhiyah (qorban) sebagiannya sudah membeli hewan qorban. Namun, tidak sedikit yang masih lihat-lihat dan milah-milih hewan yang akan diqurbankannya.

Hewan qurban hanya boleh dari jenis Bahiimatul An’aam (hewan ternak). Dalilnya adalah firman Allah:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ

“Dan bagi setiap umat Kami berikan tuntunan berqurban agar kalian mengingat nama Allah atas rezki yang dilimpahkan kepada kalian berupa hewan-hewan ternak (bahiimatul an’aam).” (QS. Al Hajj: 34).

Dalam bahasa arab, (sebagaimana yang disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir), yang dimaksud Bahiimatul Al An’aam hanya mencakup tiga binatang yaitu onta, sapi, atau kambing. Oleh karena itu, berqurban hanya sah dengan tiga hewan tersebut dan tidak boleh selain itu. Bahkan sekelompok ulama menukilkan adanya ijma’ (kesepakatan) bahwasanya qurban tidak sah kecuali dengan hewan-hewan tersebut (lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/369 dan Al Wajiz 406).

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Bahkan jika seandainya ada orang yang berqurban dengan jenis hewan lain yang lebih mahal dari pada jenis ternak tersebut maka qurbannya tidak sah. Andaikan dia lebih memilih untuk berqurban seekor kuda seharga 10.000 real sedangkan seekor kambing harganya hanya 300 real maka qurbannya (dengan kuda) itu tidak sah…” (Syarhul Mumti’ III/409).

Read more >>

Pemanfaatan Hewan Qurban

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti petunjuk mereka hingga akhir zaman.

Dalam pemanfaatan hasil sembelihan qurban, seringkali kali kita saksikan beberapa hal yang dinilai kurang tepat menurut kacamata syari’at. Beberapa pelanggaran dalam ibadah ini sering terjadi, mungkin saja karena belum sampainya ilmu kepada orang yang melakukan ibadah qurban. Dalam tulisan kali ini -dengan taufik dan pertolongan Allah-, kami berusaha menjelaskan bagaimana pemanfaatan hasil sembelihan qurban yang tepat yang sesuai dengan tuntunan syari’at, juga bagaimanakah penilaian syariat terhadap praktek kaum muslimin saat ini dalam hal jual kulit hasil sembelihan qurban. Semoga Allah memberi kemudahan dan memberi taufik bagi siapa saja yang membaca risalah ini.

Pemanfaatan Hasil Sembelihan Qurban yang Dibolehkan
Allah Ta’ala berfirman,

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الأنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

“Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.” (QS. Al Hajj: 28)

Dalam hadits dari Salamah bin Al Akwa’ radhiyallahu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« مَنْ ضَحَّى مِنْكُمْ فَلاَ يُصْبِحَنَّ بَعْدَ ثَالِثَةٍ وَفِى بَيْتِهِ مِنْهُ شَىْءٌ » . فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ نَفْعَلُ كَمَا فَعَلْنَا عَامَ الْمَاضِى قَالَ « كُلُوا وَأَطْعِمُوا وَادَّخِرُوا فَإِنَّ ذَلِكَ الْعَامَ كَانَ بِالنَّاسِ جَهْدٌ فَأَرَدْتُ أَنْ تُعِينُوا فِيهَا »

”Barangsiapa di antara kalian berqurban, maka janganlah ada daging qurban yang masih tersisa dalam rumahnya setelah hari ketiga.” Ketika datang tahun berikutnya, para sahabat mengatakan, ”Wahai Rasulullah, apakah kami harus melakukan sebagaimana tahun lalu?” Maka beliau menjawab, ”(Adapun sekarang), makanlah sebagian, sebagian lagi berikan kepada orang lain dan sebagian lagi simpanlah. Pada tahun lalu masyarakat sedang mengalami paceklik sehingga aku berkeinginan supaya kalian membantu mereka dalam hal itu.”[1]

Jika kita melihat dalam hadits di atas, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan pada shohibul qurban untuk memakan daging qurban, memberi makan pada orang lain dan menyimpan daging qurban yang ada. Namun apakah perintah di sini wajib? Jawabnya, perintah di sini tidak wajib. Alasannya, perintah ini datang setelah adanya larangan. Dan berdasarkan kaedah Ushul Fiqih, ”Perintah setelah adanya larangan adalah kembali ke hukum sebelum dilarang.[2]” Hukum makan dan menyimpan daging qurban sebelum adanya larangan tersebut adalah mubah. Sehingga hukum shohibul qurban memakan daging qurban, memberi makan pada orang lain dan menyimpannya adalah mubah.

Ibnu Hajar Al Asqolani dalam Fathul Bari mengatakan,

وَقَوْله ” كُلُوا وَأَطْعِمُوا ” تَمَسَّكَ بِهِ مَنْ قَالَ بِوُجُوبِ الْأَكْل مِنْ الْأُضْحِيَّة ، وَلَا حُجَّة فِيهِ لِأَنَّهُ أَمْر بَعْد حَظْر فَيَكُون لِلْإِبَاحَةِ

”Sebagian orang yang berpendapat bahwa shohibul qurban wajib memakan sebagian daging qurbannya beralasan dengan perintah Nabi –shallallahu ’alaihi wa sallam- ”makanlah dan berilah makan” dalam hadits di atas. Namun sebenarnya mereka tidak memiliki dalil yang jelas. Karena perintah tersebut datang setelah adanya larangan, maka dihukumi mubah (boleh).”

Dalam hadits ini kita juga mengetahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melarang menyimpan daging qurban lebih dari tiga hari. Hal itu agar umat Islam pada saat itu menshodaqohkan kelebihan daging qurban yang ada. Namun larangan tersebut kemudian dihapus. Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tegas menghapus larangan tersebut dan menyebutkan alasannya. Beliau bersabda,

« كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ لُحُومِ الأَضَاحِى فَوْقَ ثَلاَثٍ لِيَتَّسِعَ ذُو الطَّوْلِ عَلَى مَنْ لاَ طَوْلَ لَهُ فَكُلُوا مَا بَدَا لَكُمْ وَأَطْعِمُوا وَادَّخِرُوا ». قَالَ وَفِى الْبَابِ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ وَعَائِشَةَ وَنُبَيْشَةَ وَأَبِى سَعِيدٍ وَقَتَادَةَ بْنِ النُّعْمَانِ وَأَنَسٍ وَأُمِّ سَلَمَةَ. قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ بُرَيْدَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.

“Dulu aku melarang kalian dari menyimpan daging qurban lebih dari tiga hari agar orang yang memiliki kecukupan memberi keluasan kepada orang yang tidak memiliki kecukupan. Namun sekarang, makanlah semau kalian, berilah makan, dan simpanlah.”[3] Setelah menyebutkan hadits ini, At Tirmidzi mengatakan,

وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَغَيْرِهِمْ.

“Hadits ini telah diamalkan oleh para ulama dari sahabat Nabi dan selain mereka.”

Apakah Mesti Ada Pembagian 1/3 – 1/3?

Syaikh Abu Malik dalam Shahih Fiqh Sunnah memberikan keterangan, “Kebanyakan ulama menyatakan bahwa orang yang berqurban disunnahkan bersedekah dengan sepertiga hewan qurban, memberi makan dengan sepertiganya dan sepertiganya lagi dimakan oleh dirinya dan keluarga. Namun riwayat-riwayat tersebut sebenarnya adalah riwayat yang lemah. Sehingga yang lebih tepat hal ini dikembalikan pada keputusan orang yang berqurban (shohibul qurban). Seandainya ia ingin sedekahkan seluruh hasil qurbannya, hal itu diperbolehkan. Dalilnya, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu,

أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – أَمَرَهُ أَنْ يَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ ، وَأَنْ يَقْسِمَ بُدْنَهُ كُلَّهَا ، لُحُومَهَا وَجُلُودَهَا وَجِلاَلَهَا ] فِى الْمَسَاكِينِ[ ، وَلاَ يُعْطِىَ فِى جِزَارَتِهَا شَيْئًا

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan dia untuk mengurusi unta-unta hadyu. Beliau memerintah untuk membagi semua daging qurbannya, kulit dan jilalnya (kulit yang ditaruh pada punggung unta untuk melindungi dari dingin) untuk orang-orang miskin. Dan beliau tidak diperbolehkan memberikan bagian apapun dari qurban itu kepada tukang jagal (sebagai upah).[4]”[5] Dalam hadits ini terlihat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai menyedekahkan seluruh hasil sembelihan qurbannya kepada orang miskin.

Al Lajnah Ad Da-imah (Komisi Fatwa di Saudi Arabia) mengatakan, “Hasil sembelihan qurban dianjurkan dimakan oleh shohibul qurban. Sebagian lainnya diberikan kepada faqir miskin untuk memenuhi kebutuhan mereka pada hari itu. Sebagian lagi diberikan kepada kerabat agar lebih mempererat tali silaturahmi. Sebagian lagi diberikan pada tetangga dalam rangka berbuat baik. Juga sebagian lagi diberikan pada saudara muslim lainnya agar semakin memperkuat ukhuwah.”[6]

Dalam fatwa lainnya, Al Lajnah Ad Da-imah menjelaskan bolehnya pembagian hasil sembelihan qurban tadi lebih atau kurang dari 1/3. Mereka menjelaskan, “Adapun daging hasil sembelihan qurban, maka lebih utama sepertiganya dimakan oleh shohibul qurban; sepertiganya lagi dihadiahkan pada kerabat, tetangga, dan sahabat dekat; serta sepertiganya lagi disedekahkan kepada fakir miskin. Namun jika lebih/ kurang dari sepertiga atau diserahkan pada sebagian orang tanpa lainnya (misalnya hanya diberikan pada orang miskin saja tanpa yang lainnya, pen), maka itu juga tetap diperbolehkan. Dalam masalah ini ada kelonggaran.”[7]

Intinya, pemanfaatan hasil sembelihan qurban yang dibolehkan adalah:

1. Dimakan oleh shohibul qurban.
2. Disedekahkan kepada faqir miskin untuk memenuhi kebutuhan mereka.
3. Dihadiahkan pada kerabat untuk mengikat tali silaturahmi, pada tetangga dalam rangka berbuat baik dan pada saudara muslim lainnya agar memperkuat ukhuwah.

Bolehkah Memberikah Hasil Sembelihan Qurban pada Orang Kafir?

Al Lajnah Ad Da-imah (Komisi Fatwa di Saudi Arabia) pernah diajukan pertanyaan: Bolehkah daging qurban hasil sembelihan atau sesuatu yang termasuk sedekah diserahkan pada orang kafir?

Jawaban ulama yang duduk di Al Lajnah Ad Da-imah: “Orang kafir boleh diberi hewan hasil sembelihan qurban, asalkan ia bukan kafir harbi (yaitu bukan kafir yang diajak perang) …. Dalil hal ini adalah firman Allah Ta’ala,

لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al Mumtahanah: 8). Alasan lainnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan pada Asma’ binti Abi Bakr agar menyambung hubungan baik dengan ibunya padahal ibunya adalah seorang musyrik sebagaimana diriwayatkan oleh Al Bukhari[8].”[9]

Kesimpulan: Memberikan hasil hewan qurban kepada orang kafir (asalkan bukan kafir harbi) dibolehkan karena status hewan qurban sama dengan sedekah atau hadiah. Dan kita diperbolehkan memberikan sedekah maupun hadiah kepada siapa saja termasuk orang kafir. Sedangkan pendapat yang melarang adalah pendapat yang tidak kuat karena tidak berdalil.

Pemanfaatan Hasil Sembelihan Qurban yang Terlarang

Ada dua bentuk pemanfaatan hasil sembelihan qurban yang terlarang, yaitu [1] Menjual sebagian dari hasil sembelihan qurban dan [2] Memberi upah pada jagal dari hasil sembelihan qurban. Berikut penjelasannya.

Larangan pertama: Menjual sebagian dari hasil sembelihan qurban baik berupa kulit, wol, rambut, daging, tulang dan bagian lainnya.

Dalil terlarangnya hal ini adalah hadits Abu Sa’id, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَلاَ تَبِيعُوا لُحُومَ الْهَدْىِ وَالأَضَاحِىِّ فَكُلُوا وَتَصَدَّقُوا وَاسْتَمْتِعُوا بِجُلُودِهَا وَلاَ تَبِيعُوهَا

“Janganlah menjual hewan hasil sembelihan hadyu[10] dan sembelian udh-hiyah (qurban).Tetapi makanlah, bershodaqohlah, dan gunakanlah kulitnya untuk bersenang-senang, namun jangan kamu menjualnya.” Hadits ini adalah hadits yang dho’if (lemah).[11]

Walaupun hadits di atas dho’if, menjual hasil sembelihan qurban tetap terlarang. Alasannya, qurban disembahkan sebagai bentuk taqorrub pada Allah yaitu mendekatkan diri pada-Nya sehingga tidak boleh diperjualbelikan. Sama halnya dengan zakat. Jika harta zakat kita telah mencapai nishob (ukuran minimal dikeluarkan zakat) dan telah memenuhi haul (masa satu tahun), maka kita harus serahkan kepada orang yang berhak menerima tanpa harus menjual padanya. Jika zakat tidak boleh demikian, maka begitu pula dengan qurban karena sama-sama bentuk taqorrub pada Allah. Alasan lainnya lagi adalah kita tidak diperkenankan memberikan upah kepada jagal dari hasil sembelihan qurban sebagaimana nanti akan kami jelaskan.[12]

Dari sini, tidak tepatlah praktek sebagian kaum muslimin ketika melakukan ibadah yang satu ini dengan menjual hasil qurban termasuk yang sering terjadi adalah menjual kulit. Bahkan untuk menjual kulit terdapat hadits khusus yang melarangnya. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ بَاعَ جِلْدَ أُضْحِيَّتِهِ فَلاَ أُضْحِيَّةَ لَهُ

“Barangsiapa menjual kulit hasil sembelihan qurban, maka tidak ada qurban baginya.”[13] Maksudnya, ibadah qurbannya tidak ada nilainya.

Larangan menjual hasil sembelihan qurban adalah pendapat para Imam Asy Syafi’i dan Imam Ahmad. Imam Asy Syafi’i mengatakan, “Binatang qurban termasuk nusuk (hewan yang disembelih untuk mendekatkan diri pada Allah). Hasil sembelihannya boleh dimakan, boleh diberikan kepada orang lain dan boleh disimpan. Aku tidak menjual sesuatu dari hasil sembelihan qurban (seperti daging atau kulitnya, pen). Barter antara hasil sembelihan qurban dengan barang lainnya termasuk jual beli.”[14]

Sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat dibolehkannya menjual hasil sembelihan qurban, namun hasil penjualannya disedekahkan.[15] Akan tetapi, yang lebih selamat dan lebih tepat, hal ini tidak diperbolehkan berdasarkan larangan dalam hadits di atas dan alasan yang telah disampaikan. Wallahu a’lam.

Catatan penting yang perlu diperhatikan: Pembolehan menjual hasil sembelihan qurban oleh Abu Hanifah adalah ditukar dengan barang karena seperti ini masuk kategori pemanfaatan hewan qurban menurut beliau. Jadi beliau tidak memaksudkan jual beli di sini adalah menukar dengan uang. Karena menukar dengan uang secara jelas merupakan penjualan yang nyata. Inilah keterangan dari Syaikh Abdullah Ali Bassam dalam Tawdhihul Ahkam[16] dan Ash Shon’ani dalam Subulus Salam[17]. Sehingga tidak tepat menjual kulit atau bagian lainnya, lalu mendapatkan uang sebagaimana yang dipraktekan sebagian panitia qurban saat ini. Mereka sengaja menjual kulit agar dapat menutupi biaya operasional atau untuk makan-makan panitia.

Mengenai penjualan hasil sembelihan qurban dapat kami rinci:

1. Terlarang menjual daging qurban (udh-hiyah atau pun hadyu) berdasarkan kesepakatan (ijma’) para ulama.[18]
2. Tentang menjual kulit qurban, para ulama berbeda pendapat:

Pertama: Tetap terlarang. Ini pendapat mayoritas ulama berdasarkan hadits di atas. Inilah pendapat yang lebih kuat karena berpegang dengan zhahir hadits (tekstual hadits) yang melarang menjual kulit sebagaimana disebutkan dalam riwayat Al Hakim. Berpegang pada pendapat ini lebih selamat, yaitu terlarangnya jual beli kulit secara mutlak.

Kedua: Boleh, asalkan ditukar dengan barang (bukan dengan uang). Ini pendapat Abu Hanifah. Pendapat ini terbantah karena menukar juga termasuk jual beli. Pendapat ini juga telah disanggah oleh Imam Asy Syafi’i dalam Al Umm (2/351). Imam Asy Syafi’i mengatakan, “Aku tidak suka menjual daging atau kulitnya. Barter hasil sembelihan qurban dengan barang lain juga termasuk jual beli.” [19]

Ketiga: Boleh secara mutlak. Ini pendapat Abu Tsaur sebagaimana disebutkan oleh An Nawawi[20]. Pendapat ini jelas lemah karena bertentangan dengan zhahir hadits yang melarang menjual kulit.

Sebagai nasehat bagi yang menjalani ibadah qurban: Hendaklah kulit tersebut diserahkan secara cuma-cuma kepada siapa saja yang membutuhkan, bisa kepada fakir miskin atau yayasan sosial. Setelah diserahkan kepada mereka, terserah mereka mau manfaatkan untuk apa. Kalau yang menerima kulit tadi mau menjualnya kembali, maka itu dibolehkan. Namun hasilnya tetap dimanfaatkan oleh orang yang menerima kulit qurban tadi dan bukan dimanfaatkan oleh shohibul qurban atau panitia qurban (wakil shohibul qurban).

Larangan kedua: Memberi upah pada jagal dari hasil sembelihan qurban.

Dalil dari hal ini adalah riwayat yang disebutkan oleh ‘Ali bin Abi Tholib,

أَمَرَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَنْ أَتَصَدَّقَ بِلَحْمِهَا وَجُلُودِهَا وَأَجِلَّتِهَا وَأَنْ لاَ أُعْطِىَ الْجَزَّارَ مِنْهَا قَالَ « نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِنَا ».

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkanku untuk mengurusi unta-unta qurban beliau. Aku mensedekahkan daging, kulit, dan jilalnya (kulit yang ditaruh pada punggung unta untuk melindungi dari dingin). Aku tidak memberi sesuatu pun dari hasil sembelihan qurban kepada tukang jagal. Beliau bersabda, “Kami akan memberi upah kepada tukang jagal dari uang kami sendiri”.”[21]

Dari hadits ini, An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Tidak boleh memberi tukang jagal sebagian hasil sembelihan qurban sebagai upah baginya. Inilah pendapat ulama-ulama Syafi’iyah, juga menjadi pendapat Atho’, An Nakho’i, Imam Malik, Imam Ahmad dan Ishaq.”[22]

Namun sebagian ulama ada yang membolehkan memberikan upah kepada tukang jagal dengan kulit semacam Al Hasan Al Bashri. Beliau mengatakan, “Boleh memberi jagal upah dengan kulit.” An Nawawi lantas menyanggah pernyataan tersebut, “Perkataan beliau ini telah membuang sunnah.”[23]

Sehingga yang tepat, upah jagal bukan diambil dari hasil sembelihan qurban. Namun shohibul qurban hendaknya menyediakan upah khusus dari kantongnya sendiri untuk tukang jagal tersebut.

Demikian pembahasan kami seputar pemanfaatan hasil sembelihan qurban yang terlarang dan yang dibolehkan. Semoga Allah memudahkan kita beramal sholih dan menjauhkan dari apa yang Dia larang. Semoga Allah memberikan kita petunjuk, sikap takwa, keselamatan dan kecukupan.

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan siapa saja yang mengikuti petunjuk mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Pangukan, Sleman, 29 Dzulqo’dah 1430 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id


[1] HR. Bukhari no. 5569 dan Muslim no. 1974.

[2] Inilah yang menjadi pendapat para ulama salaf. Lihat Ma’alim Ushul Fiqh, Muhammad bin Husain bin Hasan Al Jizaniy, hal. 408-409, Dar Ibnul Jauzi, cetakan ketiga, tahun 1422 H.

[3] HR. Tirmidzi no. 1510, dari Sulaiman bin Buraidah, dari ayahnya. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[4] HR. Bukhari no. 1717 dan Muslim no. 1317.

[5] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik Kamal bin As Sayid Salim, 2/378, Al Maktabah At Taufiqiyah.

[6] Fatawa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyah wal Ifta’, soal kesembilan dari Fatwa no. 5612, 11/423-424, Mawqi’ Al Ifta’. Fatwa ini ditandatangani oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz sebagai ketua, Syaikh ‘Abdur Rozaq ‘Afifi sebagai Wakil Ketua, Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ud dan Syaikh ‘Abdullah bin Ghodyan sebagai Anggota.

[7] Fatawa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyah wal Ifta’, soal ketiga dari Fatwa no. 1997, 11/424-425, Mawqi’ Al Ifta’. Fatwa ini ditandatangani oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz sebagai ketua, Syaikh ‘Abdur Rozaq ‘Afifi sebagai Wakil Ketua, Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ud sebagai Anggota.

[8] Hadits selengkapnya lihat Shahih Al Bukhari no. 2620.

[9] Fatawa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyah wal Ifta’, soal kedua dari Fatwa no. 2752, 11/425-426, Mawqi’ Al Ifta’. Fatwa ini ditandatangani oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz sebagai ketua, Syaikh ‘Abdur Rozaq ‘Afifi sebagai Wakil Ketua, Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ud dan Syaikh ‘Abdullah bin Ghodyan sebagai Anggota.

[10] Hadyu adalah binatang ternak (unta, sapi atau kambing) yang disembelih oleh orang yang berhaji dan dihadiahkan kepada orang-orang miskin di Mekkah.

[11] HR. Ahmad no. 16256, 4/15. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini dho’if (lemah). Ibnu Juraij yaitu ‘Abdul Malik bin ‘Abdul ‘Aziz adalah seorang mudallis. Zubaid yaitu Ibnul Harits Al Yamiy sering meriwayatkan dengan mu’an’an. Zubaid pun tidak pernah bertemu dengan salah seorang sahabat. Sehingga hadits ini dihukumi munqothi’ (sanadnya terputus).

[12] Lihat keterangan Syaikh Abu Malik dalam Shahih Fiqh Sunnah, 2/379.

[13] HR. Al Hakim. Beliau mengatakan bahwa hadits ini shahih. Adz Dzahabi mengatakan bahwa dalam hadits ini terdapat Ibnu ‘Ayas yang didho’ifkan oleh Abu Daud. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1088.

[14] Lihat Tanwirul ‘Ainain bi Ahkamil Adhohi wal ‘Idain, hal. 373, Syaikh Abul Hasan Musthofa bin Isma’il As Sulaimani, terbitan Maktabah Al Furqon, cetakan pertama, tahun 1421 H.

[15] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2/379.

[16] Lihat Tawdhihul Ahkam min Bulughil Marom, Syaikh ‘Abdullah Ali Bassam, 4/465, Darul Atsar, cetakan pertama, tahun 1425 H.

[17] Lihat Subulus Salam Syarh Bulughul Marom, Muhammad bin Isma’il Ash Shon’ani, 4/177, Darul Fikr, cetakan tahun 1411 H.

[18] Lihat Tawdhihul Ahkam, 4/465.

[19] Lihat pendapat Imam Asy Syafi’i ini dalam Tanwirul ‘Ainain bi Ahkamil Adhohi wal ‘Idain, hal. 373.

[20] Syarh Muslim, An Nawawi, 4/453, Mawqi’ Al Islam.

[21] HR. Muslim no. 1317.

[22] Syarh Muslim, An Nawawi, 4/453.

[23] Idem

Sumber : muslim.or.id
Read more >>

Sabtu, 29 Oktober 2011

Start Lagi 7 Nopember, menghitung hari

Menghitung hari, bagi kawan-kawan GPAI khususnya yang bertugas di SD bahwa berdasar info dari tarbiyah.sunan-ampel.ac.id pelaksanaan PLPG PAI akan segera dimulai kembali. dengan rincian sebagai berikut :
1. IAIN telah meluncurkan surat ke Mapenda untuk segera dikirimkan data peserta PLPG GPAIS gelombang 2 selambat-lambatnya tanggal 31 Oktober 2011 (hari senin), jadi pastikan nama teman-teman telah tercover di dalamnya.
2. IAIN akan menyusun grouping atau kloter PLPG yang nanti akan start pada tanggal 7 Nopember 2011. Kabupaten mana yang menempati kloter awal, saya sendiri belum tau. nanti jika sudah ada kabar baru akan segera saya posting. di samping itu saya sarankan kepada kawan-kawan untuk sesering mungkin mengupdate informasi, karena berkenaan dengan nasib kita semua.
syukron, monggo ditunggu info-infonya. dan jangan lupa tolong tulis komentarnya.
Read more >>

Rabu, 26 Oktober 2011

Yang ditunggu-tunggu, Hasil PLPG angkatan 14 s.d. 17

Hasil PLPG angkatan 14 & 15 (STIESIA) dan angkatan 16 & 17 (NEW GRAND PARK) yang diselenggarakan LTPK Fakukltas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya sudah dapat dilihat disini
Sekali lagi selamat bagi yang sudah dinyatakan LULUS. Dan bagi yang ujian susulan jangan khawatir. insyaallah lulus
Read more >>

Selasa, 25 Oktober 2011

Pengumuman Hasil PLPG Guru PAIS Angkatan 10 dan 11


selamat kepada teman-teman guru agama yang dinyatakan lulus PLPG angkatan 10 dan 11, dan bagi yang dinyatakan ujian tulis jangan khawatir. mudah-mudahan diberikan kemudahan oleh Allah SWT.
Untuk hasil pengumumannya dapat didownload di sini
Read more >>

Jumat, 14 Oktober 2011

Hasil PLPG Guru PAIS Angkatan 12 & 13 LPTK IAIN Sunan Ampel

Surabaya. Berikut adalah link yang dapat saudara donlod tentang pengumuman hasil PLPG Guru Pais angkatan 12 dan 13 LPTK IAIN Sunan Ampel Surabaya tahun 2011.
Selamat Bagi kawan-kawan yang lulus. bagi yang belum jangan kuatir. masih ada ujian susulan bagi anda. jangan putus asa. OK
Link donlodnya disini
Read more >>

Kamis, 29 September 2011

Pengumuman PLPG GPAIS Angkatan 8 & 9 LPTK Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya

Berikut ini adalah link yang dapat dirujuk bagi kawan-kawan yang ingin mengetahui hasil PLPG Angkatan 8 & 9 bagi Guru PAI SD di Hotel Grand Park Surabaya yang diselenggarakan LPTK Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel SUrabaya. dari 282 peserta yang lulus ada 281, sedangkan 1 orang dinyatakan harus mengulang Ujian Tulis. Sabar ya ! linknya bisa didonlod di sini

UPDATE  !!!
Hasil atau pengumuman PLPG guru PAIS 2013 dapat diunduh disini
Read more >>

Senin, 26 September 2011

Din: Aksi Tersebut Hanya Dilakukan Orang Yang Tidak Bertuhan dan Berkemanusiaan

 

Yogyakarta- Aksi pengeboman yang diduga hasil bom bunuh diri di Solo pagi ini, merupakan aksi yang tidak dapat dibenarkan, serta hanya dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertuhan dan berperikemanusiaan Demikian disampaikan ketua umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin saat dikonfirmasi melalui pesan singkat mengenai aksi pengeboman di Gereja Kepunton, Jln Arif Rahman Hakim, Solo Jawa Tengah. Menurut Din, Muhammadiyah mengecam aksi tersebut, apalagi dilakukan di tempat ibadat dan sampai menewaskan umat yang sedang menunaikan ibadat. Din Syamsuddin juga menghimbau umat beragama agar dapat menahan diri, dan tidak terpancing oleh pihak-pihak yang ingin mengail di air keruh. Dalam akhir pesan singkatnya Din Syamsuddin meminta pada pihak Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) untuk dapat segera menyelidik dan menemukan pelaku, sekaligus actor intelektual dibelakang aksi yang mengerikan tersebut. sumber : www.muhammadiyah.or.id
Read more >>

Sabtu, 24 September 2011

Contoh RPP PAI Kelas VI Semester II hasil PLPG2011

Berikut ini contoh RPP hasil PLPG yang saya tulis sendiri hasil PLPG 2011 di Hotel New Grand park. untuk medianya berupa power point, mohon maaf belum dapat saya sertakan. silahkan kawan-kawan buat sendiri dan downlod di google. Silahkan di copas mudah-mudahan manfaat. RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Satuan Pendidikan : SD Muhammadiyah 1 Gempol Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam (PAI) Kelas / Semester : VI/ I Tahun Pelajaran : 2011/2012 Waktu : 2 x 35 menit (1 x Pertemuan) Pertemuan ke : 6 A. TUJUAN KOMPETENSI DASAR 1.2 Mengartikan QS Al Qodar dan QS Al Alaq 1-5 INDIKATOR 1.2.3 Menyebutkan kandungan QS Al Alaq ayat 1-5 B. Materi Pokok Kandungan QS Al Alaq : 1-5 C. Sumber Belajar 1. Al Quran dan Terjemahannya 2. Juz Amma 3. Tafsir Al Quran yang relevan 4. Buku PAI Kelas VI 5. Al Quran digital D. Media 1. LCD Proyektor 2. Laptop 3. Gambar : Zigot, sperma, Bayi dalam kandungan dan Bayi 4. Film tentang Penciptaan manusia 5. Slide powerpoint E. LANGKAH PEMBELAJARAN WAKTU Kegiatan Awal (10menit) • Guru membuka pelajaran dengan salam dan dilanjutkan dengan membaca doa bersama dipimpin oleh ketua kelas • Guru mengkondisikan siswa untuk menerima pelajaran dan dilanjutkan dengan memotivasi siswa agar senatiasa rajin belajar dan meningkatkan ilmu pengetahuan dengan banyak-banyak membaca dan menimba ilmu sebagaimana kandungan QS AL Alaq ayat 1 dan 3 • Guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang dicapai menurut indikator pembelajaran serta mengaitkan pembelajaran dengan disiplin ilmu lain (biologi) dan kenyataan dalam kehidupan • Guru melakukan apersepsi dengan menanyakan bacaan dan hafalan serta arti QS Al Alaq : 1-5 pada pembelajaran yang telah lalu. • Guru mengajak siswa bersama-sama membaca QS Al Alaq : 1-5 beserta artinta Kegiatan Inti (50 menit) • Guru membuka tanyangan powerpoint yang menampilkan gaambar sperma, zigot, janin dan bayi (eksplorasi) • Guru mempersilakan siswa menyampaikan pendapatnya tentang gambar tersebut (Agar lebih memancing pendapat siswa gambar tersebut ditampilkan satu persatu mulai dari sperma, zigot, janin dan bayi) serta mengaitkan dengan kehidupan nyata dalam keluarga dan lingkungan sekitar (eksplorasi) • Guru melanjutkan dengan menampilkan film tentang penciptaan manusia mulai dari konsepsi sampai dilahirkan (film dapat diperoleh di stus www.youtube.com) (eksplorasi) • Guru memberikan reward kepada siswa yang berhasil menyampaikan pendapatnya dengan benar dan memberikan penguatan terhadap jawaban tersebut (konfirmasi) • Guru membagi siswa dengan menjadi 5 kelompok yang terdiri atas 5-8 siswa. Tiap-tiap kelompok ditunjuk juru bicara dan sekretarisnya (pembagia kelompok dapat dilakukan dengan berhitung 1 sampai dengan 5 dan diulangi 1 lagi jika sudah sampai hitungan 5. Bisa juga pembagian tersebut menggunakan abjad atau nama – nama buah atau hewan). (elaborasi) • Setiap kelompok duduk melingkar dengan kelompoknya sendiri. (elaborasi • Guru berkeliling membagikan lembar diskusi kelompok (lembar diskusi kelompok isinya siswa mendiskusikan QS AL Alaq ayat 1-5. Karena kelompok terdiri atas 5 kelompok, maka setiap siswa berdiskusi masing-masing 1 saja. Lembar kerja diskusi ada dalam lampiran). (elaborasi) • Siswa berdiskusi pada masing-masing kelompoknya tentang tugas yang diberikan oleh guru serta mencatat hasil diskusi pada lembar kerja yang disediakan,(elaborasi) • Setiap kelompok melalui juru bicaranya membacakan hasil diskusi di depan kelas atau di kelompoknya masing-masing. (elaborasi) • Kelompok lain dipersilakan untuk mengajukan pertanyaan, sanggahan atau pendapatnya sendiri atas pendapat kelompok yang sedang mempresentasikan hasilnya.(elaborasi • Diskusi dilanjutkan dengan pembacaan hasil kelompok berikutnya dan begitu seterusnya.(untuk memudahkan pemahaman siswa, maka pembahasan atau presentasi kelompok dilakukan secara urut dari ayat 1 sampai dengan ayat 5). (elaborasi • Guru memberikan reward kepada siswa-siswa yang mengajukan pertanyaan, sanggahan maupun gagasan pada diskusi tersebut(akan lebih menarik jika guru memberikan reward berupa hadiah kecil yang dapat dinikmati kelompok ataupun pribadi siswa tersebut). (konfirmasi) • Guru memberikan penguatan tentang hasil diskusi yang disampaikan oleh masing-masing kelompok. (konfirmasi) Kegiatan Penutup (10 menit) • Guru meminta beberapa siswa untuk menyimpulkan hasil diskusi kelompok. (diupayakan siswa yang kurang aktiv dalam diskusi ditunjuk untuk menyimpulkan hasil diskusi yang telah dilakukan) • Guru melakukan penilaian berdasarkan indikator pembelajaran.(bentuk penilaian dalam lampiran) • Guru melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilakukan. (bentuk kegiatan bisa langsung ditanyakan kepada siswa tentang minat merekan terhadap pembelajaran yang telah dilakukan atau dengan memberikan poling kepada siswa agar penilaian siswa lebih obyektif) • Guru memberikan umpan balik dengan menanyakan kembali kepada siswa apakah sudah faham atau belum. Kegiatan Tindak Lanjut • Guru memberikan motivasi kepada siswa dan beberapa nasihat di antaranya untuk selalu menghormati kedua orang tuanya terlebih ibu yang telah melahirkan • Guru memberikan tugas kepada siswa • Guru menutup pembelajaran dengan doa dan salam atau bisa ditambahkan kegiatan lain yang lebih menarik PR F. PENILAIAN 1. Jenis dan bentuk penilaian a. Tes : Tes tulis (uraian singkat dan esai terbatas) b. Non test : Penilaian kinerja (Performance assesment) 2. Instrumen Penilaian a. Tes Tulis 1) Uraian Singkat Isilah titik-titik di bawah ini dengan jawaban yang benar ! 1. Kata Iqro’ dalam QS Al Alat ayat 1 dan 3 berarti ...... 2. Manusia diciptakan Allah dari ...... 3. Qolam dalam QS Al Alaq ayat 4 artinya ..... 4. Yang dimaksud ayat-ayat kauniyah adalah .... 5. Al Quran disebut ayat...... 2) Esai terbatas Jawablah dengan singkat dan benar ! 1. Uraiakan kandungan QS Al Alaq ayat 1 ! 2. Apakah yang dimaksud dengan Qolam ? 3. Bagaimana hubungan QS Al Alaq : 1-5 dengan Ilmu Pengetahuan dan teknologi (IPTEK) ? 4. Bagaimana sikap manusia jika sudah memahami asalnya dari air yang hina ? 5. Bagaimana sikap pelajar yang baik berkaitan dengan QS AL Alaq ayat 1-5 ? b. Non tes (penilaian kinerja) Skala Penilaian Diskusi Kelompok Kelas : VI Semester : II Indikator : 1.2.3. Menyebutkan kandungan QS Al Alaq : 1-5 NO NAMA SISWA ASPEK YANG DINILAI TOTAL SKOR KET A B C D E 1 2 3 4 5 6 Keterangan : A = Keaktivan berdiskusi B = Kemampuan menyampaikan pendapat C = Kemampuan menjawab pertanyaan D = Kemampuan menyimpulkan E = Etika berdiskusi Skala Score : 5 = baik sekali 4 = baik 3 = cukup 2 = kurang 1= sangat kurang Pasuruan, 2011 Mengetahui Guru PAI Kepala sekolah RIYONO, S.PdI RIYONO, S.PdI NIP. 19780903 200501 1 003 NIP. 19780903 200501 1 003 Lampiran I Materi Pembelajaran Kandungan QS Al Alaq : 1-5 kandungan QS Al alaq ayat 1-5 dapat kita simpulkan sebagai berikut : Ayat 1 mengandung makna supaya manusia senantiasa membaca. Membaca dimaknai bahwa manusia harus banyak-banyak melihat tanda –tanda kebesar Allah SWT baik yang terkandung dalam ayat-ayat Qauliyah maupun dalam ayat-ayat Kauniyah. Ayat-ayat Qauliyah adalah firman Allah SWT yang termaktub dalam Al Quran Al Karim. Sedangkan ayat-ayat Kauniyah adalah kebesarn Allah yang berupa alam beserta isisnya Ayat 2 mengandung makna penciptaan manusia dari alaq. Alaq dimaknai sebagai sesuatu yang menggantung di rahim. Alaq adalah zighot, yaitu hasil pertemuan sel sperma dengan ovum. Zighot berupa segumpal darah Ayat 3 mengandung maksa penegasan Allah supaya manusia selalu membaca. Allah juga menunjukkan kemahapemurahannya. Ayat 4 mengandung makna bahwa Allah telah memberikan ilmu pengetahuan kepada manusia dengan cara Qolam. Qolam dimaknai dengan baca tulis Ayat 5 mengandung makna bahwa ilmu pengetahuan diajarkan kepada manusia yang semula tidak mengetahui apa-apa menjadi paham akan sesuatu. Nilai moral yang dapat diambil dari QS Al Alaq ayat 1-5 adalah : 1. Supaya manusia senatiasa membaca dan belajar. Mengkaji ayat-ayat Allah baik qouliyah maupun kauniyah 2. Manusia diciptakan Allah melalui proses yang panjang. Salah satunya dari sperma yang hina. Karenanya manusia tidak boleh sombong 3. Allah adalah dzat yang maha pemurah. Pantas kita menyembahnya 4. Allah yang mengajar manusia dengan baca tulis hingga mendapatkan ilmu pengetahuan
Read more >>

Foto Peserta PLPG GPAIS Angkatan 8C1

Berikut ini adalah foto bersama kawan-kawan PLPG Guru PAIS LPTK IAIN fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Gelombang 8 Kelas C-1. Kelas ini meliputi Utusan dari kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Pamekasan. Jika menginginkan foto lenkapnya silakan hubungi ke saya di 081553500177 atau via facebook di sini
Read more >>

Gelombang PLPG Guru PAIS Gelombang 16 &17 dan Gelombang 18 dan 19 untuk guru MI IAIN Sunan Ampel 2011

Untuk Gelombang PLPG Angkatan 16 & 17 IAIN Sunan Ampel 2011 meliputi Kabupaten Jember dan Propinsi Bali dapat didownload di sini sedangkan untuk gelombang 18 dan 19 untuk guru MI Kabupaten Jombang dan Lamongan dapat didownload di sini
Read more >>

Info PLPG PAI Kabupaten Pasuruan 2011

Mohon Maaf untuk Info PLPG Guru PAIS Kabupaten Pasuruan LPTK Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya Gelombang 2 belum dapat diakses di www.tarbiyah.sunan-ampel.ac.id

Berhubung banyak yang tanya lewat sms atau telepon kepada saya seputar hal ini, saya kadang-kdang bisa membalas sms kadang tidak. karenanya kepada kawan-kawan Guru PAIS dapat memakluminya. untuk dapat mengakses sendiri, kawan-kawan dapat klik di sini
Read more >>